Translate

Rabu, 06 Januari 2021

NANDIVISALA JATAKA


NANDIVISALA JATAKA

“Hanya mengucapkan kata-kata yang baik,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai kata-kata tidak enak (kasar) yang diucapkan oleh keenam bhikkhu. Saat berselisih dengan para bhikkhu yang terhormat, keenam bhikkhu ini selalu mencela, memaki dan mencemooh dengan sepuluh jenis kata-kata kasar.

Hal ini disampaikan oleh para bhikkhu kepada Sang Bhagawan. Beliau kemudian mengundang mereka dan bertanya apakah tuduhan itu benar adanya. Saat mereka mengakui hal tersebut, Beliau menegur mereka dengan berkata, “Para Bhikkhu, kata-kata kasar bahkan bisa menyakiti hati hewan; di kehidupan yang lampau, seekor hewan membuat orang yang memakinya menderita kerugian seribu keping uang.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu Takkasilā di Negeri Gandhāra diperintah oleh seorang raja, Bodhisatta terlahir sebagai seekor sapi jantan. Saat masih berupa anak sapi, pemiliknya menghadiahkannya kepada seorang brahmana yang mengunjunginya. — Pada masa itu, ada kebiasaan untuk memberikan persembahan berupa sapi kepada para brahmana. Brahmana itu memberi nama Nandi- Visāla (Kebahagiaan Besar) kepadanya, ia memperlakukan anak sapi itu seperti anaknya sendiri, memberinya makanan berupa bubur beras dan nasi. Setelah dewasa, Bodhisatta berpikir, “Saya telah dibesarkan oleh brahmana ini dengan penuh usaha; saat ini di seluruh India tidak ada orang yang bisa menunjukkan sapi dengan kemampuan menarik barang seperti yang saya miliki. Bagaimana jika saya membalas jasa brahmana yang telah memelihara saya dengan cara membuktikan kekuatan saya?”

Karena itu, suatu hari ia berkata kepada brahmana tersebut, “Brahmana, pergilah ke tempat beberapa orang saudagar yang kaya akan kawanan ternak, dan bertaruhlah seribu keping uang bahwa sapimu mampu menarik seratus buah gerobak beserta muatannya.”

Brahmana itu mencari seorang saudagar dan terlibat pembicaraan tentang sapi siapakah yang paling kuat di kota itu. “Oh, sapi milik dia, atau sapi milik dia,” jawab saudagar itu.

“Namun,” brahmana itu menambahkan, “tidak ada seekor sapi pun di kota ini yang dapat menandingi kekuatan sapi jantanku.” Ia berkata, “Saya mempunyai seekor sapi jantan yang dapat menarik seratus buah gerobak beserta isinya.”

“Di mana sapi seperti itu dapat ditemukan?” saudagar itu tertawa.

“Saya memilikinya di rumah,” jawab brahmana itu.

“Mari kita bertaruh!”

“Baik,” jawab brahmana itu, dan bertaruh sebesar seribu keping. Kemudian ia mengisi seratus buah gerobak dengan pasir, kerikil dan bebatuan, lalu mengikat gerobak-gerobak itu menjadi satu kesatuan, dengan satu gerobak di belakanggerobak yang lain. Ia mengikatkan kawat pada as roda gerobak yang berada di depan dengan bagian palang roda cadangannya. Setelah selesai, ia memandikan Nandi-Visāla, memberikan satu takaran beras wangi kepadanya, menggantungkan untaian bunga di lehernya, dan mengikatkannya pada gerobak pertama dari rangkaian gerobak tersebut. Brahmana itu sendiri duduk di atas sebatang galah, melambaikan sebatang tongkat ke udara dan berteriak, “Sekarang, Sapi yang jahat! Tarik mereka, Sapi yang jahat!”

“Saya bukan sapi yang jahat seperti yang dipanggilnya,” pikir Bodhisatta; ia membenamkan keempat kakinya seperti tonggak yang dipancangkan, dan tidak mau bergerak sedikit pun.

Saat itu juga, saudagar itu membuat brahmana tersebut membayar seribu keping. Setelah kehilangan uangnya, ia melepaskan sapi itu dari gerobak dan pulang ke rumah, ia berbaring di tempat tidurnya dengan penuh kesedihan. Saat Nandi-Visāla berjalan masuk dan melihat brahmana itu disiksa oleh rasa sedih, ia berjalan ke arahnya dan bertanya apakah brahmana itu sedang tidur siang. “Bagaimana bisa saya tidur sementara seribu keping uang saya telah dimenangkan orang?”

“Brahmana, sepanjang saya tinggal di rumahmu, pernahkah saya memecahkan pot, atau memeras orang, atau membuat kekacauan?”

“Tidak pernah, Anakku.”

“Kalau begitu, mengapa engkau memanggil saya seekor sapi yang jahat? Engkau seharusnya menyalahkan dirimu sendiri, bukan menyalahkan saya. Pergi dan bertaruhlah dua ribu keping uang kali ini. Hanya ingat untuk tidak salah menyebutku sebagai sapi yang jahat lagi.”

Mendengar kata-kata itu, sang brahmana pergi mencari saudagar tersebut dan memasang taruhan sebesar dua ribu keping uang. Sama seperti sebelumnya, ia merantai seratus buah gerobak menjadi satu rangkaian dan mengikat Nandi-Visāla dengan rapi dan bagus ke gerobak pertama. Jika engkau bertanya bagaimana cara ia mengikat sapi itu, baik, ia melakukannya dengan cara berikut ini : —pertama-tama, ia mengikat sepasang palang ke sebuah tiang, kemudian meletakkan sapi itu di satu sisi, dan mengencangkan sisi yang lain dengan sepotong kayu halus, yang diikatkannya antara sepasang palang itu ke roda as, dengan demikian palang itu tidak akan miring ke sisi mana pun lagi. Dengan cara itu, gerobak yang seharusnya ditarik oleh dua ekor sapi dapat ditarik oleh seekor sapi saja. Duduk di sebatang galah, brahmana itu menepuk bagian belakang Nandi-Visāla dan berkata dengan cara seperti ini, “Majulah sekarang, Temanku yang baik! Tariklah gerobak-gerobak itu, Temanku yang baik!” Dengan sekali sentak, Bodhisatta menarik kawat yang terikat pada seratus buah gerobak itu hingga gerobak yang terakhir berdiri saat gerobak pertama mulai bergerak. Saudagar yang kaya akan ternak itu membayar dua ribu keping uang kepada brahmana itu karena kalah taruhan. Penduduk yang melihat kejadian itu, memberikan sejumlah uang kepada Bodhisatta; semua uang itu diserahkan kepada brahmana tersebut. Dengan demikian, ia mendapat keuntungan besar karena Bodhisatta.

_____________________

Demikianlah Beliau menetapkan, dengan tujuan menegur keenam bhikkhu tersebut, bahwa kata-kata kasar tidakmenyenangkan bagi siapa pun; Sang Guru sebagai seorang Buddha mengucapkan syair berikut ini:

Hanya mengucapkan kata-kata yang baik, jangan mengucapkan kata-kata yang tidak baik. Barang siapa yang mengatakan apa adanya dengan jelas, ia memindahkan sebuah beban yang berat, yang membuat ia kaya akan cinta kasih.

 

Setelah menyelesaikan uraian-Nya agar kita hanya mengucapkan kata-kata yang baik, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Ānanda adalah brahmana tersebut, dan Saya sendiri adalah Nandi-Visāla.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

KULAVAKA JATAKA


KULAVAKA JATAKA

“Biarkan semua anak burung di hutan,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang minum tanpa menyaring airnya terlebih dahulu.

Menurut kisah yang diceritakan secara turun temurun, dua orang bhikkhu muda yang saling bersahabat meninggalkan Sawatthi menuju sebuah desa, di sana mereka tinggal di suatu tempat yang menyenangkan. Setelah menetap beberapa saat, mereka meninggalkan tempat itu menuju ke Jetawana, untuk mengunjungi Yang Tercerahkan Sempurna (Sammāsambuddha). Hanya salah seorang dari mereka yang membawa saringan air, yang seorang lagi tidak membawanya, maka mereka berdua menggunakan saringan yang sama sebelum minum. Suatu hari mereka bertengkar. Pemilik saringan tidak mau meminjamkan saringan itu kepada temannya, ia menyaring dan meminum sendiri air yang telah disaringnya itu. Karena temannya tidak mau memberikan saringan itu, dan karena ia tidak mampu menahan rasa haus yang menyerangnya, ia minum air tanpa disaring terlebih dahulu. Akhirnya tibalah mereka di Jetawana, dan segera memberikan salam dengan penuh penghormatan kepada Sang Guru sebelum duduk. Setelah menyapa mereka dengan ramah, Beliau bertanya dari manakah mereka berdua datang.

“Bhante,” jawab mereka, “kami menetap di sebuah dusun kecil di Negeri Kosala sebelum kami datang untuk mengunjungi Anda.”

“Apakah kalian berdua masih bersahabat seperti saat kalian memulai perjalanan?”

Bhikkhu yang tidak membawa saringan berkata, “Bhante, kami bertengkar di tengah perjalanan dan ia tidak mau meminjamkan saringannya kepada saya.”

Bhikkhu yang satunya lagi berkata, “Bhante, ia tidak menyaring air minumnya, namun – dengan sadar – ia minum air beserta semua makhluk hidup yang terkandung di dalamnya.”

“Benarkah laporan itu, Bhikkhu, bahwa kamu dengan sadar minum air beserta semua makhluk hidup yang terkandung di dalamnya?”

“Benar, Bhante, saya minum air yang belum disaring,” jawab bhikkhu itu.

“Bhikkhu, ia yang bijak dan penuh kebaikan di kehidupan yang lampau, saat terbang menjauh di sepanjang tempat yang tinggi ketika harus menyerahkan kekuasaan atas kota para dewa, pikiran akan adanya cemoohan karena membunuh makhluk hidup demi menyelamatkan kekuasaan mereka, membuat mereka lebih baik memutar kereta perang, mengabaikan kejayaan mereka dengan tujuan menyelamatkan nyawa para garuda muda.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Pada suatu waktu ada seorang Raja Magadha yang memerintah di Rājagaha, Negeri Magadha. Sebagaimana ia yang saat ini merupakan Sakka, lahir pada kelahiran sebelumnya di sebuah dusun kecil di Macala, Negeri Magadha. Itu adalah dusun kecil yang sama dalam setiap kelahirannya. Masa itu, Bodhisatta terlahir sebagai seorang bangsawan muda. Ketika saat pemberian nama tiba, ia diberi nama ‘Pemuda Magha’, setelah dewasa ia dikenal sebagai ‘Brahmana Muda Magha’. Orang tuanya memilihkan seorang istri untuknya, yang berasal dari kasta yang sama dengan mereka; dan dia, dengan sebuah keluarga berupa anak lelaki dan perempuan, yang tumbuh besar bersamanya, unggul dalam berdana dan selalu menjaga lima latihan moralitas.

Desa itu hanya ditempati oleh tiga puluh keluarga. Suatu hari, para lelaki berdiri di tengah desa mengadakan pertemuan antar penduduk desa. Setelah membersihkan debu di sekitar tempatnya berdiri, Bodhisatta berdiri dengan nyamannya di sana, namun seseorang datang dan merebut tempat berdirinya. Ia membersihkan tempat yang lain agar dapat berdiri dengan nyaman, — hanya untuk direbut oleh orang lain sebagaimana kejadian sebelumnya. Ia mengulangi hal itu lagi dan lagi, hingga akhirnya ia memberikan tempat berdiri yang nyaman pada semua orang yang berada di sana. Di waktu yang lain, ia membangun sebuah paviliun, — yang kemudian diruntuhkannya kembali, ia membangun sebuah balai desa dengan kursi-kursi dan kendi air di dalamnya. Di lain kesempatan, ketiga puluh lelaki itu dibimbing oleh Bodhisatta menjadi sejalan dengannya; ia mengukuhkan mereka dalam lima latihan moralitas, kemudian bersama mereka melakukan perbuatan baik lainnya. Saat mereka melakukan perbuatan-perbuatan baik, di bawah bimbingan Bodhisatta, mereka biasanya bangun pagi-pagi dan memulai perjalanan, dengan membawa pisau, kapak dan tongkat di tangan mereka. Tongkat itu mereka gunakan untuk menyingkirkan batu-batu yang berserakan di perempatan jalan utama serta jalan-jalan lainnya yang ada di desa itu; pohon-pohon yang bisa tertabrak oleh roda kereta, mereka tebang; jalanan yang berlubang mereka ratakan; mereka membangun jalan lintasan yang tinggi, menggali tempat penampungan air, dan membangun balai desa. Mereka melakukan praktik berdana dan menjaga lima latihan moralitas. Para penduduk desa bertindak bijaksana karena ajaran Bodhisatta dan karena latihan yang mereka jalankan.

Kepala desa kemudian berpikir, “Saat orang-orang ini masih suka mabuk dan melakukan pembunuhan, serta hal-hal buruk lainnya, saya bisa mendapatkan uang dari minuman keras yang mereka minum, serta dari denda dan upeti yang mereka bayar. Namun sekarang, Brahmana Muda Magha bertekad membuat mereka menjalankan latihan; ia membuat mereka berhenti membunuh dan melakukan perbuatan jahat lainnya.” Dengan penuh kemarahan ia berseru, “Aku akan membuat mereka menjalankan lima latihan moralitas itu!” Ia menghadap raja dan berkata, “Paduka, ada segerombolan perampok yang akan merampok desa-desa dan berusaha menyusupkan penjahat-penjahat lainnya ke desa.” Mendengar hal itu, raja meminta kepala desa membawa orang-orang itu menghadapnya. Pergilah kepala desa itu untuk menangkap ketiga puluh lelaki itu dan menyatakan bahwa mereka adalah penjahat-penjahat itu di hadapan raja. Tanpa menyelidiki apa yang (sebenarnya) telah mereka perbuat, raja memberi perintah bahwa mereka semua mendapat hukuman mati diinjak oleh gajah. Untuk itu, mereka dibawa ke halaman istana dan gajah pun di kirim ke sana. Bodhisatta menasihati mereka dengan berkata, “Tetaplah ingat latihan-latihan itu; cintai orang yang telah memfitnahmu, raja dan juga gajah itu seperti kalian mencintai diri kalian sendiri.”

Demikianlah yang dilakukan oleh mereka. Seekor gajah masuk ke halaman istana untuk menginjak mati mereka. Para pengawal berusaha menuntun gajah itu sedekat mungkin dengan mereka, namun gajah itu menolak, hewan itu menjauh sambil mengeluarkan suara yang keras. Satu demi satu gajah dibawa ke halaman istana;— namun semuanya melakukan tindakan yang sama seperti gajah pertama. Menduga mereka pasti membawa ramuan tertentu, raja meminta agar mereka diperiksa. Pemeriksaan segera dilakukan sesuai dengan perintah raja, namun mereka tidak menemukan apa pun; hal itu kemudian dilaporkan kepada raja. “Mereka pasti membaca mantra tertentu,” kata raja, “tanyakan apakah ada mantra yang mereka bacakan.” Pertanyaan itu diajukan kepada mereka, Bodhisatta mengatakan bahwa mereka memang memiliki mantra. Para pengawal menyampaikan hal tersebut kepada raja mereka. Maka raja mengumpulkan mereka di hadapannya dan berkata, “Beritahukan mantramu kepada saya.”

Bodhisatta menjawab, “Paduka, kami hanya mempunyai satu mantra, bahwa tidak seorang pun di antara kami yang melakukan pembunuhan, atau mengambil sesuatu yang tidak diberikan kepada kami, atau melakukan perbuatan yang tidak senonoh, atau berdusta, kami tidak minum minuman keras; kami dipenuhi dengan rasa cinta terhadap kebajikan; menunjukkan kebaikan hati, kami meratakan jalanan, menggali tempat penampungan air, membangun balai desa;— inilah mantra kami, pelindung kami dan sumber kekuatan kami.” Merasa puas dengan jawaban dan tindakan mereka, Raja menganugerahkan kemakmuran yang ada di rumah tukang fitnah itu dan menjadikannya sebagai pelayan mereka; Raja juga memberikan gajah serta desa itu kepada mereka sebagai tambahan.

Selanjutnya, mereka terus melakukan perbuatan kebajikan sesuai dengan keinginan hati mereka; seorang tukang kayu diminta untuk membangun sebuah balai besar di perempatan jalan utama. Namun karena mereka telah tidak memiliki hasrat terhadap wanita, mereka tidak mengizinkan wanita untuk mengambil bagian dalam kebajikan yang mereka lakukan itu.

Sementara itu, di rumah Bodhisatta terdapat empat orang wanita, mereka adalah Sudhammā, Cittā, Nandā, dan Sujā. Saat Sudhammā berada sendirian dengan tukang kayu itu, ia memberikan uang kepada tukang kayu itu dan berkata, “Saudaraku, usahakan untuk menjadikan saya sebagai orang penting yang berhubungan dengan pembangunan balai ini.”

“Baik,” jawab tukang kayu itu, dan sebelum memulai pekerjaan lain dalam pembangunan balai itu, ia mengerjakan beberapa batang kayu untuk dijadikan menara, ia menghiasi, melubangi dan merakit kayu-kayu itu menjadi sebuah menara yang siap pakai. Hasil karyanya itu ditutupi dengan sehelai kain dan diletakkan di pinggir. Ketika pembangunan balai telah selesai, dan tiba saatnya untuk memasang menara, ia berseru, “Astaga, Tuanku, masih ada satu bagian yang belum kita kerjakan.”

“Apa itu?”

“Begini, kita harus mempunyai sebuah menara.”

“Baiklah, buatkanlah satu!”

“Namun menara tidak bisa dibuat dari kayu yang masih basah; kita harus memiliki kayu yang telah ditebang beberapa waktu yang lalu, dihias dan dilubangi serta dikeringkan.”

“Baiklah, apa yang harus kita lakukan sekarang ?”

“Sebaiknya kita melihat apakah ada orang yang mempunyai benda seperti itu di rumah mereka, sebuah menara siap pakai yang dibuat untuk dijual.”

Saat mereka mencari di sekitar tempat itu, mereka menemukan satu di rumah Sudhammā, namun ia tidak mau menjualnya. “Jika kalian bersedia menjadikan saya sebagai rekanan kalian dalam melakukan kebajikan,” katanya, “saya akan memberikannya kepada kalian secara cuma-cuma.”

“Tidak,” jawab mereka, “kami tidak mau ada wanita yang turut ambil bagian dalam kebajikan ini.” Tukang kayu itu berkata, “Tuan-tuan, apa yang Anda katakan? Bahkan sampai ke alam brahma, tidak ada tempat dimana tidak ada wanita. Ambillah menara itu dan pekerjaan kita akan segera selesai.”

Setelah mendapat persetujuan, mereka mengambil kayu menara itu dan menyelesaikan balai tersebut. Kursi-kursi diletakkan dan kendi-kendi air ditempatkan di dalamnya, di sana juga selalu tersedia nasi yang masih hangat. Mereka membangun sebuah dinding dengan sebuah pintu gerbang di sekeliling balai tersebut, jarak antar dinding bagian dalamnya ditaburi dengan pasir dan bagian luarnya ditanami dengan sebaris pohon lontar kipas. Cittā membangun sebuah taman peristirahatan di tempat tersebut, tidak ada tanaman bunga dan buah yang tidak terdapat disana, Nandā juga, ia menggali sebuah tempat penampungan air di tempat yang sama, menutupi permukaannya dengan lima jenis bunga teratai, hingga menjadi begitu indah dipandang mata. Hanya Sujā yang tidak melakukan apa-apa.

Bodhisatta menetapkan tujuh ketentuan ini; membahagiakan ibu, membahagiakan ayah, menghormati saudara (orang) yang lebih tua, berbicara jujur, menghindari kata-kata kasar, menjauhkan diri dari kata-kata fitnah, dan menghindari sifat kikir : —

Barang siapa yang menyokong orang tuanya, orang-orang yang pantas dihormati,

yang ramah, mengucapkan kata-kata yang bersahabat,

tidak memfitnah, Tidak kasar, jujur, pengendali – bukan budak – kemarahan,

—Ia yang akan terlahir di Alam Tiga Puluh Tiga Dewa

pantas disebut sebagai Ia Yang Penuh Kebajikan.

 

Demikianlah kata-kata pujian yang ditanamkan olehnya. Saat ajalnya tiba, ia meninggal dan terlahir kembali di Alam Tiga Puluh Tiga Dewa sebagai Sakka, raja para dewa; teman-temannya juga terlahir di alam yang sama.

Pada masa itu, para asura juga berdiam di Alam Tiga Puluh Tiga Dewa. Sakka, raja para dewa berkata, “Apa baiknya bagi kita dengan kerajaan yang juga ditempati oleh makhluk-makhluk lain?”

Ia membuat para asura minum minuman keras para dewa, dan di saat mereka mabuk, ia membuat mereka terlempar ke kaki Pegunungan Sineru yang curam. Mereka terjatuh ke ‘alam asura’, sebagaimana alam itu dinamakan — wilayah paling bawah dari Pegunungan Sineru, yang setingkat dengan Alam Tiga Puluh Tiga Dewa. Di sana, terdapat sebatang pohon, mirip dengan Pohon Pāricchattaka, yang bisa hidup hingga beribu-ribu tahun lamanya; pohon itu adalah Pohon Cittapāṭali. Mekarnya bunga ini membuat mereka sadar, bahwa tempat itu bukanlah alam dewa, karena di sana yang mekar seharusnya adalah Pohon Pāricchattaka. Mereka berteriak, “Si tua bangka Sakka telah membuat kita mabuk dan melempar kita ke tempat yang sangat dalam, ia telah merampas kota dewa kita.”

“Mari,” teriak mereka, “kita menangkan kembali alam milik kita darinya dengan menggunakan kekuatan senjata.” Mulailah mereka memanjat naik ke sisi atas Pegunungan Sineru, seperti iring-iringan semut yang menaiki pilar. Mendengar raungan tanda bahaya yang menunjukkan bahwa para asura telah bergerak naik, Sakka segera pergi ke tempat para asura untuk bertempur dengan mereka, namun, ia kalah dalam serangan balik itu. Ia terbang di sepanjang puncak demi puncak bagian selatan kedalaman tersebut dengan menggunakan kereta tempurnya, Vejayantaratha (Kereta Tempur Kemenangan), yang panjangnya seratus lima puluh yojana. Tibalah kereta tempurnya yang bergerak secepat kilat itu di Hutan Pohon Simbali. Di sepanjang lintasan kereta itu, pohon-pohon yang kokoh ini habis terpotong seakan-akan dicabut oleh sejumlah tangan, dan jatuh ke dalam lubang yang dalam itu. Saat para garuda muda itu terjatuh ke dalam lubang yang dalam, mereka menjerit dengan keras. Sakka bertanya kepada Mātali, penunggang keretanya, “Mātali, suara apakah itu? Suara tersebut sangat menyayat hati!”

“Paduka, itu adalah suara tangisan burung-burung garuda yang ketakutan, saat pohon yang mereka huni tumbang karena terjangan keretamu.” Makhluk yang sangat agung itu kemudian berkata, “Jangan biarkan mereka mendapat masalah karena saya, Mātali. Jangan karena keselamatan kerajaan, terjadi pembunuhan. Lebih baik saya, demi keselamatan mereka, mengorbankan diri kepada para asura. Putar kembali keretanya.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengulangi syair berikut ini : Biarkan semua anak burung di hutan ini, Mātali, selamat dari terjangan kereta tempur kita. Saya menawarkan, kesediaan untuk menjadi korban, nyawa saya untuk para asura yang berada di sana; burung-burung yang malang ini jangan sampai, karena saya, terlempar dari sarang mereka yang terkoyak-koyak.

Kata-kata itu membuat Mātali, penunggang kereta tempur itu, memutar kembali kereta tempur tersebut, dan menempuh jalan lain kembali ke alam dewa. Saat para asura melihat ia memutar kereta tempurnya, berseru bahwa Sakka dari alam lain tentu telah datang; “Pasti ada bala bantuan yang membuatnya memutar kembali kereta tempurnya.” Merasa keselamatan nyawa mereka terancam, mereka segera melarikan diri dan terus berlari tanpa berhenti hingga mereka tiba kembali di alam asura. Sakka tiba di alam dewanya, berdiri di tengah kota, dikelilingi oleh rombongan dewa yang tinggal di alam tersebut, dan juga dewa-dewa dari alam brahma lainnya. Saat yang sama, sungai di dunia ini memancar tinggi hingga mencapai ‘Istana Kemenangan’ (Vejayanta) di ketinggian beberapa yojana — disebut demikian karena hal tersebut terjadi di saat-saat kemenangan. Untuk mencegah para asura kembali lagi, Sakka menempatkan penjaga di lima tempat, — mengenai apa yang pernah diucapkannya sebelum ini : —Tak terkalahkan pertahanan yang ada di antara kedua kota! Di antara, lima lapis penjagaan, dijaga oleh para nāga, garuda, kumbhaṇḍa, yaksa dan Empat Raja Dewa.

Ketika Sakka menikmati saat-saat ia menjadi raja para dewa di alam dewa yang agung, yang dijaga dengan ketat oleh para pengawalnya di lima tempat, Sudhammā meninggal dunia dan terlahir sebagai pelayan wanita Sakka sekali lagi. Persembahan menara yang diberikannya membuat sebuah balai besar – bernama Sudhammā (Balai pertemuan para dewa)– tercipta untuknya, bertaburkan permata-permata alam dewa, dengan tinggi lima ratus yojana, dimana di bawah naungan sebuah atap putih kerajaan, duduklah Sakka, raja para dewa, yang memerintah manusia dan dewa.

Cittā juga, setelah meninggal, terlahir sekali lagi sebagai pelayan wanita Sakka; persembahan taman peristirahatan yang diberikannya membuat munculnya sebuah taman peristirahatan yang diberi nama Cittalatāvana. Sama halnya dengan Nandā, setelah meninggal dunia, ia terlahir sekali lagi sebagai pelayan wanita Sakka; buah perbuatannya membuatkan sebuah tempat penampungan air membuat timbulnya sebuah kolam di sana yang bernama Nandā. Namun, Sujā, yang tidak melakukan kebaikan apa pun juga, terlahir sebagai seekor burung bangau di sebuah gua dalam hutan. “Tidak ada tanda-tanda munculnya Sujā,” kata Sakka kepada dirinya sendiri. “Saya merasa penasaran ia terlahir kembali di alam mana.” Saat memikirkan hal tersebut, ia menemukan keberadaannya. Maka ia mengunjunginya, membawanya mengunjungi alam dewa untuk menunjukkan kepadanya betapa menyenangkannya kota para dewa itu, Sudhammā, Cittalatāvana, dan Kolam Nandā. “Mereka bertiga,” kata Sakka, “terlahir kembali sebagai pelayan wanita saya karena kebajikan yang mereka lakukan, sedangkan kamu, karena tidak melakukan perbuatan baik apa pun, terlahir kembali di alam yang rendah. Mulai sekarang, jagalah latihan.” Setelah menasehatinya dan mengukuhkan lima latihan moralitas kepadanya, Sakka membawanya pulang kembali (ke tempat asalnya) dan membiarkannya hidup bebas. Mulai saat itu, burung bangau itu menjaga kelima latihan moralitas tersebut. Beberapa waktu kemudian, karena ingin mengetahui apakah ia (mampu) menjaga latihan atau tidak, Sakka pergi ke tempatnya dan muncul di hadapannya dalam bentuk seekor ikan.

Mengira ikan tersebut telah mati, burung bangau itu meraih kepala ikan tersebut. Tiba-tiba ikan tersebut menggerakkan ekornya. “Aduh, ikannya masih hidup,” kata burung bangau tersebut, ia membiarkan ikan tersebut pergi. “Bagus, bagus,” kata Sakka, “kamu mampu menjaga latihan-latihan tersebut.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Sakka pergi meninggalkan tempat itu. Setelah meninggal, burung bangau itu terlahir kembali dalam sebuah keluarga pengrajin tembikar di Benares. Merasa penasaran di manakah Sujā terlahir kembali, Sakka mencari dan akhirnya menemukan tempat ia berada. Sakka menyamar menjadi seorang kakek, mengisi sebuah gerobak dengan mentimun yang terbuat dari emas murni, duduk di tengah desa, berteriak, “Belilah mentimun saya! Belilah mentimun saya!” Para penduduk mendatanginya dan menawar mentimun tersebut.

“Saya hanya melepaskannya untuk mereka yang menjaga latihan,” katanya,”apakah kalian menjaga latihan?”

“Kami tidak tahu apa yang kamu maksudkan dengan ‘latihan’ itu; jual saja mentimun itu kepada kami.”

“Tidak, saya tidak menginginkan uang untuk mentimun saya. Saya akan memberikannya secara cuma-cuma, namun hanya untuk mereka yang menjaga latihan.”

“Siapakah pelawak ini?” gerutu orang-orang itu sebelum meninggalkan tempat tersebut. Sujā berpikir bahwa mentimun itu pasti dibawa untuknya, karena itu ia pergi ke sana dan meminta beberapa buah mentimun. “Apakah engkau menjaga latihan, Nyonya?” tanya kakek itu. “Ya, saya melakukannya,” jawab Sujā.

“Semua ini saya bawa untukmu seorang,” kata kakek itu, dan meninggalkan mentimun, gerobak dan semuanya di depan pintu rumahnya sebelum pergi. Setelah menghabiskan sisa hidupnya dengan tetap menjaga latihan-latian tersebut, Sujā terlahir kembali sebagai putri dari Raja Asura Vepacittiya. Karena kebaikan yang dilakukannya, ia terlahir dengan paras yang jelita. Setelah dewasa, ayahnya mengumpulkan semua asura agar dapat dipilih oleh putrinya untuk dijadikan suami. Sakka, yang telah mencari dan menemukan keberadaannya, mengambil bentuk asura dan turun ke sana, sambil berkata, “Jika Sujā benar-benar memilih seorang suami dari lubuk hati terdalamnya, saya akan terpilih.”

Sujā didandani dan dibawa menuju tempat pertemuan tersebut, tempat dimana ia diminta untuk memilih seorang suami berdasarkan pilihan hatinya. Melihat ke sekeliling dan mengamati Sakka, ia digerakkan oleh rasa cintanya kepada Sakka di kehidupan yang lampau dan memilihnya untuk menjadi suaminya. Sakka membawanya ke kota para dewa dan menjadikannya pimpinan dari dua puluh lima juta orang gadis penari. Setelah ajalnya tiba, ia meninggal dan terlahir kembali di alam yang sesuai dengan hasil perbuatannya.

____________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menegur bhikkhu tersebut dengan kata-kata berikut ini, “Demikianlah, Bhikkhu, ia yang bijaksana dan penuh kebaikan di kehidupan yang lampau saat memerintah di alam dewa, menghindari, walaupun harus mengorbankan nyawa mereka sendiri, untuk melakukan pembunuhan. Dapatkah kamu, yang telah mengucapkan janji untuk memelihara keyakinan ini, minum air yang belum disaring, beserta semua makhluk hidup yang terkandung di dalamnya?” Kemudian Beliau mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Ānanda adalah Mātali, penunggang kereta tempur itu, dan Saya adalah Sakka.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

Minggu, 03 Januari 2021

Kesadaran Tidak Menuruti Kehendak Seseorang


KESADARAN TIDAK MENURUTI KEHENDAK SESEORANG

Kesadaran yang menyiksa tidak menuruti kehendak seseorang. Kemunculannya yang ditentukan oleh situasi, kesadaran tidak dapat diatur dan tidak dapat dikendalikan. Walaupun seseorang menginginkan pemandangan yang menyenangkan, karena tidak ada pemandangan yang menyenangkan, ia tidak dapat melihat pemandangan yang menyenangkan. Sebaliknya, pemandangan yang menakutkan, yang dibenci yang akan terlihat. Ketika ada obyek-obyek yang tidak menyenangkan, dan ketika mata terbuka. Ini adalah contoh bagaimana kesadaran-mata tidak menuruti kehendak seseorang, muncul dengan sendirinya, bergantung pada kondisi.

Demikian pula, walaupun seseorang ingin mendengar suara yang menyenangkan, karena tidak ada obyek suara yang menyenangkan, suara merdu dan kata-kata indah, dan seterusnya, maka suara menyenangkan itu tidak terdengar. Karena itulah muncul kebutuhan untuk menyediakan radio, recorder, atau kaset untuk menghasilkan, saat diinginkan, suara-suara yang menyenangkan. Kita enggan mendengarkan suara-suara yang tidak menyenangkan. Ketika muncul suara-suara demikian, tidak dapat dihindari suara-suara tersebut akan datang ke telinga kita. Dengan demikian kesadaran-telinga adalah tidak dapat diatur, muncul dengan sendirinya, bergantung pada kondisi.

Dengan cara yang sama, walaupun kita ingin menikmati bau harum, jika bau harum tidak ada, maka keinginan kita tidak terpenuhi. Karena itu orang-orang menyediakan wangi-wangian dan parfum dan bunga-bungaan. Betapapun tidak inginnya, kita terpaksa menghirup bau busuk, ketika bau busuk ada di sekeliling kita, kita harus menderita karena bau itu dan juga harus mengalami sakit pada jasmani seperti sakit kepala, dan lain-lain. Ini adalah bagaimana kesadaran-hidung tidak menuruti kehendak seseorang, muncul dengan sendirinya, bergantung pada kondisi.

Walaupun kita ingin menikmati rasa lezat, kesadaran-kecapan yang menyenangkan tidak dapat muncul karena tidak adanya makanan lezat. Ia hanya muncul jika makanan lezat dimakan. Karenanya mereka sibuk mengejar makanan, siang dan malam. Ketika sakit, mereka berusaha sembuh dengan meminum obat yang pahit, yang tentu saja, tidak nikmat. Ini adalah bagaimana kesadaran-lidah muncul dengan sendirinya tidak dapat dikendalikan dan tidak dapat diatur.

Kesadaran-sentuhan dapat menjadi menyenangkan hanya ketika ada obyek menyenangkan seperti kain yang halus, kasur yang empuk, tempat duduk yang nyaman, dan sebagainya. Oleh karena itu dilakukan usaha terus-menerus untuk mendapatkan obyek-obyek mati dan obyek hidup untuk menikmati sensasi sentuhan yang menyenangkan. Pada saat-saat tertentu ketika cuaca sangat panas atau sangat dingin, atau ketika seseorang menghadapi bahaya seperti duri, paku, api dan senjata atau ketika seseorang sedang sakit, maka ia harus menderita, betapapun enggannya, siksaan dari kesadaran-sentuhan yang tidak menyenangkan, yang jelas tidak dapat dikendalikan, muncul dengan sendirinya, bergantung pada situasi.

Setiap orang menginginkan hidup yang berbahagia, gembira dan memuaskan. Ini hanya dapat dicapai jika seseorang memiliki kekayaan dan perlengkapan yang mencukupi. Karena itu muncul kebutuhan untuk terus-menerus berusaha untuk mempertahankan gaya hidup demikian. Ketika sedang mencari cara-cara untuk hidup nyaman dan gembira demikian, pikiran tentang kesulitan-kesulitan dalam hidup sehari-hari, tentang orang-orang yang dicintai, suami, anak-anak, orang yang telah meninggal dunia, tentang keuangan dan persoalan dalam mencari nafkah, tentang usia tua dan kelemahan jasmani, dapat muncul membuat seseorang menjadi tidak bahagia. Ini adalah bagaimana kesadaran-pikiran menampakkan dirinya, tidak dapat diatur, tidak dapat dikendalikan.

Dikutip dari:
Komentar Anattalakkhaṇa Sutta
Mahasi Sayādaw

Rabu, 30 Desember 2020

Kanha Jataka


KANHA JATAKA 

“Dengan muatan yang berat,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai keajaiban ganda, bersamaan dengan turunnya makhluk dewata dari surga, yang berhubungan dengan Buku Ketiga Belas, dalam Sarabhamiga-Jātaka.

Setelah menunjukkan keajaiban ganda, dan telah menetap di surga, Buddha Yang Maha Tahu turun ke Kota Saṁkassa, di saat perayaan Pavāranā agung, kemudian Beliau bersama sejumlah pengiringnya pergi ke Jetawana. Saat berkumpul bersama di Balai Kebenaran, sambil duduk, para bhikkhu memuji kebajikan Sang Guru, dengan berkata, “Awuso, Sang Buddha tiada taranya, tidak ada yang mampu menahan palang yang ditahan oleh Sang Buddha.

Walaupun keenam guru begitu sering mengatakan bahwa mereka, hanya mereka, yang bisa mempertunjukkan keajaiban, namun tidak ada satu keajiban pun yang pernah mereka tunjukkan. Oh, betapa tiada taranya Guru kita!”

Saat itu, Sang Guru masuk ke dalam balai tersebut dan menanyakan topik pembicaraan dalam pertemuan tersebut; Sang Guru mendapat penjelasan bahwa topik mereka tak lain adalah mengenai kebajikan Beliau. “Para Bhikkhu,” kata Sang Guru, “siapa yang mampu menahan palang yang ditahan oleh-Ku? Bahkan di masa lalu, ketika saya hidup sebagai hewan, saya tidak tertandingi.” Setelah mengatakan hal tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor sapi jantan. Saat masih berupa anak sapi, pemiliknya yang tinggal bersama seorang wanita tua, menyerahkan sapi itu sebagai penyelesaian terhadap perhitungan mereka. Wanita itu membesarkannya seperti anaknya sendiri, memberikan ia bubur beras dan nasi serta makanan yang enak lainnya. Ia dikenal sebagai Ayyikākāḷaka (Si Hitam Milik Nenek). Setelah dewasa, ia selalu berkeliaran bersama kawanan ternak lainnya dari desa tersebut, dan warnanya hitam legam. Anak-anak dari desa itu selalu memegang tanduk dan telinga serta melompat ke punggungnya untuk menungganginya. Atau mereka akan menarik ekornya untuk bermain-main, kemudian memanjat ke punggungnya.

 

Suatu hari, ia berpikir, “Ibuku sangat miskin; ia telah membesarkanku dengan segenap usahanya, seakan-akan saya adalah anak kandungnya sendiri. Bagaimana jika saya mendapatkan sedikit uang untuk meringankan penderitaannya?”

Sejak saat itu, ia selalu mencari pekerjaan. Suatu hari, seorang saudagar muda yang merupakan pemilik gerobak yang datang bersama lima ratus buah keretanya, melewati dasar sungai yang sangat kasar, sehingga sapi-sapinya tidak dapat menarik kereta-kereta itu melewati tempat tersebut. Walaupun ia telah mengikatkan kelima ratus pasang sapinya membentuk kelompok besar, mereka masih tidak dapat menarik satu kereta pun untuk menyeberangi sungai tersebut. Sementara itu, Bodhisatta sedang bermain bersama kawanan ternak lainnya di sekitar tempat itu. Saudagar muda yang terbiasa menilai ternak, mengamati kawanan ternak itu untuk melihat apakah di antara mereka ada sapi keturunan murni yang dapat menarik keretanya menyeberangi sungai. Ketika melihat Bodhisatta, ia merasa yakin sapi itu pasti mampu; dan untuk mengetahui siapa pemilik sapiitu, ia bertanya kepada para penggembala yang ada di sana,

“Siapakah pemilik hewan ini? Jika saya boleh mengikatkannya pada palang untuk menyeberangkan kereta saya, saya akan membayar jasanya.” Mereka berkata padanya, “Bawa dan manfaatkan saja dia, majikannya tidak berada di sekitar sini.”

Saat saudagar itu memasangkan tali melalui hidungnya dan mencoba membawanya pergi, Bodhisatta tidak mau bergerak. Menurut apa yang diceritakan secara turun temurun, ia tidak mau bergerak sebelum mereka sepakat tentang bayarannya. Mengerti maksud sapi tersebut, saudagar itu berkata, “Teman, jika kamu bisa menarik kelima ratus buah keretaku menyeberang, saya akan membayar dua keping uang per kereta, atau seribu keping uang secara keseluruhan.”

Setelah sepakat, Bodhisatta bergerak tanpa perlu didorong lagi. Ia pergi ke sungai dan mereka mengikatnya pada kereta milik saudagar itu. Ia menarik kereta pertama dengan satu sentakan, mendaratkannya di tempat yang tinggi dan kering; dengan cara yang sama ia memperlakukan seluruh rangkaian kereta itu.

Saudagar muda itu mengikatkan satu rangkaian koin sejumlah lima ratus keping ke leher Bodhisatta, atau harga yang ia bayar untuk satu kereta hanya satu keping saja. Bodhisatta berpikir, “Orang ini tidak membayar sesuai dengan perjanjian! Saya tidak akan membiarkan dia meneruskan perjalanannya!”

Maka ia berdiri di depan kereta pertama dan menghalangi jalannya. Bagaimana pun mereka coba, mereka tidak dapat memindahkannya dari tengah jalan.

“Saya rasa dia tahu bayarannya kurang,” pikir saudagar itu; dan dia melilitkan ikatan seribu keping ke leher Bodhisatta dan berkata, “Ini bayaran atas jasamu menarik kereta-kereta itu menyeberang.” Bodhisatta segera membawa uang seribu kepingnya pergi mencari “ibunya”.

“Apa yang terdapat di leher Ayyikākāḷaka?” teriak anak-anak desa itu sambil mengejarnya. Namun Bodhisatta melempar mereka dari jauh dan membuat mereka lari tunggang langgang, sehingga ia bisa tiba di tempat “ibunya” dengan selamat. Saat tiba, ia sangat lelah, dengan mata yang memerah, karena menarik lima ratus buah kereta menyeberangi sungai. Wanita yang saleh itu, melihat seribu keping uang yang terlilit di leher Bodhisatta, berteriak, “Dari mana kau dapatkan uang ini, Anakku?” Saat mendengar penjelasan dari para penggembala tentang apa yang telah terjadi, ia berseru, “Pernahkah saya berharap untuk hidup dari uang yang engkau peroleh, Anakku?

Mengapa engkau sampai mengalami kelelahan seperti ini?”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia memandikan Bodhisatta dengan air hangat, menyikat seluruh tubuhnya dengan minyak, memberikan minuman dan menyuguhkan makanan yang sepantasnya untuk Bodhisatta. Saat waktunya tiba, ia meninggal dunia, bersama dengan Bodhisatta, terlahir di alam bahagia sesuai dengan hasil perbuatannya.

Ketika Sang Guru telah menyelesaikan uraian untuk menunjukkan bahwa Sang Buddha tidak tertandingi di kehidupan yang lampau hingga kehidupan sekarang ini, Beliau mempertautkannya dengan mengucapkan, sebagai seorang Buddha, syair berikut ini : —

Dengan membawa beban yang berat, melewati jalanan yang rusak,

Mereka mengikatkan ‘Si Hitam’; ia segera menarik muatan itu.

 

Setelah uraian untuk memperlihatkan bahwa hanya ‘Si Hitam’ yang mampu menarik muatan itu, Beliau mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Uppalavaṇṇā adalah wanita tua tersebut dan Saya sendiri adalah ‘Si Hitam Milik Nenek’.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

MUNIKA JATAKA


MUNIKA JATAKA

“Maka jangan iri pada Muṇika yang malang,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana mengenai godaan dari seorang wanita muda yang kasar. Kisah ini berhubungan dengan Buku Ketiga Belas, dalam Culla-Nārada-Kassapa-Jātaka.

Sang Guru bertanya kepada bhikkhu itu dengan berkata, “Benarkah, Bhikkhu, seperti yang mereka katakan, bahwa engkau merasa gelisah karena hasratmu?”

“Benar, Bhante,” jawabnya.

“Bhikkhu,” kata Sang Guru, “ia adalah kutukan untukmu. Di kehidupan yang lampau, engkau bahkan menemui ajalmu dan dijadikan makanan pembuka untuk para undangan dihari pernikahannya.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu Brahmadatta memerintah Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor sapi jantan, yang bernama Mahālohita, ia tinggal di tanah milik seorang penjaga sebuah desa kecil. Bodhisatta mempunyai seorang adik yang bernama Cūḷalohita. Dua bersaudara ini melakukan semua pekerjaan tarik menarik barang bagi tuan tanah mereka. Penjaga desa itu memiliki seorang anak perempuan, yang telah dilamar untuk menikah dengan anak lelaki dari seorang pria yang tinggal di kota. Orang tua gadis itu, bermaksud menyediakan makanan pilihan bagi para undangan pernikahan putri mereka, mulai menggemukkan seekor babi yang bernama Muṇika.

Melihat hal itu, Cūḷalohita berkata kepada abangnya, “Semua barang yang harus ditarik untuk keperluan rumah tangga ini selalu dilakukan oleh aku maupun kamu. Namun semua usaha kita hanya dihargai dengan memberikan sedikit rumput dan jerami sebagai makanan kita. Sementara babi itu diberi makan nasi! Apa yang menyebabkan dia mendapatkan makanan seistimewa itu?”

Abangnya berkata, “Adikku, jangan iri padanya; ia hanyalah seekor babi yang sedang menikmati makanan terakhirnya. Ia mendapat makanan seperti itu untuk dijadikan makanan pembuka untuk para undangan saat pernikahan putrid mereka. Hanya itu alasan mereka memberikan makanan seperti itu kepada babi tersebut. Tunggulah beberapa saat lagi hingga tamu-tamu berdatangan. Maka kamu akan melihat babi itu berakhir dalam empat potong sesuai dengan jumlah kakinya, ia akan dibunuh dan akan diproses menjadi kari.”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengulangi syair berikut ini :

Maka, jangan iri pada Muika yang malang; itu adalah makanan terakhir yang sedang ia nikmati. Dedakmu yang sederhana ini mengandung janji dan jaminan akan hari-hari yang masih panjang.

 

Tidak lama kemudian para undangan pun tiba. Muṇika dibunuh dan dimasak menjadi berbagai jenis hidangan. Bodhisatta berkata kepada Cūḷalohita, “Apakah kamu telah melihat Muṇika, Adikku?”

“Tentu saja saya telah melihatnya, Abangku, pesta yang diselenggarakan dari daging Muṇika. Makanan sederhana seperti yang kita makan, lebih baik seratus kali, tidak, seribu kali, walaupun itu hanya rumput, jerami dan dedak;— karena makanan kita tidak akan membahayakan jiwa kita, dan merupakan sebuah janji bahwa hidup kita tidak akan dipersingkat.”

____________________

Setelah menyelesaikan uraian mengenai akibat yang diterima oleh bhikkhu itu di kehidupan yang lampau, yang mendapatkan malapetaka karena wanita muda itu, ia dijadikan makanan pembuka bagi para undangan, Beliau membabarkan Dhamma. Saat khotbah berakhir, bhikkhu yang merasa gelisah karena hasratnya itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna. Sang Guru mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran itu dengan berkata, “Bhikkhu yang merasa gelisah akan hasratnya ini adalah Muṇika di masa itu, wanita muda saat ini adalah anak gadis dari penjaga desa itu, Ānanda adalah Cūḷalohita, dan Saya sendiri Mahālohita.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

Nacca Jataka


NACCA JATAKA

“Sebuah pemandangan yang menyenangkan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang memiliki banyak harta benda. Kejadian tersebut sama seperti yang terjadi di Devadhamma-Jātaka di bagian sebelumnya. “Apakah laporan tersebut benar, Bhikkhu,” tanya Sang Guru, “bahwa engkau mempunyai banyak benda?”

“Benar, Bhante.”

“Mengapa engkau harus memiliki banyak benda?” Tanpa mendengar lebih lanjut, bhikkhu itu menarik lepas jubah yang dipakainya, berdiri telanjang di hadapan Sang Guru, berteriak, “Saya akan pergi dalam keadaan seperti ini!”

“Oh, dasar tidak tahu malu!” seru setiap orang yang ada di sana. Lelaki tersebut berlari pergi dan kembali menempuh kehidupan sebagai perumah tangga dengan tingkatan yang rendah. Saat berkumpul di Balai Kebenaran, para bhikkhu membicarakan kelakuannya yang tidak layak di hadapan Sang Guru. Saat itu, Sang Guru masuk ke dalam ruangan dan menanyakan topic pembicaraan mereka. “Bhante,” jawab mereka, “kami sedang membicarakan ketidakpantasan sikap bhikkhu itu, tepat di hadapan-Mu dan empat kelompok siswa-Mu, ia kehilangan rasa malunya sehingga berdiri telanjang seperti seorang anak kampung yang miskin. Melihat dirinya tidak disukai siapa pun, ia kembali ke tingkat yang lebih rendah dan kehilangan keyakinannya.”

Sang Guru menjawab, “Para Bhikkhu, ini bukan satu-satunya kehilangan yang terjadi karena ia tidak memiliki rasa malu; di kehidupan yang lampau, ia kehilangan seorang istri yang berharga, sama seperti ia kehilangan sebuah keyakinan yang berharga di saat sekarang ini.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Dahulu kala, di awal sejarah kehidupan, hewan-hewan berkaki empat memilih singa menjadi raja mereka, para ikan memilih ikan raksasa Ānanda menjadi raja ikan, dan burung-burung memilih angsa emas sebagai raja burung. Raja angsa emas memiliki anak perempuan yang sangat elok. Sang raja selalu mengabulkan setiap permintaan yang ia sampaikan. Dan ia meminta kesempatan untuk memilih suaminya sendiri. Dalam memenuhi permintaan tersebut, raja mengumpulkan semua jenis burung yang ada di Himalaya. Berbagai jenis burung datang, demikian juga dengan angsa, merak dan jenis burung lainnya; mereka berkumpul di sebuah dataran tinggi dari sebuah lempengan batu yang besar. Raja meminta putrinya untuk pergi ke sana dan memilih suami sesuai keinginannya. Saat mengamati kawanan burung itu, matanya bersinar melihat burung merak dengan hiasan leher yang berkilau dan bulu ekor dari berbagai macam warna. Ia memilih burung merak tersebut, berkata, “Biar dia yang menjadi suamiku.” Kawanan burung yang sedang berkumpul itu mendekati burung merak itu dan berkata, “Merak sahabat kami, putri raja, dalam memilih seorang calon suami di antara semua burung yang ada di sini, telah menjatuhkan pilihannya padamu.”

Terbawa oleh rasa gembira, ia berseru, “Sebelum hari ini, kalian tidak pernah mengetahui betapa aktifnya saya;” dan bertentangan dengan semua batas kesopanan, ia mengembangkan sayapnya dan mulai menari; — saat menari itulah ia tidak menutupi dirinya.

Merasa malu, raja angsa emas berkata, “Burung ini tidak memiliki kerendahan hati dalam dirinya, juga tidak memiliki pembawaan yang sopan; saya tidak akan menyerahkan putriku kepada burung yang demikian tidak tahu malunya.” Di tengah-tengah kawanan burung yang sedang berkumpul, raja angsa emas itu mengulangi syair berikut ini : —

Sebuah pemandangan yang menyenangkan dengan melihatmu, dengan bagian ekor yang elok. Sebuah leher dengan warna seperti Lapis Lazuli. Rentangan bulu-bulumu mencapai jarak hingga satu byāma. Bersama itu, tarianmu menjatuhkan dirimu, Anakku.

Di hadapan semua burung yang sedang berkumpul, raja angsa emas menyerahkan putrinya pada seekor angsa muda yang masih merupakan keponakan raja. Merasa malu karena kehilangan putri raja angsa emas tersebut, burung merak itu segera bangkit dan terbang meninggalkan tempat tersebut. Raja angsa emas juga meninggalkan tempat tersebut kembali ke tempat tinggalnya.

____________________

“Demikianlah, Para Bhikkhu,” kata Sang Guru, “ini bukan pertama kalinya ia melanggar kesopanan yang membuat ia akhirnya menderita kerugian; seperti sekarang ini, ia kehilangan keyakinan yang berharga, di kehidupan yang lampau, ia kehilangan seorang istri yang sangat berharga.” Setelah menyelesaikan uraian tersebut, Beliau mempertautkan dan menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu yang memiliki sejumlah harta benda itu adalah burung merak di masa itu dan Saya sendiri adalah raja angsa emas tersebut.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

Senin, 28 Desember 2020

SAMMODANAMA JATAKA


SAMMODANAMA JATAKA

“Saat kerukunan yang berkuasa,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika menetap di Taman Beringin dekat Kapilavatthu, mengenai perselisihan tentang bantalan kepala, yang akan berhubungan dengan Kunāla-Jātaka. Pada kesempatan ini, Sang Guru berkata demikian kepada para kerabatnya, “Para raja, perselisihan antar anggota keluarga adalah tidak layak adanya. Benar, di kehidupan yang lampau, hewan-hewan berhasil mengalahkan musuh mereka ketika mereka hidup rukun, dan benar-benar mengalami kehancuran saat mereka berselisih.” Atas permintaan para kerabatnya, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu saat Brahmadatta menjadi Raja di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor burung puyuh. Ia tinggal di hutan dan menjadi pemimpin dari beberapa ribu ekor burung puyuh. Pada masa itu terdapat seorang penangkap burung yang datang ke hutan; ia selalu meniru suara burung puyuh, membuat burung-burung itu berkumpul, dan melempar jaring ke arah mereka.

Setelah itu, ia menyimpul sisi-sisi jaring itu menjadi satu, sehingga mereka semua berhimpitan menjadi satu gerombolan. Kemudian, ia akan menjejalkan mereka semua ke dalam keranjang dan membawa mereka pulang untuk dijual, hasil penjualannya akan digunakan untuk menghidupi dirinya. Suatu hari Bodhisatta berkata kepada kawanan burung puyuh tersebut, “Penangkap burung ini merupakan malapetaka untuk kerabat kita. Saya mempunyai sebuah cara agar ia tidak bisa menangkap kita. Mulai sekarang, detik-detik ketika jaring dilemparkan ke arah kalian, tempatkan kepala kalian di mata jaring tersebut dan kalian harus terbang secara serentak beserta jaring ke tempat yang kalian mau, dan biarkan jaring itu jatuh setelah kalian membuat simpul yang rumit; setelah melakukan hal itu, kita dapat melarikan diri dari mata jaring yang telah menjadi beberapa bagian itu.”

“Baik,” jawab mereka semua dengan penuh persetujuan.

Saat berikutnya, ketika jaring itu dilemparkan ke arah mereka, mereka melakukan apa yang telah dikatakan oleh Bodhisatta : — mereka mengangkat jaring itu, dan menjatuhkannya setelah membuat simpul yang rumit, dan membebaskan diri dari jaring tersebut. Ketika penangkap burung masih sibuk menguraikan jaring-jaring tersebut, malam telah tiba; ia pun pulang ke rumah dengan tangan kosong. Keesokan hari dan hari-hari berikutnya, kawanan burung puyuh itu memakai cara yang sama, sehingga sudah menjadi hal yang biasa jika penangkap burung itu sibuk menguraikan jaring hingga matahari terbenam, kemudian pulang dengan tangan kosong. Istri penangkap burung itu marah dan berkata, “Hari demi hari kamu pulang dengan tangan kosong. Menurutku, kamu pasti mempunyai keluarga kedua yang kamu pelihara di tempat lain.”

“Tidak, Istriku,” kata penangkap burung itu, “saya tidak memiliki keluarga kedua yang harus saya pelihara. Kenyataannya, semua burung puyuh itu saling bekerja sama sekarang ini. Saat jaring menimpa mereka, mereka terbang secara bersamaan membawa jaring, kemudian meninggalkan jaring itu dalam keadaan tersimpul. Namun tidak selamanya mereka dapat hidup dalam satu kesatuan. Jangan mempermasalahkan hal ini; begitu mereka mulai terlibat perselisihan antara mereka sendiri, saya akan menangkap kumpulan burung puyuh itu dan membuatmu tersenyum lagi.” Setelah mengucapkan katakata tersebut, ia mengulangi syair berikut ini untuk istrinya : —

Saat kerukunan yang berkuasa, burung-burung dapat menahan jaring yang saya lemparkan.

Saat perselisihan muncul, mereka semua akan menjadi mangsaku.

 

Tidak lama setelah itu, ketika salah seekor burung puyuh hinggap di tanah untuk mencari makan, secara tidak sengaja ia menginjak kepala burung puyuh yang lain. “Siapa yang menginjak kepalaku?” teriak burung itu dengan marah. “Saya, namun saya tidak sengaja. Tolong jangan marah kepadaku,” jawab burung puyuh yang satu. Namun jawaban itu tidak meredakan amarah burung puyuh yang kepalanya terinjak itu. Setelah beberapa kali saling menyahut satu sama lain, mereka mulai saling mencela, dengan berkata, “Saya kira jaring itu diangkat oleh engkau sendiri saja!” Saat mereka saling mencela satu sama lain, Bodhisatta berpikir, “Tidak ada keselamatan bagi mereka yang suka bertengkar. Telah tiba saat bagi mereka untuk tidak mampu mengangkat jaring itu secara bersama lagi. Dengan demikian, saat kehancuran mereka telah datang. Penangkap burung itu akan mendapatkan kesempatannya. Saya tidak dapat tinggal lebih lama lagi di sini.” Oleh sebab itu, ia dan para pengikutnya pergi ke tempat yang lain. Dengan penuh keyakinan penangkap burung itu kembali lagi beberapa hari kemudian, mula-mula ia mengumpulkan mereka dengan cara meniru suara burung, kemudian melemparkan jaring ke arah mereka. Salah seekor burung puyuh itu berkata, “Saya dengar, saat mengangkat jaring, bulu di kepala kamu semakin sedikit. Sekarang tiba waktumu untuk mengangkat jaring ini.” Yang satu lagi membalas, “Kata burung yang lain, saat mengangkat jaring itu, kedua sayapmu berganti bulu. Sekarang kesempatanmu telah datang, angkatlah jaring ini!”

Sementara mereka saling mempersilakan lawan untuk mengangkat jaring, penangkap burung itu sendiri yang mengangkat jaring itu dan menjejalkan mereka ke dalam satu keranjang dan membawa mereka pulang, agar istrinya bisa tersenyum lagi.

____________________

“Demikianlah, Paduka,” kata Sang Guru, “hal-hal seperti perselisihan antar keluarga adalah tidak layak adanya; perselisihan hanya bisa membawa kehancuran.” Setelah uraian tersebut terakhir, Beliau mempertautkan dan menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Devadatta adalah burung puyuh yang bodoh di masa itu, dan Saya sendiri adalah burung puyuh yang bijaksana dan baik tersebut.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I