Translate

Jumat, 29 Juli 2016

Kisah Liau Fang mengubah nasib

Ada seorang pemuda yg telah diramal bakalan hidup susah, cita2 tdk tercapai, usaha bangkrut, tdk punya keturunan dan kenyataannya memang benar2 hidupnya sangat susah dan menderita sekali.

Maka ia sering berpikir bagaimana caranya ia bisa mengubah nasibnya. Dan ia sering berkonsultasi dgn banyak orang.
Akhirnya dia menemukan seorang Bijaksana yg diseganni karna kehidupannya yg arif, kemudian org bijaksana itu memberikan nasihat sebagai berikut:
"buatlah 1000 kebaikan maka nasibmu akan berubah lebih baik"
Dia berusaha melakukan saran tsb...berbulan2 dia kerjakan.. bantu orang angkut barang, berbagi makan dgn org yg lebih susah, menyebrangkan orang di sungai, selalu sabar walau sering di ganggu, selalu senyum pada semua orang.
Tapi aneh... baru 700 an berbuat kebaikan, kok hidupnya sudah berubah menjadi lbh baik...
Dia kembali lg ke orang bijaksana tsb....
Orang arif tsb berkata: "Engkau pasti telah lakukan 1000x
Coba ditelusuri lagi."
Begitu ditelusuri satu persatu...
sampailah pada 1 hal yg ia ingat...
pemuda ini pernah mmbangun JEMBATAN agar orang2 bisa
gampang "Menyebrangi" sungai...
ternyata jembatan itu bukan 1x kebaikan, tapi setiap orang yg melintas JEMBATAN tsb dihitung sebagai 1x Kebaikan...
Marilah mengubah Nasib menjadi lebih Baik dgn MEMULAI Berbuat Baik terhadap "Semua Orang" setiap hari.

RENUNGAN : Ketika kita berbuat Jahat, Garang, iri, Kecewa, mencuri, menipu dll, maka keberuntungan menjauh, maut mulai mendekat tuk mengetuk pintu..
Sebaliknya ketika kebaikan ditabur, maut menjauh, damai dan kesejahteraan mulai mendekat.
Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi putus asa.

Kamis, 21 Juli 2016

20 Ajaran Welas Asih Kwan Se Im Pgu Sa

六月十九
20 Ajaran Welas Asih Kwan Se Im Phu Sa
(Avalokitesvara Bodhisatva) :

1. Jika orang lain membuatmu susah, anggaplah itu tumpukan rejeki.

2. Mulai hari ini belajarlah menyenangkan hati orang lain.

3. Jika kamu merasa pahit dalam hidupmu dgn suatu tujuan, itulah bahagia.

4. Lari dan berlarilah untuk mengejar hari esok

5. Setiap hari kamu sudah harus merasa puas dengan apa yang kamu miliki saat ini.

6. Setiapkali ada orang memberimu satu kebaikan, kamu harus mengembalikannya sepuluh kali lipat.

7. Nilailah kebaikan orang lain kepadamu, tetapi hapuskanlah jasa yang pernah kamu berikan pada orang lain.

8. Dalam keadaan benar kamu difitnah, dipersalahkan dan dihukum, maka kamu akan mendapatkan pahala.

9. Dalam keadaan salah kamu dipuji dan dibenarkan, itu merupakan hukuman.

10. Orang yang benar kita bela tetapi yang salah kita beri nasehat.

11. Jika perbuatan kamu benar, kamu difitnah dan dipersalahkan, tapi kamu menerimanya, maka akan datang kepadamu rezeki yang berlimpah-ruah.

12. Jangan selalu melihat / mengecam kesalahan orang lain, tetapi selalu melihat diri sendiri itulah kebenaran.

13. Orang yang baik diajak bergaul, tetapi yang jahat dikasihani.

14. Kalau wajahmu senyum hatimu senang, pasti kamu akan Aku terima.

15. Dua orang saling mengakui kesalahan masing-masing, maka dua orang itu akan bersahabat sepanjang masa

16. Saling salah menyalahkan, maka akan mengakibatkan putus hubungan.

17. Kalau kamu rela dan tulus menolong orang yang dalam keadaan susah, maka jangan sampai diketahui bahwa kamu sebagai penolongnya.

18. Jangan membicarakan sedikitpun kejelekan orang lain dibelakangnya, sebab kamu akan dinilai jelek oleh si pendengar.

19. Kalau kamu mengetahui seseorang berbuat salah, maka tegurlah langsung dengan kata-kata yang lemah lembut sehingga orang itu insaf.

20. Doa dan sembah sujudmu akan aku terima, apabila kamu bisa sabar dan menuruti jalanku.

Kamis, 07 Juli 2016

Ehipassiko

DAMPAK AJARAN
"EHIPASSIKO"
YANG DISALAH MENGERTI

“Janganlah percaya begitu saja berita yang disampaikan kepadamu;
atau oleh karena sesuatu yang merupakan tradisi;
atau sesuatu yang didesas-desuskan.

Janganlah percaya begitu saja apa yang dikatakan di dalam kitab-kitab suci;
juga apa yang katanya sesuai dengan logika atau kesimpulan belaka;
juga apa yang katanya merupakan hasil dari suatu penelitian;
juga apa yang katanya telah direnungkan dengan seksama;
juga apa yang terlihat cocok dengan pandanganmu;
atau karena ingin menghormat seorang pertapa yang menjadi gurumu.'

Tetapi, setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui,

'Hal ini berguna;
hal ini tidak tercela;
hal ini dibenarkan oleh para Bijaksana;
hal ini kalau terus dilakukan akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan,'
maka sudah selayaknya kamu menerima
dan hidup sesuai dengan hal-hal tersebut."

( Anguttara Nikaya 3.65 : Kalama Sutta )

Seperti yang telah banyak diketahui oleh umat Buddha bahwa Kalama Sutta inilah yang mendasari Ajaran Sang Buddha yang disebut Ehipassiko (secara harfiah diterjemahkan sebagai : datang dan lihatlah sendiri),
yaitu Ajaran yang mengajarkan kepada kita untuk menyelidiki terlebih dahulu secara cermat terhadap sebuah kepercayaan atau agama yang hendak kita jadikan pedoman atau pegangan hidup, kemudian setelah diselidiki dengan cermat, seyogianya kita mempraktikkannya sendiri untuk memastikan apakah ajaran tersebut bermanfaat atau tidak bermanfaat, dibenarkan atau dicela oleh para bijaksanawan,  membawa keberuntungan atau kerugian, membawa kebahagiaan atau penderitaan bagi diri kita sendiri dan orang lain?

Namun sayangnya,
masih ada beberapa umat Buddha sendiri yang secara agak serampangan memahami Kalama Sutta tersebut dengan hanya mengambil sepotong kalimatnya saja

(yang ‘katanya’ merupakan inti dari Kalama Sutta)

yaitu : “Janganlah percaya begitu saja..., tetapi apabila setelah diselidiki sendiri..”, dan
Potongan kalimat inilah yang diartikan oleh mereka sebagai Ehipassiko!

Jelas ini adalah salah satu kekeliruan yang cukup fatal dalam memahami makna secara keseluruhan dari Kalama Sutta tersebut, dan inilah yang membuat seseorang menjadi takabur (angkuh; sombong); merasa dirinya lebih hebat dari ajaran-ajaran yang tertulis di kitab suci, sehingga merasa sah-sah saja mengabaikan Tipitaka dengan alasan Tipitaka sudah tidak murni lagi berisikan ajaran-ajaran Sang Buddha ! (?).
Koq tahu ?
atau sok tahu?

Bahkan ada yang ekstrim menilai orang lain dengan mengatakan bahwa orang-orang yang banyak membaca dan mempelajari Sutta-Sutta yang terdapat di dalam Tipitaka itu hanyalah pandai berTEORI saja, praktiknya NOL BESAR!
Bagi orang yang beranggapan demikian, tampaknya mereka lebih suka ber-Ehipassiko dengan CARANYA SENDIRI tanpa harus repot-repot mempelajari Ajaran Sang Buddha yang tertulis dalam Tipitaka. [Tipitaka berisikan ribuan Sutta yang dikelompokkan menjadi SUTTA PITAKA yang dibagi menjadi Empat kumpulan buku (nikaya) ditambah lagi dengan satu nikaya yang berisikan 15 kitab kumpulan khotbah pendek, belum lagi ajaran Sang Buddha yang terdapat dalam
VINAYA PITAKA ( terdiri dari 5 buku) dan ABHIDHAMMA PITAKA (terdiri dari 7 buku)].

“ Malas ahhh bacanya…terlalu jelimet, sulit dimengerti, gak ada waktu untuk membacanya !” demikianlah alasan yang mungkin sering kita dengar dari beberapa umat Buddha sendiri. Halo…Bagaimana dengan Anda sendiri ?

Pertanyaannya adalah : ‘Bagaimana jika ternyata Ehipassiko yang dilakukan dengan ‘caranya sendiri’ itu menyesatkan dan hanya menguntungkan dirinya sendiri tetapi merugikan orang lain ?, hanya membuat dirinya sendiri bahagia tetapi membuat orang lain menderita? hanya membuat dirinya sendiri merasa mulia tetapi orang lain melihatnya sebagai sesuatu yang tercela? dan hanya merasa dirinya sudah paling benar tetapi orang lain menilainya sebagai suatu kesalahan?

Padahal bila kita amati dengan cermat, ESENSI Kalama Sutta secara lengkapnya adalah :

“…Tetapi, setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui,
'Hal ini berguna;
hal ini tidak tercela;
hal ini dibenarkan oleh para Bijaksana;
hal ini kalau terus dilakukan akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan,'
maka sudah selayaknya kamu menerima dan hidup sesuai dengan hal-hal tersebut."

Lalu, tindakan apa yang dimaksud dengan ‘Hal ini berguna, tidak tercela, dibenarkan oleh para bijaksana dan sesuatu yang membawa keberuntungan dan kebahagiaan itu ?’

Di dalam Kalama Sutta itu pula, Sang Buddha telah memberikan nasihatnya sekaligus menjawab pertanyaan tersebut diatas secara singkat namun padat yaitu :

Kita harus melatih diri untuk membebaskan diri dari cengkeraman sifat-sifat
SERAKAH/KETAMAKAN (lobha), KEBENCIAN (dosa) dan KEBODOHAN BATIN (moha)
sehingga kita dapat mengendalikan diri dengan baik untuk

Tidak melakukan penganiayaan dan       pembunuhan makhluk hidup,

Tidak mengambil sesuatu yang tidak diberikan (mencuri),

Tidak melakukan perzinahan,

Tidak mengucapkan kata-kata yang tidak benar (berbohong), dan

Tidak menjadi penyebab yang menyesatkan orang lain.

Bila kita telah mampu dan telah terbebas dari sifat-sifat ketamakan, kebencian dan kebodohan batin tersebut, maka dengan sendirinya kita dapat mengendalikan diri dengan baik dan pikiran menjadi terpusat, sedangkan batin kita akan dipenuhi oleh cinta kasih, belas kasih, simpati, dan keseimbangan batin (Brahmavihara) yang berkembang terus tanpa batas, terbebas dari permusuhan dan perasaan tertekan. Dan tentu saja hal-hal tersebut akan memberikan banyak manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain, tidak akan di cela oleh orang-orang yang berpandangan benar, para bijaksanawan pun akan setuju dan membenarkan perbuatan kebajikan kita, sehingga jika kita hidup sesuai dengan hal-hal tersebut, pastilah akan mendatangkan perlindungan, keselamatan, keberuntungan serta kebahagiaan bagi diri sendiri dan makhluk lainnya.

Salam Metta,
Semoga semua Makhluk hidup berbahagia.

Minggu, 03 Juli 2016

Kisah Peta Ular

DHAMMAPADA
Kisah  Peta  Ular

Suatu ketika, Maha Moggallana Thera pergi ke bukit Gijjhakuta bersama Lakkhana Thera, Moggallana Thera melihat makhluk halus setan berwujud ular dan ia tersenyum, tetapi tidak mengatakan apapun. Ketika mereka kembali ke Vihara Jetavana, Maha Moggallana Thera bercerita kepada Lakkhana Thera di hadapan Sang Buddha perihal makhluk halus yang memiliki tubuh panjang dan dikelilingi oleh api tersebut.

Sang Buddha kemudian mengatakan, setelah Beliau mencapai Penerangan Sempurna, Beliau juga telah bertemu dengan bermacam peta, tetapi Beliau tidak memberitahukan keberadaan makhluk halus itu kepada penduduk karena mungkin tidak mempercayainya, dan mereka bisa beranggapan keliru terhadap Sang Buddha.

Demi kasih sayangnya terhadap semua makhluk hidup, maka Sang Buddha berdiam diri. Kemudian Beliau melanjutkan;  “Sekarang aku telah mempunyai saksi yaitu Moggallana, saya akan menceritakan tentang peta ular ini.”

“Pada masa hidup Buddha Kassapa, peta itu terlahir menjadi seorang pencuri yang sangat kejam, dia membakar rumah orang kaya sebanyak tujuh kali. Tidak puas terhadap hal itu, dia juga membakar kuti harum Buddha Kassapa yang dibangun oleh orang kaya tersebut pada saat Buddha Kassapa sedang pergi berpindapatta. Sebagai akibat perbuatan jahatnya, dia mengalami penderitaan dalam waktu lama di alam neraka (niraya). Sekarang dia terlahir sebagai peta yang memiliki badan yang terbakar oleh kobaran api ke atas dan ke bawah sepanjang badannya. Para bhikkhu, orang bodoh bila melakukan kejahatan tidak mengerti bahwa perbuatan itu adalah perbuatan jahat; tetapi mereka tetap tidak akan dapat terlepas dari akibat kejahatannya itu.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Apabila orang bodoh melakukan kejahatan, ia tak mengerti akan akibat perbuatannya.
Orang bodoh akan tersiksa oleh perbuatannya sendiri, seperti orang yang terbakar oleh api.
[Dhammapada X : 136 – Danda Vagga]

Sabtu, 25 Juni 2016

Renungan

RENUNGAN

Seorang ayah memiliki 4 orang anak,
ayah tsb meminta anak2nya utk pergi ke hutan melihat sebuah pohon pear dlm kurun wkt yg berbeda.

Anak ke 1 pd bulan januari, anak ke 2 pd bulan april, anak ke 3 pd bulan juli,
anak ke 4 pada bulan oktober.
Stlh pulang dari hutan, masing-masing anaknya memberi laporan yg berbeda.

Anak pertama, “Pohon pear adl pohon yg merangas, jelek dan batangnya bengkok.

Anak kedua,“Pohon pear adl pohon yg dipenuhi kuncup2 hijau yg menjanjikan’.

Anak ketiga, “Pohon pear adl pohon yg dipenuhi dgn bunga2 yg menebarkan bau yg harum”.

Anak keempat “Pohon pear adl pohon yg penuh dgn buah yg matang dan ranum”.

Di akhir tahun, sang ayah berkata bhw kpd keempatnya .

“Semuanya benar, hanya saja kalian melihat di wkt yg berbeda”.

Lalu sang ayah berpesan,

“Mulai skrg jgn pernah menilai kehidupan hanya berdasarkan satu masa saja.”

LIHATLAH PROSES HIDUP SEBAGAI KESATUAN UTUH, ADA SUKA, DUKA, TAWA, TANGIS, SEDIH DAN BAHAGIA

Ketika kita sdg mengalami masa2 sulit, segalanya terlihat tdk menjanjikan, bnyk kegagalan dan kekecewaan, jgn cepat menyalahkan diri sendiri apalagi pada org lain bahkan berkata bhw kamu tdk mampu, bodoh dan bernasib sial atau apapun semacamnya.

Ingatlah, kita berharga di mata TUHAN.
Tdk ada istilah “nasib sial” bagi orang beriman!
Kerjakan dgn ikhlas apa yg menjadi bagian kita.

BANYAK ANAK KUNCI YANG HARUS KITA GUNAKAN SALAH SATUNYA ADALAH KESABARAN.

Jika kita tdk bersabar ketika berada di januari, maka kita akan kehilangan bln april dan juli yg menjanjikan harapan, lalu secara otomatis pula kita tdk akan menuai hasil di bulan oktober.

“KEGELAPAN MALAM TDK SETERUSNYA BERTAHAN, ESOK PASTI AKAN DATANG FAJAR YANG MENGUSIR KEGELAPAN ”. 

Ya... Selalu ada harapan bagi orang yg mau bertahan.

Tetap semangat jangan pernah menyerah...Andalkan Tuhan..! Amin.

Selasa, 31 Mei 2016

BELAJAR CHIN CHAI


BELAJAR CHIN CHAI

   πŸŒž Orang tua selalu menasehati kita kalau mau hidup banyak sahabat, relasi publik yang baik, keluarga harmonis, dagangan lancar, dan hidup menjadi santai dan enjoy, maka jadilah orang yang " Chin Chai "

   πŸŒž Chin Chai artinya tidak terlalu banyak perhitungan dan ' Easy Going' lahπŸ˜„...

   πŸŒž Orang yang terlalu perhitungan setiap detik,
otaknya selalu dipenuhi dengan angka-angka.
Jiwanya disesaki oleh dua kata yang paling penting dalam hidupnya yaitu UNTUNG & RUGI!

   πŸŒž Hatinya selalu cemas dan gelisah, memikirkan bagaimana meraup keuntungan sebanyak2nya dan memblokir semua bentuk kerugian.

   πŸŒž Orang yang terlalu perhitungan, ibarat koin 100 perak sudah lebih besar dari roda kereta sapi.

   πŸŒ» Serambut kerugian dipandang serius dan besar bagaikan Gunung Semeru ! Suka Tarik Urat , bersilat lidah, ngotot dan gontok-gontokan hanya utk masalah sepele.

   πŸŒž Orang yang perhitungan tak pernah mau mengalah apa lagi memberi & berkorban.  
Sikap perhitungan membuat hidup tegang, kuatir, capek & menderita.  

🌞 Belajarlah menjadi
Orang *Chin Chai * -- mengalah dan memberi, toleransi dan pengertian, gampang bekerja sama, mudah diajak berunding, sehingga punya banyak sahabat.

   πŸŒž Rejekinya lancar, hidupnya tenang, ceria & tidak banyak  "Gejolak ".            
Dia & keluarganya hidup lebih sehat, harmonis, bahagia, dan enjoy ....
 
🌞 Memang benar nasihat orang tua, " CHIN CHAI " adalah " Kunci Hidup Sukses dan bahagia .

   πŸŒž Be CHIN CHAI,
Be yourself....

Jumat, 27 Mei 2016

Before or After



● Before or After ,,, ? ●

Seorang pengusaha sukses & terkenal bernama Paul bertanya pada seorang bhiksu,

”Maaf saya mengganggu bhiksu. Begini

di lingkungan tempat saya tinggal,

di lingkungan saya bekerja,

di lingkungan pergaulan,

saya selalu dijuluki orang PELIT & KURANG BERSEDEKAH.

Padahal aku sudah menyampaikan kepada mereka bahwa ketika kelak saya mati,

seluruh harta & warisan yg saya sekarang miliki akan saya hibahkan utk yayasan sosial,

semua sahabat & orang2 yg kurang beruntung lainnya.

”Sang Bhiksu tersenyum kecil mendengar pertanyaannya sambil balik bertanya,

”Emang matinya kapan pak?”
Pak Paul,

”Ya…belum taulah!”

“Baiklah Pak Paul, untuk pertanyaan bapak, saya tidak perlu menjawabnya.

Tapi saya akan menceritakan kepada bapak sebuah perumpamaan tentang seekor sapi & seekor babi.

Babi adalah termasuk binatang yang kurang disukai orang karena wajahnya yg jelek,

badannya yg bau & kandangnya yang selalu jorok,

sedangkan sapi banyak yg suka.

Suatu hari Babi mengeluh kepada Sapi, "Pi(Sapi),

org selalu memuji badannmu yang bagus, matamu yg bening.

Mereka pikir engkau sangat dermawan, sebab setiap hari engkau memberi mereka susu segar.

Tetapi coba engkau bayangkan dgn aku.
Aku telah memberikan semua yg aku miliki,

nyawaku melayang sia-sia,

dagingku mereka panggang & kadang mereka buat ham,

kakiku mereka belah & mereka membuat sop kaki babi.

Bulu-buluku mereka olah & dijadikan sikat.

Tetapi kenapa tak satupun orang dimuka bumi ini yg menyukai aku.??"

“Mau tau apa jawaban si sapi?” kata Sang Bhiksu. “Maulah Bhiksu…”

jawab Paul
Si sapi menjawab,

”Bi..(Babi) barangkali karena aku memberikan apa yg aku miliki ketika aku masih hidup,

sedangkan kamu….
memberikan semuanya setelah kamu mati….”

Pak Paul terdiam sejenak & akhirnya tersenyum mengerti.

Hal terpenting dalam hidup adalah masa kini.

Mari manfaatkan secara maksimal untuk memancarkan kasih dan kebajikan