“ Orang yang tinggi moralnya tidak menunjukkan dirinya bermoral Maka dia sungguh orang yang bermoral Orang yang rendah moralnya berlagak menunjukkan dirinya bermoral Sebenarnya dia bukanlah orang yang bermoral Orang yang tinggi kebajikannya berperilaku wu wei ( tidak melakukan apa2) Namun, tidak ada pekerjaan yang tidak dia lakukan Bila orang yang rendah kebajikannya bekerja mau menunjukkan dia adalah orang yang banyak bekerja
Orang yang bekerja untuk tujuan kemanusiaan tidak punya tujuan untuk kepentingan pribadi di belakangnya Orang yang gigih membela keadilan bisa dikaitkan dengan maksud tujuan tertentu di belakannya Bila orang yang kental etikanya bila menyapa tidak dibalas dia akan marah dan menuding orang itu tidak punya etika
Maka orang yang Kehilangan Dao selanjutnya De (moral) bisa diabaikan Bila kehilangan De bisa tidak punya rasa kemanusiaan Kehilangan rasa kemanusiaan keadilan bisa disingkirkan Kehilangan keadilan orang tidak percaya lagi pada etika Orang yang suka berlagak punya etika adalah orang yang tidak bisa dipercaya kesetiaannya Ini adalah sumber utama terjadinya kekacauan sosial
Merasa diri punya kemampuan meramal yang akan datang adalah sengaja menghias Dao dengan bunga-bunga Ini adalah awal kebodohan manusia
Laki-laki sejati hanya utamakan inti, bukan kulit Dia hanya mau menyajikan buahnya, bukan bunganya Maka dia tolak yang itu dan ambil yang ini “
Maksud Orang yang tinggi kebajikannya seolah-olah tidak melakukan apa-apa. Namun, sebenarnya dia melakukan banyak pekerjaan yang bermanfaat untuk masyarakat tanpa bicara. Karena tidak pernah menonjolkan diri, ia tidak populer. Sebaliknya, orang yang rendah kebajikannya, setelah melakukan sedikit pekerjaan saja, sudah merasa telah banyak bekerja. Padahal, ia tidak pernah melakukan pekerjaan yang berarti.
Kejujuran dan kesetiaan orang yang “kental etika”nya tidak bisa dipercaya, karena apa yang diperlihatkannya bukanlah isi hati yang sesungguhnya. Semua hanya pura-pura dan basa basi.
Hari ini kejam, besok akan lebih kejam.. Besok lusa akan lebih indah. Banyak orang mati, besok petang, sehingga tidak melihat matahari terbit..Terus melangkah, Jangan menyerah.. Yakin Esok lusa Semua akan indah :)
Translate
Senin, 21 Maret 2016
Seorang biksu dengan pakaian dekil datang memohon sumbangan ke rumah seorang saudagar kaya.
Saudagar kaya itu merasa sebal dengan penampilan si biksu dan mengusirnya pergi dengan kata-kata kasar.
Beberapa hari kemudian seorang biksu besar datang dengan jubah keagamaan yang mewah dan berkilauan, memohon sedekah ke saudagar kaya tersebut.
Si saudagar kaya segera menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan makanan (vegetarian tentunya) mewah untuk si biksu.
Lalu ia mengajak si biksu untuk menikmati makanannya.Si biksu menanggalkan jubah keagamaannya yang mewah, melipatnya dengan rapi dan meletakkannya di atas kursi meja makan.
Katanya, 'kemarin aku datang dengan pakaian usang dan anda mengusirku. Hari ini aku datang dengan pakaian mewah, dan anda menjamuku.
Tentunya makanan ini bukan untukku tapi untuk jubah ini'. Setelah berkata demikian si biksu berlalu meninggalkan si saudagar yang kaget.
Kemudian biksu itu menyatakan : "Kalau ternyata bukan diriku,melainkan pakaianku yg dihormati, mengapa aku mesti senang...???Dan kalau ternyata bukan diriku,melainkan apa yg kupakai yg dihina , mengapa aku mesti sedih...??"
Demikianlah manusia ,lebih sering menghormati yg melekat pada diri orang, seperti - apa yg dipakai atau - pakaian yg dipakai atau - kekayaan atau - jabatan seseorang,BUKAN PRIBADI keberadaan orang itu sendiri.
Maka...Jika engkau dihormati orang,j angan bangga diri...Dan jika engkau tidak dihormati, jangan kecewa & bersedih diri ,sebab.... Engkau tetap sebuah harga.
Siapapun yg merendahkan kamu saat ini... Jangan Membuat kamu Runtuh, Bangkit & Tetap Teguh & Tetaplah Berpikir Positive !!
Saudagar kaya itu merasa sebal dengan penampilan si biksu dan mengusirnya pergi dengan kata-kata kasar.
Beberapa hari kemudian seorang biksu besar datang dengan jubah keagamaan yang mewah dan berkilauan, memohon sedekah ke saudagar kaya tersebut.
Si saudagar kaya segera menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan makanan (vegetarian tentunya) mewah untuk si biksu.
Lalu ia mengajak si biksu untuk menikmati makanannya.Si biksu menanggalkan jubah keagamaannya yang mewah, melipatnya dengan rapi dan meletakkannya di atas kursi meja makan.
Katanya, 'kemarin aku datang dengan pakaian usang dan anda mengusirku. Hari ini aku datang dengan pakaian mewah, dan anda menjamuku.
Tentunya makanan ini bukan untukku tapi untuk jubah ini'. Setelah berkata demikian si biksu berlalu meninggalkan si saudagar yang kaget.
Kemudian biksu itu menyatakan : "Kalau ternyata bukan diriku,melainkan pakaianku yg dihormati, mengapa aku mesti senang...???Dan kalau ternyata bukan diriku,melainkan apa yg kupakai yg dihina , mengapa aku mesti sedih...??"
Demikianlah manusia ,lebih sering menghormati yg melekat pada diri orang, seperti - apa yg dipakai atau - pakaian yg dipakai atau - kekayaan atau - jabatan seseorang,BUKAN PRIBADI keberadaan orang itu sendiri.
Maka...Jika engkau dihormati orang,j angan bangga diri...Dan jika engkau tidak dihormati, jangan kecewa & bersedih diri ,sebab.... Engkau tetap sebuah harga.
Siapapun yg merendahkan kamu saat ini... Jangan Membuat kamu Runtuh, Bangkit & Tetap Teguh & Tetaplah Berpikir Positive !!
Menjadikan Tubuh Kita Bermanfaat
Namo Buddhaya
Menjadikan Tubuh Kita Bermanfaat
Kita datang ke dunia dengan kepolosan. Setelah puluhan tahun bekerja keras, kita tidak dapat membawa apa pun bersama kita. Kehidupan itu sederhana saja; kita datang dan pergi dengan tangan kosong.
Keluyuran setiap hari akan mengubah kita menjadi penikmat kehidupan. Hanya dengan giat bekerja, kita akan dapat menjadi pencipta kehidupan. °
Kita menyia-nyiakan kehidupan kita apabila kita hidup dengan bermalas-malasan. Kita dapat membuat kehidupan jauh lebih nyaman dengan menjadi baik dan gemar menolong sesama.
Selagi Anda mampu, jadikanlah tubuh Anda bermanfaat untuk membantu sesama, menyebarkan ajaran Buddha, dan membimbing orang lain menuju kebajikan.
Sumber: Sanubari Teduh Jilid Dua (Still Thoughts, Volume Two)
By: Master Cheng Yen
Menjadikan Tubuh Kita Bermanfaat
Kita datang ke dunia dengan kepolosan. Setelah puluhan tahun bekerja keras, kita tidak dapat membawa apa pun bersama kita. Kehidupan itu sederhana saja; kita datang dan pergi dengan tangan kosong.
Keluyuran setiap hari akan mengubah kita menjadi penikmat kehidupan. Hanya dengan giat bekerja, kita akan dapat menjadi pencipta kehidupan. °
Kita menyia-nyiakan kehidupan kita apabila kita hidup dengan bermalas-malasan. Kita dapat membuat kehidupan jauh lebih nyaman dengan menjadi baik dan gemar menolong sesama.
Selagi Anda mampu, jadikanlah tubuh Anda bermanfaat untuk membantu sesama, menyebarkan ajaran Buddha, dan membimbing orang lain menuju kebajikan.
Sumber: Sanubari Teduh Jilid Dua (Still Thoughts, Volume Two)
By: Master Cheng Yen
Legowo itu wajar (Melepas yang bukan milik)
LEGOWO ITU WAJAR
(MELEPAS YANG BUKAN MILIK)
-
Ada salah satu nasihat Sang Buddha. 'Apapun yang bukan milikmu, maka lepaskanlah.' -
Ajaran ini sering juga dianalogikan seperti air yang tidak bisa digenggam. Dalam bahasa Jawa, ketidakbisaan digenggam ini disebut 'mrucut'. °
Air sebanyak apapun bisa kita tadah dengan kedua telapak tangan, namun segera saja air itu mengalir keluar melalui sela-sela tangan kita dan akhirnya menjadi tak tersisa. °
Sama halnya dengan apa yang kita alami. Semuanya hanya datang dan pergi. Bertemu dan berpisah. Hanya lewat sesuai dengan keadaan alaminya masing-masing.
Jika dihubungkan dengan kepemilikan, maka kita sebenarnya tidak pernah memiliki apa-apa. Apa yang dianggap milik itu juga numpang lewat. Tanpa ada perkecualian.
Kita suka melekati sesuatu yang bukan milik itu. Sesuatu yang numpang lewat dijadikan obyek kemelekatan. Hasilnya tentu saja penderitaan. Suka atau tidak suka, apa yang kita jumpai itu akan pergi.
Dalam falsafah Jawa, kata 'legowo' menjadi kata kunci. Legowo artinya lego ing nyowo atau lega dalam bathin. °
Sifat bathin yang lega artinya memahami adanya sifat kesementaraan, karena itu tidak perlu digenggam dan dijadikan masalah ketika tiba waktunya pergi. °
Setiap keadaan selalu akan tiba waktu kadaluarsanya. Tidak ada hal yang perlu didramatisir, karena hal itu hanya fenomena biasa yang alami.
Umumnya orang beranggapan bahwa jika melepas itu akan kehilangan. Atau ada yang mempertanyakan seperti ini: 'Jika semuanya dilepas, lalu apa yang kita dapatkan?'
-
Jika kita cermati dengan baik, maka kita akan paham bahwa sejak awal kita tidak bisa memiliki apapun. Jika memang tidak memiliki, maka tentu menjadi pertanyaan yang lebih mendalam: 'Lalu apa yang sesungguhnya kita lepas?'
Nasihat Sang Buddha agar melepas apa yang bukan milik, artinya adalah melepas anggapan/asumsi kepemilikan kita.
Bendanya atau sesuatu yang kita inginkan/sukai itu sudah berubah, sudah pergi. Namun kita masih menganggapnya berada 'disini'. Kita melekati sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Lebih tepatnya, kita mengada-ngada dalam memiliki sesuatu.
Melepas bukanlah melepas sesuatu, tetapi lebih pada melepas anggapan kita yang sudah tidak sesuai dengan keadaan.
Pelepasan seperti ini juga berarti kita kembali pada keadaan alami kita sendiri (natural state). Pelepasan adalah fase untuk menyadari pada titik awal bahwa pada hakikatnya kita tidak memiliki sesuatu apapun, maka melepas anggapan kepemilikan itu sudah merupakan hal yang wajar.
(MELEPAS YANG BUKAN MILIK)
-
Ada salah satu nasihat Sang Buddha. 'Apapun yang bukan milikmu, maka lepaskanlah.' -
Ajaran ini sering juga dianalogikan seperti air yang tidak bisa digenggam. Dalam bahasa Jawa, ketidakbisaan digenggam ini disebut 'mrucut'. °
Air sebanyak apapun bisa kita tadah dengan kedua telapak tangan, namun segera saja air itu mengalir keluar melalui sela-sela tangan kita dan akhirnya menjadi tak tersisa. °
Sama halnya dengan apa yang kita alami. Semuanya hanya datang dan pergi. Bertemu dan berpisah. Hanya lewat sesuai dengan keadaan alaminya masing-masing.
Jika dihubungkan dengan kepemilikan, maka kita sebenarnya tidak pernah memiliki apa-apa. Apa yang dianggap milik itu juga numpang lewat. Tanpa ada perkecualian.
Kita suka melekati sesuatu yang bukan milik itu. Sesuatu yang numpang lewat dijadikan obyek kemelekatan. Hasilnya tentu saja penderitaan. Suka atau tidak suka, apa yang kita jumpai itu akan pergi.
Dalam falsafah Jawa, kata 'legowo' menjadi kata kunci. Legowo artinya lego ing nyowo atau lega dalam bathin. °
Sifat bathin yang lega artinya memahami adanya sifat kesementaraan, karena itu tidak perlu digenggam dan dijadikan masalah ketika tiba waktunya pergi. °
Setiap keadaan selalu akan tiba waktu kadaluarsanya. Tidak ada hal yang perlu didramatisir, karena hal itu hanya fenomena biasa yang alami.
Umumnya orang beranggapan bahwa jika melepas itu akan kehilangan. Atau ada yang mempertanyakan seperti ini: 'Jika semuanya dilepas, lalu apa yang kita dapatkan?'
-
Jika kita cermati dengan baik, maka kita akan paham bahwa sejak awal kita tidak bisa memiliki apapun. Jika memang tidak memiliki, maka tentu menjadi pertanyaan yang lebih mendalam: 'Lalu apa yang sesungguhnya kita lepas?'
Nasihat Sang Buddha agar melepas apa yang bukan milik, artinya adalah melepas anggapan/asumsi kepemilikan kita.
Bendanya atau sesuatu yang kita inginkan/sukai itu sudah berubah, sudah pergi. Namun kita masih menganggapnya berada 'disini'. Kita melekati sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Lebih tepatnya, kita mengada-ngada dalam memiliki sesuatu.
Melepas bukanlah melepas sesuatu, tetapi lebih pada melepas anggapan kita yang sudah tidak sesuai dengan keadaan.
Pelepasan seperti ini juga berarti kita kembali pada keadaan alami kita sendiri (natural state). Pelepasan adalah fase untuk menyadari pada titik awal bahwa pada hakikatnya kita tidak memiliki sesuatu apapun, maka melepas anggapan kepemilikan itu sudah merupakan hal yang wajar.
Jika anda memahami bahwa kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kesalahan, semuanya ada di dalam diri Anda, Anda tidak perlu lagi mencarinya ke mana-mana. °
Anda cukup memperhatikan di mana mereka muncul. Jika tidak, ibarat kehilangan sesuatu benda di suatu tempat dan mencarinya di tempat lain. °
Jika anda kehilangan benda di sini, Anda harus mencarinya di sini pula. Walaupun Anda tidak menemukannya pada pertama kali, tetaplah mencari di tempat Anda menjatuhkannya. Akan tetapi, biasanya, jika Anda kehilangan di sini, Anda akan mencarinya di sana. °
Kapankah Anda akan menemukannya? Perbuatan baik dan jahat ada di dalam diri Anda.
Suatu ketika, Anda akan melihatnya. Waspadalah. -
AjahnChah
Anda cukup memperhatikan di mana mereka muncul. Jika tidak, ibarat kehilangan sesuatu benda di suatu tempat dan mencarinya di tempat lain. °
Jika anda kehilangan benda di sini, Anda harus mencarinya di sini pula. Walaupun Anda tidak menemukannya pada pertama kali, tetaplah mencari di tempat Anda menjatuhkannya. Akan tetapi, biasanya, jika Anda kehilangan di sini, Anda akan mencarinya di sana. °
Kapankah Anda akan menemukannya? Perbuatan baik dan jahat ada di dalam diri Anda.
Suatu ketika, Anda akan melihatnya. Waspadalah. -
AjahnChah
Sebuah Renungan ...
Besi itu kuat, tapi api dapat melelehkannya.
Api itu kuat, tapi air mampu memadamkan nya.
Air itu kuat, tapi matahari bisa menghilangkannya,
Matahari itu kuat, tapi awan bisa menghalanginya.
Klo
Awan itu kuat, tapi angin mampu memindahkannya.
Angin itu kuat, tapi manusia mampu mengontrol dengan layarnya.
Manusia itu kuat, tapi dosa & nafsu duniawi dapat melemahkannya.
Dosa itu kuat, tapi keyakinan bisa mengatasinya.
-
✔ YANG TERKUAT Adalah KEYAKINAN, AMAL KEBAIKAN, Karena TAK AKAN HILANG SETELAH KEMATIAN.
-
Dan yg paling Indah dalam Hidup ini:
- Saat kita pergi ada yang mendoakan...
° - Saat kita jauh ada yang merindukan.
° - Saat kita sedih ada yang membuat kita senang.
° - Saat kita ketemu ada senyum yang Indah.
° -Tapi yang Terindah dari segalanya adalah....senantiasa bersyukur.
Semoga dimudahkan dalam segala hal yang baik dan berbahagia selalu
Jumat, 19 Februari 2016
Inti Kemurahan Hati Sejati
Inti kemurahan hati sejati adalah memberi sesuatu tanpa mengharapkan apa pun sebagai imbalan pemberian itu.
Jika seseorang mengharapkan keuntungan material timbul dari pemberiannya, ia hanya melakukan barter, bukan kemurahan hati.
Orang yang murah hati tidak membuat orang lain merasa berhutang padanya atau menggunakan kemurahan hati untuk menguasai mereka.
Ia bahkan tidak mengharapkan orang lain berterima kasih, karena kebanyakan orang itu pelupa dan bukan tidak tahu terima kasih.
Tindakan kemurahan hati sejati itu bermanfaat, tidak melekat, dan tidak mewajibkan apa pun dari pemberi dan penerima.
Saat memberi, seseorang sebaiknya tidak melakukan kemurahan hati sebagai tindakan fisiknya saja, tetapi dengan hati dan pikirannya juga. Harus ada kegembiraan dalam setiap tindakan memberi.
Bagi umat Buddha, pemberian tertinggi dari segala pemberian adalah pemberian Dhamma. Pemberian ini memiliki kekuatan besar untuk mengubah kehidupan.
Ketika seseorang menerima Dhamma dengan pikiran yang murni dan mempraktikkan kebenaran dengan sungguh-sungguh, ia tak mungkin gagal berubah. Ia akan mengalami kebahagiaan, kedamaian, dan kegembiraan yang lebih besar dalam pikirannya.
Jika ia sebelumnya kejam, ia menjadi penuh belas kasih, jika ia sebelumnya pendendam, ia menjadi pemaaf.
Melalui Dhamma, orang yang penuh kebencian menjadi welas asih, orang tamak menjadi lebih murah hati, dan orang yang gelisah menjadi tenteram.
Jika seseorang telah merasakan Dhamma, ia tidak hanya akan mengalami kebahagiaan saat ini dan sekarang, tetapi juga dalam kehidupan sesudahnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
