Translate

Jumat, 09 September 2016

Win or Lose

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa 3 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri,sebab memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Jack. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Jack-lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Jack bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan.

Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 3 mobil, dengan 3 pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 3 jalur terpisah di antaranya. Namun, sesaat kemudian, Jack meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa.

Matanya terpejam, dengan tangan bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!". Dor!!! Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil tu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing.

"Ayo..ayo... cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak mereka. Ahha...sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai.

Dan...

Jack-lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Jack. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Terima kasih."

Saat pembagian piala tiba. Jack maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya.

"Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?"

Jack terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Jack.

Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan orang lain, aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah."

Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.

Teman, anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua. Jack, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian. Jack, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya.

Namun, Jack, bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga. Jadi, teman, berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian. Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi ujian tersebut.

Semoga Semua Makluk Hidup Berbahagia _/|\_


Keistimewaan Pratimoksa samvara di bandingkan dengan 2 jenis disiplin lainnya

Keistimewaan Prātimokṣa Saṃvara dibandingkan dua jenis disiplin lainnya (lihat Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 [T. vol. 23, № 1440 hlm. 507c]):
 
 
• DARI SEGI WAKTU
 若佛出世,得有此戒。禪戒、無漏戒,一切時有。
 Prātimokṣa Saṃvara hanya ada sewaktu munculnya seorang Samyak-saṃbuddha yang menetapkannya, sehingga lebih langka dan tidak terdapat setiap saat sebagaimana halnya Anāsrava Saṃvara (yang selalu dimiliki para anāgāmin di Alam Śuddhāvāsa, misalnya) dan Dhyānaja Saṃvara (di antara dewa-dewa di Rūpadhātu) .
 
• DARI RUANG LINGKUP
 於一切眾生、非眾生類,得波羅提木叉戒。禪戒、無漏戒,但於眾生上得。
 Penerapan Prātimokṣa Saṃvara lebih lebar cakupannya: terhadap objek hidup maupun objek tak-hidup. Sedangkan cakupan kedua jenis disiplin lainnya hanya terhadap objek hidup.
 Dhyānaja dan Anāsrava Saṃvara hanya mampu mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan yang bersifat alami/yang bertentangan dengan norma kesusilaan universal. Prātimokṣa Saṃvara, di samping mampu mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan yang bertentangan dengan norma kesusilaan universal (prakṛti sāvadya, misalnya: pembunuhan, pencurian, perzinahan, dan kedustaan), juga yang bertentangan dengan norma-norma khusus yang ditetapkan Buddha (prajñapti sāvadya, misalnya: minum minuman keras dan aturan puasa).
 
• DARI SEGI BATIN
 於一切眾生上慈心,得波羅提木叉戒。禪戒、無漏戒,不以慈心得也。
 Prātimokṣa Saṃvara terbentuk melalui paravijñapana, dengan batin yang diliputi cinta kasih terhadap semua makhluk. Dua jenis disiplin lainnya terbentuk tidak melalui paravijñapana, tanpa batin yang diliputi cinta kasih, melainkan hanya dengan Pengetahuan yang diperoleh dari konsentrasi meditasi.
 Seseorang yang melaksanakan Prātimokṣa Saṃvara berarti telah melakukan dāna yang besar kepada semua makhluk (misalnya: dengan tidak membunuh, ia telah memberikan rasa aman kepada semua makhluk sehingga semua mahluk tidak merasa terancam nyawanya, dsb.). Karena diambil dengan dilandasi cinta kasih, Prātimokṣa Saṃvara dapat menjadi sebab, bahkan, untuk meraih Kebuddhaan.
 
• DARI FUNGSINYA
 夫能維持佛法,有七眾在世間,三乘道果,相續不斷,盡以波羅提木叉為根本。禪、無漏戒不爾。
 Ketujuh kelompok siswa-siswi Buddhis ada karena terdapatnya Prātimokṣa Saṃvara. Berkat kesinambungan penerimaan Prātimokṣa Saṃvara, praktek ketiga Kendaraan masih terlaksana hingga hari ini dan, dengan demikian, masih terbukalah kemungkinan realisasi Jalan dan Buah. Fungsi Prātimokṣa Saṃvara dalam menjaga kelestarian Buddhadharma ini tidak dimiliki oleh dua jenis disiplin lainnya.
 
• DARI PENERIMANYA
 波羅提木叉戒,但佛、佛弟子有。禪戒,外道俱有。
 Prātimokṣa Saṃvara hanya dimiliki oleh Buddha dan siswa-siswi-Nya. Sedangkan Dhyānaja Saṃvara dapat pula dimiliki oleh non-Buddhis. (Non-Buddhis, yang berada di luar Buddhadharma, tidak mungkin memiliki Anāsrava Saṃvara.)


Aneh Tapi Nyata

YANG ANEH TAPI NYATA...
A. Disaat sebagian orang bersenang merayakan ulang tahun, mereka bahagia karena umurnya bertambah satu, padahal seharusnya mereka merenungkan kalau usia mereka makin berkurang dan tubuhnya semakin rapuh.
B. Disaat sebagian orang menangis karena terlarut dalam dukkha akibat penyakit yang diderita, seharusnya ia merenung untuk menghargai kesehatan dan berjuang dalam hidup yang singkat.
C. Disaat berjaya orang cenderung lupa diri dengan bablas bersenang-senang memuaskan inderanya berlebihan, Dimana ia lupa berbuat baik guna menolong sesama dan bahkan menolong dirinya sendiri sekalipun.
D. Disaat sulit malah meratapi deritanya. "Tuhan, mengapa kau berikan kesulitan ini?" Begitu katanya, bukannya "Apa yang kurang dari diriku sehingga aku terhambat dalam jalan kehidupan & kebenaran yang kuarungi?"
E. Disaat ada yang meninggal, mereka malah meratapi kematian dan berkata "Turut berdukkha cita" tapi sedikit yang saling mengingatkan dengan berkata "Segala yang berkondisi tidak kekal" atau mengapa tidak ada yang berkata "Selamat menempuh hidup baru"? Kan sudah pindah alam :v
F. Disaat satu anak lahir, semua bersuka cita, hanya segelintir orang yang berpikir "Satu belenggu derita telah muncul, cepat atau lambat anak ini akan terkena derita".
G. Disaat yang lain merasa bingung, yang bijaksana membaca sambil tersenyum atau bahkan ngangguk-ngangguk. Dalam benaknya mereka berkata "Inilah kenyataannya" atau "Inilah yang harus dilakukan".
Selamat malam semua, mimpi indah ^^
Semoga semua mahluk berbahagia


Rabu, 07 September 2016

3 alasan utama yang membuat hidup penuh Berkah

Ada tiga alasan utama yang membuat hidup kita penuh berkah yaitu :
1. Terlahir sebagai manusia
Kelahiran di alam manusia merupakan suatu berkah. Buddha menyatakan bahwa sungguh sulit bagi sesosok makhluk untuk dapat terlahir sebagai manusia. Buddha membandingkan jumlah manusia bagai sedikit pasir yang tercolek di ujung kuku, sedangkan yang terlahir bukan sebagai manusia sebanyak pasir di atas bumi. Dengan demikian kesempatan untuk terlahir sebagai manusia itu sangat lah kecil, oleh karena itu syukurilah kesempatan lahir sebagai manusia dan gunakan kesempatan ini dengan baik.
2. Lahir pada saat ajaran Buddha masih ada
Kemunculan seorang Buddha juga sangat langka. Jadi, jika sekarang kita hidup pada saat ajaran Buddhamasih ada berarti kita telah beruntung. Coba bayangkan, jika kita hidup pada zaman dimana orang tidak mengenal ajaran kebenaran, kita bias menemukan orang-orang saling membunuh, perang dimana-mana, dan perbuatan jahat merajalela. Kehidupan seperti itu tentu sangat tidak menyenangkan. Oleh karena itu, kita sungguh sangat bahaia dapat lahir pada saat ajaran kebenaran masih ada. Untuk itu jangan sia-siakan kesempatan ini.
3. Bisa belajar dan praktik Dharma
Terlahir sebagai manusia di zaman masih ada ajaran Buddha sungguh merupakan suatu berkah, namun berkah terbesar adalah bias belajar dan praktik Dharma. Dharma hanya akan menjadi berkah jika dipraktikkan. Dharma tidak berarti apa-apa kalau hanya tercetak rapi dibuku-bukudan kitab-kitab suci. Coba bayangkan, di antara begitu banyak makhluk di alam semesta kita terlahir di alam manusia, di antara semua manusia kita mengenal Dharma. Betapa beruntungnya kita ini. Tapi sebaliknya akan menjadi sayang sekali kalau kita tidak berusaha belajar dan praktik Dharma. Oleh sebab itu, jangan sia-sia kan waktu dan hidup kita. Kehidupan ini harus kita isi dengan perbuatan-perbuatan baik yang membawa manfaat bagi diri kita, orang tua kita, dan semua makhluk.
Kita tidak boleh menganggap remeh kehidupan ini, tidak berusaha menyadari arti kehidupan ini. Ciri orang yang menghargai hidupnya adalah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk belajar dan melakukan hal yang benar dan bermanfaat. Hidup sebagai manusia sangatlah berharga, karena ini adalah titik tolak bagi keberadaan kita, untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk. Setelah menyadari apa yang menjadi kesalahan atau kekurangan kita, kita harus berusaha mengubahnya.


Senin, 29 Agustus 2016

Jadilah Pelita

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.

Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.”
Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.”
Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta.
Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!”
Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.
Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta.
Kali ini si buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!”
Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!”
Si buta tertegun..
Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.”
Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.”
Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.
Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita.
Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “Maaf, apakah pelita saya padam?”
Penabraknya menjawab, “Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama.”
Senyap sejenak.
secara berbarengan mereka bertanya, “Apakah Anda orang buta?”
Secara serempak pun mereka menjawab, “Iya.,” sembari meledak dalam tawa.
Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.
Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta.
Timbul pikiran dalam benak orang ini, “Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka.”
Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).
Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan “pulang”, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.
Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk “membuta” walaupun mereka bisa melihat.
Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.
Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.
Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.
Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.
Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.
Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Pkiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.

Penjara Pikiran

Penjara Pikiran

Seekor belalang lama terkurung dalam satu kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya, dengan gembira dia melompat-lompat menikmati kebebasannya.
Di perjalanan dia bertemu dengan belalang lain, namun dia heran mengapa belalang itu bisa lompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.
Dengan penasaran dia bertanya,
“Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh dariku,padahal kita tidak jauh berbeda dari usia maupun ukuran tubuh?” Belalang itu menjawabnya dengan pertanyaan,
“Dimanakah kau tinggal selama ini? Semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan.”
Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang telah membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.
Sering kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang tersebut. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan beruntun, perkataan teman,tradisi, dan semua itu membuat kita terpenjara dalam kotak semu yang mementahkan potensi kita.
Sering kita mempercayai mentah-mentah apa yang mereka voniskan kepada kita tanpa berpikir dalam bahwa apakah hal itu benar adanya atau benarkah kita selemah itu? Lebih parah lagi, kita acap kali lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.
Tahukah Anda bahwa gajah yang sangat kuat bisa diikat hanya dgn tali yang terikat pada pancang kecil? Gajah sudah akan merasa dirinya tidak bisa bebas jika ada “sesuatu” yang mengikat kaki nya, padahal “sesuatu” itu bisa jadi hanya seutas tali kecil…
Sebagai manusia kita mampu untuk berjuang, tidak menyerah begitu saja kepada apa yang kita alami. Karena itu, teruslah berusaha mencapai segala aspirasi positif yang ingin kita capai. Sakit memang, lelah memang,tapi jika kita sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar. Pada dasarnya, kehidupan kita akan lebih baik kalau kita hidup dengan cara hidup pilihan kita sendiri, bukan dengan cara yang di pilihkan orang lain untuk kita.



Sabtu, 20 Agustus 2016

Jatuh Cinta & Membangun Cinta

"JATUH CINTA & MEMBANGUN CINTA"

Mengapa sepasang insan menikah?
Krn mereka jatuh cinta.

Apakah yg menyebabkan rumah tangga mereka bahagia di kemudian hari?
Krn mereka terus membangun cinta.

Jatuh cinta itu gampang, sebentar saja bisa terjadi. Tapi membangun cinta itu susah, perlu waktu seumur hidup.

Mengapa jatuh cinta gampang?
Krn saat itu mereka buta terhadap keburukan2 pasangannya.

Tapi setelah memasuki pernikahan, tak ada lagi yg bisa ditutupi.
Di dlm menjalani kehidupan bersama, semua belang akan tersingkap...

Inilah letak perbedaan antara jatuh cinta & membangun cinta: jatuh cinta terjadi dlm keadaan menyukai. Namun membangun cinta diperlukan dlm keadaan jengkel, dlm situasi apapun...

Dlm keadaan spt itu, cinta bukan lagi berbentuk pelukan, melainkan berwujud sebagai pengertian dan beritikad baik utk menyelesaikan konflik & ber-sama2 mencari solusi yg berlandaskan kasih & firman TUHAN.

Jgn mencari kesalahan, melainkan carilah pemecahan.
Cinta yg dewasa tdk menyimpan uneg2, walaupun ada beberapa hal peka yg harus bisa dibicarakan, antara lain: masalah keuangan, orangtua dan keluarga atau masalah seks. Namun sepeka apapun masalahnya, itu perlu dibicarakan agar kejengkelan jgn sampai terus berlarut.

Syarat utk berhasilnya pembicaraan adalah masing2 harus bisa saling menjaga perasaan pasangannya.

Jika masing2 hanya mementingkan perasaannya sendiri, mereka akan saling melukai. Dan jika hal ini dibiarkan terjadi, mereka akan saling memusuhi dan rumah tangga sudah bukan lagi spt surga melainkan berubah mjd spt neraka.

Apakah kondisi ini bisa diperbaiki? Tentu saja bisa!

Saat masing2 mengingat komitmen awal mereka dulu, apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup? Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah bermusuhan?

Mencari pasangan hidup memang dimulai dgn jatuh cinta. Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta.

Cinta yg dewasa adalah cinta yg bisa saling menghargai, memahami, mengalah, mendukung, mengoreksi, mendengar, menerima, setia, bertenggang rasa & bertanggung jawab.