Translate

Senin, 19 Oktober 2015

KATA PERENUNGAN

1. Sinar matahari sangat terang, budi orang tua sangat
besar, orang berbudi berlapang dada dan orang picik
sangat arogan.
2. Bertutur dengan kata yang baik, berpikirlah dengan
niat yang baik dan melakukan perbuatan baik.
3. Memaafkan orang lain berarti berlaku baik pada diri sendiri.
4. Kesuksesan adalah pengoptimalan suatu kelebihan,
kegagalan adalah akumulasi dari segala kekurangan.
5. Jangan menganggap remeh diri sendiri, karena setiap
orang memiliki kemungkinan yang tak terhingga.
6. Telapak tangan menghadap kebawah adalah menolong
orang, menengadah adalah memohon bantuan; membantu
orang mendatangkan kegembiraan sedangkan memohon
bantuan adalah suatu penderitaan.
7. Banyak berbuat baik akan mendapatkan banyak berkah,
sedikit berbuat baik akan kehilangan banyak berkah.
8. Melakukannya dengan suka rela, menerimanya dengan
suka cita.
9. Didalam hati berpengertian, bertorelansi, tahu
bersyukur, bisa merasa puas dan menghargai keberkahan.
10. Melakukan yang memang seharusnya dilakukan adalah
bijaksana, melakukan apa yang tidak seharusnya
dilakukan adalah kebodohan.
11. Jika tabiat dan ucapannya tidak baik, meski
hatinya sebaik apapun tidak dapat dikategorikan
sebagai orang baik.
12. Ilmu pengetahuan harus dipahami dengan
sungguh-sungguh, baru bisa menjadi kebijaksanaan dalam
diri sendiri.
13. Kasih sayang tidak dapat dengan memohon pada orang
lain, melainkan diperoleh dari sumbangsih yang
diberikan.
14. Musuh terbesar kita bukanlah orang lain, melainkan
diri kita sendiri.
15. Hendaknya bersaing untuk menjadi siapa yang lebih
dicintai, bukan siapa yang lebih ditakuti.
16. Menyia-nyiakan waktu setiap hari adalah pemborosan
hidup, bekerja penuh semangat dan menjadi orang yang
berguna adalah membangun kehidupan kita sendiri
17. Lakukanlah dengan sepenuh hati, jangan merasa
khawatir ataupun risau
18. Orang yang selalu mencari-cari alasan bagi
kegagalannya, tidak akan memperoleh kemajuan untuk
selamanya.
19. Selalu merasa tidak senang kepada orang lain,
karena kurang dalam pelatihan kepribadiannya diri
sendiri.
20. Rumput tidak akan mudah tumbuh dilahan yang
ditanami sayur-sayuran. Hati tidak mudah timbul
kebencian bila dipenuhi rasa persahabatan.
21. Berapa banyak kewajiban yang telah anda penuhi,
sebanyak itu pula kemampuan yang akan diperoleh.
22. Lebih baik berhati lapang daripada memiliki rumah
yang luas
23. marah adalah tindakan menghukum diri sendiri
dengan mengambil kesalahan yang dibuat oleh orang
lain.
24. Kegembiraan seseorang tidak didasarkan dari berapa
banyak yang dimilikinya, namun karena sedikit sekali
berhitungan dengan orang lain.
25. Setelah penderitaan berlalu, akan tiba masa yang
penuh berkah. Setelah keberkahan habis dinikmati, maka
kesedihan akan datang menerpa.
26. Renungkan selalu kesalahan yang pernah dilakukan.
Jangan perbincangkan baik buruknya orang lain.
27. Bukan banyak uang yang membuat seseorang merasa
gembira, tidak pernah melakukan yang bertentangan
dengan hati nurani membuat hidup tentram.
28. Sebelum mengkritik orang lain, pikirkan dahulu
apakah kita sendiri telah sempurna dan bebas dari
kesalahan.
29. Jika enggan mengerjakan hal kecil, maka sulit
menyelesaikan tugas yang besar.
30. Kesuksesan yang paling besar dalam hidup adalah
bisa bangkit kembali dari kegagalan.
31. Ucapan yang baik, bagai bunga teratai yang keluar
dari mulut; Ucapan yang buruk, seperti bisa ular yang
disemburkan dari mulut.
32. Ada dua hal yang tidak bisa ditunda dalam
kehidupan: berbakti pada orang tua dan melakukan
kebajikan.
33. Moralitas adalah sebuah pelita dalam peningkatan
kepribadian, tidak seharusnya merupakan cambuk
penghukum bagi orang lain.
34. Menghargai dan merasa senang atas keberhasilan
orang lain berarti meningkatkan harkat diri sendiri.
35. Selalu berbaik hati selalu memperoleh hari-hari
yang baik.
36. Memberi maaf dan berbicara dengan ramah meskipun
kita berada dipihak yang benar.
37. Menerima kebajikan sekecil apapun harus dibalas
sebesar-besarnya.
38. Hendaknya kita menyadari, mensyukuri, dan membalas
budi orang tua.
39. Sepatah kata yang menghangatkan hati, ibarat
setetes parfum yang kita semprotkan ketubuh orang
lain, kita sendiri akan kecipratan wanginya.
40. Kita harus melakukan kegiatan pelestarian
lingkungan masyarakat dengan baik demikian juga dengan
kelestarian lingkungan batin kita.
41. Tetesan air dapat membentuk sebuah sungai,
kumpulan butiran beras bisa memenuhi lumbung. Jangan
meremehkan hati nurani sendiri, jangan pernah berpikir
untuk tidak melakukannya walau perbuatan itu sangat
kecil.
42. Sedikit berbicara lebih baik daripada banyak
berbicara, akan lebih baik lagi jika hanya membicarakan
hal yang baik-baik saja.
43. Setiap orang sulit terhindar dari membuat
kesalahan, yang dikhawatirkan tidak berkeinginan untuk
memperbaikinya. Sedangkan memperbaiki kesalahan
bukanlah suatu hal yang sulit dilakukan.
44. Lahan batin manusia bagaikan sepetak sawah, bila
tidak ditanami dengan bibit yang baik, tentu tidak
akan bisa menuai hasil yang baik.
45. Orang yang bijaksana baru mampu membedakan yang
baik dan yang buruk, yang benar dan yang sesat; Orang
yang rendah hati baru bisa membangun kehidupan yang
indah sempurna.
46. Orang berbudi luhur mempunyai tujuan hidup, sedang
orang yang berhati picik menganggap hidup sebagai
tujuan.
47. Di dalam kehidupan, kita tidak selalu berada dalam
kondisi yang baik-baik saja, namun bagi yang pernah
mengalami cobaan dan berhasil mengatasinya, akan
sangat mudah menghadapi kondisi yang sesulit apapun.
48. Permasalah sukar dan sulit diputuskan dalam hidup
adalah suatu cobaan.
49. Sertakan saya dalam perbuatan baik; jangan
libatkan saya dalam perbuatan jahat.
50. Kasih sayang yang sesungguhnya adalah menjaga
kondisi hati kita dengan sebaik-baiknya.
51. Mampu bertoleransi dan lebih mengasihi orang lain,
kita akan hidup dengan sangat gembira.
52. Mampu menyumbangkan cinta kasih adalah suatu
keberkahan. Mampu menghapus kerisauan adalah sifat
yang bijaksana.
53. Anggaplah segala permasalahan sebagai pelajaran
dan pujian sebagai peringatan untuk mawas diri.
54. Orang yang menganggur tidak akan merasakan
kenikmatan hidup; orang yang beraktifitas, tidak
memiliki waktu untuk berselisih dengan orang lain.
55. Mata manusia berada di bagian depan, hanya dapa
melihat kekurangan orang lain, sama sekali tidak bisa
melihat kekurangan diri sendiri.
56. Dengan memiliki keyakinan, keuletan dan
keberanian, maka tidak ada yang tidak berhasil
dilakukan di dunia ini.
57. Memperbaiki prilaku sendiri adalah untuk menolong
diri sendiri, mampu mempengaruhi orang untuk berbuat
baik adalah untuk menolong orang.
58. Bangkitnya amarah adalah kegilaan sesaat.
59. Jangan mengenang terus jasa pahala yang telah
diberikan, jangan melupakan kesalahan yang pernah
dibuat. Lupakanlah dendam yang ada di dalam hati,
jangan melupakan budi baik yang pernah diterima.
60. Niat baik mendatangkan keberkahan, Tekad akan
menimbulkan kekuatan; Keberkahan harus diciptakan
sendiri, hingga akan mendapatkan jalinan jodoh yang
baik.
61. Yang mencelakai diri sendiri tidak lain adalah
kemarahan yang tidak pada tempatnya.
62. Orang yang dapat memanfaatkan waktunya dengan
baik, pasti bisa menguasai arah tujuan yang ingin
dicapai.
63. Merasa menyesal atas kesalahan yang telah
dilakukan, baru membuat hati jadi suci bersih tanpa
kerisauan.
64. Lakukanlah menurut kemampuan yang ada, jangan
berniat untuk menunda, ada kemungkinan anda tidak
mendapatkan apa apa.
65. Yang terindah di langit adalah bintang-bintang
bergemerlapan, sedangkan yang terindah dalam hidup
adalah kehangatan kasih sayang.
66. Orang yang berbudi sifatnya bagaikan air yang
dapat menyesuaikan diri dalam berbagai bejana, hidup
dalam kondisi bebas leluasa.
67. Padi yang berisi akan semakin merunduk; Seseorang
yang sukses semakin rendah hati.
68. Berhenti di tengah perjalanan akan lebih sulit dan
terasa lebih melelahkan daripada terus berjalan hingga
sampai ke tujuan.
69. Dalam pelatihan moral hendaknya melatih sesuai
dengan jalinan jodoh, di dalam kehidupan sehari hari
dan melakukannya dimana saja.
70. Jangan berbuat semena-mena, didiklah diri sendiri
sesuai keinginan hati.
71. Di kala memiliki, harus selalu mengenang
penderitaan di saat tak punya; dalam cuaca baik harus
mempersiapkan persediaan di musim hujan.
72. Alam semesta ada batasnya, kekuatan tekad kita ak
terhingga. Mudah mengikrarkan sebuah tekad, tapi sulit
melaksanakannya.
73. Perbuatan baik hendaknya bisa dioptimalkan,
permasalahan harus ditinggalkan. Mensukseskan orang
lain berarti mensukseskan diri sendiri.
74. Lebih baik bekerja keras dan benar-benar
melakukannya daripada berkemampuan tapi tidak
melakukannya sama sekali.
75. Orang harus menyayangi diri sendiri baru dapat
mencintai semua orang di dunia.
76. Dalam mengatasi berbagai masalah hendaknya
berhati-hati, cermat, namun jangan berpikiran sempit.
77. Jangan merasa khawatir pada banyaknya masalah,
yang dikhawatirkan adalah masalah yang dicari-cari.
78. Orang tidak mempunyai hak milik atas nyawanya,
tetapi hanya memiliki hak untuk mempergunakannya.
79. Dusta bagaikan sekuntum bunga yang sedang
mekar-mekarnya, berpenampilan indah namun hanya dalam
waktu yang singkat.
80. Sebuah gelas yang sumbing pinggirannya, jika
dipandang dari sudut yang lain, mulut gelas itu masih
tetap merupakan sebuah lingkaran.
81. Ikrar harus luhur, tekad harus kokoh, kepribadian
harus lemah lembut, dan hati harus cermat.
82. Berikrar dalam hati dan tidak pernah menyatakan
dalam tindakan, sama halnya seperti bertani tanpa
menebar bibit, hanya menyia-nyiakan sebuah jalinan
jodoh.
83. Orang yang welas asih tidak mempunyai musuh, orang
yang bijaksana tidak akan merasa risau.
84. Berdana bagai menerbakan bibit, bibit baru akan
bertunas bila disirami dengan perasaan hati yang
bersuka cita.
85. Orang berbudi berketetapan hati menggapai
cita-citanya, orang yang picik hanya memiliki
cita-cita dan tidak pernah berusaha.
86. Kita hendaknya bisa menyadari, menghargai, dan
menciptakan keberkahan.
87. Menjalankan yang sulit dijalankan, merelakan yang
sulit direlakan dan melakukan yang sulit dilakukan,
baru bisa meningkatkan kepribadian diri sendiri.
88. Hanya orang yang bisa menghargai dirinya sendiri
baru mempunyai keberanian untuk lebih rendah hati.
89. Ketamakan, kemarahan dan kebodohan merupakan 3
racun dalam kehidupan manusia. Atasilah ketamakan
dengan berdana, kemarahan dengan hati yang welas asih
dan kebodohan dengan hati yang bijaksana.
90. Cinta kasih hendaknya tidak membeda-bedakan ras
dan negara, asalkan sebuah kehidupan, semuanya harus
dihargai dan diberikan perhatian.
91. Adanya keluarga yang sehat, baru ada masyarakat
yang baik akan menciptakan negara yang baik pula.
92. Jangan khawatir tidak dapat menyelesaikannya, yang
dikhawatirkan adalah tidak melakukannya sama sekali.
93. Penyesalan adalah pengakuan dari hati nurani, juga
boleh dikatakan sebagai pembersihan besar-besaran
terhadap polusi spritual.
94. Berdana bukanlah hak khusus orang kaya, tapi
merupakan implementasi dari sebuah cinta kasih yang
tulus.
95. Melayani setiap orang dengan tulus, menundukkan
hati setiap orang dengan moralitas adalah sistem
managemen terbaik.
96. Ada orang yang berkata, “Asal berhati baik sudah
cukup” Namun percuma saja berhasil baik, kalau tidak
diwujudkan dalam tindakan nyata, tidak akan
menghasilkan suatu perbuatan yang baik.
97. Panjangnya usia seseorang setara dengan berapa
banyak pekerjaan yang telah dilakukan di dunia, maka
harus berlomba dengan waktu, jangan biarkan waktu
berlalu dengan sia-sia.
98. Welas asih tanpa penyesalan, berbelas kasih tanpa
kebencian, bersuka cita tanpa kerisauan, bersumbangsih
tanpa pamrih.
99. Berikrar harus bertujuan memberi manfaat yang
besar bagi orang banyak, juga harus dilakukan sendiri
kapan saja dan dimana saja.
100. Adanya cinta kasih di dalam hati, baru bisa
dicintai oleh semua orang.
101. Hidup manusia tidak kekal. Bersumbangsihlah
segera dikala masyarakat memerlukan anda, lakukanlah
selama anda masih bisa melakukannya.
102. Jadilah orang yang tidak mengandalkan kekuasaan,
status sosial dan harta kekayaan dalam menjalani
hidupnya.
103. Malapetaka dan bencana yang melanda dunia,
sebagian besar adalah hasil dari perbuatan orang yang
sehat jasmaninya, namun cacat rohaninya.
104. Setiap hari merupakan lembaran baru dalam
hidupku. Setiap orang dan setiap hal yang ada di
dalamnya semuanya adalah kisah-kisah yang menarik.
105. Seandainya kita dibutuhkan dan dapat
menyumbangkan sesuatu bagi orang lain adalah kehidupan
yang paling berbahagia.
106. Ketetapan hati bagai tetesan air yang dapat
menembus batu karang, kesulitan dan rintangan sebesar
apapun juga dapat diatasi.
107. Tidak bertikai bukan berarti tidak peduli pada
segala hal, bisa bersatu hati, ramah tamah, saling
mengasihi dan bergotong royong dengan semua orang baru
disebut tanpa pertikaian.
108. Ada tiga “tidak” di dunia ini; tidak ada orang
yang tidak saya cintai, tidak ada orang yang tidak
saya percayai dan tidak ada orang yang tidak bisa saya
maafkan.
109. Orang bodoh membangun tembok pemisah dalam hatinya,
orang bijaksana merobohkan tembok pemisah tersebut dan hidup
berdampingan secara damai dengan orang lain.
110. Kesuksesan yang paling besar dalam hidup
adalah bisa bangkit kembali dari kegagalan.
111. Ada dua hal yang tidak bisa ditunda dalam
kehidupan: berbakti kepada orangtua dan melakukan kebajikan.
112. Jika ingin meningkatkan kebijaksanaan, kita mesti
membebaskan diri dari sifat kemelekatan dan keraguan.
113. Cita-cita boleh saja tinggi dan jauh kedepan, namun
langkah yang diperlukan untuk itu, harus diterapkan sejak sekarang.
114. Jangan mengenang terus jasa yang telah diberikan, jangan
melupakan kesalahan yang pernah dibuat. Lupakanlah dendam yang
ada di dalam hati, namun jangan melupakan budi baik yang pernah diterima.
115. Keinginan yang belebihan, selain mendatangkan penderitaan
juga sering menggiring orang melakukan perbuatan yang mendatangkan karma buruk.
116. Jangan takut terdorong oleh orang-orang yang lebih mampu dari kita.
Karena dorongan tersebut akan memberi semangat untuk terus maju.
117. Orang tidak mempunyai hak milik atas nyawanya, melainkan
hanya memiliki hak untuk menggunakannya.
118. Tetesan air dapat membentuk sebuah sungai, kumpulan butiran
beras bisa memenuhi lumbung. Jangan meremehkan hati nurani sendiri, lakukankalh
perbuatan baik meskipun kecil.
119. Lahan batin manusia bagaikan sepetak sawah, bila tidak
ditanami dengan bibit yang baik, tidak akan bisa menuai hasil yang baik.
120. Orang berbudi luhur mempunyai tujuan hidup, sedang
orang yang berpikiran sempit menganggap hidup sebagai tujuan.
121. Sertakan saya dalam perbuatan baik, jangan
libatkan saya dalam perbuatan jahat.
122. Anggaplah segala permasalahan sebagai pelajaran, pujian
sebagai peringatan untuk mawas diri.
123. Dengan memiliki keyakinan, keuletan, dan keberanian, tidak
ada hal yang tidak berhasil dilakukan di dunia ini.
124. Orang harus menyayangi diri sendiri baru
dapat mencintai orang di seluruh dunia.
125. Dalam mengatasi berbagai masalah hendaknya
berhati-hati, cermat, namun jangan berpikiran sempit.
126. Tidak perlu merasa khawatir atas banyaknya masalah, yang perlu
dikhawatirkan hanya masalah yang sengaja dicari-cari.
127. Hendaknya kita menyadari, mensyukuri, dan membalas budi orangtua.
128. Jika enggan mengerjakan hal kecil, maka
kita pun akan sulit menyelesaikan tugas yang besar.
129. Ikrar harus luhur, tekad harus kokoh, kepribadian
harus lemah lembut, dan hati harus peka.
130. Hanya orang yang menghargai dirinya sendiri, yang
mempunyai keberanian untuk bersikap rendah hati.
131. Keserakahan, kebencian, dan kebodohan merupakan 3 racun
dalam kehidupan manusia. Atasi keserakahan dengan berdana, kebencian
dengan hati yang welas asih, dan atasi kebodohan dengan kebijaksanaan.
132. Penyesalan adalah pengakuan dari hati nurani, dan
dapat juga dikatakan sebagai pembersihan terhadap kekotoran batin.
133. Berdana bukanlah hak khusus yang dimiliki orang kaya, melainkan
merupakan perwujudan dari sebuah cinta kasih yang tulus.
134. Hidup manusia tidak kekal. Bersumbangsihlah pada saat
Anda dibutuhkan, dan lakukanlah selama Anda masih bisa melakukannya.
135. Jadilah orang yang tidak mengandalkan kekuasaan, status
social, dan harta kekayaan dalam menjalani hidup.
136. Malapetaka dan bencana yang melandai dunia, sebagian
besar merupakan hasil perbuatan orang-orang yang sehat jasmaninya, namun cacat rohaninya.
137. Memaafkan orang lain berarti berlaku baik pada diri sendiri.
138. Ada tiga “tiada” di dunia ini, tiada orang yang tidak
saya cintai, tiada orang yang tidak saya percayai, dan tiada orang yang tidak bisa saya maafkan.
139. Pikiran dan perilaku kita sendiri yang
menciptakan dan menentukan surga dan neraka.
140. Sumber penderitaan manusia ada 3, yaitu: keserakahan, kebencian, dan kebodohan.
141. Penyakit pada tubuh tidaklah menakutkan, batin
yang sakit justru lebih mengerikan.
142. Kebijaksanaan diperoleh dari bagaimana seseorang
menghadapi masalah dalam hidupnya. Apabila ia menghindar dari
masalah yang ada, maka ia pun tidak akan dapat mengembangkan kebijaksanaannya.
143. Sumber dari kerisauan hati adalah keinginan
manusia untuk selalu “memiliki”.
144. Ada sebagain orang yang sering merasa risau, akibat
perkataan buruk orang lain yang sebenarnya tidak perlu dihiraukan.
145. “Keserakahan”, selain membawa penderitaan, juga
akan menjerumuskan manusia ke dalam penderitaan.
146. Sebelum mengkritik orang lain, pikirkan dahulu apakah
kita sendiri telah sempurna dan bebas dari kesalahan.
147. Setiap hari merupakan lembaran baru dalam hidup kita,
setiap orang dan setiap hal yang ada di dalamnya merupakan kisah-kisah yang menarik.
148. Bila kita selalu ragu dan tidak memiliki tekad yang kuat, walaupun jalan yang benar telah terbentang di depan mata, kita tetap tidak akan pernah sampai ke tempat tujuan.
149. Orang yang paling berbahagia adalah orang yang penuh dengan cinta kasih.
150. Dengan menjaga tutur kata dan bersikap dengan baik, maka kita akan menjadi orang yang disenangi dan dicintai orang lain.
151. Mengernyitkan dahi dan tersenyum, keduanya sama-sama merupakan sebuah ekspresi, mengapa tidak tersenyum saja?
152. Hati hendaknya bagaikan bulan purnama yang bersinar terang. Hati hendaknya juga seperti cakrawala luas dengan langit yang cerah.
153. Niat baik yang tidak dilaksanakan sama halnya seperti bertani tanpa menebarkan benih. Hal ini hanya menyia-nyiakan kesempatan baik yang ada.
154. Setiap hari kita harus bersyukur dan berterima kasih kepada orangtua dan semua makhluk. Jangan melakukan sesuatu yang mengecewakan mereka.
155. Memberi dan melayani jauh lebih berharga dan membahagiakan daripada diberi dan dilayani.
156. Tidak peduli seberapa jauh jalan yang harus ditempuh dan selalu berusaha sebaik mungkin mencapai tujuan dengan kemampuan yang dimiliki, inilah yang disebut dengan keuletan.
157. Orang yang paling berbahagia adalah orang yang mampu mencintai dan dicintai orang lain.
158. Sebaik apa pun hati seseorang, bila tabiat dan tutur katanya tidak baik, maka ia tidak dapat dianggap sebagai orang baik.
159. Kasih sayang yang mengharapkan pamrih tidak akan bertahan lama. Yang akan bertahan selamanya adalah kasih sayang yang tak berwujud, tak ternoda, dan tanpa pamrih.
160. Cinta kasih harus bagaikan seduhan the wangi dengan komposisi yang pas. Bila terlalu pekat akan terasa pahit dan kita tidak dapat meminumnya.
161. Hadiah paling berharga di dunia ini adalah hadiah berbentuk maaf.
162. Bertuturlah dengan kata yang baik, berpikirlah dengan niat yang baik dan lakukanlah perbuatan baik.
163. Jangan menganggap remeh diri sendiri, karena setiap orang memiliki potensi yang tak terhingga.
164. Kesuksesan hidup selama puluhan tahun merupakan akumulasi perilaku setiap hari, maka setiap hari kita harus menjaga perilaku dengan sebaik-baiknya.
165. Semua manusia takut mati, takut menderita, apakah makhluk hidup lain tidak merasa takut juga? Oleh karena itu, kita harus melindungi semua makhluk hidup dan menghargai kehidupan.
166. Marah adalah menghukum diri sendiri atas kesalahan yang diperbuat oleh orang lain.
167. Hendaknya kita bersaing untuk menjadi siapa yang lebih dicintai, bukan siapa yang lebih ditakuti.
168. Musuh terbesar kita bukanlah orang lain, melainkan diri kita sendiri.
169. Bekerja untuk hidup sangat menyiksa, hidup untuk bekerja sangat menyenangkan.
170. Sumber penderitaan manusia adalah nafsu keserakahan untuk memiliki. Bila tidak bisa memperoleh yang diingankannya, dia akan menderita, namun bila telah memperolehnya, dia juga akan menderita karena takut kehilangan.
171. Kesederhanaan adalah keindahan, keserasian adalah keanggunan.
172. Hakekat terpenting dari pendidikan adalah pewarisan cinta kasih dan rasa syukur, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
173. Kita hendaknya bersyukur kepada bumi yang menyediakan sumber daya alam sehingga kita dapat melanjutkan kehidupan, dan bersyukur kepada leluhur yang telah menyediakan lahan dan mengajarkan kita bagaimana cara untuk bertahan hidup.
174. Hati yang dipenuhi rasa syukur akan membangkitkan rasa haru. Rasa haru merupakan dorongan untuk melakukan kebajikan.
175. Bila dituduh orang lain, terimalah dengan rasa syukur. Bila menemukan kesalahan orang lain, sadarkan dengan sikap menghargai.
176. Bersyukurlah kepada orang yang menerima bantuan kita, karena mereka memberikan kesempatan baik bagi tercapainya pembinaan rasa cinta kasih kita.
177. Merupakan suatu berkah apabila sesama manusia dapat saling menghargai dan saling bersyukur.
178. Dengan berjiwa besar, tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan di dunia ini. Bila berjiwa sempit, walaupun kesenangan berlimpah, kita akan tetap merasa menderita.
179. Mengurangi nafsu keinginan dan memperluas cinta kasih, kehidupan akan dilalui dengan gembira, nyaman dan bebas tanpa beban.
180. Pandai menempatkan diri dan berpikir demi orang lain adalah sikap orang yang penuh pengertian.
181. Pada umumnya orang lebih dapat menanggung beban kerja yang berat daripada menanggung kebencian, namun orang yang berkepribadian mulia adalah orang yang dapat melupakan kebencian.
182. Cara berterima kasih dan membalas budi kepada bumi adalah dengan terus mempertahankan konsep pelestarian lingkungan.
183. Intropeksi dirilah bila mendapat kritikan orang lain. Jika salah harus diperbaiki; bila tidak bersalah, cobalah untuk menerimanya dengan lapang dada.
184. Berjiwa besar menerima kekurangan orang lain merupakan suatu hal yang luar biasa di tengah hal yang biasa.
185. Binalah cinta kasih yang tulus dan murni. Hati tidak akan risau bila tidak mengharapkan pamrih atau merasa rugi dalam memberikan cinta kasih.
186. Menghibur orang dengan kata-kata yang baik dan lembut, melerai perselisihan dengan kata-kata bijaksana dan membantu kesulitan orang lain dengan tindakan nyata, inilah yang dinamakan berdana.
187. Selalu mengejar kenikmatan materi adalah sumber penderitaan manusia. Menderita bila tak bisa memperolehnya, dan bila bisa memperolehnya akan merasa belum puas. Semuanya merupakan penderitaan yang tak akan pernah berakhir.
188. Mampu merasakan kebahagiaan orang lain seperti kebahagiaan sendiri adalah kehidupan yang penuh dengan kepuasan dan paling kaya akan makna.
189. Jangan menganggap enteng perbuatan baik sekecil apa pun, karena bila terhimpun menjadi satu merupakan bantuan yang berharga dan bermanfaat bagi orang lain.
190. Seulas senyuman mampu mendamaikan hati yang gelisah.
191. Kehidupan kita bermakna apabila kita dapat bermanfaat bagi orang lain.
192. Jangan mencemaskan beban yang berat, asalkan tetap berjalan di arah yang benar, pasti akan samapi ke tujuan.
193. Orang yang selalu mengasah orang lain, dirinya sendiri akan terasah, namun bagi orang yang selalu diasah, selain tidak rusak, malah akan lebih bersinar cemerlang, bagaikan berlian yang sesungguhnya.
194. Prinsip penting mencapai keselarasan dalam penyelesaian masalah adalah menyadari kapan saatnya maju dan kapan saatnya mengalah.
195. Dengan bersabar dan mengalah, hidup akan damai dan tenteram; saling bersitegang akan mendatangkan malapetaka.
196. Genggamlah kesempatan untuk berbuat kebajikan. Bila hanya menunggu, kesempatan itu akan berlalu dan semuanya sudah terlambat.
197. Mampu mematuhi tata tertib dalam berorganisasi, berpadu hati, ramah tamah, saling mengasihi, dan bergotong royong, berarti sebuah kemajuan yang telah dicapai dalam melatih diri yang dilakukan dengan penuh konsentrasi.
198. Jangan menyia-nyiakan waktu; lakukan hal yang bermanfaat dengan langkah yang mantap.
199. Tak ada yang tidak dapat diatasi dalam hidup ini; dengan adanya tekad, maka segalanya akan dapat diatasi.
200. Jangan pusingkan apakah orang akan memperbaiki perilaku atau sikap buruknya, yang terpenting adalah kita tetap melatih diri dengan sebaik mungkin.
201. Bila cermin dalam hati dapat selalu dibersihkan, maka dapat secara jelas membedakan yang baik dan buruk, yang benar dan salah.
202. Jadikan batin kita sebagai tempat pelatihan diri dan hargailah semua orang dengan sikap kesetaraan.
203. Sebuah tindakan jauh lebih bermakna dibandingkan dengan ribuan ucapan.
204. Walaupun memiliki impian dan harapan pada masa berabad-abad kedepan, namun jangan sampai mengabaikan hal yang ada pada saat sekarang.
205. Kepintaran adalah kemampuan untuk membedakan mana yang menguntungkan dan merugikan. Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk membedakan yang benar dan salah.
206. Jangan meremehkan kemampuan sendiri, karenanya mulailah dengan mengubah kondisi hati kita barulah dapat mengubah dunia agar menjadi lebih baik.
207. Lebih baik belajar dari kelebihan orang lain daripada mencari kelemahan dan kesalahan orang lain.
208. Hadapilah kesalahan orang lain dengan lapang dada dan lemah lembut.
209. Iblis yang ada di luar diri kita tidaklah menakutkan, yang mengerikan adalah iblis yang terdapat di dalam hati.
210. Kehidupan manusia bagaikan meniti kawat baja. Bila kita tidak bersungguh-sungguh melihat ke depan, malah sebaliknya selalu menoleh ke belakang, kita pasti akan terjatuh.
211. Faktor pemersatu dalam organisasi adalah toleransi dan tenggang rasa terhadap pendapat yang berbeda.
212. Berbakti adalah sikap yang bersedia berkorban pada saat dibutuhkan oleh orangtua.
213. Kebiasaan buruk bagaikan virus yang menyerang batin manusia, harus dicegah jangan sampai berkembang.
214. Berdana ada 3 macam, memberi bantuan makanan dan pakaian, memberikan nasehat bagi orang yang hatinya sedang hampa, dan memberikan kedamaian kepada orang yang panic dan ketakutan.
215. Masalah di dunia tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, dibutuhkan uluran tangan dan kekuatan banyak orang untuk dapat menyelesaikan.
216. Orang yang mau mengakui kesalahan dan memperbaikinya dengan rendah hati akan dapat meningkatkan kebijaksanaanya..
NASEHAT KWAN IM
Yang Harus Diingat dan Dilaksanakan Setiap Hari


1.JIKA ORANG BIKIN KITA SUSAH , ANGGAPLAH ITU ADALAH TUMPUKAN REZEKI

2.MULAI HARI INI , BELAJARLAH SETIAP HARI MENYENANGKAN HARI ORANG LAIN

3.JIKA KAMU MERASA PAHIT DALAM HIDUPMU DENGAN SUATU TUJUAN , MAKA ITULAH BAHAGIA.

4.LARI DAN BERLARILAH YANG CEPAT UNTUK MENGEJAR HARI ESOK

5.SETIAP HARI KAMU SUDAH HARUS MERASA PUAS DENGAN APA YANG KAMU MILIKI SAAT INI

6.SETAIP KALI ADA ORANG MEMBERI KAMU SATU , KAMU HARUS MENGEMBALIKANNYA SEPULUH KALI LIPAT

7.NILAILAH KEBAIKAN ORANG LAIN TERHADAP KAMU , TETAPI HAPUSKANLAH SEMUA JASA YANG PERNAH KAMU BERIKAN KEPADA ORANG LAIN

8.DALAM KEADAAAN BENAR KAMU DIFTNAH , DIPERSALAHKAN DAN DIHUKUM , MAKA KAMU AKAN MENDAPATKAN PAHALA

9.DALAM KEADAAN SALAH KAMU DIPUJI DAN DIBENARKAN MAKA ITU MERUPAKAN HUKUMAN

10.ORANG YANG BENAR KITA BELA TETAPI YANG SALAH KITA BERI NASEHAT

11.JIKA PERBUATAN KAMU BENAR , KAMU DIFITNAH DAN DIPERSALAHKAN TETAPI KAMU MENERIMANYA , MAKA AKAN DATANG REZEKI KEPADAMU YANG BERLIMPAH - LIMPAH

12.JANGAN SELALU MELIHAT / MENGECAM KESALAHAN ORANG LAIN , TETAPI SELALU MELIHAT DIRI SENDIRI , ITULAH KEBENARAN

13.ORANG YANG BAIK DIAJAK BERGAUL , TETAPI ORANG YANG JAHAT DIKASHANI

14.KALAU WAJAHMU SENYUM , HATI KAMU SENANG , PASTI KAMU AKAN AKU TERIMA

15.DUA ORANG SALING MENGAKUI KESALAHAN MASING - MASING , MAKA DUA ORANG ITU AKAN BERSAHABAT SEPANJANG MASA

16.SALING SALAH MENYALAHKAN , MAKA AKAN MENGAKIBATKAN PUTUS HUBUNGAN

17.KALAU KAMU RELA DAN TULUS MENOLONG ORANG YANG DALAM KEADAAN SUSAH , MAKA JANGAN SAMPAI DIKETAHUI BAHWA KAMU SEBAGAI PENOLONGNYA

18.JANGAN MEMBICARAKAN SEDIKITPUN KEJELEKAN ORANG DI BELAKANGNYA , SEBAB KAMU AKAN DINILAI JELEK OLEH SI PENDENGAR

19.KALAU KAMU MENGETAHUI ORANG ITU BERBUAT SALAH , MAKA TEGURLAH LANGSUNG DENGAN KATA-KATA YANG LEMAH-LEMBUT HINGGA ORANG ITU MENJADI INSAF

20.DOA DAN SEMBAH SUJUDMU AKAN AKU TERIMA , APABILA KAMU BISA SABAR DAN MENURUTI JALANKU
NASEHAT CHI KUNG

27 Nasihat Suci Buddha Chi Kung

1.Seluruh kehidupan telah diatur oleh penguasa. Apalah yang mau dimohon?

2.Hari ini tidak tahu masalah esok. Apalah yang mau di kuatirkan?

3.Kalaulah tidak menghormati orang tua, lalu mengormati junjungan dunia. Apalah arti penghormatan itu?

4.Kakak adik adalah bersaudara. Apalah yang perlu diperebutkan?

5.Anak cucu punya rezeki masing-masing. Apalah yang perlu diperebutkan?

6.Kalau belum mendapat keberuntungan. Apalah yang perlu dipaksakan?

7.Didunia ini sulit menemukan kebahagiaan. Mengapa harus sedih?

8.Berpakaianlah yang sederhana dan sopan. Apalah yang mau dipamerkan?

9.Bagaimana lezatnya makanan, hanyalah sebatas lidah. Mengapa harus rakus?

10.Setelah meninggal tidak sesen pun yang dibawa. Mengapa harus pelit?

11.Senior meluku, junior memetik. Apalah yang mau diperebutkan?

12.Disatu sisi mendapatkan, disisi lain kehilangan. Mengapa harus serakah?

13.Tiga jengkal diatas kepala ada dewa. Mengapa harus mengelabui?

14.Kedudukan, kekayaan, kemuliaan bagaikan mekarnya bunga. Apalah yang mau diangkuhkan?

15.Kekayaan dan kemuliaan orang telah dirintis sebelumnya. Mengapa harus iri?

16.Kehidupan lalu tidak membina, sekarang menderita. Mengapa harus mengeluh?

17.Orang berjudi tidak akan ada hasil yang baik. Apalah yang mau dipermainkan?

18.Membina rumah tangga dengan rajin dan hemat melebihi memohon bantuan orang lain. Apalah yang mau diboroskan?

19.Kalau saling membalas dendam, kapanlah akan berakhir. Mengapa harus bermusuhan?

20.Masalah dunia bagaikan bermain catur. Apalah yang mau diperhitungkan?

21.Orang pintar adakalanya disesatkan oleh kepintarannya? Mengapa harus licik?

22.Berdusta akan mengikis habis rejeki seumur hidup. Mengapa harus berdusta?

23.Segala kesalahpahaman akhirnya akan jernih juga. Apalah yang mau diperdebatkan?

24.Tiada seorangpun juga yang bebas dari masalah. Mengapa harus menyalahkan?

25.Goa nurani didalam hati manusia, bukan digunung. Apalah yang mau dicari?

26.Menipu orang adalah petaka, memaklumi orang adalah berkah. Apalah yang mau diramalkan?

27.Sekali ajal menjemput segala akan berakhir. Apalah yang terus disibukkan ?
DHAMMAPADA
( sabda-sabda Buddha Gotama )
part III

Nafsu Keinginan

334. Bila seseorang hidup lengah, maka nafsu keinginannya tumbuh, seperti tanaman Maluva yang menjalar. Ia melompat dari satu kehidupan ke kehidupan lain, bagaikan kera yang senang mencari buah-buahan di dalam hutan.

335. Dalam dunia ini, siapa pun yang dikuasai oleh nafsu keinginan rendah dan beracun, penderitaannya akan bertambah seperti rumput Binara yang tumbuh dengan cepat karena disirami dengan baik.

336. Tetapi barangsiapa dapat mengatasi nafsu keinginan yang beracun dan sukar dikalahkan itu, maka kesedihan akan berlalu dari dirinya, seperti air yang jatuh dari daun teratai.

337. Kuberitahukan hal ini kepadamu : "Semoga engkau sekalian yang telah datang berkumpul disini memperoleh kesejahteraan! Bongkarlah nafsu keinginanmu, seperti orang mencabut akar rumput Binara yang harum. Jangan biarkan Mara menghancurkan dirimu berulang kali, seperti arus sungai menghancurkan rumput ilalang yang tumbuh di tepi.

338. Sebatang pohon yang telah ditebang masih akan dapat tumbuh dan bersemi lagi apabila akar-akarnya masih kuat dan tidak dihancurkan. Begitu pula selama akar nafsu keinginan tidak dihancurkan, maka penderitaan akan tumbuh berulang kali.

339. Apabila tiga puluh enam nafsu keinginan di dalam diri seseorang mengalir deras menuju obyek-obyek yang menyenangkan, maka gelombang pikiran yang penuh nafsu akan menyeret orang yang memiliki pandangan salah seperti itu.

340. Di mana-mana mengalir arus ( nafsu-nafsu keinginan ); di mana-mana tanaman menjalar tumbuh merambat. Apabila engkau melihat tanaman menjalar ( nafsu keinginan ) tumbuh tinggi, maka harus kau potong akar-akarnya dengan kebijaksanaan.

341. Dalam diri makhluk-makhluk timbul rasa senang mengejar obyek-obyek indera, dan mereka menjadi terikat pada keinginan-keinginan indera. Karena cenderung pada hal-hal yang menyenangkan dan terus mengejar kenikmatan indera, maka mereka menjadi korban kelahiran dan kelapukan.

342. Makhluk-makhluk yang terikat nafsu keinginan, berlarian kian kemari seperti seekor kelinci yang terjebak. Karena terikat erat oleh belenggu-belenggu dan ikatan-ikatan, maka mereka mengalami penderitaan untuk waktu yang lama.

343. Makhluk-makhluk yang terikat pada nafsu keinginan, berlarian kian kemari seperti seekor kelinci yang terjebak. Karena itu, seorang bhikkhu yang menginginkan kebebasan diri, hendaklah ia membuang segala nafsu keinginan.

344. Setelah bebas dari hutan keinginan ( kehidupan rumah tangga ), ia menemukan hutan kesucian ( kehidupan pertapa ). Tapi, walaupun telah bebas dari keinginan ( akan kehidupan rumah tangga ) ia kembali ke rumah lagi. Lihatlah orang seperti itu! Setelah bebas, ia kembali pada ikatan itu lagi.

345. Orang bijaksana menyatakan, bahwa belenggu yang terbuat dari besi, kayu ataupun rami tidaklah begitu kuat. Tetapi, ikatan terhadap anak-anak, isteri dan harta benda, sesungguhnya merupakan belenggu yang jauh lebih kuat.

346. Orang bijaksana menyatakan bahwa belenggu seperti itu amat kuat, dapat melemparkan orang ke bawah, halus dan sukar untuk dilepaskan. Walaupun demikian, para bijaksana akan dapat memutuskan belenggu itu, mereka meninggalkan kehidupan duniawi, tanpa ikatan, serta melepaskan kesenangan-kesenangan indera.

347. Mereka yang bergembira dengan nafsu indera, akan jatuh ke dalam arus ( kehidupan ), seperti laba-laba yang jatuh ke dalam jaring yang dibuatnya sendiri. Tapi para bijaksana dapat memutuskan belenggu itu, mereka meninggalkan kehidupan duniawi, tanpa ikatan, serta melepaskan kesenangan-kesenangan indera.

348. Tinggalkan apa yang telah lalu, yang akan datang maupun yang sekarang dan capailah Nibbana. Dengan pikiran yang telah bebas dari segala sesuatu, maka engkau tak akan mengalami kelahiran dan kelapukan lagi.

349. Orang yang pikirannya kacau, penuh dengan nafsu dan hanya melihat pada hal-hal yang menyenangkan saja, maka nafsu keinginannya akan terus bertambah. Sesungguhnya, orang seperti itu hanya akan memperkuat ikatan belenggu sendiri.

350. Orang yang bergembira dalam menenangkan pikiran, tekun merenungkan hal-hal yang menjijikkan ( sebagai obyek perenungan dalam samadi ) dan selalu sadar, maka ia akan mengakhiri nafsu-nafsu keinginannya dan menghancurkan belenggu Mara.

351. Orang yang telah mencapai tujuan akhir, tidak lagi mempunyai rasa takut, noda batin serta nafsu keinginan, sesungguhnya ia telah mematahkan ruji-ruji kehidupan. Bagi orang suci ( Arahat ) seperti itu, tubuhnya merupakan tubuh yang terakhir.

352. Orang yang telah bebas dari nafsu keinginan dan kemelekatan, pandai dalam menganalisa serta memahami Ajaran beserta pasangan-pasangannya, maka ia patut disebut seorang Pemilik Tubuh Akhir, pemilik Kebijaksanaan Agung, manusia agung.

353. Aku mengalahkan semuanya. Aku mengetahui semuanya. Aku bebas dari semuanya. Aku meninggalkan semuanya. Setelah menghancurkan nafsu keinginan, Aku bebas, Setelah menyadari segala sesuatu melalui usaha sendiri, maka siapakah yang patut Kusebut Guru ?

354. Pemberani Kebenaran ( Dhamma ) mengalahkan segenap pemberani lainnya; rasa kebenaran mengalahkan segenap rasa lainnya; kegembiraan dalam Kebenaran mengalahkan segenap kegembiraan lainnya. Orang yang telah menghancurkan nafsu keinginan akan mengalahkan segenap penderitaan.

355. Kekayaan dapat menghancurkan orang bodoh, tetapi tidak dapat menghancurkan mereka yang mencari pantai seberang ( Nibbana ). Karena serakah dari kekayaan, orang bodoh akan menghancurkan orang lain serta dirinya sendiri.

356. Rumput liar merupakan bencana bagi sawah dan ladang; nafsu indera merupakan bencana bagi manusia. Karena itu, dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari nafsu indera akan menghasilkan pahala yang besar.

357. Rumput liar merupakan bencana bagi sawah dan ladang; kebencian merupakan bencana bagi manusia. Karena itu, dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari kebencian akan menghasilkan pahala yang besar.

358. Rumput liar merupakan bencana bagi sawah dan ladang; ketidaktahuan merupakan bencana bagi manusia. Karena itu, dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari ketidaktahuan akan menghasilkan pahala yang besar.

359. Rumput liar merupakan bencana bagi sawah dan ladang; nafsu keinginan merupakan bencana bagi manusia. Karena itu, dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari nafsu keinginan akan menghasilkan pahala yang besar.

Bhikkhu

360. Sungguh baik mengendalikan mata; sungguh baik mengendalikan telinga; sungguh baik mengendalikan hidung; sungguh baik mengendalikan lidah.

361. Sungguh baik mengendalikan perbuatan; sungguh baik mengendalikan ucapan; sungguh baik mengendalikan semuanya ( indera-indera ). Seorang bhikkhu yang dapat mengendalikan semuanya akan bebas dari semua penderitaan.

362. Seseorang yang mengendalikan tangan, kakinya, ucapan dan pikirannya, yang bergembira dalam samadi dan memiliki batin yang tenang, puas berdiam seorang diri, maka orang lain menamakan dia "bhikkhu".

363. Seorang bhikkhu yang mengendalikan lidahnya, yang berbicara dengan bijaksana dan tidak sombong, yang dapat menerangkan Dhamma beserta artinya, maka akan kedengaran indah ucapannya itu.

364. Seorang bhikkhu yang selalu berdiam dan gembira dalam Dhamma, yang selalu merenungkan dan mengingat-ingat akan Dhamma, maka bhikkhu itu tidak akan tergelincir dari Dhamma yang mulia.

365. Hendaklah ia tidak mencela apa yang ia peroleh, juga hendaklah ia tidak merasa iri terhadap apa yang telah diperoleh orang lain. Seorang bhikkhu yang merasa iri terhadap apa yang diperoleh orang lain, tidak akan dapat mencapai perkembangan dalam samadi.

366. Walaupun hanya memperoleh sedikit, tetapi apabila seorang bhikkhu tidak mencela apa yang telah diperolehnya, maka para dewa pun akan memuji orang seperti itu, yang memiliki kehidupan bersih serta tidak malas.

367. Apabila seseorang tidak lagi melekat pada konsepsi "aku" atau "milikku", baik yang berkenaan dengan batin maupun jasmani, dan tidak bersedih terhadap apa yang dimilikinya, maka orang seperti itu layak disebut bhikkhu.

368. Apabila seorang bhikkhu hidup dalam cinta kasih dan memiliki keyakinan terhadap Ajaran Sang Buddha, maka ia akan sampai pada Keadaan Damai, berhentinya hal-hal yang berkondisi ( sankhara ).

369. Bhikkhu, kosongkanlah perahu ( tubuh ) ini. Apabila telah dikosongkan maka perahu ini akan melaju dengan pesat. Setelah memutuskan nafsu keinginan dan kebencian, maka engkau mencapai Nibbana.

370. Putuskanlah lima kelompok belenggu pertama ( dan sepuluh belenggu ), dan singkirkan lima kelompok kedua ( dan sepuluh belenggu ), serta kembangkan lima kekuatan secara sempurna. Apabila seorang bhikkhu telah bebas dari lima ikatan maka ia disebut seorang "Penyeberang Arus".

371. Bersamadilah, bhikkhu! Jangan lengah! Jangan biarkan pikiranmu diseret oleh kesenangan-kesenangan indera! Jangan karena lengah maka engkau harus menelan bola besi yang membara! Dan jangan karena terbakar maka engkau meratap. "Hal ini sungguh menyakitkan!"

372. Tak ada samadi dalam diri orang yang tidak memiliki kebijaksanaan. Dan tidak ada kebijaksanaan dalam diri orang yang tidak bersamadi. Orang yang memiliki samadi dan kebijaksanaan, sesungguhnya sudah berada di dekat Nibbana.

373. Apabila seorang bhikkhu telah pergi ke tempat sepi, telah menenangkan pikirannya dan telah dapat melihat Dhamma dengan jelas, akan merasakan kegembiraan yang belum pernah dirasakan oleh orang-orang biasa.

374. Bila seseorang dapat melihat dengan jelas akan timbul dan lenyapnya kelompok kehidupan ( khanda ), maka ia akan merasakan kegembiraan dan ketentraman batin. Sesungguhnya, bagi mereka yang telah mengerti tak akan ada lagi kematian.

375. Pertama-tama, inilah yang harus dikerjakan oleh seorang bhikkhu yang bijaksana, yaitu : mengendalikan indera-indera, merasa puas dengan apa yang ada, menjalankan peraturan-peraturan ( patimokkha ).

376. Bergaul dengan teman kehidupan suci yang rajin dan bersemangat. Hendaklah ia bersikap ramah dan sopan tingkah lakunya. Karena merasa gembira dalam menjalankan hal-hal tersebut, maka ia akan bebas dari penderitaan.

377. Seperti tanaman Vassika ( pohon melati yang merambat ) menggugurkan bunga-bunganya sendiri yang layu dan kering, begitu pula hendaknya engkau bhikkhu, membuang nafsu dan dendam.

378. Seorang bhikkhu yang memiliki perbuatan, ucapan serta pikiran tenang dan terpusat, telah dapat menyingkirkan hal-hal duniawi, maka ia adalah orang yang benar-benar damai.

379. Engkaulah yang harus mengingatkan dan memeriksa dirimu sendiri. Bhikkhu, bila engkau dapat menjaga dirimu sendiri dan selalu sadar, maka engkau akan hidup dalam kebahagiaan.

380. Sesungguhnya dari sendiri menjadi tuan bagi diri sendiri. Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri. Oleh karena itu, kendalikan dirimu sendiri, seperti pedagang kuda menguasai kuda yang baik.

381. Dengan penuh kegembiraan dan penuh keyakinan terhadap Ajaran Sang Buddha, seorang bhikkhu akan sampai pada keadaan damai disebabkan oleh berakhirnya semua ikatan.

382. Walaupun seorang bhikkhu masih berusia muda, namun bila ia tekun menghayati Ajaran Sang Buddha, maka ia menerangi dunia ini, bagaikan bulan yang terbebas dari awan.

Brahmana

383. Brahmana,berusahalah memotong arus ( kehidupan ) dan singkirkanlah nafsu-nafsu indera. Setelah mengetahui penghancuran segala sesuatu yang berkondisi, O Brahmana, engkau akan mengenal apa Yang Tak Tercipta.

384. Bila seorang Brahmana telah mencapai akhir dari pada dua jalan samadi, maka semua belenggu akan terlepas dari dirinya. Karena mengerti dan telah memiliki pengetahuan, ia bebas dari semua ikatan.

385. Seseorang yang tidak lagi memiliki pantai sini ( enam landasan indera dalam ) atau pantai sana ( enam obyek indera luar ), ataupun kedua-duanya, tidak lagi bersedih dan tanpa ikatan, maka Ia kusebut seorang Brahmana.

386. Seseorang yang tekun bersamadi, bebas dari noda, tenang, telah mengerjakan apa yang harus dikerjakan, bebas dari kekotoran batin dan telah mencapai tujuan akhir ( Nibbana ), maka Kusebut seorang Brahmana.

387. Matahari bersinar di waktu siang. Bulan bercahaya di waktu malam, kesatria gemerlapan dengan seragam perangnya. Brahmana bersinar terang dalam samadhi. Tetapi, Sang Buddha bersinar dengan penuh kemuliaan sepanjang siang dan malam.

388. Karena telah membuang kejahatan, maka ia Kusebut seorang Brahmana; karena tingkah lakunya tenang, maka ia Kusebut seorang petapa; dan karena ia telah melenyapkan noda-noda batin, maka ia Kusebut seorang Pabbajita.

389. Janganlah seseorang memukul Brahmana, juga janganlah Brahmana yang dipukul itu menjadi marah kepadanya. Sungguh memalukan perbuatan orang yang memukul Brahmana, tetapi jauh memalukan lagi adalah Brahmana yang menjadi marah kepada orang yang memukulnya.

390. Tak ada yang lebih baik bagi seorang Brahmana selain menarik pikirannya dari hal-hal yang menyenangkan. Lebih cepat ia dapat menyingkirkan itikad jahatnya, maka lebih cepat pula penderitaannya berakhir.

391. Seseorang yang tidak lagi berbuat jahat melalui badan, ucapan dan pikiran, serta dapat mengendalikan diri dalam tiga saluran perbuatan ini, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

392. Apabila melalui orang lain seseorang dapat mengenal Dhamma sebagaimana yang telah dibabarkan oleh Samma Sambuddha, maka hendaklah ia menghormati orang tersebut, seperti seorang Brahmana menghormati api sucinya.

393. Bukan karena rambut dijalin, keturunan ataupun kelahiran, seseorang menjadi Brahmana. Tetapi, orang yang memiliki kejujuran dan kebajikan yang pantas menjadi seorang Brahmana, orang yang suci.

394. Wahai orang bodoh, apa gunanya engkau menjalin rambutmu serta mengenakan pakaian kulit manjangan? Engkau hanya membersihkan bagian luarmu, tetapi hatimu masih penuh dengan kekotoran.

395. Seseorang yang mengenakan jubah kain bekas ( pamsukala ), kurus, otot-otot terlihat pada seluruh tubuhnya, bersamadi seorang diri dalam hutan, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

396. Aku tidak menyebutnya seorang Brahmana hanya karena ia berasal dari keluarga Brahmana atau lahir dari kandungan seorang ibu Brahmana. Apabila dirinya masih penuh dengan noda, maka ia hanyalah seorang Brahmana karena keturunannya. Tetapi, orang yang tanpa noda dan telah bebas dari semua ikatan, maka Kusebut seorang Brahmana.

397. Ia yang telah memotong semua belenggu, tidak lagi gemetar, yang bebas dan telah mematahkan semua ikatan, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

398. Ia yang memotong sabuk kebencian, tali kulit nafsu keinginan dan tali rami pandangan keliru serta semua kekotoran batin laten ( anusaya ); ia yang telah menyingkirkan kayu penghalang ( kebodohan ) dan menyadari kebenaran, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

399. Seseorang yang tidak marah, yang dapat menahan hinaan, penganiyaan dan hukuman, yang memiliki senjata kesabaran, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

400. Seseorang yang telah bebas dari kemarahan, taat, bajik, bebas dari nafsu keinginan, terkendali dan yang memiliki tubuh ini sebagai tubuh akhir, maka ia Kusebut Brahmana.

401. Seseorang yang tidak lagi melekat pada kesenangan-kesenangan indera, seperti air di atas daun teratai atau seperti biji lada di ujung jarum, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

402. Dalam dunia ini, seseorang yang telah menyadari akhir penderitaannya sendiri, yang telah meletakkan beban dan tak terikat, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

403. Seseorang yang pengetahuannya dalam, pandai dan terlatih membedakan jalan yang benar dan salah, yang telah mencapai tujuan tertinggi, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

404. Orang yang menjauhkan diri dan umum dan para petapa, yang mengembara tanpa tempat tinggal tertentu dan sedikit kebutuhannya, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

405. Seseorang yang tidak lagi menganiaya makhluk-makhluk lain, baik yang kuat maupun yang lemah, yang tidak membunuh atau menganjurkan orang lain membunuh, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

406. Orang yang tidak membenci di antara mereka yang membenci; damai diantara mereka yang kejam; dan tidak melekat diantara mereka yang melekat, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

407. Seseorang yang nafsu, kebencian, kesombongan dan kemunafikannya telah gugur, seperti biji lada di ujung jarum, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

408. Seseorang yang mengucapkan kata-kata halus, yang mengandung Ajaran Kebenaran, yang tidak menyinggung siapapun, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

409. Dalam dunia ini, seseorang yang tidak mengambil apa yang tidak diberikan, baik yang panjang atau pendek, kecil atau besar, baik ataupun buruk, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

410. Seseorang yang tidak mempunyai nafsu keinginan terhadap dunia ini maupun dunia selanjutnya, yang telah bebas dari keinginan dan tidak lagi melekat, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

411. Seseorang yang tidak mempunyai nafsu keinginan lagi, yang telah bebas dari keragu-raguan karena memiliki Pengetahuan Sempurna, yang telah menyelami keadaan tanpa kematian, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

412. Seseorang yang telah mengatasi kebaikan, kejahatan dan kemelekatan, tidak lagi bersedih hati, tanpa noda dan suci murni, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

413. Seseorang yang tanpa noda, bersih, tenang dan jernih batinnya seperti bulan purnama, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

414. Orang yang telah menyeberangi lautan kehidupan ( samsara ) yang kotor, berbahaya dan bersifat maya; yang telah menyeberang dan mencapai Pantai Seberang; yang selalu bersamadi, terang dan bebas dari keragu-raguan; yang tidak terikat pada sesuatu apapun dan telah mencapai Nibbana, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

415. Seseorang yang dengan membuang nafsu keinginan kemudian meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menempuh kehidupan tanpa rumah, telah menghancurkan nafsu indera akan wujud yang baru, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

416. Seseorang yang dengan membuang nafsu keinginan kemidian meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menempuh kehidupan tanpa rumah, telah menghancurkan kemelekatan dan kerinduan, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

417. Seseorang yang telah menyingkirkan ikatan-ikatan duniawi dan telah mengatasi ikatan-ikatan surgawi, bebas dari semua ikatan, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

418. Seseorang yang telah mengatasi rasa senang dan tidak senang dengan tidak menghiraukannya lagi, telah menghancurkan dasar-dasar bagi perwujudan dan telah mengatasi semua dunia ( kelompok kehidupan ), mska ia Kusebut seorang Brahmana.

419. Seseorang yang telah memiliki pengetahuan sempurna tentang dan lenyapnya makhluk-makhluk, telah bebas dari ikatan, telah pergi dengan baik ( sugata ) dan telah mencapai Penerangan Sempurna, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

420. Orang yang jejaknya tak dapat dilacak, baik oleh para dewa, gandhawara maupun manusia, telah menghancurkan semua kekotoran batin dan telah mencapai kesucian ( Arahat ), maka ia Kusebut seorang Brahmana.

421. Orang yang tidak lagi terikat pada yang telah lampau, apa yang sekarang maupun yang akan datang, tidak memegang ataupun melekat pada apapun juga, maka ia Kusebut seorang Brahmana.

422. Ia yang Mulia, Agung, Pahlawan, Petapa Agung ( Mahesi ), Penakluk, Orang Tanpa Nafsu, Murni, Telah Mencapai Penerangan, Maka ia Kusebit seorang Brahmana.

423. Orang yang telah mengetahui semua kehidupannya yang lampau, dapat melihat keadaan surga dan neraka, telah mencapai akhir kelahiran, telah mencapai kesempurnaan pandangan terang, suci murni dan sempurna kebijaksanaanya, maka ia Kusebut seorang Brahmana.
DHAMMAPADA
( sabda-sabda Buddha Gotama )
part II

Noda-Noda

235. Sekarang ini engkau bagaikan daun mengering layu. Para utusan raja kematian ( Yama ) telah menantimu. Engkau telah berdiri di ambang pintu keberangkatan, namun tidak kau miliki bekal untuk perjalanan nanti.

236. Buatlah pulau bagi dirimu sendiri. Berusahalah sekarang dan jadikan dirumu bijaksana setelah membersihkan noda-noda dan bebas dari nafsu keinginan, maka engkau akan mencapai alam kedamaian Para Ariya.

237. Sekarang kehidupan telah mendekati akhir, dan engkau telah mulai berjalan ke hadapan raja kematian ( Yama ) Tidak ada tempat berhenti bagimu di perjalanan, sedang engkau belum memiliki bekal untuk perjalananmu.

238. Buatlah pulau bagi dirimu sendiri. Berusahalah sekarang juga dan jadikan dirimu bijaksana. Setelah membersihkan noda-noda dan bebas dari nafsu keinginan, maka kelahiran dan kematian tidak akan datang lagi padamu.

239. Dengan latihan bertahap, sedikit demi sedikit dan dari saat ke saat, hendaklah orang bijaksana membersihkan noda-noda yang ada dalam dirinya, bagaikan seorang pandai perak membersihkan perak yang berkarat.

240. Bagaikan karat yang timbul dari besi, bila telah timbul akan menghancurkan besi itu sendiri; begitu pula perbuatan-perbuatan sendiri yang buruk akan menjerumuskan pelanggaran ke alam yang menyedihkan.

241. Tidak membaca ulang adalah noda bagi mantra, tidak berusaha adalah noda bagi kehidupan rumah tangga. Kemalasan adalah noda bagi kecantikan, dan kelengahan adalah noda bagi seorang penjaga.

242. Kelakuan buruk adalah noda bagi seorang wanita, kekikiran adalah noda bagi seorang dermawan. Sesungguhnya, segala bentuk kejahatan merukapan noda, baik dalam dunia ini maupun dalam dunia selanjutnya.

243. Yang lebih buruk dari semua noda adalah kebodohan. Kebodohan merupakan noda paling buruk. O para bhikkhu, singkirkan noda ini dan hiduplah tanpa noda.

244. Hidup adalah muda bagi orang yang tidak tahu malu, yang suka menonjolkan diri seperti burung gagak, suka memfitnah, tidak tahu sopan santun, pongah dan menjalankan hidup kotor.

245. Hidup adalah sukar bagi orang yang tahu malu. Yang senantiasa mengejar kesucian, tanpa pamrih, rendah hati, menjalankan hidup bersih dan penuh penderitaan.

246. Barangsiapa membunuh makhluk hidup, suka berbicara tidak benar, mengambil apa yang tidak diberikan, merusak kesetiaan isteri orang lain.

247. Atau menyerah pada minuman yang memabukkan; maka di dunia ini orang seperti itu seakan menggali kubur bagi dirinya sendiri.

248. Orang baik, ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak mudah mengendalikan hal-hal yang jahat. Jangan biarkan keserakahan dan kejahatan menyeretmu ke dalam penderitaan yang tak berkesudahan.

249. Orang-orang memberi sesuai dengan keyakinan dan menurut kesenangan hati mereka. Karena itu; siapa yang merasa iri atas makanan dan minuman orang lain, tidak akan memperoleh kedamaian batin baik siang ataupun malam.

250. Tetapi orang yang telah memotong perasaan iri hati ini seluruhnya, mencabut akar-akarnya serta menghancurkannya, akan memperoleh kedamaian baik siang maupun malam.

251. Tiada api yang dapat menyamai nafsu, tiada jeritan yang dapat menyamai kebencian, tiada jaring yang dapat menyamai ketidaktahuan, dan tiada arus yang sederas nafsu keinginan.

252. Amat mudah melihat kesalahan-kesalahan orang lain, tetapi sangat sulit untuk melihat kesalahan-kesalahan sendiri. Seseorang dapat menunjukkan kesalahan orang lain seperti menampi dedak, tetapi ia menyembunyikan kesalahan-kesalahan sendiri seperti penjudi licik menyembunyikan dadu yang berangka buruk.

253. Barangsiapa yang selalu memperhatikan dan mencari-cari kesalahan orang lain, maka kekotoran batin dalam dirinya akan bertambah, dan ia semakin jauh dari penghancuran kekotoran-kekotoran batin.

254. Tidak ada jejak di angkasa, tidak ada orang suci di luar Dhamma. Umat manusia bergembira di dalam belenggu, tetapi Para Tathagata telah bebas dari semua itu.

255. Tidak ada jejak di angkasa, tidak ada orang suci di luar Dhamma. Tidak ada hal-hal berkondisi yang abadi. Tidak ada lagi keragu-raguan bagi Para Buddha.

Orang Adil

256. Ia yang memutuskan segala sesuatu dengan tergesa-gesa, tidak dapat dikatakan sebagai orang adil. Orang bijaksana hendaknya memeriksa dengan teliti mana yang benar dan mana yang salah.

257. Ia yang mengadili orang lain dengan tidak tergesa-gesa, bersikap adil dan tidak berat sebelah, senantiasa menjaga kebenaran, pantas disebut orang adil.

258. Seseorang tidak dapat dikatakan bijaksana hanya karena ia banyak bicara. Tetapi, orang yang damai, tanpa rasa benci dan tanpa rasa takut dapat disebut orang bijaksana.

259. Seseorang bukan "pendukung Dhamma" hanya karena ia banyak bicara. Namun seseorang yang walaupun belajar sedikit tetapi batinnya melihat Dhamma dan tidak melalaikannya, maka sesungguhnyalah ia seorang pendukung Dhamma.

260. Seseorang tidak disebut "Thera ( lebih tua )" hanya karena rambutnya telah memutih. Biarpun usianya sudah lanjut, dapat saja ia disebut "orang tua yang tidak berguna."

261. Orang yang memiliki kebenaran dan kebajikan, tidak kejam, terkendali dan terlatih, pandai dan bebas dari noda-noda, sesungguhnya ia patut disebut "Thera ( orang yang lebih tua)."

262. Bukan hanya karena pandai bicara, dan bukan pula karena memiliki wajah bagus seseorang dapat menyebut dirinya orang baik apabila ia masih bersifat iri, kikir dan suka menipu.

263. Tetapi ia yang memotong, mencabut dan memutuskan akar sifat iri hati, kekikiran serta dusta; maka orang bijaksana yang telah menyingkirkan segala keburukan itu sesungguhnya yang dapat disebut orang baik.

264. Seseorang yang tidak memiliki disiplin dan suka berdusta, tidak dapat disebut seorang petapa ( samana ) walaupun ia berkepala gundul. Mana mungkin orang yang penuh dengan keinginan serta keserakahan dapat menjadi seorang petapa?

265. Tetapi barangsiapa dapat mengalahkan semua kejahatan baik yang kecil maupun yang besar, maka ia patut disebut seorang petapa karena ia telah mengatasi semua kejahatan.

266. Seseorang tidak dapat disebut bhikkhu hanya karena ia meminta dari orang lain. Selama ia masih bertingkah laku seperti orang berumah tangga dan tidak mentaati peraturan, maka ia belum pantas disebut bhikkhu.

267. Dalam hal ini, seseorang yang telah mengatasi kebaikan dan kejahatan, menjalankan kehidupan suci, hidup di dunia ini penuh dengan pengertian, maka sesungguhnya ia adalah bhikkhu.

268. Tidak hanya dengan berdiam diri orang yang dungu dan bodoh menjadi suci ( murni ). Tetapi orang bijaksana yang dapat memilih apa yang baik serta menghindari apa yang buruk seakan-akan memegang neraca, sesungguhnya ia seorang suci.

269. Karena seseorang dapat memilih apa yang baik dan menghindari apa yang buruk, maka ia disebut orang suci. Demikian pula, ia yang telah mengerti kedua dunia itu ( baik dan buruk ) patut disebut orang suci.

270. Ia tidak disebut seorang Ariya apabila masih menyiksa makhluk-makhluk hidup. Seseorang hanya dapat dikatakan mulia apabila tidak lagi menyiksa makhluk-makhluk hidup.

271. Bukan hanya karena sila dan tekad, bukan pula karena banyak belajar ataupun karena telah mencapai perkembangan dalam samadhi, atau juga karena berdiam diri ditempat yang sepi;

272. Lalu ia berpikir: "Aku telah menikmati kebahagiaan dari pelepasan yang tidak dapat dicapai oleh orang duniawi." O para bhikkhu, janganlah engkau puas sebelum mencapai penghancuran semua kekotoran-kekotoran batin.

Jalan

273. Di antara semua jalan, maka Jalan Mulia Berfaktor Delapan adalah yang terbaik; di antara semua kebenaran, maka Empat Kebenaran Mulia adalah yang terbaik. Kebebasan dari nafsu adalah yang terbaik; dan di antara semua makhluk hidup, maka orang yang "melihat" adalah yang terbaik.

274. Inilah satu-satunya jalan. Tidak ada jalan lain yang dapat membawa pada kemurnian pandangan. Ikutilah jalan ini, yang dapat mengalahkan Mara.

275. Dengan mengikuti jalan ini, engkau dapat mengakhiri penderitaan. Jalan ini pula yang Kutunjukkan setelah Aku mengetahui bagaimana mencabut duri-duri ( kekotoran batin ).

276. Engkau sendirilah yang harus berusaha, Para Tathagata hanya menunjukkan Jalan. Mereka yang tekun bersamadi dan memasuki Jalan ini akan terbebas dari belenggu Mara.

277. Segala sesuatu yang berkondisi tidak kekal. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.

278. Segala sesuatu yang berkondisi adalah derita; apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.

279. Segala sesuatu adalah tanpa inti; apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.

280. Walaupun seseorang masih muda dan kuat, namun bila ia malas dan tidak mau berjuang semasa harus berjuang serta berpikir lamban; maka orang yang malas dan lamban seperti itu tidak akan menemukan Jalan yang mengantar pada kebijaksanaan.

281. Hendaklah ia menjaga ucapan dan mengendalikan pikiran dengan baik serta tidak melakukan perbuatan jahat melalui jasmani. Hendaklah ia memurnikan tiga saluran perbuatan ini, memenangkan Jalan yang telah dibabarkan oleh Para Suci.

282. Sesungguhnya dari samadi akan timbul kebijaksanaan; tanpa samadi kebijaksanaan akan pudar. Setelah mengetahui kedua jalan bagi perkembangan dan kemerosotan batin, hendaklah orang melatih diri sehingga kebijaksanaannya berkembang.

283. Para bhikkhu, tebanglah hutan nafsu, karena dari nafsu timbul ketakutan. Setelah menebang hutan dan belukar nafsu, jadilah orang yang tidak lagi memiliki nafsu.

284. Selama nafsu keinginan laki-laki terhadap wanita belum diluncurkan, betapapun kecilnya, maka selama itu pula seseorang masih terikat pada kehidupan, bagaikan seekor anak sapi yang masih menyusu pada induknya.

285. Patahkanlah rasa cinta pada diri sendiri, seperti memetik bunga teratai putih di musim gugur. Kembangkanlah jalan kedamaian Nibbana yang telah diajarkan oleh Sang Sugata.

286. "Di sini aku akan berdiam selama musim hujan, disini aku akan berdiam selama musim gugur dan musim panas," demikianlah pikiran orang bodoh yang tidak menyadari bahaya ( kematian ).

287. Orang yang pikirannya melekat pada anak-anak dan ternak peliharaannya, maka kematian akan menyeret dan menghanyutkannya, seperti banjir besar menghanyutkan sebuah desa yang tertidur.

288. Anak-anak tidak dapat melindungi, begitu juga ayah maupun sanak saudara. Bagi orang yang sedang menghadapi kematian, maka tidak ada sanak saudara yang dapat melindungi dirinya lagi.

289. Setelah mengetahui kenyataan ini, maka orang berbudi dan bijaksana tak akan menunda waktu dalam menempuh jalan menuju Nibbana.

Bunga Rampai

290. Apabila dengan melepaskan kebahagiaan yang lebih kecil orang dapat memperoleh kebahagiaan yang lebih besar, maka hendaknya orang bijaksana melepaskan kebahagiaan yang kecil itu, guna memperoleh kebahagiaan yang lebih besar.

291. Barangsiapa menginginkan kebahagiaan bagi dirinya sendiri dengan menimbulkan penderitaan pada orang lain, maka ia tidak akan terbebas dari kebencian; ia akan terjerat dalam kebencian.

292. Orang yang melakukan apa yang seharusnya tak dilakukan dan tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan, maka kekotoran batin akan terus bertambah dalam diri orang yang sombong dan malas seperti itu.

293. Mereka yang selalu giat melatih perenungan terhadap badan jasmani, tidak melakukan apa yang seharusnya tak dilakukan, dan selalu melakukan apa yang seharusnya dilakukan, maka kekotoran-kekotoran batin akan lenyap dari diri yang memiliki kesadaran dan pemgertian terang seperti itu.

294. Setelah membantai ibu ( nafsu keinginan ) dan ayah ( kesombongan ) serta kedua orang kesatria ( dua pandangan extrim berkenaan dengan kekekalan dan kemusnahan ); dan setelah menghancurkan negara ( pintu-pintu indera ) bersama dengan para manterinya ( kemelekatan ), maka seorang brahmana akan berjalan pergi tanpa kesedihan.

295. Setelah membantai ibu ( nafsu keinginan ) dan ayah ( kesombongan ) serta dua raja ( dua pandangan extrim berkenaan dengan kemelekatan dan kemusnahan ); dan setelah menghancurkan lima jalan yang penuh bahaya ( lima rintangan batin ), maka seorang brahmana akan berjalan tanpa kesedihan.

296. Para siswa Gotama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan malam mereka selalu merenung sifat-sifat Sang Buddha dengan penuh kesadaran.

297. Para siswa Gotama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan malam mereka selalu merenung mulia Dhamma dengan penuh kesadaran.

298. Para siswa Gotama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan malam mereka selalu merenungkan sifat-sifat mulia Sangha dengan penuh kesadaran.

299. Para siswa Gotama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan malam mereka selalu merenungkan sifat-sifat badan jasmani dengan penuh kesadaran.

300. Para siswa Gotama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan malam mereka bergembira dalam keadaan bebas dari kekejaman.

301. Para siswa Gotama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan malam mereka bergembira dalam ketentraman samadi.

302. Sungguh sukar untuk menempuh kehidupan tanpa rumah ( pabbajja ); sungguh sukar untuk bergembira dalam menempuh kehidupan tanpa rumah. Kehidupan rumah tangga adalah sukar dan menyakitkan. Tinggal bersama mereka yang tidak sesuai sungguh menyakitkan hidup menggembara dalam samsara juga menyakitkan. Karens itu janganlah menjadi pengembara ( dalam samsara ), atau menjadi pengejar penderitaan.

303. Bagi orang yang memiliki keyakinan dan sila yang sempurna, akan memperoleh nama harum dan kekayaan, pergi ke tempat manapun ia akan selalu dihormati.

304. Meskipun dari jauh, orang baik akan terlihat bersinar bagaikan puncak pegunungan Himalaya. Tetapi meskipun dekat, orang jahat tidak akan terlihat, bagaikan anak panah yang dilepaskan pada malam hari.

305. Ia yang duduk sendiri, tidur sendiri, berjalan sendiri tanpa rasa jemu serta selalu membina diri akan gembira berdiam di dalam hutan.

Neraka

306. Orang yang selalu berbicara tidak benar, dan juga orang yang setelah berbuat kemudian berkata; "Aku tidak melakukannya," akan masuk ke neraka. Dua macam orang yang mempunyai kelakuan rendah ini, mempunyai nasib yang sama dalam dunia selanjutnya.

307. Bila seseorang menjadi bhikkhu dengan mengenakan jubah kuning tetapi masih berke
lakuan buruk dan tidak terkendali, maka akibat perbuatan-perbuatan jahatnya sendiri, ia akan masuk neraka.

308. Lebih baik menelan bola besi panas seperti bara api daripada selalu menerima makanan orang dan tetap berkelakuan buruk serta tak terkendali.

309. Orang yang lengah dan  berzina akan menerima empat ganjaran, yaitu : pertama, ia akan menerima akibat buruk; kedua, ia tidak dapat tidur dengan tenang; ketiga, namanya tercela; keempat, ia akan masuk ke neraka.

310. Ia akan menerima akibat buruk dan kelahiran rendah pada kehidupan yang akan datang. Sungguh singkat kenikmatan yang diperoleh lelaki dan wanita yang ketakutan, dan raja pun akan menjatuhkan hukuman berat. Karena itu, janganlah seseorang berzina dengan isteri orang lain.

311. Bagaikan rumput kusa, bila dipegang secara salah akan melukai tangan; begitu juga kehidupan seseorang petapa, apabila dijalankan secara salah akan menyeret orang ke neraka.

312. Bila suatu pekerjaan dikerjakan dengan seenaknya, suatu tekad tidak dijalankan dengan selayaknya, kehidupan suci tidak dijalankan dengan sepenuh hati; maka semuanya ini tidak akan membuahkan hasil yang besar.

313. Hendaklah orang mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati. Suatu kehidupan suci yang dijalankan dengan seenaknya akan membangkitkan debu nafsu yang lebih besar.

314. Sebaiknya seseorang tidak melakukan perbuatan jahat, karena di kemudian hari perbuatan itu akan menyiksa dirinya sendiri. Lebih baik seseorang melakukan perbuatan baik, karena setelah melakukannya ia tidak menyesal.

315. Bagaikan pembatas negara yang dijaga kuat dibagian dalam dan luar, begitu juga seharusnya engkau menjaga dirimu; janganlah membiarkan kesempatan baik ini berlalu. Karena, mereka yang melepaskan kesempatan ini akan bersedih hati bila nanti berada di alam neraka.

316. Mereka yang merasa malu terhadap apa yang sebenarnya tidak memalukan, dan sebaliknya tidak merasa malu terhadap apa yang sebenarnya memalukan; maka orang yang menganut pandangan salah seperti itu akan masuk ke alam sengsara.

317. Mereka yang merasa takut terhadap apa yang sebenarnya tidak menakutkan, dan sebaliknya tidak merasa takut terhadap apa yang sebenarnya menakutkan; maka orang yang mengaut pandangan salah seperti itu akan masuk ke alam sengsara.

318. Mereka yang menggangap tercela terhadap apa yang sebenarnya tidak tercela, dan menggangap tidak tercela terhadap apa yang sebenarnya tercela; maka orang yang menganut pandangan salah seperti itu akan masuk ke alam sengsara.

319. Mereka yang mengetahui apa yang tercela sebagai tercela dan apa yang tidak tercela sebagai tidak tercela; maka orang yang menganut pandangan benar seperti itu akan masuk ke alam bahagia.

Gajah

320. Seperti seekor gajah di medan perang dapat menahan serangan panah yang dilepaskan dari busur, begitu pula Aku ( Tathagata ) tetap bersabar terhadap cacian; sesungguhnya, sebagian besar orang mempunyai kelakuan rendah.

321. Mereka menuntun gajah yang telah terlatih ke hadapan orang banyak. Raja mengendarai gajah yang terlatih ke medan perang. Di antara umat manusia, maka yang terbaik adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri dan dapat bersabar terhadap cacian.

322. Sungguh baik keledai-keledai yang terlatih, begitu juga kuda-kuda Sindhu dan gajah-gajah perang milik para bangsawan; tetapi jauh lebih baik dari semua itu adalah orang yang telah dapat menaklukkan dirinya sendiri.

323. Tidak dengan mengendarai tunggangan seperti itu seseorang dapat pergi ke tempat yang belum pernah didatangi ( Nibbana ). Namun orang yang telah dapat melatih , menaklukkan dan mengendalikan dirinya sendiri dapat pergi ke tempat yang belum pernah didatangi itu.

324. Pada musim kawin, gajah ganas bernama Dhanapalaka sukar dikendalikan; walaupun diikat kuat Ia tetap tidak mau makan karena merindukan gajah-gajah lain di hutan.

325. Jika seseorang menjadi malas, serakah, rakus akan makanan dan suka merebahkan diri, sama sepeti babi hutan yang mengguling-guling kesana kemari. Orang yang bodoh ini akan terus menerus dilhirkan.

326. Dahulu pikiran ini mengembara, pergi kepada obyek-obyek yang disukai, diingini dan ke mana yang dikehendaki. Sekarang aku akan mengendalikannya dengan penuh perhatian, seperti seorang pejinak gajah mengendalikan gajah dengan ikatan besi.

327. Bergembiralah dalam kewaspadaan dan jagalah pikiranmu dengan baik; bebaskanlah pikiranmu dari cara-cara yang salah, seperti seekor gajah melepaskan dirinya yang terbenam dalam lumpur.

328. Apabila dalam pengembaraanmu engkau tak dapat menemukan seorang sahabat yang berkelakuan baik, pandai dan bijaksana, maka hendaknya ikutilah dia yang membawa kebahagiaan dan kesadaran bagi dirimu yang akan menghindari dirimu dari kesukaran dan dari mara bahaya.

329. Apabila dalam pengembaraanmu engkau tak dapat menemukan sahabat yang berkelakuan baik, pandai dan bijaksana, maka hendaknya engkau berjalan seorang diri, seperti seorang raja yang meninggalkan negara yang telah dikalahkannya, atau seperti seekor gajah yang mengembara di dalam hutan.

330. Lebih baik mengembara seorang diri dan tidak bergaul dengan orang bodoh. Pergilah seorang diri dan jangan berbuat jahat; hiduplah dengan bebas ( tidak banyak kebutuhan ), seperti seekor gajah yang mengembara sendiri di dalam hutan.

331. Sungguh bahagia mempunyai kawan pada saat kita membutuhkannya; sungguh bahagia dapat merasa puas dengan apa yang diperoleh; sungguh bahagia dapat berbuat kebajikan menjelang kematian; dan sungguh bahagia dapat mengakhiri penderitaan.

332. Berlaku baik terhadap ibu merupakan suatu kebahagiaan dalam dunia ini; berlaku baik terhadap ayah merupakan kebahagiaan. Berlaku baik terhadap petapa merupakan suatu kebahagiaan dalam dunia ini; berlaku baik terhadap Para Ariya juga merupakan kebahagiaan.

333. Sila akan memberikan kebahagiaan sampai usia tua; keyakinan kuat akan memberikan kebahagiaan; kebijaksanaan yang telah diperoleh akan memberikan kebahagiaan; tidak berbuat jahat akan memberikan kebahagiaan.