Translate

Kamis, 17 Desember 2020

BAKA JATAKA


BAKA JATAKA

“Tipu muslihat tidak akan membawa keuntungan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang menjahit jubah. Menurut kisah yang disampaikan secara turun temurun, di Jetawana hiduplah seorang bhikkhu yang sangat ahli dalam melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan jubah, seperti menggunting, menyatukan, mengubah dan menjahit. Dengan kemampuan yang dimilikinya, ia selalu membuat jubah dan mendapat julukan ‘Pembuat Jubah’. Apa, Anda tentu bertanya, yang dilakukannya? – Baiklah, ia menggunakan keahliannya pada potongan kain usang, mengubahnya menjadi jubah yang bagus dan halus, dimana saat pencelupan dilakukan, ia akan memperjelas warna kain dengan cara merendam kain dalam pewarna makanan, menyikatnya dengan sejenis kulit, sehingga terlihat bagus dan menarik. Setelah itu, hasil karyanya akan diletakkan di samping.

Bhikkhu yang tidak memiliki kemampuan menjahit, mendatanginya dengan membawa kain-kain yang masih baru dan berkata, “Kami tidak tahu bagaimana cara membuat jubah, buatkanlah untuk kami.”

“Awuso,” jawabnya, “pembuatan jubah memerlukan waktu yang cukup lama, namun ada satu jubah yang baru saya selesaikan. Engkau dapat memilikinya jika mau meninggalkan kain-kain ini untukku.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengeluarkan jubah itu dan menunjukkannya pada mereka. Para bhikkhu yang hanya mengetahui bahwa warna jubah itu sangat bagus, tidak mengetahui jubah itu terbuat dari kain yang bagaimana, mengira jubah itu cukup kuat, bersedia memberikan kain baru mereka untuk ‘Pembuat Jubah’ itu dan pergi membawa jubah yang diserahkannya. Ketika jubah itu telah kotor dan dicuci dengan menggunakan air panas, bentuk aslinya akan muncul, terdapat tambalan di sana sini. Pemiliknya akan menyesali pertukaran yang telah mereka lakukan. Bhikkhu itu terkenal di mana-mana karena memperdayai semua orang yang menemuinya dengan cara seperti itu.

Di sebuah desa kecil, terdapat seseorang yang juga memperdayai orang-orang dengan cara yang sama seperti apa yang dilakukan oleh bhikkhu dari Jetawana tersebut. Teman bhikkhu desa tersebut berkata, “Bhante, kata orang, di Jetawana juga terdapat seorang pembuat jubah yang memperdayai semua orang seperti yang engkau lakukan.” Sebuah ide terlintas di pikirannya, “Akan menarik untuk memperdayai bhikkhu kota itu!” Maka ia mengambil potongan-potongan kain usang dan mengubahnya menjadi sepotong jubah yang sangat bagus, mencelupnya dengan warna jingga yang sangat menarik. Ia memakai jubah tersebut dan pergi ke Jetawana. Saat bhikkhu penipu dari kota melihatnya, ia menginginkan jubah tersebut, maka ia berkata kepada pemilik jubah itu, “Bhante, apakah jubah ini dibuat sendiri olehmu?”

“Benar, Saya sendiri yang membuatnya,” jawabnya. “Biarkan saya memilikinya, Bhante, Anda bisa mengenakan jubah lain sebagai gantinya.”

“Namun, Awuso, kami bhikkhu desa, sulit memenuhi ketentuan-ketentuan pembuatan jubah; jika saya memberikan jubah ini kepadamu, apa yang akan saya kenakan?”

“Bhante, di tempat tinggalku ada beberapa potong kain yang masih baru; ambillah kain-kain itu dan buatlah sepotong jubah baru.”

“Awuso, jubah ini menunjukkan ketrampilan tanganku. Namun, jika engkau berkeras, apa yang dapat saya lakukan? Ambillah jubah ini.” Setelah memperdayai bhikkhu penipu dari kota itu, menukar jubah dari kain usang dengan kain yang masih baru, sang bhikkhu desa segera pergi dari tempat tersebut. Setelah jubah usang itu dipakai oleh bhikkhu dari Jetawana itu, ia mencucinya dengan menggunakan air hangat. Saat itu ia baru mengetahui bahwa jubah itu terbuat dari potongan kain usang; ia merasa dipermalukan. Semua bhikkhu mendengar kabar bahwa bhikkhu penipu dari Jetawana telah diperdayai oleh seorang pembuat jubah dari desa.

Suatu hari, saat para bhikkhu sedang duduk di Balai Kebenaran, membicarakan kejadian tersebut, Sang Guru memasuki balai tersebut dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka kemudian menceritakan kejadian itu kepada Beliau. Sang Guru berkata, “Para Bhikkhu, ini bukan kejadian satu-satunya dimana pembuat jubah dari Jetawana memperdayai (orang lain) dengan menggunakan tipu muslihat, tetapi di kehidupan yang lampau ia juga melakukan hal yang sama; Sekarang ia diperdayai oleh seorang bhikkhu dari desa, sama seperti yang ia alami di kehidupan yang lampau.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Dahulu kala, Bodhisatta terlahir di sebuah hutan yang angker sebagai dewa pohon dari sebatang pohon yang tumbuh dekat sebuah kolam teratai. Saat itu, setiap kali musim panas tiba, air kolam mengering sehingga yang tersisa hanya sebuah kolam kecil yang dipenuhi oleh sejumlah ikan. Melihat ikan-ikan tersebut, seekor bangau berkata kepada dirinya, “Saya harus menemukan cara untuk membujuk dan menyantap ikan-ikan ini.” Maka ia duduk dan berpikir keras di pinggir kolam tersebut. Saat ikan-ikan melihat keberadaan bangau tersebut, mereka berkata, “Apa yang sedang Anda pikirkan, Tuan, dengan duduk termenung di sana?” “Saya sedang memikirkan kalian,” jawabnya. “Apa yang Anda pikirkan tentang kami, Tuan?”

“Air di kolam akan semakin kering, makanan semakin sedikit dan kondisi semakin panas, saya berpikir sendiri, saat duduk di sini, apa yang akan kalian lakukan dengan berada di sini?”

“Apa yang harus kami lakukan, Tuan?”

“Baik, jika kalian mau mendengarkan nasihatku, saya akan membawa kalian satu per satu dengan menggunakan paruh saya, memindahkan kalian semua ke sebuah kolam besar yang dipenuhi oleh lima jenis teratai, dan meninggalkan kalian di sana.”

“Tuanku,” kata ikan-ikan itu, “tidak ada bangau yang memikirkan kesejahteraan ikan-ikan, walaupun sedikit, sejak dunia ini mulai terbentuk. Engkau hanya ingin memangsa kami satu per satu.”

“Tidak, saya tidak akan menyantap kalian jika kalian memercayaiku,” kata bangau tersebut. “Jika kalian tidak percaya ada kolam seperti apa yang saya katakan, kirimkan seekor ikan untuk ikut denganku dan melihat sendiri keberadaan kolam itu.” Percaya pada ucapan bangau itu, ikan-ikan itu menyerahkan seekor ikan besar kepada bangau (sebelah mata ikan ini buta), yang menurut mereka cocok dengan bangau tersebut baik saat berada di air maupun di darat.

Mereka berkata, “Bawalah ikan ini bersamamu.” Bangau membawa Mereka berkata, “Bawalah ikan ini bersamamu.” Bangau membawa ikan tersebut pergi dan menurunkan ikan tersebut di kolam besar yang dikatakannya; setelah menunjukkan keseluruhan tempat itu kepada ikan tersebut, bangau membawanya kembali dan menurunkannya di kolam lama tempat teman-temannya berada. Ikan itu membicarakan keindahan kolam baru itu kepada teman-temannya. Mendengar hal tersebut, timbullah keinginan mereka untuk pergi ke sana. Mereka berkata kepada bangau itu, “Baiklah, Tuan, tolong bawa kami menyeberang.”

Pertama-tama, bangau membawa ikan besar bermata satu itu dan membawanya ke tepi kolam, sehingga ia bisa melihat kolam tersebut, namun sebenarnya ia hinggap di pohonvaraṇa yang tumbuh di pinggir sungai. Ia melemparkan ikan tersebut ke cabang pohon dan mematuknya hingga mati, — setelah itu, ia mencungkil bersih dagingnya dan membiarkan tulang ikan tersebut jatuh di kaki pohon. Kemudian ia kembali lagi ke kolam itu dan berkata, “Saya telah membawanya masuk ke dalam kolam. Siapa berikutnya?” Dengan cara itulah ia membawa ikan itu satu per satu, dan melahap mereka semua hingga saat terakhir ia kembali, tidak ada satu ikan pun yang terlihat olehnya. Namun masih ada seekor kepiting di kolam itu.

Bangau yang berniat menyantap kepiting itu berkata, “Tuan Kepiting, saya telah memindahkan semua ikan ke sebuah kolam besar yang permukaannya dipenuhi oleh bunga teratai. Ikutlah bersama saya; Saya akan membawamu ke sana.”

“Bagaimana caramu membawa saya menyeberang?” tanya kepiting itu.

“Tentu saja dengan paruhku,” jawab bangau.

“Ah, dengan cara seperti itu saya bisa terjatuh,” kata kepiting, “saya tidak akan pergi bersamamu.”tersebut di kolam besar yang dikatakannya; setelah menunjukkan keseluruhan tempat itu kepada ikan tersebut, bangau membawanya kembali dan menurunkannya di kolam lama tempat teman-temannya berada. Ikan itu membicarakan keindahan kolam baru itu kepada teman-temannya. Mendengar hal tersebut, timbullah keinginan mereka untuk pergi ke sana. Mereka berkata kepada bangau itu, “Baiklah, Tuan, tolong bawa kami menyeberang.”

Pertama-tama, bangau membawa ikan besar bermata satu itu dan membawanya ke tepi kolam, sehingga ia bisa melihat kolam tersebut, namun sebenarnya ia hinggap di pohonvaraṇa yang tumbuh di pinggir sungai. Ia melemparkan ikan tersebut ke cabang pohon dan mematuknya hingga mati, — setelah itu, ia mencungkil bersih dagingnya dan membiarkan tulang ikan tersebut jatuh di kaki pohon. Kemudian ia kembali lagi ke kolam itu dan berkata, “Saya telah membawanya masuk ke dalam kolam. Siapa berikutnya?” Dengan cara itulah ia membawa ikan itu satu per satu, dan melahap mereka semua hingga saat terakhir ia kembali, tidak ada satu ikan pun yang terlihat olehnya. Namun masih ada seekor kepiting di kolam itu.

Bangau yang berniat menyantap kepiting itu berkata, “Tuan Kepiting, saya telah memindahkan semua ikan ke sebuah kolam besar yang permukaannya dipenuhi oleh bunga teratai. Ikutlah bersama saya; Saya akan membawamu ke sana.”

“Bagaimana caramu membawa saya menyeberang?” tanya kepiting itu.

“Tentu saja dengan paruhku,” jawab bangau.

“Ah, dengan cara seperti itu saya bisa terjatuh,” kata kepiting, “saya tidak akan pergi bersamamu.”

“Jangan takut, saya akan memegangmu erat-erat di sepanjang perjalanan.” Kepiting itu berpikir, “Ia tidaklah memindahkan ikan-ikan itu ke dalam kolam. Akan tetapi, jika ia benar-benar membawa saya ke sana, itu adalah keberuntunganku. Jika ia tidak melakukannya, — yah, saya akan menggigit kepalanya hingga putus dan membunuhnya.” Ia berkata seperti ini kepada bangau tersebut, “Kamu tidak akan bisa memegangku dengan erat, Teman, karena kami, bangsa kepiting, dikaruniai dengan cangkang yang kerasnya sangat mencengangkan. Jika saya bisa memegang lehermu dengan capit saya, saya bisa memegangmu dengan erat dan bisa pergi bersamamu.”

Tidak menduga kalau kepiting itu akan menjebaknya, bangau menyetujui hal itu. Dengan capitnya, kepiting itu menjepit leher bangau seperti jepitan seorang tukang besi, dan berkata, “Sekarang, kamu bisa mulai terbang!” Bangau itu membawanya dan menunjukkan kolam itu awalnya, namun kemudian ia hinggap di sebuah pohon.

“Kolam itu berada di arah itu, Paman,” kata kepiting, “engkau membawaku ke arah yang lain.”

“Saya benar-benar adalah pamanmu!” jawab bangau, “dan kamu benar-benar keponakanku! Kamu mengira saya adalah budak yang harus mengangkat dan membawamu? Lihatlah tumpukan tulang-tulang di kaki pohon ini; seperti semua ikan yang telah saya makan, saya akan memakanmu juga.” Kepiting berkata, “Karena kebodohan mereka sendiri mereka dimakan olehmu, namun saya tidak akan memberikan kesempatan itu kepadamu. Tidak, yang akan saya lakukan adalah membunuhmu. Dan kamu, cukup bodoh dengan tidak melihat bahwa saya sedang menipumu. Jika harus mati, kita akan mati bersama. Saya akan membuat kepalamu putus.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia menjepit leher burung bangau itu dengan capitnya yang seperti penjepit.

Dengan mulut terbuka lebar, dan air mata yang bercucuran dari matanya, bangau yang nyawanya terancam itu berkata, “Tuanku, saya tidak akan memakanmu! Lepaskanlah saya!”

“Baiklah, turunkan saya ke kolam itu,” kata kepiting. Bangau itu berputar dan turun ke kolam seperti yang diperintahkan, menempatkan kepiting itu di atas lumut di pinggir kolam. Namun sebelum turun, kepiting itu menjepit kepala bangau tersebut hingga putus, dengan gerakan setangkas saat kita memotong tangkai bunga teratai menggunakan pisau.

Dewa pohon yang menetap di pohon itu, melihat kejadian yang menarik tersebut, membuat seisi hutan dipenuhi suara tepuk tangan, melalui pengulangan syair ini dengan suaranya yang merdu :

Tipu muslihat tidak akan membawa keuntungan bagimu,

Orang yang penuh tipuan.

Lihatlah apa yang diperoleh bangau yang penuh muslihat itu dari kepiting.

____________________

“Para Bhikkhu,” kata Sang Guru, “ini bukan pertama kalinya orang ini diperdayai oleh pembuat jubah dari desa itu; di kehidupan yang lampau ia juga diperdayai dengan cara yang sama.” Setelah uraiannya berakhir, Beliau mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Pembuat jubah dari Jetawana itu adalah bangau di masa itu, pembuat jubah dari desa adalah kepiting, dan Saya sendiri adalah dewa pohon tersebut.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

20 welas asih Kwan Im Pho Sha

Namo Guan Shi Yin Pu Sa (觀 世 音 菩 薩)

Berikut Adalah Welas Asih Guan Shi Yin Pu Sa (觀 世 音 菩 薩)

1. Jika orang lain membuatmu susah, anggaplah itu tumpukan rejeki.
2. Mulai hari ini belajarlah menyenangkan hati orang lain.
3. Jika kamu merasa pahit dalam hidupmu dengan suatu tujuan, itulah bahagia.
4. Lari dan berlarilah untuk mengejar hari esok.
5. Setiap hari kamu sudah harus merasa puas dengan apa yang kamu miliki saat ini.
6. Setiapkali ada orang memberimu 1 kebaikan, kamu harus mengembalikannya 10x lipat.
7. Nilailah kebaikan orang lain kepadamu, tetapi hapuskanlah jasa yang pernah kamu berikan pada orang lain.
8. Dalam keadaan benar kamu difitnah, dipersalahkan dan dihukum, maka kamu akan mendapatkan pahala.
9. Dalam keadaan salah kamu dipuji dan dibenarkan, itu merupakan hukuman.
10. Orang yang benar kita bela tetapi yang salah kita beri nasihat.
11. Jika perbuatan kamu benar, kamu difitnah dan dipersalahkan, tapi kamu menerimanya, maka akan datang kepadamu rezeki yang berlimpah-ruah.
12. Jangan selalu melihat / mengecam kesalahan orang lain, tetapi selalu melihat diri sendiri itulah kebenaran.
13. Orang yang baik diajak bergaul, tetapi yang jahat dikasihani.
14. Kalau wajahmu senyum hatimu senang, pasti kamu akan aku terima.
15. 2 orang saling mengakui kesalahan masing2, maka 2 orang itu akan bersahabat sepanjang masa.
16. Saling salah menyalahkan, maka akan mengakibatkan putus hubungan.
17. Kalau kamu rela dan tulus menolong orang yang dalam keadaan susah, maka jangan sampai diketahui bahwa kamu sebagai penolongnya.
18. Jangan membicarakan sedikitpun kejelekan orang lain dibelakangnya, sebab kamu akan dinilai jelek oleh si pendengar.
19. Kalau kamu mengetahui seseorang berbuat salah, maka tegurlah langsung dengan kata2 yang lemah lembut hingga orang itu insaf.
20. Doa dan sembah sujudmu akan aku terima, apabila kamu bisa sabar dan menuruti jalan Ku.

Namo Amitofo

Rabu, 16 Desember 2020

Losaka Jataka

LOSAKA_JATAKA

 

“Orang yang keras kepala,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai Thera Losaka Tissa. ‘Siapa,’ kamu tentu bertanya, ‘Thera Losaka Tissa ini?’ Baiklah, ayahnya adalah seorang nelayan di Kosala, dan ia adalah ketidakberuntungan bagi keluarganya. Ketika ia menjadi bhikkhu, tidak ada apa pun yang diberikan kepadanya. Setelah kehidupan sebelumnya berakhir, ia dikandung oleh istri seorang nelayan dari suatu desa nelayan, yang dihuni oleh seribu keluarga di Kosala. Pada hari (pertama) ia dikandung, seribu nelayan tersebut yang membawa jala di tangan pergi ke sungai dan kolam untuk menangkap ikan, tidak berhasil menangkap satu ekor ikan pun; kemalangan yang sama menimpa mereka sejak saat itu hingga seterusnya. Sebelum ia lahir, desa itu mengalami kebakaran sebanyak tujuh kali, dan dikuasai oleh musuh kerajaan sebanyak tujuh kali. Sejak saat itu, orang-orang mengalami ketidakberuntungan besar. Menyadari sebelumnya nasib mereka tidak seperti itu, sementara sekarang ini, mereka tersiksa dan mengalami kehancuran, mereka mengambil kesimpulan bahwa pasti ada pembawa ketidakberuntungan di antara mereka, dan memutuskan untuk membagi penghuni desa menjadi dua kelompok. Pembagian tersebut segera mereka lakukan, sehingga masing-masing kelompok terdiri dari lima ratus keluarga. Sejak itu kehancuran hanya terjadi pada kelompok dimana orang tua Losaka di masa yang akan datang berada; sementara kelima ratus keluarga yang lain berkembang dengan pesat. Mereka yang dituakan memutuskan untuk membagi jumlah mereka menjadi dua lagi, dan terus melakukan hal tersebut sehingga yang tersisa hanya satu keluarga itu saja yang dipisahkan dari penghuni lainnya. Dengan demikian mereka tahu bahwa pembawa ketidakberuntungan itu adalah keluarga tersebut, yang akhirnya mereka usir dari desa itu. Dengan susah payah ibunya menafkahi kehidupan mereka; sewaktu saat melahirkan tiba, ia melahirkan putranya di suatu tempat tertentu.

Saat seseorang yang lahir dalam kelahirannya yang terakhir, ia tidak akan bisa dibunuh. Seperti lampu dalam bejana, demikianlah di dalam batinnya menyala kobaran takdirnya untuk menjadi seorang Arahat.) Ibunya membesarkannya hingga ia mampu berlari. Setelah ia mampu berlari, ibunya menempatkan sebuah pecahan kendi di tangannya, memintanya pergi ke sebuah rumah untuk mengemis, sementara itu, ibunya pergi meninggalkannya. Sejak itu, anak yang ditinggalkan sendiri itu mengemis makanan di sekitar tempat tersebut, dan tidur di tempat mana pun yang ditemukannya. Ia tidak pernah dimandikan dan dipelihara dengan baik, dan bertahan hidup seperti pisaca pemakan sampah. Ketika berusia tujuh tahun, ia memungut dan menyantap gumpalan demi gumpalan nasi yangditemukannya di luar pintu rumah, yang dibuang orang ketika mencuci pot nasi.

Sāriputta, sang Panglima Dhamma, saat pergi ke Sawatthi untuk melakukan pindapata, menemukan anak itu, bertanya-tanya dari manakah anak yang terlihat berantakan itu berasal. Dipenuhi oleh kasih sayang, ia memanggil anak tersebut. “Kemarilah, Nak.” Anak itu mendekat, membungkuk pada sang thera dan berdiri di hadapannya. Sāriputta kemudian bertanya, “Engkau berasal dari desa mana dan dimanakah orang tuamu berada?”

“Saya adalah orang miskin, Bhante,” jawab anak itu, “orang tua saya telah lelah merawat saya, mereka meninggalkan saya dan pergi sendiri.”

“Maukah engkau menjadi bhikkhu?”

“Saya ingin sekali, namun siapakah yang mau menerima orang tidak beruntung seperti saya menjadi anggota Sanggha?”

“Saya bersedia menerimamu.”

“Kalau begitu, mohon terimalah saya menjadi seorang bhikkhu.”

Thera tersebut memberikan makanan kepada anak itu dan membawanya ke wihara, ia sendiri yang memandikannya dan menjadikannya sebagai samanera sebelum ditahbiskan menjadi bhikkhu di kemudian hari setelah ia cukup dewasa. Setelah dewasa, ia dikenal sebagai Thera Losaka Tissa; ia selalu tidak beruntung, dan hanya mendapatkan sedikit persembahan.

Cerita berkembang bahwa, tidak peduli betapa berlimpahnya persembahan yang diberikan, ia tidak pernah mendapatkan makanan yang dapat membuatnya kenyang, hanya sekedar membuatnya mampu bertahan hidup saja. Satu sendok nasi saja telah membuat pattanya terlihat sangat penuh, sehingga pemberi dana yang mengira pattanya telah penuh, akan memberikan dana kepada orang berikutnya. Saat nasi telah diberikan ke pattanya, dikatakan bahwa nasi yang berada di piring pemberi dana akan menghilang. Demikian juga yang terjadi dengan persembahan makanan lainnya. Walaupun demikian, dengan berlalunya waktu, ia berhasil mengembangkan kesadarannya dan mencapai phala tertinggi, yakni tingkat kesucian Arahat, namun ia tetap mendapatkan persembahan dana dalam jumlah yang sedikit.

Setelah waktunya telah sempurna, ketika jasmani yang menentukan jalan hidupnya telah usang, tiba saat baginya untuk meninggalkan dunia ini. Sang Panglima Dhamma, saat bermeditasi, mengetahui hal tersebut, kemudian berpikir, “Losaka Tissa akan meninggal hari ini; bagaimana pun juga, hari ini saya akan memastikan ia dapat makan hingga kenyang.” Maka ia membawa thera itu pergi ke Sawatthi untuk berpindapatta.

Namun, karena Losaka ikut bersamanya, semua itu sia-sia, walaupun Sāriputta mengulurkan tangan untuk menerima dana makanan di Sawatthi yang padat penduduknya, mereka hanya memberikan penghormatan kepadanya. Maka ia meminta Thera Losaka untuk pulang terlebih dahulu dan mengambil tempat di ruang duduk wihara, sementara ia sendiri mengumpulkan makanan yang kemudian dikirimkannya dengan pesan agar makanan itu diberikan kepada Thera Losaka. Setiap orang yang menerima titipan makanan itu pergi dengan membawa makanan tersebut, namun kemudian mereka melupakan semua hal tentang Losaka, dan memakan semuanya sendiri. Ketika Sāriputta bangkit dan masuk ke dalam wihara, Losaka menemuinya dan memberikan penghormatan kepadanya. Sāriputta berhenti, memutar badannya dan bertanya, “Sudahkah kamu menerima makanan itu?”

“Saya akan, tanpa diragukan, menerimanya pada waktu yang tepat,” jawab Thera Losaka. Sāriputta merasa sangat tidak enak hati, ia melihat sudah jam berapakah saat itu. Tengah hari telah terlewati. “Tunggu disini, Bhikkhu,” kata Sāriputta, “jangan pergi ke mana-mana”, ia membuat Losaka Tissa mengambil tempat di ruang duduk, dan ia pergi ke istana Raja Kosala. Raja meminta agar pattanya dibawakan dan berkata saat itu telah melewati tengah hari, karena itu bukan lagi saat untuk makan nasi, memerintahkan agar mangkuknya diisi dengan empat jenis makanan yang manis. Dengan makanan tersebut, ia kembali ke wihara, berdiri dihadapan Losaka, dengan patta di tangan, meminta orang bijaksana itu untuk makan, namun Thera Losaka merasa malu, rasa hormat yang dimilikinya terhadap Sāriputta, membuat ia menolak untuk makan. “Makanlah, Thera Tissa,” kata Sāriputta, “saya harus berdiri dengan memegang patta, sementara engkau duduk dan makan. Jika patta ini terlepas dari tangan saya, semua makanan di dalamnya akan lenyap.”

Maka Thera Losaka Tissa makan makanan manis tersebut, sementara sang Panglima Dhamma yang agung itu berdiri sambil memegang patta. Berkat jasa dan kekuatan dari sang thera, makanan-makanan itu tidak menghilang. Dengan demikian, Thera Losaka dapat makan sebanyak yang ia inginkan dan merasa puas, di hari yang sama ia meninggal dunia, dan ia tidak mengalami kelahiran kembali lagi.

Yang Tercerahkan Sempurna berdiri, melihat saat jasadnya dikremasi; dan mereka kemudian membangun cetiya untuk menyimpan abunya. Saat duduk dalam sebuah pertemuan di Balai Kebenaran, para bhikkhu berkata, “Awuso, Losaka sangat tidak beruntung, ia hanya mendapatkan sedikit persembahan dana. Bagaimana ia yang begitu tidak beruntung, dengan kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi bisa mencapai tingkat kesucian Arahat?”

Masuk ke dalam Balai Kebenaran, Sang Guru menanyakan topik pembicaraan mereka, mereka pun menceritakannya kepada Beliau. “Para Bhikkhu,” Beliau berkata, “tindakan bhikkhu itu sendiri yang membuat ia menerima sedikit persembahan dana, demikian juga dengan pencapaian tingkat kesucian Arahat. Di kehidupan yang lampau, ia menghalangi orang lain menerima persembahan, akibatnya ia hanya mendapatkan sedikit persembahan dana di kelahiran ini. Karena melakukan meditasi terhadap ketidakkekalan, penderitaan, keadaan tanpa inti, ia mencapai tingkat kesucian Arahat dengankemampuannya sendiri.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu di masa kehidupan Buddha Kassapa, ada seorang bhikkhu yang hidup di pedesaan, yang disokong oleh seorang tuan tanah. Tingkah lakunya sebagai seorang bhikkhu biasa-biasa saja, ia menjalankan sila dan memenuhi dirinya dengan meditasi (vipassana). Di tempat itu juga terdapat seorang thera, yang telah mencapai tingkat kesucian Arahat, ia hidup bersama teman-temannya dalam kesetaraan, saat kisah ini berlangsung, ia sedang melakukan kunjungan pertama ke desa yang dihuni oleh tuan tanah yang menyokong kehidupan bhikkhu tersebut. Tuan tanah yang merasa senang melihat perilaku thera itu, mengambil patta dan mempersilakannya masuk ke rumahnya, dan dengan penuh hormat mengundangnya untuk makan. Kemudian ia mendengarkan khotbah singkat yang disampaikan oleh thera tersebut. Di akhir khotbah, tuan tanah itu berkata, “Bhante, jangan pergi lebih jauh dari tempat di sekitar wihara kami. Pada sore hari, saya akan datang untuk menemuimu di sana.” Maka thera tersebut pergi ke wihara desa tersebut, memberikan salam kepada bhikkhu yang menghuni wihara saat masuk ke sana. Setelah memberikan sapaan yang penuh kesopanan, thera tersebut mengambil tempat di samping bhikkhu itu. Bhikkhu itu menerima kedatangannya dengan ramah, dan menanyakan apakah ia telah mendapatkan dana makanan.

“Sudah,” jawab Thera tersebut. “Dimanakah engkau mendapatkannya?”

“Di sekitar sini, di rumah seorang tuan tanah.” Setelah mengatakan hal tersebut, Thera tersebut menanyakan kamarnya dan pergi untuk mempersiapkannya. Setelah meletakkan patta dan jubahnya di satu sisi, ia duduk bermeditasi, menikmati kebahagiaan vipassana, menyelami rasa bahagia dalam magga dan phala. Sore harinya, tuan tanah tersebut datang, diiringi oleh para pelayan yang membawa bunga, wewangian, pelita dan minyak. Setelah memberikan salam kepada bhikkhu yang tinggal di wihara itu, ia bertanya apakah tamunya telah sampai, seorang thera. Mendengar jawaban bahwa tamu itu telah sampai, ia menanyakan dimana thera itu berada. Setelah mengetahui kamar mana yang diberikan kepada thera tersebut, ia pun mengunjunginya. Pertama-tama ia memberikan hormat dengan penuh kesopanan, kemudian duduk di sisi thera tersebut dan mendengarkan Dhamma yang disampaikan olehnya. Di sore yang dingin itu, tuan tanah tersebut memberikan persembahan pada Pohon Cetiya dan Pohon Bodhi, kemudian menyalakan pelita dan pergi setelah menyampaikan undangan kepada thera dan bhikkhu itu, agar datang ke rumahnya keesokan hari untuk menerima persembahan dana makanan darinya.

“Saya telah kehilangan kendali atas tuan tanah itu,” pikir bhikkhu itu. “Jika thera ini menetap, saya tidak akan dapat menandinginya.” Ia merasa tidak senang dan mencari cara licik agar thera itu dapat melihat bahwa ia tidak boleh menetap disana demi kebaikannya. Karenanya, saat thera tersebut memberikan penghormatan di awal hari, bhikkhu itu tidak membuka mulutnya. Sang arahat membaca pikiran bhikkhu itu dan berkata pada dirinya sendiri, “Bhikkhu ini tidak mengetahui bahwa saya tidak akan menghalanginya, baik dari keluarga yang menyokongnya, maupun posisinya sebagai bhikkhu.” Thera tersebut kemudian kembali ke kamar, masuk ke dalam kebahagiaan vipassana dan juga phala. Keesokan harinya, bhikkhu itu, membunyikan gong dengan hati-hati, menyentuh gong tersebut dengan bagian belakang kukunya, dan pergi sendiri ke rumah tuan tanah itu. Sambil mengambil patta dari tangan bhikkhu itu, tuan tanah tersebut memintanya untuk duduk dan menanyakan dimanakah orang baru itu berada.

“Saya tidak mengetahui kabar temanmu,” jawab bhikkhu itu. “Walaupun saya telah memukul gong dan mengetuk pintu kamarnya, saya tidak dapat membangunkannya. Saya hanya bisa menduga bahwa makanan pilihan di sini kemarin tidak sesuai dengan seleranya, dan dia masih memikirkan baik buruknya. Mungkin dengan melakukan ini, ia ingin menyampaikan hal tersebut kepadamu.” (Sementara itu, arahat yang menunggu hingga waktu untuk melakukan pindapata tiba, mandi, berpakaian dan bangkitdengan membawa pattanya, ia melayang ke udara dan pergi ke tempat yang lain)

Penjaga itu mempersembahkan nasi dan susu untuk dimakan oleh bhikkhu tersebut, bersama dengan mentega cair, madu, gula. Kemudian patta bhikkhu itu dibersihkan dengan serbuk yang wangi (cuṇṇa) dan diisi lagi. Tuan tanah itu berkata, “Bhante, thera itu pasti kelelahan setelah perjalanannya, tolong bawakan ia makanan-makanan ini.” Tanpa keberatan apa pun, bhikkhu itu membawa makanan tersebut dan pergi, sambil berpikir, “Jika ia mencicipi makanan (enak) seperti ini sekali saja, maka ia tidak bisa diusir pergi lagi, sekali pun dengan menyeretnya atau menendangnya keluar dari pintu. Bagaimana saya dapat melenyapkan makanan seperti ini? Jika saya berikan kepada orang lain, pasti akan segera ketahuan. Jika saya buang ke sungai, mentega cair ini akan terapung di permukaan sungai. Jika dibuang ke tanah, akan membuat semua gagak di daerah ini berkumpul.” Dalam kebingungannya, ia melihat sebidang tanah yang sedang terbakar, menampakkan bara api. Ia melemparkan isi pattanya ke dalam lubang, mengisi bara api ke permukaan lubang itu, dan pulang ke rumah. Tidak menemukan thera tersebut di sana, ia berpikir bahwa sang arahat mengerti akan kecemburuannya dan telah pergi. “Menderitalah aku,” ia menangis, “untuk keserakahan yang membuat aku melakukan keburukan ini.”

Sejak saat itu, ia sakit dan berubah seperti mayat hidup. Setelah meninggal ia terlahir kembali di alam neraka, disiksa di sana selama beberapa ratus ribu tahun lamanya. Karena buah perbuatan jahatnya telah masak, dalam lima ratus kelahiran berturut-turut ia dilahirkan menjadi yaksa, yang tidak pernah mendapatkan makanan yang cukup, hanya satu kali, saat ia menikmati sampah yang tersedia dalam jumlah yang berlimpah.

Kemudian untuk lima ratus kali kelahiran berikutnya ia terlahir menjadi anjing, yang juga hanya pernah kenyang satu kali saja, yakni saat makan sejumlah nasi yang dimuntahkan; tidak ada kesempatan lainnya yang memungkinkan ia makan hingga kenyang. Saat berhenti terlahir sebagai anjing, ia terlahir di keluarga pengemis di sebuah desa di Kasi. Begitu ia lahir, keluarga itu menjadi semakin melarat, ia tidak pernah mendapatkan setengah bagian dari bubur kanji yang ia inginkan. Ia dipanggil Mittavindaka. Tidak mampu menahan rasa perih akibat lapar yang menyerang, orang tuanya memukul dan mengusirnya pergi, sambil berteriak, “Pergilah, engkau anak sial!”

Dalam perjalanannya, anak buangan ini sampai ke Benares, dimana saat itu Bodhisatta adalah seorang guru yang sangat terkenal di seluruh dunia, dengan lima ratus orang brahmana muda yang menerima pelajaran darinya. Di masa itu, para penduduk mempunyai kebiasaan untuk memberi makanan seadanya kepada anak-anak miskin dan memberikan pendidikan kepada mereka secara gratis. Mittavindaka juga menjadi salah seorang siswa yang dibiayai melalui derma penduduk di bawah asuhan Bodhisatta. Namun, ia sangat liar dan keras kepala, selalu berkelahi dengan teman-temannya dan tidak mengindahkan teguran dari gurunya. Dengan demikian, sia-sialah biaya yang mereka bayarkan kepada Bodhisatta. Saat terlibat pertengkaran dan tidak mau menerima teguran, anak itu melarikan diri dari sana, dan tiba di sebuah desa di pinggiran, tempat dimana ia menerima pekerjaan upahan untuk menghidupi dirinya. Kemudian ia menikah dengan seorang wanita miskin, dan mempunyai dua orang anak. Para penduduk desa kemudian membayarnya untuk mengajarkan ajaran yang benar dan menjelaskan apa yang palsu kepada mereka, mereka memberikan sebuah gubuk padanya di jalan masuk desa mereka. Namun, karena Mittavindaka tinggal bersama mereka, musuh kerajaan menyerang tempat itu sebanyak tujuh kali, tempat tinggal mereka mengalami kebakaran sebanyak tujuh kali dan tujuh kali juga persediaan air mengering.

Mereka memikirkan hal tersebut dan setuju bahwa sebelum kedatangan Mittavindaka, hal-hal seperti itu tidak pernah terjadi. Sejak kehadirannya, keadaan mereka semakin memburuk. Maka mereka mengusirnya secara paksa dari desa, ia pun pergi dari tempat itu bersama keluarganya. Kemudian ia tiba di sebuah hutan yang ada penghuninya. Di sana, istri dan anak-anaknya dibunuh dan dimangsa oleh setan (amanussā). Setelah lari dari sana, ia berkelana hingga tiba di sebuah kapal yang akan memulai pelayarannya. Ia menerima pekerjaan sebagai awak kapal upahan di kapal tersebut. Kapal itu berlayar selama tujuh hari, dan pada hari ketujuh, kapal berhenti di tengah laut, seakan tersangkut di atas batu besar. Mereka kemudian

melempar undian agar bisa terlepas dari kemalangan tersebut. Pengundian dilakukan sebanyak tujuh kali dan semuanya jatuh kepada Mittavindaka. Mereka memberikan sebuah rakit bamboo padanya, menahannya di sana dan melemparkannya dari kapal.

Dengan segera, kapal mulai bergerak kembali . Mittavindaka merangkak naik ke rakit bambunya dan mengapung di atas ombak. Berkat kesetiaannya menjalankan sila di masa kehidupan Buddha Kassapa, di tengah lautan ia bertemu dengan empat putri dewata yang menetap di Istana Kaca, ia menetap bersama mereka dengan penuh kesenangan selama tujuh hari. Makhluk-makhluk dewata di istana hanya dapat menikmati kebahagiaan selama tujuh hari; begitu hari ketujuh tiba, mereka harus kembali menerima hukuman mereka lagi. Mereka meninggalkannya dengan perintah agar ia menanti kehadiran mereka. Namun, begitu mereka pergi, Mittavindaka segera berlayar pergi dengan rakitnya dan tiba di tempat delapan orang putri dewata lainnya yang menetap dalam Istana Perak.

Saat meninggalkan mereka, ia tiba di tempat enam belas orang putri dewata yang menetap di Istana Permata, dan dari sana menuju ke tempat tiga puluh dua orang putri dewata yang menetap di Istana Emas. Tanpa memedulikan kata-kata mereka, ia berlayar lagi dan tiba di kota para yaksa, yang berada di antara pulau-pulau. Saat itu, ada yaksa yang sedang mengambil bentuk seekor kambing. Tanpa menyadari kambing itu adalah penjelmaan seorang yaksa wanita, Mittavindaka memutuskan untuk menyantapnya, ia menangkap kaki kambing itu. Saat itu juga, dengan kemampuannya, ia melemparkan Mittavindaka melewati lautan, hingga jatuh tepat pada tumpukan duri yang terdapat di lereng parit kering benteng Kota Benares, ia jatuh terguling di tanah. Pada masa itu, para pencuri sering mengunjungi parit tersebut dan membunuh kambing milik raja; maka para penggembala kambing menyembunyikan diri untuk menangkap penjahat- penjahat itu.

Mittavindaka bergerak maju dan melihat kawanan kambing itu. Ia berpikir, “Seekor kambing dari pulau yang ada di antara lautan itu, karena ditangkap kakinya olehku, melemparkan aku ke sini melewati lautan. Barangkali jika aku melakukan hal yang sama terhadap salah seekor kambing ini, aku akan dilempar sekali lagi ke tempat tinggal para putri dewata istana-istana lautan tersebut.” Tanpa berpikir panjang, ia menangkap kaki salah seekor kambing. Seketika itu juga kambing tersebut mengembik dan para penggembala kambing berhamburan dari segala penjuru ke arahnya. Mereka segera menahannya sambil berteriak, “Ini adalah pencuri yang telah hidup sekian lama dari kambing-kambing milik raja.” Mereka memukulinya dan menyeretnya pergi dalam keadaan terikat untuk menghadap raja. Pada saat yang sama, Bodhisatta bersama kelima ratus orang brahmana muda yang mengelilinginya, keluar dari kota untuk pergi mandi. Melihat dan mengenali Mittavindaka, ia berkata pada para penggembala kambing itu, “Ada apa? Ini adalah salah seorang siswa saya, Orang-orang yang baik; mengapa kalian menangkapnya?”

“Tuan,” jawab mereka, “kami mendapatkan maling ini saat ia menangkap kaki seekor kambing, itulah sebabnya ia kami tahan.” “Baiklah,” kata Bodhisatta, “bagaimana jika kalian membiarkan ia ikut bersama kami untuk menjalani hidup sebagai pelayan kami?”

“Baiklah, Tuan,” jawab mereka dan membiarkan tahanan mereka pergi. Mereka lalu kembali ke tempat mereka. Bodhisatta bertanya kepada Mittavindaka, ke mana ia pergi selama selang waktu itu. Mittavindaka menceritakan kepadanya apa saja yang telah dilakukannya selama masa itu.

“Karena tidak mendengarkan nasihat dari mereka yang menginginkan kebaikan untuknya,” kata Bodhisatta, “ia mengalami semua kemalangan ini.” Ia membacakan syair berikut ini :

Orang yang keras kepala, pada saat dinasihati, memberikan ketidakacuhan pada teman-teman yang berbaik hati memberikan nasihat, akan menimbulkan bahaya tertentu, — seperti Mittaka, saat ia menangkap kaki kambing yang sedang merumput.

Pada saat itu, baik guru maupun Mittavindaka samasama meninggal dunia dan alam kelahiran mereka setelah meninggal adalah sesuai dengan perbuatan mereka masing-masing.

____________________

Sang Guru berkata, “Losaka sendiri yang menyebabkan ia menerima sedikit dana, dan juga mencapai tingkat kesucian Arahat.” Setelah uraian tersebut berakhir, Beliau mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Thera Losaka Tissa adalah Mittavindaka di masa itu dan Saya sendiri adalah Guru yang sangat terkenal di seluruh dunia tersebut.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

Pancasila dan Pancadharma

Pancasila dan Pancadharma

PANCASILA
Pancasila adalah lima latihan kemoralan yang wajib dilaksanakan oleh kita(umat Buddha) semua dalam kehidupan sehari-hari.

Pancasila (Lima latihan kemoralan) terdiri dari :
- Panatipata Veramani artinya melatih untuk tidak membunuh  
- Adinnadana Veramani artinya melatih untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan (mencuri)  - Kamesumicchacara Veramani artinya melatih diri untuk tidak berbuat asusila (berhubungan kelamin yang bukan sebagai suami/istri)
- Musavada Veramani artinya melatih untuk tidak berkata kasar/berbohong/ memfitnah/omong kosong.
- Suramerayamajjapamadatthana Veramani artinya melatih untuk tidak mengkonsumsi obat-obatan terlarang.
Syarat terjadinya pembunuhan adalah : adanya makhluk hidup, tahu bahwa makhluk itu hidup, ada niat/kehendak untuk membunuh, ada usaha untuk membunuh, makhluk tersebut mati/lenyap.
Syarat terjadinya terjadinya pencurian adalah : adanya barang, tahu bahwa barang itu, milik orang lain, ada niat/ kehendak untuk mengambil, ada usaha, barang tersebut berpindah tempat.
Syarat terjadinya perbuatan asusila adalah : ada obyek, ada niat untuk melakukan, ada usaha melakukan, berhasil melakukan.
Syarat terjadinya  berkata kasar/berbohong/ memfitnah/omong kosong adalah : ada hal yang tida benar, ada niat untuk menyampaikan, ada usaha, ada orang lain yang percaya.
Cara untuk mengendalikan diri dari segala bentuk kejahatan dengan menghilangkan akar  perbuatan jahat yaitu Lobha (serakah), Dosa (kemarahan/kebencian), Moha(kebodohan), dan Irsia (irihati).
Cara mengembangkan segala bentuk kebaikan dengan mengembangkan: Metta (cinta kasih), Karuna (belas kasihan), Mudita (perasaan simpati), Upekkha (keseimbangan batin).
Jadi sila berfungsi untuk menghapus kejahatan dan mempertahankan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

MACAM – MACAM SILA
Bila dilihat dari jumlah latihannya sila terdiri dari 3 tingkatan, yaitu :
Hina Sila atau Cula Sila
adalah sila yang jumlahnya kecil/sedikit, terdiri dari Pancasila dan Atthasila. Pancasila terdiri dari lima latihan kemoralan yang berisi tentang :
Melatih diri untuk tidak membunuh
      Yang harus dihindari dalam sila I adalah : membunuh manusia dan hewan, menyiksa manusia dan binatang, menyakiti (jasmani) manusia dan binatang.
      Syarat terjadinya pembunuhan a.l: adanya makhluk hidup, tahu bahwa makhluk itu hidup, ada niat, ada usaha untuk membunuh, makhluk tersebut mati sebagai hasil pembunuhan.
      Akibat membunuh : umur pendek, berpenyakitan, senantiasa dalam kesedihan.
Melatih diri untuk tidak mencuri
     Yang harus dihindari dari sila ke II adalah : merampok, korupsi, mencopet, manipulasi, penggelapan barang atau uang, berjudi, taruhan, dsb.
      Syarat terjadinya pencurian a.l. : adanya barang nilik orang lain, tahu bahwa barang tersebut bukan miliknya, ada niat, ada usaha, barang tersebut berpindah tempat.
      Akibat mencuri : hidup dalam kemiskinan, dinista dan dihina, hidup tergantung pada orang lain.
Melatih diri untuk tidak berbuat asusila
      Yang harus dihindari dari sila ke III adalah : melakukan hubungan kelamin yang buka suami/istri, berciuman dengan lain jenis ditempat ramai/sepi, mencolek, meraba lawan jenis dengan sengaja.
      Syarat terjadinya berbuat asusila a.l. : ada obyek, ada niat, ada usaha melakukan, berhasil melakukan.
      Akibat berbuat asusila : beristri/bersuami dengan orang yang tidak disenangi, terlahir dalam keadaan Waria, memiliki banyak musuh.
Melatih diri untuk tidak berkata kasar atau berbohong
      Yang harus dihindari dari sila ke IV adalah : Menipu, memfitnah, omong kosong, menuduh dan sejenisnya. Syarat terjadinya berbohong a.l.: ada hal yang tidak benar, ada niat, ada usaha, ada orang lain yang mempercayai. Akibat berbohong : menjadi sasaran pembicaraan orang lain, tidak dipercaya ucapannya, sering dituduh yang bukan-bukan, akan kehilangan sahabat tanpa sebab yang berarti, bagian dari jasmani akan berfungsi tidak baik, menerima suara yang tidak enak didengar.
Melatih diri untuk tidak minum-minuman keras atau mengkonsumsi obat-obatan terlarang.
Yang harus dihindari dari sila ke V adalah : menggunakan obat yang tidak seharusnya, minum-minuman yang menyebabkan ketagihan. Syarat terjadinya minum/mengkonsumsi obat a.l. : ada barang, ada niat, usaha melakukan, melaksanakan. Akibat minum-minuman/makan obat terlarang : dibicarakan banyak orang, kecerdasan menurun, tergantung pada orang lain.
Atthasila terdiri dari delapan latihan kemoralan yang berisi :
- Lima Latihan kemoralan dalam Pancasila Buddhis
-Melatih diri untuk tidak makan setelah jam 12 siang
-Melatih diri untuk tidak memdengarkan musik, TV, tidak menggunakan wangi-wangian, tidak berdandan, dll
-Melatih diri untuk tidak menggunakan tempat duduk/tidur yang lebih tinggi dan mewah.
                       
Hina Sila merupakan peraturan latihan yang dijalankan oleh umat Buddha perumah tangga (upasaka/upasika). Atthasila biasanya dilaksanakan pada hari Uposatha (pada saat penanggalan bulan) yang jatuh pada tanggal 1,8,15,23 setiap bulannya. Tetapi ada juga yang melaksanakan Atthasila setiap tanggal 1 dan 30 (ce it dan cap go ).
- Majjhima Sila
adalah sila menengah (Dasasila). Sila ini terdiri dari 10 latihan yang wajib dilaksanakan oleh Samanera dan Samaneri. Seorang
Samanera dan Samaneri hidup sebagai Pabbajita. Pabbajita artinya hidup meninggalkan keluarga dengan cara menjadi samana. Samana artinya pertapa yang hidupnya mengembara.
Panita Sila atau Maha Sila
adalah sila yang jumlah latihannya besar/tinggi. Dalam hal ini yang dimaksud adalah Patimokkha sila (peraturan yang dilaksanakan oleh bhikkhu dan bhikkhuni). Bhikkhu melaksanakan sila berjumlah 227 latihan, sedangkan bhikkhuni melaksanakan 311 latihan. Bhikkhu dan bhikkhuni juga disebut Samana/Pertapa.
PANCADHAMMA
Pancadharma adalah lima kebaikan atau kesunyataan yang harus dilaksanakan oleh para siswa Sang Buddha Gotama, yang terdiri dari :
- Metta – Karuna adalah cinta kasih dan belas kasihan terhadap semua makhluk. Kalau seseorang dapat melaksanakan metta – karuna dengan baik, maka ia akan dapat menghindari pembunuhan makhluk hidup, sehingga sila I dalam Pancasila Buddhis akan akan dapat dilaksanakan dengan baik.
- Samma-Ajiva adalah matapencaharian benar, maksudnya adalah mencari penghidupan dengan cara yang baik, yaitu :
- tidak mengakibatkan pembunuhan
wajar dan halal (bukan hasil pencurian, mencopet dan merampok)
-  tidak berdasarkan penipuan
tidak berdasarkan ilmu yang rendah seperti meramal, perdukunan, dll
Jika kita dapat melaksanakan dhamma kedua ini dengan baik, maka kita akan dapat melaksanakan sila ke II dalam Pancasila Buddhis.
- Santutthi artinya puas dengan apa yang dimiliki. Puas disini adalah puas dalam hal hawa nafsu. (Contoh : jika sudah punya istri harus puas dengan istri tersebut dan tidak melakukan perjinahan dengan orang lain). Jika kita dapat melaksanakan hal tersebut maka kita dapat melaksanakan sila ke III dalam Pancasila Buddhis.
- Sacca artinya kebenaran atau kejujuran. Jujur disini berhubungan dengan pembicaraan seseorang terhadap orang lain yang disertai kehendak/niat.
-   Sati-Sampajanna artinya ingat dan waspada
      Jika kita selalu ingat pada jenis-jenis makan dan minuman yang dapat menimbulkan lenyapnya kesadaran serta tidak akan terjerat oleh semua hal sejenisnya, maka kita akan dapat melaksanakan  Sila ke V dari Pancasila Buddhis.
Pahala melaksanakan sila, antara lain :
- Bebas dari penyesalan
- Menimbulkan kegembiraan
- Menghilangkan kegiuran (piti)
- Mendapatkan ketenangan (Passadi)
- Mudah memusatankan pikiran (Ekaggata)
- Memiliki pengetahuan tentang kebenaran
Memunculkan kesadaran yang kuat tentang kebenaran
- Memiliki pengetahuan yang luas
- Pikiran tenang dan terkendali
- Tidak terpengaruh oleh kleadaan apapun
- Tidak mudah marah
- Teliti dalam mengerjakan segala sesuatu,  dll

Jangan meremehkan diri kita


JANGAN MEREMEHKAN DIRI KITA

Indahnya hidup bukan seberapa banyak di kenal orang, t a p i seberapa banyak orang bisa bahagia karena kita.

Jangan merendahkan diri untuk mendapatkan sesuatu, t a p i rendahkanlah hati untuk memberi sesuatu.

Tangan di atas lebih mulia daripada di bawah, 
1. Kalahkan Emosi dengan KASIH SAYANG, 
2. Kalahkan Kejahatan dengan KEBAJIKAN, 
3. Kalahkan Kekikiran dengan  
     KEDERMAWANAN, 
4. Kalahkan Kelicikan dengan KEJUJURAN.

Yg berbahaya bukan karena orang lain yg meremehkan kita, melainkan kita sendiri yg meremehkan diri kita.

Hati² dgn label yg ingin kita letakkan padi diri kita, k a r e n a ketika label itu tertempel, orang lain akan menganggap itu benar adanya.
• Hargai diri kita dgn mengatakan hal yg positif.
• Berfokuslah pada kelebihan diri kita, bukan pada kekurangan kita.
• Ketika kita menganggap remeh diri kita, maka kita menganggap remeh ciptaan TUHAN. 
• Jangan pedulikan apabila orang lain yg merendahkan kita, selama orang itu bukan kita sendiri. 
• Bangunlah sebuah sikap yg penuh cinta terhadap diri sendiri.
• Kagumi diri kita, k a r e n a hanya dgn demikian keyakinan diri kita akan timbul. 
• Setiap kali sebelum kita keluar rumah & berkaca, katakanlah hal positif tentang diri kita. 
Kita di lahirkan untuk menjadi orang hebat, bukan yg meratapi kekurangan.  
Lihatlah dari sisi yg lebih indah daripada dari sisi yg gelap.

Semoga Semua Mahluk Hidup Berbahagia
Salam Kebajikan
Namo Amitofo

Selasa, 15 Desember 2020

Kedermawanan yang tertukar


Kedermawanan Yang Tertukar

Seorang wanita bertanya pada nenek penjual telur yg sudah tua, "Berapa harga telurnya?"
Penjual telur menjawab, "Satu butir harganya Rp 2.500, Nyonya."
Wanita itu berkata, "Saya mau mengambil 6 butir tapi dengan harga Rp 12.500 atau kalau ngga ya udah, ngga jadi beli."
Penjual telur menjawab, "Baiklah, mungkin ini awal yg baik karena dari tadi tak ada satupun telur yg berhasil saya jual."

Wanita itu mengambil telur2 tersebut dan berjalan dengan perasaan senang bahwa dia sudah menang. Kemudian dia masuk ke dalam mobil mewahnya dan pergi ke restoran bersama temannya. Di sana, dia bersama temannya memesan apapun yg mereka sukai.

Mereka makan sedikit dan menyisakan banyak dari apa yg sudah mereka pesan. Kemudian wanita tersebut membayar tagihannya. Tagihannya sebanyak Rp 450.000. Dia memberikan uang Rp 500.000 dan berkata bahwa kembaliannya untuk sang pemilik restoran saja.

Kejadian seperti ini mungkin terlihat normal bagi pemilik restoran, tapi sangat menyakitkan bagi penjual telur yg sudah tua.
Intinya adalah: "Mengapa kita selalu menunjukkan bahwa kita punya kuasa ketika kita membeli dari orang2 yg membutuhkan? Dan kenapa juga kita jadi dermawan kepada orang2 yg bahkan tidak membutuhkan kedermawanan kita?"

Suatu ketika saya pernah membaca:
"Ayahku biasa membeli barang2 remeh-temeh dari orang miskin dengan harga tinggi, walaupun dia tidak membutuhkan barang2 tersebut. Kadang2 dia bahkan membayar lebih untuk itu. Aku tertarik pada hal ini dan lantas bertanya mengapa dia melakukannya?

Kemudian ayahku menjawab, 'Anakku, ini adalah sedekah yg terbungkus dengan harga diri.'"
KALIMAT YG PANTAS UNTUK JADI PERENUNGAN:
"SEDEKAH YANG TERBUNGKUS DENGAN HARGA DIRI."

- 11 Gwee Ce 1 - 

Sabtu, 12 Desember 2020

KAPOTA_JATAKA

KAPOTA_JATAKA

“Orang keras kepala,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang serakah. Keserakahannya akan berhubungan dengan Buku Kesembilan, dalam Kāka-Jātaka. Pada kesempatan ini para bhikkhu menyampaikan kepada Sang Guru, dengan berkata,“Bhante, bhikkhu ini sangat serakah.”

Sang Guru bertanya, “Benarkah apa yang dikatakan mereka, Bhikkhu, bahwa engkau sangat serakah?”

“Benar, Bhante,” jawabnya.

“Demikian juga di kehidupan yang lampau, Bhikkhu, engkau serakah dan karena keserakahanmu, engkau kehilangan nyawa, juga menyebabkan ia yang bijaksana dan penuh kebaikan kehilangan tempat tinggal.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor burung dara. Penduduk Benares di masa itu, menunjukkan kebaikan mereka dengan menggantungkan keranjang jerami di berbagai tempat sebagai tempat berlindung dan bersenang-senang bagi burung-burung; juru masak dari seorang saudagar besar di Benares juga menggantungkan keranjang di dapurnya. Dalam keranjang inilah Bodhisatta tinggal, ia pergi keluar di pagi hari untuk mencari makan dan kembali lagi di sore hari; seperti itulah rutinitas kehidupannya.

Suatu hari, seekor gagak masuk ke dalam dapur, ia mencium harum garam dan ikan serta daging segar di sana, gagak itu dipenuhi oleh keinginan untuk mencicipinya. Sambil mencari cara untuk memenuhi keinginannya, ia bertengger di sekitar dapur, dan saat hari telah sore, ia melihat Bodhisatta pulang dan masuk ke dalam dapur. “Aha!” pikirnya, “akan saya lakukan melalui burung dara itu.” Keesokan harinya ia kembali di saat hari masih subuh. Saat Bodhisatta keluar untuk mencari makanan, ia mengikutinya dari satu tempat ke tempat yang lain seakan ia adalah bayangannya. Melihat itu, Bodhisatta bertanya, “Mengapa engkau mengikutiku terus, Teman?”

“Tuanku,” jawab gagak itu, “tingkah lakumu membuatku sangat kagum; karena itu aku mengikutimu.”

“Namun jenis makanan kita berbeda,” jawab Bodhisatta, “engkau akan menemui kesulitan jika mengikatkan diri kepada saya.”

“Tuanku,” kata gagak tersebut, “saat engkau mencari makananmu, aku juga akan makan, dengan tetap berada di sisimu.”

“Baiklah jika itu yang engkau inginkan,” jawab Bodhisatta; “Hanya saja, engkau harus bersungguh-sungguh.” Setelah memberikan nasihat kepada gagak tersebut, Bodhisatta bergerak ke sana kemari mematuk bibit-bibit rumput, sementara burung yang satu lagi membalikkan kotoran sapi dan mematuk serangga yang berada di bawah kotoran itu hingga ia kenyang. Setelah itu, ia kembali ke sisi Bodhisatta dan berkata, “Tuanku, engkau menghabiskan begitu banyak waktu untuk makan; hal-hal yang berlebihan harus dihentikan.”

Saat Bodhisatta telah selesai makan dan tiba kembali ke rumahnya di sore hari, gagak itu ikut terbang bersamanya ke dalam dapur tersebut.

“Burung kita membawa seekor burung lain kembali bersamanya,” seru juru masak itu, ia kemudian menggantungkan keranjang kedua untuk gagak tersebut. Mulai hari itu, kedua burung itu tinggal bersama di dapur tersebut.

Suatu hari, sang saudagar menempatkan ikan-ikan, yang digantung oleh koki di dapur. Dipenuhi oleh keserakahan saat melihat ikan-ikan itu, gagak memutuskan untuk menyuguhi dirinya dengan makanan yang lezat tersebut. Maka sepanjang malam ia berbaring sambil merintih.

Paginya, ketika Bodhisatta akan pergi mencari makan, ia berseru, “Mari, Gagak temanku.” Gagak itu menjawab, “Pergilah tanpa aku, Tuan. Aku sakit perut.”

“Teman,” jawab Bodhisatta, “sebelum ini saya tidak pernah mendengar ada gagak yang sakit perut. Benar, gagak menderita pusing setiap tiga kali jaga malam; namun jika mereka makan sebuah sumbu pelita, rasa lapar mereka akan reda saat itu juga. Engkau pasti mengincar ikan di dapur ini. Ikutlah bersama saya sekarang, makanan manusia tidak cocok untuk dirimu. Jangan bertingkah seperti ini. Ikutlah dan cari makanan bersamaku.”

“Sungguh, aku tidak mampu, Tuan,” jawab gagak itu.

“Baiklah, perbuatanmu sendiri yang akan membuktikannya,” kata Bodhisatta. “Hanya saja, jangan menjadi korban keserakahan, tetaplah bertahan.” Setelah memberikan nasihat tersebut, ia terbang pergi untuk mencari makanan seperti biasa.

 

Sang juru masak mengambil beberapa jenis ikan, membumbui beberapa ekor ikan dengan satu cara dan ikan lainnya dengan cara yang berbeda. Ia mengangkat tutup pancinya agar uap panas bisa keluar, kemudian meletakkan saringan di atas salah satu panci itu. Setelah itu, ia melangkah keluar dari pintu dapur, berhenti di sana untuk menyeka keringat dari dahinya. Pada saat itu, kepala gagak itu muncul dari keranjang, pandangan sekilas itu memberitahukannya bahwa juru masak itu sedang tidak berada di dalam ruangan. “Sekarang atau tidak sama sekali,” pikirnya, “saatku untuk bertindak. Pertanyaan satu-satunya adalah apakah saya harus memilih daging cincang atau satu potongan yang besar?” Ia berdebat sendiri bahwa akan dibutuhkan waktu yang lama untuk kenyang jika ia memilih daging cincang, ia memutuskan untuk mengambil satu potong besar daging ikan, kemudian duduk dan makan di dalam keranjangnya. Ia terbang keluar dari keranjang dan hinggap di atas saringan. Suara ‘klik’ terdengar dari saringan itu. “Bunyi apa itu?” tanya sang juru masak dan berlari masuk saat mendengar suara tersebut. Melihat gagak itu, ia berteriak, “Oh, gagak jahat ini ingin mengambil makanan majikanku. Saya bekerja untuk majikan saya, bukan untuk penjahat ini! Apalah gunanya ia bagiku?” Pertama-tama ia menutup pintu, lalu menangkap gagak itu dan mencabuti semua bulu dari badan gagak tersebut. Kemudian, ia menumbuk jahe dengan garam dan sejenis buah, mencampurnya dalam susu asam – terakhir ia merendam gagak itu dalam asinan tersebut dan melemparkannya kembali ke dalam keranjangnya.

Gagak itu terbaring di dalam keranjang sambil merintih, dikuasai oleh penderitaan hebat dari rasa sakitnya. Sore harinya, Bodhisatta kembali dan melihat kondisigagak yang menyedihkan itu. “Ah, Gagak yang serakah,” ia berseru, “engkau tidak mau mendengar nasihatku, sekarang, keserakahanmu telah membawa kesengsaraan bagimu.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengulangi syair berikut ini :

Orang keras kepala, yang pada saat dinasihati memberikan ketidakacuhan pada teman-teman yang berbaik hati memberikan nasihat, pasti akan binasa, seperti gagak yang serakah itu, yang tertawa untuk mencemooh peringatan burung dara.

Kemudian ia berseru, “Saya tidak bisa tinggal lebih lama lagi di sini,” Bodhisatta terbang meninggalkan tempat tersebut. Gagak tersebut mati di sana pada saat itu juga. Juru masak tersebut kemudian melemparkan gagak, keranjang dan semuanya ke dalam tumpukan sampah.

____________________

Sang Guru berkata, “Engkau serakah, Bhikkhu, di kehidupan yang lampau, sama seperti saat ini; Karena keserakahanmu, ia yang bijaksana dan penuh kebaikan di masa itu kehilangan tempat tinggalnya.” Setelah menyelesaikan uraian-Nya, Sang Guru membabarkan Empat Kebenaran Mulia. Di akhir khotbah, bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian Anāgāmi. Sang Guru kemudian mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran itu sebagai berikut:—“Bhikkhu yang serakah ini adalah burung gagak itu dan Saya sendiri adalah burung dara.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I