Translate

Kamis, 15 Desember 2016





Tiga Aliran utama Buddhisme yang masih ada dan diakui secara umum oleh para ahli sbb:
1. Theravada
Theravada (Pāli: थेरवाद theravāda; Sansekerta: स्थविरवाद sthaviravāda); secara harafiah berarti, “Ajaran Sesepuh” atau “Pengajaran Dahulu”, merupakan aliran tertua Agama Buddha yang masih bertahan. Ditemukan di India. Theravada merupakan ajaran yang konservatif, dan secara menyeluruh merupakan ajaran terdekat dengan Agama Buddha pada awalnya, dan selama berabad-abad menjadi kepercayaan yang berkuasa di Sri Lanka (sekitar 70% dari penduduk) dan sebagian besar benua di Asia Tenggara (Kambodia), (Laos), (Myanmar), (Thailand). Mazhab Theravada juga dijalankan oleh sebagian minoritas dari Barat Daya Cina oleh etnik (Shan dan Tai), Vietnam (oleh Khmer Krom), Bangladesh (oleh etnik group dari Barua, Chakma, dan Magh), Malaysia dan Indonesia, dan yang belakangan ini mendapatkan lebih banyak popularitas di Singapura dan Negara Barat. Saat ini, aliran Theravada mencapai lebih dari 250 juta pengikut di seluruh dunia, dan dalam dekade terakhir ini aliran Theravada telah menanamkan akarnya di Negara Barat dan di India.
Soruce :Dhamma Wiki
2. Mahayana
Mahayana (berasal dari bahasa Sansekerta: महायान, mahāyāna yang secara harafiah berarti ‘Kendaraan Besar’) adalah satu dari dua aliran utama Agama Buddha dan merupakan istilah pembagian filosofi dan ajaran Sang Buddha. Mahayana, yang dilahirkan di India, digunakan atas tiga pengertian utama:
A. Sebagai tradisi yang masih berada, Mahayana merupakan kumpulan terbesar dari dua tradisi Agama Buddha yang ada hari ini, yang lainnya adalah Theravada.
B. Menurut cara pembagian klasifikasi filosofi Agama Buddha berdasarkan aliran Mahayana, Mahayana merujuk kepada tingkat motifasi spiritual (yang dikenal juga dengan sebutan Bodhisattvayana) Berdasarkan pembagian ini, pendekatan pilihan yang lain disebut Hinayana, atau Shravakayana. Hal ini juga dikenal dalam Ajaran Theravada, tetapi tidak dianggap sebagai pendekatan yang sesuai.
C. Menurut susunan Ajaran Vajrayana mengenai pembagian jalur pengajaran, Mahayana merujuk kepada satu dari tiga jalan menuju pencerahan, dua lainnya adalah Hinayana dan Vajrayana. Pembagian pengajaran dalam Agama Buddha Vajrayana, dan tidak dikenal dalam ajaran Agama Buddha Mahayana dan Theravada.
Walaupun asal-usul keberadaan Mahayana mengacu pada Buddha Gautama, para sejarawan berkesimpulan bahwa Mahayana berasal dari India pada abad ke 1, atau abad ke 1 SM. Menurut sejarawan, Mahayana menjadi gerakan utama dalam Agama Buddha di India pada abad ke 5, mulai masa tersebut naskah-naskah Mahayana mulai muncul pada catatan prasasti di India. Sebelum abad ke 11 (ketika Mahayana masih berada di India), Sutra-sutra Mahayana masih berada dalam proses perbaikan. Oleh karena itu, beragam sutra dari sutra yang sama mungkin muncul. Terjemahan-terjemahan ini tidak dianggap oleh para sejarawan dalam membentuk sejarah Mahayana.
Dalam perjalanan sejarahnya, Mahayana menyebar keseluruh Asia Timur. Negara-negara yang menganut ajaran Mahayana sekarang ini adalah Cina, Jepang, Korea dan Vietnam dan penganut Agama Buddha Tibet (etnis Himalaya yang diakibatkan oleh invasi Cina ke Tibet). Aliran Agama Buddha Mahayana sekarang ini adalah “Pure Land”, Zen, Nichiren, Singon, Tibetan dan Tendai. Ketiga terakhir memiliki aliran pengajaran baik Mahayana maupun Vajrayana.
Source : Wikipedia
3. Vajrayana
Vajrayāna Buddhism (Devanagari: वज्रयान) Wajrayana atau kadang ditulis Vajrayana, adalah suatu ajaran Buddha yang di Indonesia lebih sering dikenal dengan nama Tantra atau Tantrayana. Namun banyak juga istilah lain yang digunakan, seperti misalnya: mantrayana, ajaran mantra rahasia, ajaran Buddha eksoterik. Wajrayana adalah ajaran yang berkembang dari ajaran Buddha Mahayana, dan berbeda dalam hal praktik, bukan dalam hal filosofi. Dalam ajaran Wajrayana, latihan meditasi sering di barengi dengan visualisasi.
Source : Wikipedia
HARI-HARI BESAR BUDDHA DAN BODHISATTVA
Menurut kalender kamariah / lunar 

bln  1  tgl   1     : Hari kelahiran Maiterya Bodhisattva / Milek Phosat 
bln  1  tgl   9     : Hari kelahiran Sakradewa Indranam / Giok Hong Siang Tee
bln  2  tgl   8     : Hari pelepasan agung Sakyamuni Buddha
bln  2  tgl   19    : Hari kelahiran Avalokitesvara Bodhisattva / Kwan Im Phosat
bln  2  tgl   21    : Hari kelahiran Samantabhadra Bodhisattva / Phu Xian Phosat
bln  3  tgl   16    : Hari kelahiran Cundi Bodhisattva
bln  4  tgl   4     :  Hari kelahiran Manjushri Bodhisattva 
bln  4  tgl   8     :  Hari kelahiran Sakyamuni Buddha   
bln  4  tgl  28    :  Hari kelahiran Bhaisajyaraja Bodhisattva
bln  5  tgl  13    :  Hari kelahiran Arama Bodhisattva / Kwan Kong 
bln  6  tgl   3     :  Hari kelahiran Dharmapala Pancaskandha Bodhisattva / Wei Tho Phosat
bln  6  tgl  19    :  Hari pencapaian penerangan agung Avalokitesvara Bodhisattva / Kwan Im Phosat
bln  7  tgl  13    :  Hari kelahiran Mahasthamaprapta Bodhisattva / Ta She Ce Phosat
bln  7  tgl  15    :  Hari ulambana
bln  7  tgl  30    :  Hari kelahiran Ksitigarbha Bodhisattva / Ti Cang Wang Phosat
bln  8  tgl  22    :  Hari kelahiran Dipankara Buddha 
bln  9  tgl  19    :  Hari pelepasan agung Avalokitesvara Bodhisattva / Kwan Im Phosat
bln  9  tgl  30    :  Hari kelahiran Bhaisajyaguru Buddha / Yok Se Hud
bln 10  tgl  5     :  Hari kelahiran Acarya Bodhidharma / Tatmo Couse
bln 11  tgl  17   :  Hari kelahiran Amitabha Buddha / Amithofo
bln  12  tgl  8   :   Hari pencapaian penerangan sempurna Sakyamuni Buddha 
bln  12  tgl  29  :  Hari kelahiran Avatamsaka Bodhisattva




Selasa, 13 Desember 2016

Feng shui VS Karma

Feng Shui Vs Karma
Suatu ketika karena satu urusan penting, Waidao hrs melakukan perjalanan jauh. Setelah berjalan sedemikian jauh dan bekal minuman yg dibawanya telah terkuras habis mengisi 
kerongkongannya, sgt wajar kalau ia merasa sangat haus.
Kebetulan ia melalui sebuah dusun, segera diketuknya rmh
terdekat utk meminta seteguk air sbg pelepas dahaga.
Di rmy yg sangat sederhana itu berdiam seorg nenek
bernama Shanliang (Bajik). Nenek Shanliang dgn sangat
ramahnya menyodorkan semangkuk air kpd Waidao. Tapi
anehnya, air minum yg diberikan oleh Nenek Shanliang itu
ternyata ditaburi kulit beras.
Bagi Waidao yg sangat kehausan, alangkah nikmatnya
bila air itu dapat diteguknya seketika. Tetapi sayangnya, karena
di atas permukaan air ditaburi kulit beras, maka Waidao hanya
dpt meminumnya seteguk demi seteguk. Itupun dilakukannya
dgn sambil meniup kulit beras agar tidak terbawa masuk ke
dlm mulutnya. Timbul rasa benci dalam hati Waidao. “Berani-
beraninya mempermainkan diriku, lihat saja akan kubalas
nanti!”
Stlh minum secukupnya, dgn hati yg berapi-
api tetapi tetap menampilkan raut wajah yg penuh senyum,
Waidao menyatakan terima kasih pada Nenek Shanliang dan
para penghuni rumah itu. “Aku adalah seorang guru fengshui.
Hari ini menerima kebaikan pemberian air minum dari kalian, aku
merasa sangat berterima kasih. Demi membalas budi kebaikan
kalian, aku akan membantu melihat fengshui rumah ini.”
Tdk menyangka hanya krn memberi air minum lalu
menerima “rezeki” nomplok, keluarga Shanliang dgn segera
mempersilahkannya melihat kondisi fengshui rmh mrk.
Waidao melihat sebidang tanah “kutukan” yg sangat buruk
fengshuinya, bahkan dapat menyebabkan keluarga itu terputus
keturunannya. Tanah itu terletak lebih rendah permukaannya dari
tanah yang lain.
Waidao berkata, “Ini merupakan sebidang tanah
yg membawa hokkie. Kelak bila ada keluarga yg meninggal,
makamkan di sini, utk selanjutnya keluarga kalian akan kaya
raya.” Keluarga Nenek Shanliang sangat senang mendengar
ucapan Waidao, serta merta mereka mengucapkan beribu-ribu
terima kasih.
Bbrp tahun berlalu, Waidao sekali lagi melalui dusun
itu. Ia masih ingat akan penghinaan yg diterimanya dan ingin
mengetahui hasil dari pembalasannya. Waidao yakin bahwa
keluarga nenek itu pasti sdh menjadi fakir miskin. Tetapi ia
terperangah ketika melihat rmh Nenek Shanliang telah berubah
menjadi rmh gedung yg besar. Waidao berpikir, mgkn saja rmh itu telah dibeli org dari luar dusun yf kaya raya.
Saat itulah pintu rumah terbuka. Ternyata putra Nenek Shanliang. Melihat Waidao, ia dgn gembira sekali mengundang
guru fengshui ini masuk ke dlm rmh.
Tuan rmh memperlakukan Waidao layaknya seorg raja. Mrk menjelaskan bahwa ini semua utk membalas budi Waidao, krn petunjuk Waidaolah maka keluarga mrk menjadi kaya raya.
Waidao tak habis pikir, selama ini perhitungan fengshuinya tak prnh meleset, ttp kenapa keluarga ini justru menjadi kaya
raya?
“Ehm, saya koq tdk melihat Nenek Shanliang? Di mana beliau?” Tanya Waidao.
“Ibu telah meninggal sekitar setahun stlh kedatangan Anda
dulu,” demikian jelas sang putra yg bernama Heping (Damai), “dan sesuai petunjuk Anda, Ibu kami makamkan di tanah hokkie itu.”
“Oh, ya?” Semakin tak habis mengerti Waidao, bagaimana mgkn tanah “kutukan” itu berbalik menjadi tanah “hokkie”?
“Boleh saya menengok makam Nenek Shanliang?”
Dgn segera Heping mengantar Waidao menuju makam.
Benar, tak ada yg keliru, makam itu tepat berada di tengah lokasi tanah “kutukan”, hanya posisi tanah itu lebih tinggi dari semula.
Tak mungkin keluarga miskin itu mampu mengeluarkan biaya
meninggikan posisi tanah kutukan, pasti ada sesuatu yg terjadi, demikian pikir Waidao.
“Ehm, seingat saya tanah ini awalnya tdk setinggi ini,” pancing
Waidao.
“Oh ya, benar, kami juga tidak mengerti, ini tampaknya sudah kehendak Langit. Tepat pada malam hari sebelum pemakaman Ibu, datanglah angin topan yang dahsyat. Tanah hokkie yang rendah ini tertimbun rata oleh tanah longsor, sehingga posisinya menjadi lebih tinggi.
Tak peduli apapun yang terjadi, kami tetap mengikuti petunjuk
Anda memakamkannya di tanah ini. Sejak itu keluarga kami menjadi kaya raya. Sekali lagi, beribu-ribu terima kasih atas petunjuk Anda,” ujar Heping dengan tulus.
“Amituofo, Amituofo.” Tanpa disadari muncul seorang bhiksu tua di belakang mereka.
“Oh, Bhiksu Xinming (Hati dan Nasib), koq tumben datang ke sini,”
sapa Heping.
“Guru Waidao, Bhiksu Xinming ini datang di dusun ini tepat sehari sebelum pemakaman Ibu. Sedang Guru Waidao adalah guru fengshui yang telah berjasa besar pada keluarga kami,” demikian
Heping saling memperkenalkan kedua tokoh itu.
“Amituofo, Pinseng (anggota Sangha miskin, sebutan merendah
bagi diri sendiri) melihat adanya hubungan antara angin topan dengan tanah ini, pun dengan kulit beras dalam minuman,” ujar Xinming dengan perlahan tetapi mantap.
Keringat dingin mengucur di dahi Waidao, khususnya saat mendengar ucapan yang terakhir dari Xinming.
“Kulit beras yang ditaburkan oleh Nenek Shanliang bukan untuk
mempermainkan seseorang, melainkan berdasarkan cinta kasih dan ketulusan hati. Adalah tidak baik bagi orang yang kehausan untuk langsung meneguk air minum dengan rakus.
Menaburkan kulit beras adalah kebajikan yang dilakukan
oleh Nenek Shanliang agar orang yang kehausan itu tidak meneguk air minum dengan seketika yang dapat membahayakan kesehatan yang bersangkutan.” Xinming berkata sambil
menatap ke makam Shanliang.
“Menyerahkan keberuntungan dan bencana pada unsur di luar diri adalah waidao – jalan luar. Demikian pula mencari kebahagiaan dan pembebasan di luar diri sendiri, itu adalah waidao.
Waidao adalah mencari kekuatan di luar diri sendiri dan pasrah sepenuhnya pada kekuatan itu. Ini berbeda dengan Buddha Dharma yang mengajarkan pelatihan diri melepas kebodohan batin untuk mencapai kemurnian Nirvana,”
Xinming berucap dengan pandangan tak beralih dari makam. “Shizhu (donatur pelindung Dharma) bukan orang yang bodoh, pasti memahami ucapan Pinseng. Hanya ini yang bisa Pinseng katakan.
Pintu gubuk Pinseng senantiasa terbuka. Pinseng mohon diri.
Amituofo,” Xinming berlalu sambil mengumandangkan Xinming Ge (Lagu Hati dan Nasib).
Hati baik nasib juga baik, kaya dan berpangkat hingga tua.
Nasib baik hati tidak baik, keberuntungan berubah menjadi
bencana.
Hati baik nasib tidak baik, bencana berubah menjadi keberuntungan.
Hati dan nasib tidak baik, tertimpa bencana dan miskin.
Hati bisa merubah nasib, yang terpenting adalah memiliki hati belas kasih.
Nasib tercipta dari hati, kebahagiaan dan kemalangan disebabkan oleh manusia.
Percaya nasib tidak membina hati, siang dan malam tidak bisa
dipercaya.
Membina hati juga menerima nasib, langit dan bumi akan melindungi dengan sendirinya.
Heping yang tidak paham akan ucapan aneh Xinming hanya bisa
terpaku diam. Tetapi tidak demikian dengan Waidao. Memang benar Waidao bukan orang bodoh seperti yang dikatakan Xinming.
Ia kini paham sepenuhnya. Karma baik Nenek Shanlianglah yang menolong sanak keluarganya terbebas dari pembalasan Waidao.
Hukum alam yang jauh lebih dahsyat dari tatanan fengshui muncul berperan sebagai kondisi yang mematangkan buah karma baik Nenek Shanliang.
Setelah memahami makna di balik peristiwa ini, Waidao menjadi
sadar bahwa fengshui tak lebih hanya merupakan salah satu fasilitas dalam menciptakan kondisi matangnya buah
karma, fengshui bukan satu-satunya faktor penting yang menentukan hokkie seseorang, melainkan karma atau perbuatan kitalah yang sangat menentukan.
Nasib dan kebahagiaan kita, diri sendirilah yang menentukannya.
Waidao setengah berlari mengejar Xinming.

Dhammapada XXV, 21:
Sesungguhnya diri sendiri menjadi
tuan bagi diri sendiri. Diri sendiri adalah
pelindung bagi diri sendiri. Oleh karena
itu kendalikan dirimu sendiri, seperti
pedagang kuda menguasai kuda yang
baik

Kamis, 03 November 2016

  • Dana Kathina.
    Oleh YM. Bhante Sri Pannavaro.

    Kathina adalah dana kepada Sangha. Kathina bukan dana kepada pribadi bhikkhu. Tetapi dana yang harus dipersembahkan dengan pikiran dana kepada Sangha. Dhamma mengajarkan: "Tanah yang padat, lautan yang luas, gunung Mahemeru yang sangat tinggi karena waktu yang berjalan terus, karena ketidakkekalan, itupun bisa habis. Lautan bisa kering, gunung bisa hancur, tanah yang padat bisa berhamburan. Tetapi kebaikan yang kamu lakukan kepada Sangha, seratus ribu kalpa tidak akan musnah". Kalau berdana kepada Sangha sekarang ini dan Anda mempunyai Akusalakamma yang menunda, kamma baik itu tidak mungkin akan menjadi Ahosi. Kamma baik itu tidak mungkin lenyap, menjadi kadaluarsa. Meskipun nanti seribu kalpa, dana Anda kepada Sangha itu akan berbuah.

    Satu kalpa bumi ini terbentuk.....berlangsung....dan hancur kembali....demikian samapai 100.000 kali.

    Seratus ribu kalpa kebaikan yang dilakukan kepada Sangha tidak akan musnah. Apa sebab? Anda berdana kepada Sangha tidak mengenal favoritisme. Karena dana yang Anda tujukan kepada Sangha ini Anda tujukan kepada semua bhikkhu yang hadir ataupun yang tidak ikut hadir, yang sekarang ataupun yang akan datang.

    Demikianlah hakekat yang bisa kita petik dari setiap masa Kathina. Kita tidak ragu-ragu berdana, apa pun hendaknya kita rela memberi. Apalagi kalau kita mengerti hidup ini adalah anatta, tidak ada aku, tidak ada yang menjadi milikku, dan tidak aku yang bisa memiliki....semuanya adalah proses, pada saat kematian kita akan meninggalkan semuanya. Apa perlunya kita menyimpan terlalu banyak, kita hanya hidup secukupnya kemudian berikan semuanya untuk anak, keluarga, masyarakat dan yang lainnya. Kami para bhikkhupun sudah membuat perjanjian: "Besok kalau saya mati cukillah mata saya ini dan pakailah, kepada siapa yang membutuhkannya". Apakah Anda mau mengikuti jejak kami? Membuat pernyataan, 'kalau mati ambillah mata saya ini, berikan kepada mereka yang membutuhkannya'. Saya lebih rela mendanakan mata saya daripada mata orang lain. Kami siap mendanakan darah kami. Bahkan ada orang yang menyatakan atau membuat wasiat: "
    Kalau saya mati, jangan kuburkan saya, jangan bakar saya, saya mendanakan jasmani saya ini. Aapa pun yang bisa diambil, ambillah! Ginjal mau diambil...ambillah! Mata mau diambil....ambillah!" Betapa bahagianya orang yang berdana. Marilah kita bertekad meskipun tidak mampu, aku rela memberikan apapun kepada siapapun yang membutuhkannya". Sang Buddha mengatakan: "Apakah yang bisa diperoleh dari dana? Nama harum, wajah cantik, usia panjang, kekayaan, pangkat, kekuasaan, pengaruh, raja besar, menjadi dewa, kehidupan di Alam Brahma,, mencapai Arahat, Pacceka Buddha, Samma Sambuddha semuanya itu adalah manfaat dari Dana Punna, kekuatan baik, kekuatan bajik dari dana"> Jadilah orang yang bisa di contoh oleh masyarakat dalam berdana. Jangan remehkan perbuatan baik. Meskipun kecil, kebaikan adalah kebaikan. Jangan remehkan kebaikan. Seperti air yang menetes di tempayan, setetes demi setetes, akhirnya akan menjadi penuh.


  • Selamat berdana, memasuki masa Kathina dengan penuh kebahagiaan. Semoga mencapai kebebasan akan dana yang dilakukan dengan keyakinan kepada Tiratana. Dengan kekuatan kebaikan kita, semoga kita mencapai kebahagiaan.

Filosofi gula dan kopi

*Filosofi Gula & Kopi* ☕

Kasus 1
Jika kopi terlalu pahit
Siapa yg salah?

Gula lah yg disalahkan krn terlalu sedikit hingga "rasa" kopi pahit

Kasus 2
Jika kopi terlalu manis
Siapa yg disalahkan?

Gula lagi krn terlalu bnyk hingga "Rasa" kopi manis

Kasus 3
Jika takaran kopi & gula balance
Siapa yg di puji...? Tentu semua akan berkata...
Kopinya muaaantaaap

Kemana gula yg mempunyai andil
Membuat "rasa" kopi menjadi mantaaap

Mari Ikhlas seperti Gula yg larut tak terlihat tapi sangat bermakna.

Gula PASIR memberi RASA MANIS pd KOPI, tapi org MENYEBUTnya KOPI MANIS... bukan KOPI GULA... Gula PASIR memberi RASA MANIS pd TEH, tapi org MENYEBUTnya TEH MANIS... bukan TEH GULA... ORG menyebut ROTI MANIS... bukan ROTI GULA... ORG menyebut SYRUP Pandan, Syrup APEL, Syrup JAMBU.... padahal BAHAN DASARnya GULA....
Tapi GULA tetap IKHLAS LARUT dlm memberi RASA MANIS... akan tetapi apabila berhubungan dgn Penyakit, barulah GULA disebut..PENYAKIT GULA
BEGITUlah HIDUP.... Kadang KEBAIKAN yg Kita TANAM tak pernah diSEBUT Orang....
Tapi kesalahan akan dibesar2kan... IKHLASlah seperti GULA...
LARUTlah seperti GULA... Tetap SEMANGAT memberi KEBAIKAN...!!!!
Tetap SEMANGAT menyebar KEBAIKAN..!!! Karena KEBAIKAN tdk UNTUK DISEBUT... tapi utk DIRASAkan..." 👍👍👍``` *"Kebaikan yg engkau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi tetaplah berbuat baik



Senin, 17 Oktober 2016

Hanya memberi

RENUNGAN:
"Hanya Memberi"
👉 Banyak cara orang bisa memberi, jika orang mau memberi; diantaranya memberi itu berupa pandangan atau pemikiran, tenaga, waktu mau pun materinya.
👉 Namun yang terpenting dalam memberi adalah, orang melalukan hanya untuk memberi; bukan karena apa, dan bukan berharap dapat apa.
👉 Hanya memberi berarti ketulusan, bagaikan sifat bulan; yang selalu memberi cahaya terang, tanpa berharap imbalan.
👍 Memberi dengan tulus benih kedamaian.
👍 Memberi berarti mendapatkan kesempatan.
👍 Memberi itu memproses milik sementara menjadi milik yang sebenarnya.
👍 Memberi adalah sebab kemakmuran dan kebahagiaan.


Kemuliaan terlahir sebagai manusia

Kemuliaan Terlahir sebagai Manusia :

1. Bersyukurlah bahwa sangat sulit terlahir sebagai manusia;
Ada begitu banyak mahkluk hidup (manusia, hewan/binatang, dsb) yang ada di bumi ini, namun kita dapat terlahirkan sebagai manusia.
Jika dapat diumpamakan, peluang terlahir sebagai manusia bagaikan jumlah debu yang kita ambil dengan kedua ujung jari tangan kita, sedangkan peluang tidak terlahir sebagai manusia bagaikan jumlah debu yang ada di bumi ini.
Meskipun jumlah manusia cukup banyak, namun jumlah makhluk hidup lainnya (hewan/binatang/dsb) sangatlah jauh lebih banyak lagi).


2. Bersyukurlah bahwa kita masih bertahan hidup sampai saat ini;
Banyak yang tidak memiliki keberuntungan ini. Ada yang sudah meninggal saat didalam kandungan, saat lahir, baru balita, remaja, dewasa, baik terkena penyakit, bencana atau musibah.

3. Bersyukurlah bahwa kita lahir di negara yang aman, damai dan cukup sandang pangan.
Banyak yang tidak memiliki keberuntungan ini misalnya lahir di negara yang sedang perang, atau terkena musibah kelaparan, dsb.


4. Bersyukurlah bahwa kita lahir umumnya dengan keadaan indra yang lengkap; Setidaknya mata bisa melihat, telinga bisa mendengar, pikiran untuk membedakan yang baik dan yang tidak baik, yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.

Renungkan dan sadarilah Kemuliaan Terlahir sebagai Manusia ini.
Kehidupan manusia pun bagaikan embun yang sangat cepat berlalu (Kehidupan kita hanyalah sementara, kematian kapan saja dapat datang menjemput). Pergunakanlah sisa waktu kita yang begitu berharga menjadi manusia ini untuk kebaikan, kebahagiaan dan kedamaian manusia (dan seluruh makhluk hidup) lainnya.
Inilah praktik menjadi Manusia Seutuhnya.

Terima kasih telah berbuat baik dengan share renungan ini. 😊