Translate

Senin, 07 Desember 2020

VELUKA_JATAKA


VELUKA_JATAKA

“Orang keras kepala,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang keras kepala. Saat Sang Bhagawan bertanya benarkah ia keras kepala seperti apa yang dilaporkan, ia mengakui hal tersebut. “Bhikkhu,” kata Sang Guru, “ini bukan pertama kalinya engkau begitu keras kepala; engkau juga keras kepala di kehidupan yang lampau, dan, kekeras kepalaanmu membuat engkau menolak mengikuti nasihat dari ia yang bijaksana dan penuh kebaikan, mengakibatkan engkaumenemui ajal karena gigitan ular.” Setelah mengucapkan katakata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir dalam sebuah keluarga kaya di Kerajaan Kāsi. Saat ia mampu bersikap bijaksana, ia melihat bagaimana kesenangan indriawi melahirkan penderitaan dan bagaimana kebahagiaan sejati timbul setelah kesenangan indriawi dimusnahkan. Maka ia melepaskan kesenangan indriawi dalam dirinya dan pergi ke Himalaya untuk menjadi petapa. Ia melakukan meditasi pendahuluan kasiṇa, kemudian memperoleh lima kemampuan batin luar biasa dan delapan pencapaian. Ia hidup dalam kebahagiaan jhana. Setelah beberapa waktu, ia telah memiliki lima ratus orang petapa sebagai pengikut; ia merupakan guru bagi mereka. Suatu hari, seekor ular beracun yang masih kecil menjelajahi tempat tersebut sebagaimana kebiasaan ular, sampai di gubuk dari salah seorang petapa. Bhikkhu itu kemudian memeliharanya karena merasa tertarik pada hewan tersebut, seakan ular itu adalah anaknya sendiri. Ia menempatkan ular itu di dalam sangkar bambu dan memperlakukannya dengan baik. Karena tinggal di sangkar bambu, ular itu dikenal sebagai “Bambu”. Dan karena petapa itu sangat menyayangi ular itu seakan anaknya sendiri, mereka menyebutnya sebagai “Ayah Bambu”. Mendengar salah seorang bhikkhu memelihara ular, Bodhisatta mengundang bhikkhu tersebut dan menanyakan kebenaran laporan tersebut. Saat bhikkhu tersebut membenarkannya, Bodhisatta berkata, “Seekor ular tidak dapat dipercaya. Jangan memeliharanya lagi.”

“Namun,” bantah bhikkhu tersebut, “ular itu menghormati saya seperti seorang murid kepada gurunya;— saya tidak dapat hidup tanpanya.”

“Baiklah kalau begitu,” Bodhisatta menjawab, “ketahuilah bahwa ular ini dapat membuat engkau kehilangan nyawa.” Namun, tidak menghiraukan nasihat gurunya, bhikkhu itu tetap memelihara binatang peliharaan yang tidak mampu ia singkirkan. Beberapa hari kemudian, ketika semua bhikkhu pergi untuk mengumpulkan buah-buahan, mereka menemukan tempat dimana segala jenis pohon buah tumbuh dalam jumlah yang banyak. Mereka tinggal di sana selama dua hingga tiga hari lamanya. Di antara mereka, terdapat “Ayah Bambu” yang meninggalkan ularnya dalam sangkar bambu. Dua hingga tiga hari kemudian, saat kembali, ia mengingatkan dirinya untuk memberi makan ular itu. Ia membuka sangkar sambil mengulurkan tangannya, berkata, “Mari, Anakku, kamu pasti sudah lapar.” Namun, ular yang marah karena puasa panjang itu, menggigit tangan yang diulurkan itu, membunuhnya di tempat saat itu juga, kemudian melarikan diri ke hutan. Melihat ia telah terbujur kaku di sana, para bhikkhu melaporkan kejadian tersebut kepada Bodhisatta, yang meminta agar jasadnya dibakar. Kemudian, duduk di tengah-tengah, ia menasihati para bhikkhu dengan mengulangi syair berikut ini : —

Orang keras kepala, yang saat dinasehati memberikan ketidakacuhan pada teman-teman yang berbaik hati memberikan nasihat, seperti ‘Ayah Bambu’, yang berakhir dalam kesia-siaan.

 

Demikianlah nasihat Bodhisatta kepada para pengikutnya; dan dengan mengembangkan empat kediaman luhur di dalam dirinya, setelah meninggal, ia terlahir kembali di alam brahma.

____________________

Sang Guru berkata, “Bhikkhu, ini bukan pertama kalinya engkau menunjukkan dirimu keras kepala; engkau tidak lebih keras kepala dari kehidupan lampau, karenanya engkau menemui ajal akibat gigitan ular.” Setelah mengakhiri uraian tersebut, Beliau mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan mengatakan, “Bhikkhu yang keras kepala ini adalah ‘Ayah Bambu’ di masa itu, para siswa Buddha adalah kumpulan siswa di masa itu, dan Saya sendiri adalah guru mereka.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

Alam Dewa dalam ajaran Buddha


DEWA-DEWA 
(Dalam Agama Buddha) .

Dalam pandangan Agama Buddha, alam surga di mana para Dewata dan makhluk surgawi tinggal, sekalipun dalam kurun waktu yang berbatas namun tetaplah bukan keberadaan yang kekal serta bukanlah menjadi tujuan Akhir dari Ajaran Buddha.
Alam Surga terbagi menjadi enam alam, yaitu:
1. Câtumahârâjikâ,
2. Tâvatimsa,
3. Yâmâ,
4. Tusita,
5. Nimmânaratî,
6. Para-nimmitavasavattî.

Alam-alam, yaitu alam Catummaharajika, Tavatimsa, Yama, Tusita, Nimmanarati dan Paranimmitavasavatti merupakan alam surga dari para dewa yang tubuh fisik mereka adalah lebih halus dan lebih bersih daripada tubuh manusia. Tubuh para dewa tak dapat dilihat oleh mata fisik manusia biasa. 
Makhluk di alam-alam surga ini pada suatu saat akan meninggal atau lenyap dari alamnya masing-masing dan terlahir kembali di alam lain sesuai dengan karma yang masih mereka miliki. 
Walaupun kehidupan para dewa di alam surga lebih menyenangkan atau melebihi kehidupan manusia, namun kesucian dan kebijaksanaan belum tentu melampaui kesucian dan kebijaksanaan manusia.
Makhluk-makhluk yang terlahir di alam ini berdasarkan karma baik mereka seperti melaksanakan dana, sila dan perbuatan karma baik lain. Tapi bila karma baik mereka telah habis dan tak sempat mengembangkan batin dengan belajar dan melaksanakan dharma, maka para dewa akan menemui ajal dan terlahir kembali di alam dewa yang lebih rendah atau di alam manusia.

1.#Alam_Câtumahârâjikâ.
Alam ini merupakan alam kehidupan dari para Dewa pelindung di empat penjuru bersama para pengikut mereka. Dewa pohon, dewa bumi, dewa angkasa, dan lain-lain termasuk dalam alam dewa ini.
Merupakan suatu alam surgawi pertama yang berada dalam kekuasaan empat raja dewa, yakni: 
#Dhataranggha, 
#Virudhaka,
#Virûpakkha, dan 
#Kuvera. 
Empat raja dewa ini juga dipercayai sebagai pelindung alam manusia, dan karenanya dikenal dengan sebutan ‘Catulokapâla’. 
Empat dewa pelindung dunia ini dipanggil sebagai Indra, Yama, Varuóa dan Kuvera. 
Berdasarkan tempat tinggalnya, para dewa-dewi tingkat Câtumahârâjikâ terbagi atas tiga, yaitu:
1. Para Dewa yang berada di daratan (bhumattha),
2. Para Dewa yang berada di pohon (rukkha). Dalam Ulasan  Dhammapada dan Buddhavamsa, para dewa-dewi yang hidup di pohon dimasukkan dalam kelompok bhummattha.
3. Para Dewa yang berada di angkasa (âkâsangha).
Empat Raja Dewa serta beberapa dewa lainnya mempunyai ‘istana’ (vimâna) khusus bagi diri mereka masing-masing. 
Bagi yang tak mempunyai istana secara khusus, gunung, sungai, lautan, pohon yang ditinggali itulah istana bagi mereka. 
Kehidupan di Câtumaharâjikâ berlangsung selama 500 tahun dewa atau kira-kira sembilan juta tahun manusia (Perbandingan usia di alam-alam surga tidaklah sama, tergantung tingkatannya. Satu hari di alam surga tertentu berbanding satu abad di alam manusia, dan bahkan ada pula yang lebih lama lagi).

2.#Alam_Tâvatimsa
Alam Surga dari Tiga Puluh Tiga Dewa, alam dari Raja Dewa Sakka.  
Dalam alam surga ini Sang Buddha mengajarkan Abhidhamma kepada para dewa selama tiga bulan. 
Alam Tâvatimsa adalah alam surgawi tingkat kedua. 
Alam ini sebelumnya merupakan tempat tinggal para Asura. 
Nama ‘Tâvatimsa’ baru dipakai setelah 33 pemuda di bawah pimpinan Mâgha, yang terlahirkan kembali di sini akibat kebajikan yang dilakukan bersama-sama, berhasil menyingkirkan para Asura.
Para dewa-dewi di Tâvatimsa terbagi menjadi dua kelompok, yaitu:
1) Bhummaha : Dewa Sakka beserta 32 Dewa pembesar,
2) Âkâsangha : yang bertinggal dalam istana di angkasa.
Ibukota Tâvatimsa ialah Masakkasâra. 
Balai Sudhamma menjadi tempat bagi para dewa-dewi untuk mendiskusikan Kebenaran Dhamma di bawah asuhan Dewa Sakka (Beliau berhasil meraih kesucian tingkat Sotâpatti setelah mendengarkan Brahmajâla Sutta). 
Brahmâ Sanamkumâra kerap menjadi tamu pembabar Dhamma di sini.
Buddha Gottama sengaja berkunjung ke alam ini, dan bertinggal selama tiga bulan untuk mengajarkan Abhidhamma kepada ibunda-Nya, yang terlahirkan kembali sebagai putra dewa di alam Tusita. 
Mahamoggallâna Thera juga pernah beberapa kali pergi ke alam ini, dan dari sejumlah penghuninya, beliau memperoleh kesaksian atas perbuatan-perbuatan bajik yang membawa mereka terlahirkan kembali di sini. Kebajikan ini antara lain ialah merawat ayah-ibu, menghormat sesepuh dalam keluarga, berbicara lemah lembut, menghindari penghasutan, mengikis kekikiran, bersifat jujur, menahan marah. 
Usia rata-rata para dewa-dewi yang terlahirkan di alam Tâvatimsa ialah 1,000 tahun dewa atau kira-kira 36 juta tahun manusia.

3.#Alam_Surga_Yama (Yâmâbhûmi)
Yâmâbhûmi adalah alam surgawi tingkat ketiga, menjadi tempat bagi para Dewa yang terbebas dari segala kesukaran, yang terberkahi dengan kebahagiaan surgawi. 
Pemegang kekuasaan dalam alam ini ialah Suyâma. 
Alam ini berada di angkasa. 
Dalam alam ini dan tingkat yang lebih tinggi, tidak ada dewa-dewi yang tergolong sebagai bhummattha yang bertinggal di daratan. 
Istana, harta serta tubuh para Dewata di alam ini jauh lebih indah dan halus daripada yang bertinggal di Tâvatimsa. 
Rentang hidup mereka ialah 2,000 tahun dewa atau kira-kira 142 juta tahun manusia.

4.#Alam_Tusita
Tusita adalah alam surgawi tingkat keempat. Para makhluk surgawi/dewata yang hidup di alam ini senantiasa berbahagia atas segala kebajikan yang diperbuatnya. 
Semua Bodhisatta, sebelum turun ke dunia dan meraih Pencerahan Agung, terlahirkan di alam ini untuk menanti waktu yang tepat bagi kemunculan seorang Buddha. 
Demikian pula mereka yang akan menjadi orangtua serta Siswa Utama (Aggasâvaka). 
Sekarang ini, Bodhisatta Metteyya yang akan menjadi Sammâsambuddha setelah ajaran Buddha Gotama punah dari muka bumi ini sedang berada di alam ini. 
Usia rata-rata di alam ini ialah 4,000 tahun dewa atau kira-kira 567 juta tahun manusia.

5.#Alam_Nimmânaratî
Nimmânaratî adalah alam surgawi tingkat kelima. 
Para dewa-dewi di alam ini menikmati kepuasan inderawi sebagaimana yang diciptakan sendiri sesuka hati mereka. 
Rentang hidup para dewa-dewi di alam ini ialah 8,000 tahun dewa atau kira-kira 2.304 juta tahun manusia.

6.#Alam_Paranimmittavasavattî
Paranimmittavasavattî adalah alam surgawi tingkat terakhir. 
Apabila para dewata di alam Nimmânaratî (surga tingkat kelima) menikmati kepuasan inderawi sebagaimana yang diciptakan sendiri sesuka hati mereka, para dewa-dewi di alam ini (surga tingkat keenam) menikmatinya dari apa yang diciptakan atau disediakan oleh yang lain, yang tahu kebutuhan serta keinginan mereka. 
Usia rata-rata di alam ini ialah 16,000 tahun dewa atau kira-kira 9.216 juta tahun manusia.

SUMBER: https://id.wikipedia.org/wiki/Tuhan_dalam_agama_Buddha

http://sintyadewi2702.blogspot.com/2015/12/dewa.html?m=1

Minggu, 06 Desember 2020

MAKASA JATAKA


MAKASA_JATAKA

“Teman yang bodoh,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika melakukan pindapata di Magadha, mengenai beberapa penduduk yang bodoh dari suatu dusun kecil.

Menurut kisah yang diceritakan secara turun temurun, setelah berkelana dari Sawatthi menuju Kerajaan Magadha, saat sedang berkeliling di kerajaan tersebut, Beliau tiba di sebuah dusun kecil, yang dipenuhi oleh orang-orang yang bodoh. Di dusun ini, mereka yang bodoh berkumpul setiap hari dan berdiskusi bersama. Mereka berkata, “Teman-teman, saat kita bekerja di dalam hutan, nyamuk-nyamuk menyerang kita; hal itu sangat mengganggu pekerjaan kita. Mari kita mempersenjatai diri dengan busur dan senjata lainnya, berperang dengan nyamuk-nyamuk itu, menembaki ataupun menumbangkan mereka hingga mati.” Maka mereka masuk ke dalam hutan, berteriak, “Tembak mati nyamuk-nyamuk itu.” Mereka saling menembak dan bertabrakan satu sama lain, hingga semuanya berada dalam kondisi yang menyedihkan. Saat kembali, mereka merosot di lantai, baik di dalam maupun di pintu gerbang dusun mereka.

Dikelilingi oleh para bhikkhu, Sang Guru tiba dengan tujuan melakukan pindapata di dusun tersebut. Mereka yang memiliki sedikit kebijaksanaan di antara para penghuni desa lainnya, begitu melihat Sang Bhagawan, segera mendirikan sebuah paviliun di pintu masuk desa. Setelah mempersembahkan sejumlah dana kepada para Sanggha dengan Sang Buddha sebagai guru mereka, para penghuni desa memberikan penghormatan kepada Sang Guru dan mengambil tempat duduk. Melihat orang-orang yang terluka berbaring di sana-sini, Sang Guru bertanya kepada para umat awam, “Ada sejumlah orang cacat, apa yang terjadi pada mereka?”

“Bhante,” jawab umat tersebut, “mereka pergi berperang dengan nyamuk, hanya untuk saling menembak dan membuat mereka cacat sendiri.” Sang Guru berkata, “Ini bukan pertama kalinya orang-orang bodoh ini memberi pukulan pada diri mereka sendiri, bukannya pada nyamuk-nyamuk yang ingin mereka bunuh, tetapi juga di kehidupan yang lampau, mereka yang ingin memukul seekor nyamuk, malah memukul sesama manusia.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, atas permintaan para penduduk desa, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta mendapatkan nafkah sebagai seorang pedagang. Pada masa itu, di pinggir desa Kāsi terdapat sejumlah tukang kayu. Secara kebetulan, salah seorang dari mereka, seorang lelaki botak yang telah tua sedang mengetam kayu, dengan kepala botak yang berkilau seperti mangkuk tembaga, saat seekor nyamuk mendarat di kepalanya dan menggigitnya dengan penyengat yang berbentuk seperti anak panah.

Tukang kayu itu berkata kepada anaknya yang sedang duduk di dekatnya, “Anakku, seekor nyamuk sedang menggigit kepalaku; cepat usir dia.”

“Jangan bergerak, Ayah,” jawab anaknya, “satu pukulan saja akan membereskan masalah ini.”

(Saat itu Bodhisatta tiba di desa itu dalam perjalanan dagangnya, dan sedang duduk di toko tukang kayu tersebut.)

“Segera bebaskan saya dari nyamuk itu,” teriak sang ayah. “Baik, Ayah,” jawab anaknya, yang berada di belakang orang tua itu. Ia mengangkat sebuah kapak yang tajam dengan tujuan membunuh nyamuk itu. Dan ia melakukan gerakan membelah kepala ayahnya menjadi dua bagian. Saat itu juga, orang tua itu meninggal. Bodhisatta yang menyaksikan kejadian itu berpikir, “Yang lebih baik dari seorang teman yang demikian adalah musuh yang memiliki akal sehat, yang (dikarenakan) rasa takutnya terhadap balas dendam dari seseorang akan mencegahnya membunuh seseorang.” Ia mengucapkan baris-baris berikut ini:

Teman yang bodoh lebih buruk dibandingkan dengan musuh yang memiliki akal sehat;

Lihatlah seorang anak yang mencari hewan penyengat untuk dibunuh, namun malah membelah, si dungu yang menyedihkan, tengkorak ayahnya menjadi dua bagian.

Selesai berkata, Bodhisatta bangkit dan pergi. Ia meninggal pada waktunya dan terlahir kembali di alam yang sesuai dengan perbuatannya. Sementara tukang kayu itu, jasadnya dibakar oleh para penduduk desa.

____________________

“Demikianlah, umat awam,” kata Sang Guru, “di kehidupan yang lampau, mereka yang mencari nyamuk, membunuh sesama manusia.” Uraian tersebut berakhir, Beliau mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran itu dengan berkata, “Di masa itu, Saya adalah pedagang yang bijaksana dan penuh kebaikan, yang meninggalkan tempat itu setelah mengucapkan syair tersebut.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

Sabtu, 05 Desember 2020

ROHINI_JATAKA


ROHINI_JATAKA

“Teman yang bodoh,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, tentang seorang pelayan wanita dari Saudagar Anāthapiṇḍika. Dikatakan bahwa ia mempunyai seorang pelayan wanita yang bernama Rohinī. Ibunya yang sudah tua mendatangi tempat gadis itu menumbuk padi dan berbaring di sana. Lalat-lalat mengerumuninya dan menyengatnya dengan sengatan yang setajam jarum, ia pun berseru kepada anak perempuannya, “Lalat-lalat sedang menyengatku, Anakku, usirlah mereka!”

“Oh, mereka akan segera saya usir, Bu,” jawab gadis tersebut, ia lalu mengangkat alu ke arah lalat-lalat yang hinggap pada ibunya. Ia berseru, “Saya akan membunuh mereka!”, dan menghantam ibunya dengan sebuah pukulan seperti hendak membunuh wanita tua tersebut seketika itu juga. Melihat akibat perbuatannya, gadis itu mulai menangis dan berseru, “Oh, Ibu, Ibu!”

Kabar itu terdengar oleh sang saudagar, yang kemudian membakar jasad wanita tersebut. Ia kemudian pergi ke wihara dan menceritakan kejadian itu kepada Sang Guru. “Ini bukan pertama kalinya, Tuan perumah-tangga,” jawab Sang Guru, “keinginan Rohinī untuk membunuh lalat-lalat yang hinggap pada ibunya, membuat ia memukul ibunya hingga meninggal dengan menggunakan sebuah alu. Ia melakukan hal yang sama di kehidupan yang lampau.” Atas permintaan Anāthapiṇḍika, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini. Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari seorang saudagar kaya, yang kemudian menggantikan posisinya setelah ayahnya meninggal. Ia juga mempunyai seorang pelayan wanita yang bernama Rohinī. Dan ibunya, dengan kejadian yang sama, pergi ke tempat dimana anaknya sedang menumbuk padi, dan berbaring di sana, kemudian berseru, “Usir lalat-lalat ini, Anakku,” dan dengan cara yang sama Rohinī memukul ibunya dengan sebuah alu; membuat ibunya meninggal seketika itu juga, dan mulai menangis.

Mendengar apa yang telah terjadi, Bodhisatta menggambarkan, ‘Di sini, di dunia ini, bahkan seorang musuh yang memiliki akal sehat akan lebih baik.’ Ia membacakan baris-baris berikut ini:

Teman yang bodoh lebih buruk dibandingkan dengan musuh yang memiliki akal sehat.

Lihatlah gadis yang tangan sembrononya terkulai ke bawah; Ibunya, orang yang ia ratapi dengan sia-sia.

Melalui baris-baris yang memuji mereka yang bijaksana, Bodhisatta membabarkan Dhamma.

____________________

“Ini bukan pertama kalinya, Perumah-tangga,” kata Sang Guru, “keinginan Rohinī untuk membunuh lalat membuatnya membunuh ibunya sendiri.” Setelah meyampaikan uraian ini, Beliau mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahirantersebut dengan berkata, “Ibu dan anak di kelahiran ini juga merupakan ibu dan anak di kelahiran yang lalu, dan Saya sendiri adalah saudagar tersebut.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

Jumat, 04 Desember 2020

Ketika Kakek Kehilangan Kuda


Ketika Kakek Kehilangan Kuda…
---
Alkisah, di daerah Tiongkok utara dimana sebagian besar penduduknya adalah petani, hiduplah seorang Kakek beserta cucunya yang telah beranjak dewasa. Sejak kecil sang cucu telah ditinggal oleh kedua orang tuanya karena perang. Hari demi hari dijalani dengan bekerja di sawah dan mengurus kuda. Namun pada suatu pagi, betapa herannya mereka, kuda satu-satunya yang mereka miliki tidak terlihat di kandang. Melihat pintu kandang dan pintu pagar yang terbuka, mereka beranggapan bahwa kuda telah kabur.

Penduduk sekitar yang mendengar kabar tersebut, segera mendatangi  rumah kakek dan menyampaikan simpati mereka. Tanpa menunggu lama, sang Kakek berkomentar, “saudaraku, terima kasih atas perhatian yang kalian berikan. Jangan khawatir, kehilangan kuda ini  bisa saja adalah sebuah keberuntungan.” Penduduk yang datang seakan tak habis pikir bagaimana musibah bisa dianggap keberuntungan?

Hari dan minggu pun berlalu, tanpa terasa sudah 3 bulan sang kakek hidup tanpa kuda kesayangannya. Di suatu pagi yang cerah, matahari baru sebagian dari balik pegunungan, terlihat di kejauhan 2 ekor kuda datang mendekat. Wah, betapa gembirannya sang Kakek melihat kudanya yang dulu kabur tanpa jejak, kini lebih datang membawa seekor kuda betina yang begitu indah. Sore harinya, penduduk yang mendengar kabar tersebut berdatangan. Mereka mengucapkan selamat sambil mengelus kuda barunya  serta tanpa henti menyampaikan betapa beruntungnya sang kekek. Sang kakek pun berujar, “meskipun sepertinya ini merupakan keberuntungan, tetapi bisa saja ini membawa musibah.”

Beberapa hari berlalu, sang cucu telah akrab dengan kuda betina tersebut. Maka pagi itu ia berencana untuk menunggangi kuda tersebut. Tak disangka, ternyata kuda tersebut masih sedikit liar dan enggan untuk dinaiki. Sang cucu pun terjatuh sehingga kaki kanannya pun patah. Keesokan harinya penduduk datang lagi dan menyampaikan kesedihan karena kejadian tersebut. “saudaraku, jangan khawatir, siapa tahu ini membawa keberuntungan?” ujar sang kakek.

Seminggu berlalu, terjadi perang dengan pemberontak di daerah perbatasan. Para pemuda sehat di desa tersebut diharuskan wajib militer dan terlibat di perang membela Negara. Karena kaki yang patah, sang cucu dianggap cacat sehingga tidak dibebaskan dari wajib militer dan selamatlah nyawa sang cucu. Para pemuda yang ikut perang, sebagian besar gugur di medan tempur.

Nah begitulah sobat motivasi, semua yang kita alami pasti ada hikmah yang bisa dipetik. Suka maupun Duka hendaknya ditanggapi dengan bijaksana. Terlalu terlibat euforia saat suka tentu ada tidak baiknya, dan terlalu sedih atau putus asa karena kejadian tertentu juga tidak bijaksana. Semoga sedikit menginspirasi dan menjadikan hari sobat menjadi lebih baik.

Legenda Air Mata Putri Meng Jiang


Legenda Air Mata Putri Meng Jiang
Putri Meng Jiang dikabarkan pernah hidup pada 2.200 tahun yang lalu semasa dinasti Qin. Keberadaannya telah menjadi legenda dimasyarakat hingga kini, berikut kisahnya :
Sebuah keluarga yang bermarga Meng suatu ketika menanam labu manis disepanjang pagar rumahnya. Tumbuhan tersebut tumbuh dengan pesat dan merambat melewati pagar pembatas yang bersebelahan dengan keluarga bermarga Jiang. Sebuah labu manis besar tumbuh didekat pagar tersebut, saat keluarga Meng membelah labu itu, tiba-tiba muncul seorang gadis cilik dari dalam labu.
Gadis cilik ini kemudian bernama putri Meng Jiang. Dia tumbuh menjadi seorang gadis cantik laksana dewi kayangan, dia juga terkenal ramah dan cerdas, piawai dalam membuat puisi dan bermain musik serta mendalami nilai-nilai Konfusius. Pasangan tua Meng memperlakukannya seperti anak mereka sendiri.

Kaisar pertama dinasti Qin sangat kejam dan lalim. Demi mempertahankan keutuhan dinasti yang baru tumbuh ini, dia memerintahkan ratusan pemuda bekerja sebagai budak untuk membangun Tembok Besar disisi utara tanpa memperdulikan keselamatan jiwa mereka. Banyak pemuda yang meninggal karena kelelahan.

Tersebutlah seorang pelajar bernama Wan Xiliang yang melarikan diri dari rumahnya untuk menghindari kerja paksa tersebut, dia bersembunyi dihalaman belakang keluarga Meng. Tanpa sengaja Putri Meng Jiang menemukannya, dan memberitahu ayahnya. Ayah putri Meng adalah orang yang berhati baik, beliau memutuskan untuk menolong Wan menghindar dari pemerintah.
Selama dalam persembunyiannya dirumah Meng, keluarga Meng akhirnya mengenal dan menyadari bahwa Wan Xiliang adalah seorang pelajar yang cerdas dan baik budi, sehingga mereka menjodohkannya dengan puri Meng Jiang.

Tiga hari setelah perkawinan secara sembunyi-sembunyi mereka, sekelompok petugas pemerintah menggeledah rumah keluarga Meng dan membawa pergi Wan Xiliang. Putri Meng Jiang tahu kalau suaminya akan dijadikan budak pembangunan Tembok Besar. Setahun lamanya dia menunggu, airmata seringkali membasahi bantalnya. Namun tak ada kabar berita dari sang suami.

Akhirnya dia memutuskan untuk mencari suaminya. Namun seberapa jauhkah Tembok Besar itu ? Setelah berjalan kaki berhari-hari lamanya, putri Meng Jiang bertanya kepada seorang kakek tua. Kakek itu menjawab, “Ada suatu tempat yang sangat jauh bernama propinsi You ; Tembok Besar itu ada jauh disebelah utaranya.”

Selama dalam perjalanan putri Meng Jiang mengalami banyak penderitaan. Dia berjalan seharian dan bermalam dimanapun dia berhenti. Dia makan roti dingin dan minum air dari sungai yang dia jumpai. Seringkali dia kelelahan dan kedinginan, namun dia tetap melanjutkan perjalanan, tak peduli hujan dan terik mentari, tanah lapang ataupun pegunungan berbatu. Seringkali dia dibantu oleh beberapa keluarga yang ditemui selama perjalanannya. 

Akhirnya putri Meng Jiang tiba di Tembok Besar pada suatu hari musim gugur yang dingin. Hatinya tersayat saat melihat para pekerja membawa muatan yang berat dibawah pengawasan penjaga. Dia lalu bertanya kepada orang-orang dimana suaminya Wan Xiliang berada, namun yang didapat hanyalah kabar suaminya telah meninggal beberapa hari setelah ditangkap. Tubuhnya dikubur dibawah Tembok Besar.

Seketika putri Meng Jiang terguncang oleh kesedihan yang teramat dalam ; dia menangis dan menangis diatas Tembok Besar tersebut, airmatanya mengalir bagaikan sungai. Dia memukul-mukul Tembok Besar itu, menyesali kematian suami dan takdir dirinya. Tangisannya membuat trenyuh para pekerja dan penjaga, sehingga menghentikan pekerjaan mereka dan ikut mencucurkan airmata bersamanya. Langit menjadi gelap dan angin dingin musim gugur menjadi lebih menyengat seperti ikut berduka. 

Tiba-tiba sebuah dentuman keras memecah keheningan, sebagian Tembok Besar runtuh, memperlihatkan sisa-sisa tubuh pekerja yang terkubur dibawahnya. Melihat tulang belulang itu, putri Meng Jiang berpikir bagaimana dia dapat mengenali milik suaminya. Kemudian dia teringat perkataan orang kuno bahwa tulang orang yang meninggal hanya dapat menyerap darah anggota keluarganya. Dia lalu menggores ujung jarinya dan membiarkan darahnya jatuh mengucuri tulang belulang itu. Akhirnya dia menemukan tulang belulang suaminya, lagipula dia mengenali kancing baju yang pernah dia jahit untuknya. Putri Meng Jiang mengubur mayat suaminya menurut ritual layaknya sorang istri yang sangat mencintai suaminya.

Menurut legenda, bagian Tembok Besar yang runtuh akibat airmata putri Meng Jiang tidak pernah dibangun lagi (jika dibangun kembali akan segera runtuh). Kisah putri Meng Jiang menjadikan dirinya sebagai sosok yang sangat dihormati oleh masyarakat Tiongkok dari generasi ke generasi. Kuil persembahan putri Meng Jiang berdiri pertama kali pada waktu dinasti Song, kira-kira 1000 tahun yang lalu, terus terpelihara dan disembah dari permulaan berdirinya Tembok Besar hingga hari ini didaerah Timur.

ARAMADUSAKA_JATAKA


ARAMADUSAKA_JATAKA 

“Pengetahuan itulah,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di sebuah dusun di Kosala, mengenai seseorang yang merusak taman peristirahatan. Menurut kisah yang disampaikan secara turun temurun, dengan tujuan melakukan pindapata di antara para penduduk Kosala, Sang Guru tiba di sebuah dusun kecil. Penjaga tempat tersebut mengundang Sang Buddha untuk bersantap siang di rumahnya, dan menempatkan mereka di taman peristirahatan, tempat dimana ia menunjukkan keramahannya pada Sanggha dengan Buddha sebagai guru mereka. Dengan sopan ia mempersilakan mereka untuk berjalan-jalan sesuka hati mereka di tanah miliknya. Maka para bhikkhu pun berdiri dan berjalanjalan di tanah tersebut dengan ditemani oleh seorang tukang kebun. Dalam perjalanan tersebut mereka melihat ada satu lahan yang gundul, mereka pun bertanya, “Upasaka, di tempat lain dari taman peristirahatan ini terdapat begitu banyak tempat yang teduh; namun di lahan ini, tidak ada pohon maupun semak. Bagaimana hal ini dapat terjadi?”

“Bhante,” jawab tukang kebun tersebut, “saat tanah ini hendak diberi air, seorang anak lelaki dari desa yang melakukan pekerjaan tersebut, mencabut semua pohon muda di sekitar sini dan memberikan takaran air sesuai dengan ukuran akar mereka. Akibatnya pohon-pohon muda menjadi layu dan mati; itulah sebabnya mengapa lahan ini gundul.”

Berhenti di dekat Sang Guru, para bhikkhu menceritakan hal itu kepada Beliau. “Iya, para Bhikkhu,” jawab Beliau, “ini bukan pertama kalinya anak lelaki itu merusak sebuah taman peristirahatan; ia melakukan hal yang sama di kehidupan yang lampau.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta menjadi Raja Benares, sebuah perayaan diselenggarakan di kota; dan pada pengumuman pertama dari perayaan tersebut disampaikan bahwa para penduduk mendapatkan libur.

Pada masa itu, ada sekelompok kera yang hidup di taman peristirahatan raja; dan tukang kebun istana berpikir, “Mereka yang berada di kota mendapatkan libur. Saya akan membuat kera-kera ini melakukan tugas menyiram kebun untukku, sementara saya sendiri akan menikmati masa liburan.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia pergi mencari raja kera, awalnya ia menyinggung keuntungan yang dinikmati raja kera dan para pengikutnya dengan tinggal di taman peristirahatan raja, dimana terdapat bunga-bunga dan buah-buah serta tunas muda untuk mereka santap, ia mengakhiri percakapan itu dengan berkata, “Hari ini ada sebuah perayaan yang sedang berlangsung di kota, dan saya akan pergi untuk merayakannya. Dapatkah kalian menyirami pohon-pohon muda saat saya pergi?”

“Oh, tentu bisa,” jawab kera tersebut.

“Jangan sampai lupa,” kata tukang kebun tersebut; dan pergilah ia setelah menyerahkan wadah air dan alat penyiram bunga yang terbuat dari kayu kepada kera itu, agar mereka dapat melakukan pekerjaan tersebut.

Kera-kera itu mengambil wadah air dan alat penyiram bunga, kemudian pergi untuk menyiram pohon-pohon muda itu. “Namun, kita harus ingat untuk tidak menyia-nyiakan air,” kata raja kera, “saat kalian melakukan pengairan, pertama-tama, cabut pohon-pohon muda itu, lihat ukuran akarnya, kemudian beri air dalam jumlah banyak kepada pohon yang akarnya sudah tertancap cukup dalam di tanah, dan hanya sedikit air pada akar-akar yang masih kecil. Jika sampai kehabisan air, akan sulit bagi kita untuk mencari lebih banyak air lagi.”

“Baik,” jawab kera lainnya, dan melakukan apa yang diperintah kepada mereka. Pada saat itu, ada seseorang yang bijaksana, melihat kera-kera itu sedang sibuk melakukan hal tersebut, bertanya kepada mereka, mengapa mereka mencabut pohon demi pohon dan menyiramnya sesuai ukuran akar pohon.

“Karena raja kami memberi perintah agar kami melakukan hal ini,” jawab kera-kera itu. Jawaban mereka menggerakkan orang yang bijaksana itu untuk memberi gambaran bagaimana, dengan dipenuhi oleh keinginan untuk melakukan kebaikan, mereka yang dungu dan bodoh hanya berhasil menimbulkan bencana. Ia membacakan syair berikut ini :

Pengetahuan itulah yang menganugerahkan keberhasilan, mereka yang bodoh akan dihalangi oleh kebodohan mereka sendiri.

— lihatlah kera-kera itu membinasakan pohon-pohon muda di kebun.



Setelah menegur raja kera dengan kata-kata ini, orang bijaksana itu kemudian pergi dengan para pengikutnya dari taman peristirahatan tersebut.

____________________

Sang Guru berkata, “Ini bukan pertama kalinya, para Bhikkhu, anak lelaki dari desa itu merusak taman peristirahatan; ia bertindak sama seperti itu di kehidupan yang lampau.” Setelah menguraikan hal tersebut, Beliau mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Anak lelaki dari desa yang merusak taman peristirahatan ini adalah raja kera di masa itu, dan Saya sendiri adalah orang yang bijaksana dan penuh kebaikan itu.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I