Translate

Jumat, 04 Desember 2020

VARUNI_JATAKA


VARUNI_JATAKA 

“Pengetahuan itulah,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seseorang yang merusak minuman keras. Menurut kisah yang diceritakan secara turun temurun, Anāthapiṇḍika mempunyai seorang teman yang menjaga kedai minuman. Teman ini mempunyai persediaan minuman keras yang dijual demi emas dan perak, dan kedai minumannya sangat ramai. Ia memberi perintah kepada pengikutnya untuk hanya melakukan penjualan tunai saja sementara ia pergi untuk mandi. Pengikutnya ini, ketika menyajikan minuman kepada para pelanggannya, melihat mereka mengeluarkan garam dan gula, memakan makanan itu sebagai penambah selera. Ia berpikir, “Tidak ada unsur garam dalam minuman keras yang kami jual; akan saya masukkan sedikit garam dalam minuman keras itu.” Maka ia memasukkan sedikit garam ke dalam semangkuk minuman keras dan menyajikannya kepada para pelanggan. Begitu minum satu teguk, mereka meludahkannya kembali, sambil berseru, “Apa yang ingin kamu lakukan?”

“Saya melihat kalian mengeluarkan garam setelah minum minuman keras kami, maka saya campurkan sedikit garam di dalamnya.”

“Karena itulah kamu merusak minuman keras yang mutunya bagus, dasar bodoh,” teriak para pelanggan, sambil memaki, satu per satu bangkit dan keluar dari kedai minuman itu. Ketika penjaga kedai minuman itu kembali, dan tidak melihat seorang pelanggan pun di sana, ia bertanya kemana mereka semua pergi. Pengikutnya menceritakan apa yang telah terjadi. Menilai kebodohan pengikutnya itu, ia pergi mencari Anāthapiṇḍika. Anāthapiṇḍika yang merasa kisah ini menarik untuk diceritakan, segera menuju ke Jetawana. Setelah memberikan penghormatan, ia menceritakan kejadian tersebut kepada Sang Guru.

“Ini bukan pertama kalinya, Tuan perumah-tangga,” kata Sang Guru, “murid ini merusak minuman keras. Ia melakukan hal yang sama di kehidupan yang lampau.” Atas permintaan Anāthapiṇḍika Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

___________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang saudagar di Benares, dan memiliki seorang penjaga kedai minuman yang hidup di bawah perlindungannya. Orang ini mempunyai persediaan minuman keras yang lumayan banyak, yang ia tinggalkan untuk dijual oleh pengikutnya saat ia sendiri pergi mandi. Selama ketidakhadirannya, pengikutnya itu mencampur garam ke minuman keras dan merusaknya dengan cara yang sama. Saat ia kembali, pembimbing dan guru anak itu mengetahui apa yang telah terjadi. Ia kemudian menceritakan kejadian tersebut kepada sang saudagar. “Sungguh,” kata saudagar tersebut, “si bodoh dan tolol yang ingin melakukan kebaikan hanya akan menimbulkan bencana.” Ia membacakan syair berikut ini : Pengetahuan itulah yang menganugerahkan keberhasilan, mereka yang bodoh akan dihalangi oleh kebodohan mereka sendiri, —Lihatlah Kondañña menggarami semangkuk minuman keras.

Dalam baris-baris ini, Bodhisatta mengajarkan kebenaran.

____________________

Sang Guru berkata, “Perumah-tangga, orang yang sama inilah yang merusak minuman keras, baik di kehidupan lampau maupun di kehidupan sekarang ini.” Kemudian Beliau menunjukkan kaitan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Ia yang merusak minuman keras di kehidupan ini, juga merusak minuman keras di kehidupan yang lampau, dan Saya sendiri merupakan saudagar dari Benares tersebut.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

Kamis, 03 Desember 2020

Vedabbha Jataka

VEDABBHA_JATAKA

“Usaha yang salah,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang bertindak sesuka hatinya. Sang Guru berkata kepada bhikkhu itu, “Ini bukan pertama kalinya, Bhikkhu, engkau bersikap semaumu; engkau mempunyai kecenderungan yang sama seperti kehidupan yang lampau; karena sikap itu, engkau tidak mengindahkan nasihat dari ia yang bijaksana dan baik, akibatnya engkau dipotong menjadi dua bagian dengan sebilah pedang yang tajam dan dilemparkan di jalan raya; dan engkau juga merupakan penyebab tunggal akan seribu orang yang menemui ajal mereka.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, ada seorang brahmana di sebuah desa yang menguasai sebuah mantra, ia bernama Vedabbha. Mantra ini, dikatakan mereka, lebih berharga melebihi semua barang bernilai lainnya. Jika saat planet-planet berada pada posisi yang sejajar, ada yang mengucapkan mantra ini sambil menatap jauh ke langit, secara langsung akan timbul hujan dari langit berupa tujuh jenis batu berharga.

Pada masa itu, Bodhisatta adalah siswa dari brahmana ini; Suatu hari, gurunya meninggalkan desa itu untuk mengurus beberapa keperluan. Ia pergi ke Negeri Ceti bersama Bodhisatta.

Sementara itu, di sebuah hutan, terdapat lima ratus orang perampok – dikenal dengan sebutan “Pengutus” – yang membuat perjalanan itu tidak mungkin dilakukan. Mereka menangkap Bodhisatta dan Brahmana Vedabbha. (Anda bertanya-tanya, mengapa mereka disebut sebagai Pengutus? – Baiklah, menurut cerita, setiap dua tahanan yang mereka dapatkan, mereka selalu mengutus satu untuk menjemput uang tebusan; itulah sebabnya mengapa mereka disebut sebagai Pengutus. Jika mereka menangkap seorang ayah dan anak lelakinya, mereka akan meminta ayahnya untuk pergi mengambil uang tebusan untuk membebaskan anaknya; jika yang tertangkap adalah Ibu dan anak perempuannya, mereka akan mengirim ibunya untuk mencari uang tebusan. Jika yang tertangkap adalah dua orang bersaudara, mereka akan membiarkan saudara tua untuk pergi; demikian juga jika yang tertangkap adalah guru dan murid, yang mereka bebaskan adalah muridnya. Dalam kasus ini, mereka menahan Brahmana Vedabbha dan mengirim Bodhisatta untuk mencari uang tebusan.) Bodhisatta berkata sambil membungkukkan badannya memberi hormat pada gurunya, “Saya pasti akan kembali dalam satu hingga dua hari. Jangan khawatir; Hanya saja jangan lupa akan apa yang saya katakan. Hari ini, planet-planet akan bergerak bersama, sehingga dapat membawa hujan batu berharga. Berhati-hatilah jangan sampai Anda membacakan mantra itu dan memanggil hujan barang-barang berharga. Jika hal tersebut terjadi, malapetaka akan menimpa Anda dan kelompok penjahat ini.” Dengan peringatan seperti ini pada gurunya, Bodhisatta pergi untuk mencari uang tebusan.

Saat matahari terbenam, perampok-perampok itu mengikat brahmana itu dan membaringkannya di dekat mereka. Pada saat itu juga, purnama muncul di langit bagian timur. Brahmana yang mempelajari tentang langit, mengetahui – bahwa pergerakan bersama planet-planet itu sedang terjadi. “Mengapa,” pikirnya, “saya harus mengalami penderitaan ini? Dengan membacakan mantra itu, saya akan memanggil hujan batu berharga, membayar tebusan pada perampok-perampok ini, dan bebas untuk pergi.” Maka ia memanggil penjahat-penjahat itu, “Teman-teman, mengapa saya dijadikan sandera?”

“Untuk mendapatkan uang tebusan, Brahmana yang terhormat,” jawab mereka.

“Baiklah kalau itu yang kalian inginkan,” kata brahmana tersebut.

“Segera lepaskan saya; cuci kepala saya dan kenakan baju baru pada saya; buat saya wangi dan selimuti saya dengan bunga-bungaan. Kemudian tinggalkan saya sendiri.” Para perampok melakukan apa yang diminta olehnya. Brahmana yang menandai kebersamaan planet-planet itu, membacakan mantra dengan mata menatap ke langit. Segera saja, barang-barang berharga itu mengalir turun dari langit. Para penjahat langsung memungut barang-barang berharga itu dan membungkus barang rampasan itu dengan menggunakan mantel mereka. Mereka meninggalkan tempat itu dengan diikuti oleh brahmana itu dibelakang mereka. Namun, seakan telah diatur, kelompok itu disergap oleh kelompok kedua yang beranggotakan lima ratus orang perampok! “Mengapa kalian menangkap kami?” tanya kelompok pertama kepada kelompok kedua. “Untuk merampas barang jarahan kalian,” jawab mereka. “Jika itu yang kalian inginkan, tangkap saja brahmana ini, ia bisa dengan mudah menatap ke langit dan membawa turun harta kekayaan seperti aliran hujan. Ia yang memberikan semua barang yang kami miliki ini.” Maka kelompok kedua melepaskan kelompok pertama, hanya menahan brahmana itu, mereka berseru, “Berikan kekayaan kepada kami juga!”

“Dengan senang hati,” jawab brahmana itu; “namun masih satu tahun lagi sebelum planet-planet bergerak bersama, yang merupakan syarat utamanya. Jika kalian mau menanti hingga saat itu, saya akan memohon hujan barangbarang berharga untuk kalian.”

“Brahmana kurang ajar!” teriak perampok-perampok yang marah itu. “Kamu membuat kelompok yang lain menjadi kaya begitu saja, dan meminta kami untuk menunggu selama satu tahun!” Mereka kemudian memotongnya menjadi dua bagian dengan sebilah pedang yang tajam dan membuang mayatnya di tengah jalan. Lalu mengejar kelompok pertama, membunuh semua anggota perampok kelompok pertama dalam sebuah perkelahian, dan mengambil barang rampasan mereka.

Selanjutnya mereka sendiri terpecah menjadi dua kelompok, yang berkelahi antar anggota mereka sendiri. Kedua kelompok itu saling berkelahi hingga dua ratus lima puluh orang mati terbunuh. Mereka masih saling membunuh satu sama lain sehingga yang tersisa hanya dua orang saja. Dengan demikian, hampir seribu orang telah mati karenanya.

Kedua orang yang masih hidup itu sepakat untuk membawa lari harta tersebut, yang kemudian mereka simpan di sebuah hutan dekat desa; satu orang duduk di sana, dengan pedang di tangan, menjaga harta tersebut sementara yang satunya lagi pergi ke desa untuk mencari beras dan memasaknya sebagai santapan malam mereka.

“Ketamakan adalah penyebab kejatuhan!” renungnya saat berhenti di dekat harta tersebut.

“Saat temanku kembali nanti, ia akan menginginkan sebagian dari harta ini. Saya harus membunuhnya pada saat ia kembali.” Maka ia menghunuskan pedangnya dan duduk menunggu temannya kembali. Sementara itu, penjahat yang satu lagi, membayangkan hal yang sama, bahwa harta rampasan itu akan dibagi dua, ia berpikir, “Saya harus meracuni nasi ini, dan memberikan nasi beracun ini untuk dimakan olehnya dan membunuhnya.” Setelah makan bagiannya lebih dahulu, ia meracuni sisa nasi itu, lalu dibawanya ke dalam hutan. Namun ia tidak sempat melakukan rencananya, ketika penjahat yang satunya lagi memotongnya menjadi dua bagian dengan menggunakan pedang, dan menyembunyikan mayatnya di suatu tempat yang terpencil.

Kemudian ia makan nasi beracun itu, dan meninggal di tempat pada saat itu juga. Demikianlah, karena harta tersebut, tidak hanya brahmana itu, namun semua penjahat itu menjadi binasa. Sementara itu, satu dua hari kemudian, Bodhisatta kembali dengan membawa uang tebusannya. Tidak menemukan gurunya ditempat ia meninggalkannya, namun melihat harta benda berserakan di sekitar tempat itu, hatinya merasa khawatir bahwa, walaupun ia telah memberi nasihat, gurunya pasti telah menurunkan hujan harta benda dari langit, dan semuanya telah tewas sebagai akibatnya; ia menelusuri sepanjang jalan tersebut.

Dalam perjalanannya, ia menemukan mayat gurunya yang terbelah menjadi dua bagian, tergeletak di tengah jalan. “Aduh!” serunya, “ia meninggal karena tidak mau mendengar peringatan yang saya berikan.” Kemudian dengan kayu-kayu yang terkumpul olehnya, ia membuat sebuah tumpukan kayu bakar dan membakar jasad gurunya, memberikan persembahan berupa bunga-bunga. Saat berjalan lebih jauh, ia tiba di tempat dimana lima ratus orang “Pengutus” tergeletak, dan berjalan lebih jauh lagi, ia menemukan dua ratus lima puluh mayat, demikian seterusnya hingga ia hanya menemukan dua mayat di sana.

Memperhatikan bagaimana sembilan ratus sembilan puluh delapan orang telah tewas, ia merasa yakin masih ada dua orang lagi yang masih hidup, dan tidak ada yang dapat menghentikan mereka lagi. Ia memaksakan diri untuk melihat kemana mereka pergi. Ia berjalan terus, hingga akhirnya menemukan jalan dimana bersama harta tersebut mereka berbelok masuk ke dalam hutan; dan disana, ia menemukan buntelan harta benda, dan satu orang perampok yang terbaring mati dengan mangkuk nasi yang terbalik di sisinya. Menyadari keseluruhan kejadian itu dengan melihat secara sekilas, Bodhisatta mencari orang yang hilang itu, akhirnya ia menemukan mayatnya di suatu tempat yang terpencil dimana ia dilemparkan.

“Demikianlah,” renung Bodhisatta, “karena tidak mendengar nasihatku, guru yang mengikuti keinginannya sendiri telah membinasakan tidak hanya dirinya sendiri, namun juga seribu orang lainnya. Benar, mereka sendiri yang menerima akibat kekeliruan dan salah jalan, yang akhirnya menemui kehancuran, walaupun ia adalah guruku sendiri.” Ia mengulangi syair berikut ini :

Usaha yang salah membawa kehancuran, bukannya keuntungan;

Para perampok membunuh Vedabbha, dan akhirnya mereka sendiri juga terbunuh.

 

Demikianlah yang disampaikan oleh Bodhisatta, ia berkata lebih lanjut, — “Bahkan usaha guru saya yang salah arah dengan mengupayakan turunnya hujan harta benda dari langit, mengakibatkan kematiannya dan kehancuran bagi orang lain yang bersama dengannya; Tetap saja, setiap orang yang salah mengartikan pencarian terhadapan pedoman demi keuntungannya sendiri, akan hancur dan melibatkan orang lain dalam kehancurannya.” Dengan kata-kata ini Bodhisatta membuat hutan itu bergemuruh; dalam syair tersebut ia telah membabarkan Kebenaran, sementara para dewa pohon meneriakkan sorakan kegembiraan. Ia merencanakan untuk membawa harta benda tersebut ke rumahnya sendiri, tempat ia menghabiskan sisa hidupnya dengan berdana dan melakukan perbuatan baik lainnya. Setelah meninggal, ia terlahir kembali di alam bahagia yang telah ia menangkan.

Sang Guru berkata, “Ini bukan pertama kalinya, Bhikkhu, engkau bertindak semaumu. Engkau juga memiliki sifat yang sama di kehidupan yang lampau. Karena tindakan sesuka hatimu, engkau hancur sama sekali.” Setelah uraian-Nya berakhir, Beliau menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu yang bertindak sesuka hati ini adalah Brahmana Vedabbha di masa itu, dan Saya sendiri adalah siswanya.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

DUMMEDHA_JATAKA


DUMMEDHA_JATAKA

“Seribu pelaku kejahatan,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai tindakan demi kebaikan dunia; seperti yang akan dijelaskan dalam Buku Kedua Belas, dalam Maha-Kanha-Jātaka.

_____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir dalam kandungan ratu. Setelah lahir, ia diberi nama Pangeran Brahmadatta dalam upacara pemberian nama. Pada usia enam belas tahun, ia telah menyelesaikan pendidikannya di Takkasīla, mempelajari Tiga Weda dan mendalami delapan belas cabang ilmu pengetahuan. Hal itu membuat ia dijadikan sebagai raja muda.

Di masa itu, penduduk Benares mengadakan banyak perayaan terhadap para dewa untuk menunjukkan penghormatan terhadap ‘Dewa-Dewa’. Mereka mempunyai kebiasaan untuk menyembelih domba, kambing, unggas, babi dan hewan-hewan lainnya. Mereka tidak hanya mempersembahkan bunga-bunga dan wewangian, namun juga bangkai yang masih berlumuran darah. Pikir Bodhisatta, “Disesatkan oleh kepercayaan (takhayul), sekarang ini manusia mengorbankan kehidupan (makhluk lain) tanpa alasan yang kuat; sebagian besar orang tidak mempunyai keyakinan. Setelah ayah saya meninggal, saya yang mewarisi tahtanya. Saya akan mencari dengan sungguh-sungguh cara untuk mengakhiri pembunuhan ini. Saya akan memikirkan beberapa cara yang cerdik agar mereka dapat dihentikan tanpa mencelakakan satu makhluk pun.” Dengan suasana hati seperti itulah, suatu hari pangeran menaiki kereta kerajaan untuk pergi ke luar kota. Di tengah perjalanannya, ia melihat kerumunan orang di bawah sebuah pohon beringin yang suci. Mereka sedang berdoa pada dewa yang terlahir di pohon tersebut, untuk menganugerahkan mereka anak laki-laki dan perempuan, kehormatan dan kesehatan, sesuai dengan kehendak mereka masing-masing. Turun dari kereta kerajaaan, Bodhisatta mendekati pohon tersebut dan bertindak seperti salah seorang pemuja dengan mempersembahkan bunga dan wewangian, memerciki pohon tersebut dengan air dan mengelilingi batang pohon tersebut dengan penuh hormat.

Setelah itu, ia menaiki kereta kerajaannya dan kembali menelusuri jalan ke kota. Sejak saat itu, pangeran selalu melakukan perjalanan seperti itu dari waktu ke waktu, mengunjungi pohon itu dan menyembahnya seperti seorang penganut sejati para dewa. Setelah ayahnya meninggal, Bodhisatta menggantikannya memerintah negeri itu. Ia menjauhi diri dari empat ajaran sesat dan mempraktikkan sepuluh kebaikan yang mulia. Ia memerintah rakyatnya dengan penuh keadilan. Sekarang telah tiba saat untuk meneruskan keinginannya, ia telah menjadi raja, Bodhisatta akan membuat dirinya memenuhi keputusannya di masa yang lalu. Ia mengumpulkan para menteri, brahmana, golongan masyarakat baik-baik dan golongan masyarakat lainnya, menanyakan apakah mereka tahu bagaimana cara ia menjadikan dirinya sebagai seorang raja. Tidak ada orang yang bisa menjawabnya.

“Pernahkah kalian melihat saya dengan penuh hormat menyembah pohon beringin dengan wewangian dan sejenisnya, dan membungkukkan diri di hadapan pohon itu?”

“Kami pernah melihatnya, Paduka,” jawab mereka.

“Baiklah, saya membuat sebuah sumpah; dan sumpah itu adalah, jika saya menjadi raja, saya akan memberikan persembahan kepada pohon tersebut. Sekarang dengan bantuan dewa, saya telah menjadi raja. Saya akan mempersembahkan apa yang saya janjikan untuk dikorbankan. Karena itu, persiapkanlah hal itu secepat mungkin.”

“Apa yang harus kami persiapkan?”

“Sumpahku,” kata raja tersebut, “adalah seperti ini : — semua yang kecanduan melakukan lima jenis perbuatan buruk, yakni pembunuhan dan lain sebagainya, dan semua yang menempuh sepuluh jalan yang tidak benar, mereka akan saya bunuh, daging dan darah mereka, serta isi perut dan organ tubuh mereka, akan saya jadikan persembahan. Umumkanlah dengan iringan bunyi genderang, bahwa raja kita, saat masih bergelar Raja Muda, pernah bersumpah jika ia menjadi seorang raja, akan membunuh dan mempersembahkan korban, berupa mereka yang melanggar sila. Sekarang, raja akan membunuh seribu orang dari mereka yang kecanduan melakukan lima jenis perbuatan buruk, atau menempuh sepuluh jalan yang tidak benar. Dengan jantung dan daging dari seribu orang, sebuah persembahan akan dilakukan untuk menghormati para dewa. Umumkanlah hal ini agar semua orang di negeri ini tahu. Mereka yang melanggarnya setelah hari ini,” tambah raja, “akan saya bunuh sebanyak seribu orang, dan mempersembahkannya sebagai korban kepada para dewa sebagai pemenuhan sumpah saya.” Untuk memperjelas pernyataannya, raja mengulang syair sebagai berikut :

Seribu pelaku kejahatan telah saya janjikan,

sebagai ungkapan terima kasih untuk dibunuh;

pelaku kejahatan membentuk kerumunan besar,

sekarang, sumpahku akan dipenuhi.

 

Patuh pada perintah raja, para menteri membuat pengumuman yang diiringi dengan bunyi genderang sesuai dengan panjang dan lebar seluruh Kota Benares. Akibat pengumuman tersebut, tidak ada satu orang pun yang melakukan kejahatan lama itu lagi. Selama Bodhisatta memerintah, tidak ada seorang manusia pun yang dihukum karena melakukan pelanggaran. Demikianlah, tanpa mencelakakan rakyatnya, Bodhisatta membuat mereka menjalankan sila. Pada akhir kehidupan yang selalu diisinya dengan berdana dan perbuatan baik lainnya, ia meninggal dan bersama para pengikutnya, menuju ke alam dewa.

____________________

Sang Guru berkata, “Ini bukan pertama kalinya, para Bhikkhu, Sang Buddha melakukan sesuatu demi kebaikan dunia ini; Beliau juga melakukan hal yang sama di kehidupan sebelumnya.” Setelah uraian tersebut berakhir, Beliaumempertautkan dan menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Para siswa Buddha adalah menteri-menteri di masa itu, dan Saya sendiri adalah Raja Benares.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

KAMMA MEMILIKI MUSIM BERBUAHNYA SENDIRI


=KAMMA MEMILIKI MUSIM BERBUAHNYA SENDIRI=

Kamma bisa memberikan hasil di beberapa waktu yang berbeda. 

Ada kamma yang bisa berbuah di kehidupan yang sama dengan terjadinya kamma.

Ada pula kamma yang hanya berbuah di kehidupan mendatang. Bahkan ada juga kamma yang hanya muncul tetapi tidak menghasilkan buah apa pun (ahosi).

Inilah mengapa seringkali seseorang berpikir ada ketidak-adilan di dalam hukum kamma. 

Mengapa ada orang baik yang hidupnya menderita?

Mengapa juga ada orang jahat yang hidupnya bahagia?

Jawabannya ada beberapa, yaitu karena kamma-kamma yang mereka lakukan belum berbuah atau karena kamma baik/kamma buruknya tidak dirawat sehingga tidak berbuah.

Ada seseorang yang sering melakukan kejahatan tetapi kehidupannya baik-baik saja karena kejahatannya belum berbuah. Apabila kejahatannya berbuah maka kehidupan dia akan penuh dengan kesulitan dan penderitaan.

Sebaliknya, ada seseorang yang sering melakukan kamma baik tetapi hidupnya penuh kesulitan. Hal ini terjadi karena kamma baiknya belum berbuah. Apabila kamma baiknya berbuah maka dia akan hidup dengan kenyamanan dan kebahagiaan.

Jadi, kamma mempunyai “musim buah”nya sendiri,  bahkan “musim berbuah”nya bisa melampaui banyak kehidupan.

Bisa saja apa yang sedang Anda alami saat ini adalah buah dari kamma yang Anda lakukan seribu tahun yang lalu, 2.000 tahun yang lalu atau bahkan 10.000 tahun yang lalu. 

  Oleh ; Ashin Kheminda

  Source : Rusli Khu Fa Li

Tiga Nasihat


*TIGA NASIHAT*

Seorang pekerja setelah bekerja selama 20 tahun di kota, saatnya pensiun dan pulang kampung, lalu bertemulah dia dengan bosnya.
-  *Bos*  : " kamu sudah kerja disini 20 tahun dengan baik, sekarang saya tanya kamu mau uang pensiun 20 tahun atau 3 nasihat saya? "
Pekerja pikir sejenak lalu memilih meminta 3 nasihat bosnya.

🌟 *Nasihat pertama*  
Jangan pernah mau cari jalan pintas, tidak ada yg mudah dan gratis di dunia ini, lakukan sesuatu step by step dengan mantap dan mandiri.

🌟 *Nasihat ke 2*  
Terhadap sesuatu hal yg tidak baik, jangan menaruh rasa ingin tahu yg mendalam, hal itu bisa merengut nyawamu.

🌟 *Nasihat ke 3*  
Jangan melakukan putusan apapun saat sedang emosi, hal tersebut akan membuat kamu menyesal seumur hidup.

Lalu Bos kasih dia sedikit duit jalan dan 3 buah Roti dan berpesan : 
🍞 roti yg paling besar dimakan dengan keluarga saat sampai di rumah.

Besoknya si Pekerja pamit dan mulai perjalanan pulang ke kampung halamannya. sampai disalah satu kampung dia bertanya jalan mana paling dekat ke kampungnya. 
A menjawab : jalan kecil lebih dekat.
B menjawab : Jalan besar lebih aman.

Karena ingin cepat sampai di rumah lalu dia memilih jalan kecil, jalan setengah ketemu orang yg balik arah, di jalan kecil banyak perampok, lalu diapun ingat nasihat bosnya, dan balik lagi lewat jalan besar, saking laparnya dia pun melahap roti ke 1 yang diberi bosnya.

karena sudah malam maka diapun menginap di Losmen, malam harinya dia mendengar suara seorang wanita menangis, namun dia ingat nasihat ke 2 dari bosnya, 
maka diapun mengurungkan niatnya keluar melihat , dan makan roti ke 2 di kamar.

Besok pagi saat dia bangun, orang kampung heran dan bertanya kepadanya : " kok kamu masih hidup ? 
semalam ada seorang wanita gila menangis memancing tamu keluar lalu membunuhnya . syukur kamu tidak keluar".

Setelah sampai di rumah sudah malam hari, diapun diam diam mau memberikan kejutan kepada Istrinya, lalu dia masuk ke kamar, alangkah terkejutnya dia melihat seorang lelaki tidur dengan istrinya. emosinya meluap lalu mengambil parang hendak membunuh lelaki tersebut, 
namun dia mengingat nasihat ke3  bosnya, dia lalu mengurungkan niatnya, dan tidur di luar.

Keesokan harinya istrinya bangun menemukan suaminya tidur diluar, alangkah senangnya dan memanggil pria yang menemaninya tidur selama suaminya tidak ada di rumah : " xiao qiang, xiao qiang, mari sini papa kamu pulang ". 

Alangkah terkejutnya ternyata anak lelaki tersebut ternyata adalah anak kandung sendiri, 
Istrinya berkata : " Saat kamu berangkat saya sudah hamil. selama ini tidak bisa menghubungi mu" 
Lalu dipeluklah anak bujangnya dengan haru dan meneteskan air mata, karena hampir saja dia membunuh anaknya sendiri jika tidak mengingat nasihat bosnya.

Sambil cerita panjang lebar tentang pengalaman dia dan 3 nasihat bosnya, dia pun ingat roti besar untuk makan di rumah, 
Setelah dibuka ternyata
didalamnya terselip uang pensiun dia selama 20 tahun dia bekerja.
Akhir cerita keluarga mereka hidup berbahagia. 

Dibalik cerita ini ada pesan yang harus kita ingat selalu " Hati Hati Di Dalam  Mengambil Keputusan

Rabu, 02 Desember 2020

Kisah Melafal Amitofo Sembuh dari 25 penyakit


Sunday, January 26, 2020
25 Buddha Datang ke Dalam Mimpi

Kisah Melafal Amituofo Sembuh dari Penyakit 25
Buddha Datang ke Dalam Mimpi

Saya adalah mahasiswa tingkat tiga di “City University of Hong Kong”. Akhir bulan Juni, Mama mendadak menderita sakit perut, setelah didiagnosis, dokter mengatakan Mama menderita batu empedu. Saya tidak terlalu menghiraukan hal ini.

Setelah pulang dari perjalanan dinas, saya pulang ke rumah, ibu angkatku bilang bahwa penyakit Mama sangat parah, di ginjalnya tumbuh tumor, kemungkinan besar adalah kanker.

Mendengar hal ini saya jadi bengong, terutama mencemaskan kondisi kesehatan Mama, tetapi waktu itu yang bisa dilakukan hanyalah memohon perlindungan pada Buddha Amitabha, semoga Mama tidak apa-apa, selain ini merisaukan apapun juga tiada gunanya.

Kemudian saya segera menuju ke hadapan altar dan berlutut di depan rupang “Tiga Suciwan Alam Sukhavati”, memandangi wajah Buddha Amitabha yang penuh welas asih dengan tanganNya yang senantiasa siap merangkul setiap makhluk yang sedang menderita dan kesusahan.

Di samping Buddha Amitabha berdiri Bodhisattva Avalokitesvara, tanganNya membawa sebuah botol suci yang dilengkapi dengan ranting Yangliu (juga disebut sebagai willow branch atau dedalu atau gandarusa),  sedangkan Bodhisattva yang satunya lagi, saya tidak kenal (di kemudian hari barulah saya tahu Beliau adalah Bodhisattva Mahasthamaprapta).

Saya terus berlutut di sana, sambil memandangi rupang Buddha sambil melafal Amituofo dengan suara kecil. Sampai sekitar pukul 3 dini hari, saya merasa begitu mengantuk, kedua lututku sudah kebas, terpikir besok masih harus ke Rumah Sakit membesuk Mama, akhirnya memutuskan pergi tidur.

Begitu merebahkan diri, saya langsung terlelap, bermimpi sebuah kejadian yang hingga kini tak pernah terlupakan.

Mungkin juga dikarenakan sebelum tidur, saya memandangi terus rupang Buddha, juga mungkin saja Buddha Amitabha dan Bodhisattva Avalokitesvara benar-benar menunjukkan mukjizat, Mereka hadir dalam mimpiku.

Kala itu sepertinya saya sedang berlutut di atas Bunga Lotus, saat menengadahkan kepala, tampak Buddha Amitabha dan Bodhisattva Avalokitesvara berdiri di tengah angkasa.

Di dalam mimpi saya tidak berdaya berpikir, seperti orang yang kebingungan, berdiri bengong memandangi Mereka.

Tiba-tiba Buddha Amitabha berkata, logat yang digunakan ternyata sama dengan logat daerah kami yakni logat Chongqing : “Jangan terlampau mencemaskan penyakit mama kamu, bunda-mu akan selamat”. SuaraNya lembut dan menenangkan hati.

Sementara itu Bodhisattva Avalokitesvara menggenggam ranting Yangliu tetapi tanpa botol suci, berkata : “Kamu harus baik-baik berbakti dan menghormati mama-mu ya”.

Usai itu Bodhisattva memercikkan air suci dengan ranting Yangliu, bersamaan itu pula tampak mama yang sedang mengenakan baju pasien muncul di bawah ranting Yangliu, sehingga percikan air suci mengenai dirinya, lalu tampak mama berubah jadi lincah kembali. Sedangkan saya sendiri masih tetap berdiri bengong melihat semua peristiwa ini, memandangi terus............

Keesokan harinya saat terbangun, saya masih mengingat dengan jelas rentetan peristiwa dalam mimpiku semalam. Kala itu saya sangat menyesal : Mengapa saya tidak berusaha menganggukkan kepala, mengucapkan sepatah terima kasih, cuma bisa berdiri bengong memandangi keagungan Mereka!

Kemudian Mama oleh karena kanker ginjal menjalani pembedahan mengangkat dan membuang ginjal kanannya, selama proses operasi berlangsung, saya dan Bibi melafal Amituofo melimpahkan jasa buat Mama.

Operasi berjalan dengan lancar, bahkan kondisinya pulih lebih cepat dibandingkan dengan pasien sejenis lainnya, hanya dalam kurun beberapa hari saja sudah mampu turun dari ranjang pasien dan berjalan ke toilet sendirian, semangatnya juga sangat bagus.

Setengah bulan kemudian keluar dari Rumah Sakit, melepaskan seragam pasien, sama sekali tidak kelihatan seperti pasien penderita kanker yang pernah menjalani operasi besar. 

Setiap bulan Che-it dan Cap Go masih ke Vihara mengikuti kebaktian pelafalan Amituofo. Sekarang Mama tampak begitu bersemangat, suasana hatinya selalu gembira, semua ini merupakan pemberkatan dari Buddha Amitabha.
Ditulis oleh : Fo Yu
Tanggal : 29 November 2016
Di : Distrik Dazu, Kota Chongqing, Tiongkok.

Disadur dari ebook berjudul :
《念佛癒病》(一)

二五、心憂母病急念佛 彌陀觀音入夢來

我是香港城市大學大三的學生。六月底媽媽突然覺得腹痛,經醫院檢查後,告訴我是患了膽結石,我就沒怎麼放在心上。我出完差回到媽媽身邊,乾媽對我說了媽媽具體的病情非常的嚴重,腎上長的是腫瘤,很有可能是癌。聽到這個消息我整個人都懵了,特別擔心媽媽的病情,但那時唯一能做的就是求阿彌陀佛保佑媽媽無大礙,其餘瞎操心也沒用。

於是,我趕緊跑去佛像(西方三聖)面前跪著,看見中間站著的阿彌陀佛一臉慈祥地向下托著手,像是要去接納受苦的大眾,旁邊站著觀世音菩薩,手裡托著裝有柳枝的瓶子,另外一位菩薩我不認識(後來聽說是大勢至菩薩)。我一直跪在那裡,邊看著佛像邊小聲念「阿彌陀佛」。大約到了凌晨三點,迷迷糊糊睏得不行了,膝蓋也一直麻著,想著明天還要去醫院看媽媽,就去床上休息了。躺在床上我很快就睡著了,做了一個至今還記憶猶新的夢。

可能是睡前一直盯著佛像的緣故,也可能是阿彌陀佛和觀世音菩薩顯靈了,他們竟然出現在夢裡。當時我好像是跪在蓮花上,抬頭看到了阿彌陀佛和觀世音菩薩站在半空。夢裡的我沒了思考能力,腦子糊裡糊塗地,一直呆呆地望著他們。

突然,阿彌陀佛說話了,用的竟然是重慶口音:「不要太擔心你的媽媽,她會逢凶化吉,化險為夷的。」聲音柔和安詳(極像我姨父的聲音,我姨父唱歌非常的好聽,常常參加表演)。

觀世音菩薩手裡拿著楊柳枝卻沒有白瓶子,她的衣著也不是佛像中的樣子,而是小時候看的西遊記裡全身素白的形象,她接著說道:「你以後一定要好好孝敬你媽媽喲!」聲音極似我小學數學老師(她的聲音我一直以來覺得是最好聽的了),說著便輕輕抖動楊柳枝,滴下幾滴甘露聖水,同時媽媽穿著病號服的樣子就在楊柳枝下若隱若現,楊枝露水便滴落在她身上,然後就看到媽媽像平時一般活潑的樣子。而我還是呆呆地看著她們,一直看著……

第二天醒來腦子裡對夢裡的細節記得十分清晰。當時十分後悔:為什麼不使勁點下頭,說一句感謝的話,像個傻子一樣一直望著她們幹嘛啊!

後來媽媽因腎癌做了手術切除了右腎,在手術中我和姨媽都在為她念阿彌陀佛。手術很順利,而且恢復得比其他同類病人快得多,幾天便可下床走動,也可自理上衛生間,精神也非常的好。半個月後出院脫下病號服一點也看不出是一個患癌動了大手術的病人。回到家還去帶領大眾跳念佛拍手健身操。初一、十五還去念佛堂念佛。如今媽媽精神飽滿,心情愉悅,這一切都歸功於阿彌陀佛的加持。

(重慶大足 佛語居士 二○一六年十一月二九日)

摘錄自 :
《念佛癒病》(一)

Selasa, 01 Desember 2020

Ajaran Leluhur China


Ajaran Leluhur China

心情再差,也不要寫在臉上,因為沒有人喜歡看;
Walau hati lagi segalau apapun, janganlah ditampilkan diraut muka, karena tidak ada orang yang suka melihatnya.

日子再窮,也不要掛在嘴邊,因為沒有人無故給你錢;
Hidup semiskin apapun, tidak usah diutarakan, karena tidak ada orang yang tanpa alasan memberikan anda uang.

工作再累,也不要抱怨,因為沒有人無條件替你幹;
Kerja seletih apapun, ga perlu ngomel, karena tidak ada orang yang tanpa alasan akan membantu anda bekerja.

生命再短,也不要隨意作踐,因為沒有人為你的健康買單;
Hidup walau singkat, namun jangan sampai dihambur-hamburkan dengan sesuka hati; tidak ada orang yang akan membayar ongkos kesehatan anda.

生活再苦,也不要失去信念,因為美好將在明天;
Hidup sesulit apapun, jangan hilang kepercayaan diri, karena esok hari akan lebih indah.

品性再壞,也要孝順父母,因為你也有老的那天
Seburuk apapun sifatnya, harus tetap berbakti kepada orang tua, karena suatu saat nanti anda juga akan menjadi tua.

我不怕別人在背後捅我一刀,我怕回頭後看到背後捅我的人是我用心對待的人。
Saya tidak takut ditusuk oleh orang dari belakang, namun saya takut dikala saya berpaling dan melihat ternyata orang yang menusuk aku dari belakang adalah orang yang saya percaya dengan sepenuh hati.

我不怕把心裡話告訴最好的朋友,我怕回過 頭她把它當成笑話告訴別人。
Saya tidak kuatir untuk menyampaikan isi hatiku kepada teman dekat, hanya kuatir dijadikan lelucon yang akan diceritakan pada orang lain.

如果難過就努力抬頭望天空吧,它那麼大,一定可以包容你的所有委屈。
Jika sedang bersedih tatap langit, langit begitu luas, pasti bisa menampung semua perasaanmu yang tertekan.

幫過你的人不要忘,愛過你的人不要恨,信任你的人不要騙。
Jangan lupa kepada orang yang pernah membantu anda, jangan benci kepada orang yang pernah mengasihimu, jangan menipu pada orang yang mempercayai anda.

時間不一定能證明許多東西,但一定會讓 你看透許多東西。
Walaupun waktu belum tentu dapat membuktikan banyak hal, namun pasti bisa membuat anda mengerti banyak hal.

  Source : Rusli Khu Fa Li