Translate

Selasa, 29 Desember 2015

MEREDAM MARAH
MENEBAR METTA

KEMARAHAN akan mengurangi berkah
dan menambah musibah
KERAMAHAN akan menambah berkah
dan mengurangi musibah

SEBAB MARAH :
karena yang diinginkan tidak didapat
yang didapat tidak diinginkan
AKIBAT MARAH :
Gangguan kesehatan
Orang marah tensi darahnya bisa naik
bisa sakit jantung, bisa stress
Lalu berakibat depresi
akhirnya bisa cepat meninggal
- Di kehidupan berikutnya
terlahir dengan wajah buruk rupa
muka seperti orang marah
- Di kehidupan berikutnya
bisa terlahir di alam asura
karena di alam tersebut
untuk mendapatkan sesuatu
harus marah marah atau
berkelahi terlebih dahulu

ADA 4 M UNTUK MEREDAM MARAH :
1.Merelakan/Melepas
Bahwa segala sesuatu ada waktunya
Apa yang kita miliki suatu saat akan lepas
Apa yang kita dapatkan bukan yang kita
inginkan
Maka relakan...
Supaya rela :
Melihat hidup ada hikmahnya
2.Mengucapkan kata kata
yang baik/positif
Salah satu wujud Metta adalah
mengatakan kata kata baik
Tidak bisa kita mengatakan bahwa
memaki maki tapi dengan Metta
Jangan gampang mencela
Lebih baik memuji
3. Melakukan tindakan yang bermanfaat
untuk orang yang kita sayangi
maupun semua makhluk
4. Menghindari sikap sombong
tinggi hati, dan arogan
Karena tidak ada orang yang suka
dengan KESOMBONGAN !

Semoga semua makhluk berbahagia 

Minggu, 27 Desember 2015

Nasib / Takdir penjelasan dan 10 cara merubahnya

NASIB/TAKDIR...pengertian & 10 cara merubah nasib/takdir menjadi lebih baik KESIMPULAN TENTANG “NASIB/TAKDIR”/KARMA menurut paham Buddhisme :

1. Segala sesuatu di dunia tidaklah kekal, selalu berubah
2. Perjalanan hidup seseorang juga dapat berubah
3. Perubahan perjalanan hidup ditentukan oleh perbuatannya sendiri
4.Ada, paling sedikit, sepuluh perbuatan yang dapat mengubah kehidupan

Agama Buddha memang melihat kehidupan ini tidaklah kekal, selalu berubah. Dengan demikian, memang benar bahwa nasib seseorang pun dapat berubah. Nasib sesungguhnya adalah merupakan kumpulan buah perbuatan baik maupun buruk yang telah pernah dilakukan seseorang. Salah satu sabda Sang Buddha yang sangat terkenal tentang ini adalah: "Sesuai dengan benih yang ditabur, begitulah buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebajikan akan mendapatkan kebajikan dan pembuat kejahatan akan menerima kejahatan pula.
Tertaburlah olehmu biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan memetik buah-buah dari padanya" (Samyutta Nikaya I, 227). Jelas sudah sekarang bahwa suka dan duka adalah buah perbuatan sendiri. Dengan demikian, nasib pasti dapat diperbaiki dengan melakukan suatu tindakan tertentu. Agar lebih jelas memahami Ajaran Sang Buddha yang dapat dipergunakan untuk mengubah nasib maka disusunlah makalah ini. Namun, agar terhindar dari kerancuan pengertian istilah 'nasib' yang telah berkembang di tengah masyarakat bahwa nasib tidak dapat diubah maka dalam makalah ini digunakan istilah yang lebih sesuai yaitu Kamma (Pali) atau Karma (Sanskerta).
Istilah 'kamma' memang telah dipergunakan oleh Sang Buddha sendiri. Dalam pembahasan makalah akan digunakan istilah yang cukup memasyarakat yaitu 'karma'.Memperhatikan perumpamaan yang diberikan Sang Buddha tentang Hukum Karma, dapatlah dimengerti bahwa Hukum Karma sebenarnya adalah Hukum Sebab dan Akibat. Apabila ada sebab maka timbul pula akibat; apabila hilang penyebabnya maka hilang pula akibat. Hukum Sebab dan Akibat ini adalah merupakan hakekat kehidupan. Oleh karena itu, ada beberapa kondisi alam yang juga dipengaruhi oleh Hukum Sebab dan Akibat. Kondisi ini diuraikan dalam Abhidhamma Vatara 54 sebagai HUKUM ALAM (Pancaniyama Dhamma) yaitu:
1. Bija Niyama: Hukum mengenai biji - bijian
2. Utu Niyama : Hukum yang berkenaan dengan temperatur
3. Kamma Niyama: Hukum Perbuatan
4. Citta Niyama: Hukum akibat dari kemampuan pikiran
5. Dhamma Niyama: Adanya gravitasiHukum Karma (Kamma Niyama) ternyata adalah salah satu dari Hukum Sebab dan Akibat. Sesuaidengan prinsip dasar Hukum Sebab dan Akibat berarti setiap suka dan duka yang dialami pasti adasebabnya. Apabila dapat mengatasi penyebabnya maka akibatnya pun dapat diubah. Jadi, kebahagiaan dapat dimunculkan dan penderitaan dapat dihindari asalkan mengetahui penyebab kebahagiaan dan penderitaan. Untuk dapat menumbuhkan kebahagiaan dan menghindari penderitaan, cara kerja karma harus diketahui terlebih dahulu.

Pada kitab Visuddhimagga 601, cara kerja karma dibagi menjadi:

1. Karma yang menyebabkan kelahiran
Pada saat kelahiran, seseorang tidak dapat menentukan sendiri agar dapat lahir dengan bentuk tubuhtertentu, jenis kelamin tertentu dan sebagainya. Apa yang didapat pada saat kelahiran adalah mutlak buah karma yang telah pernah diperbuat dalam kehidupan sebelumnya. Lahir sebagai lelaki atau wanita, lahir sempurna atau cacad adalah hasil kerja karma yang melahirkan berdasarkan timbunan karma baik maupun buruk yang dimilikinya.
2. Karma yang mendukung buah karma yang tengah dialami .
Kerja karma jenis kedua ini adalah memberikan tambahan atas karma yang muncul pada saatkelahiran. Apabila seorang anak lahir dengan lebih banyak memiliki karma baik sehingga ia mempunyai bentuk tubuh indah, sehat, ganteng / cantik dan sempurna maka karma yang mendukung memberikan nilai tambah lagi yaitu misalnya ia lahir dalam keluarga kaya raya, keturunan yang terhormat dan seterusnya. Sebaliknya, anak yang lahir dengan timbunan karma buruk yang cukup banyak sehingga ia memiliki tubuh cacad, wajah buruk maka akan ditambah pula dengan kelahirannya di keluarga pra sejahtera, kondisi keluarga yang amburadul.Inti kerja karma ini adalah jika seseorang lahir bahagia maka akan ditambah kebahagiaannya; bila saat lahir sudah menderita maka ditambah pula penderitaannya.

3. Karma yang mengurangi buah karma yang sedang dialami
Kehidupan bahagia dan tambah bahagia serta mereka yang menderita semakin menderita ternyatamasih dapat diperbaiki. Kebahagiaan dapat ditingkatkan dan penderitaan dapat dikurangi. Inilah yang menjadi tugas karma jenis ini. Namun, tugas tersebut harus dilaksanakan sendiri. Artinya, mereka yang ingin tambah bahagia dan menghindari penderitaan harus mampu melakukan perbuatan baik. Ada banyak perbuatan baik yang dapat dilaksanakan. Dalam bagian lain makalah ini nanti akan dibahas satu demi satu.

Pengertian tentang cara kerja karma jenis inilah yang akan dapat memberikan makna dalam kehidupan. Orang akan terdorong untuk melakukan kebajikan karena menyadari bahwa buah kebahagiaan akan dialami sendiri. Sebaliknya bila ia mengalami kesulitan, ia tidak akan putus asa karena sadar bahwa ia sendirilah yang dapat mengubah tangis menjadi tawa. Dari sinilah semangat hidup dapat dibangkitkan.Dari sini pula dibangkitkan kelebihan manusia sebagai penentu suka duka hidupnya sendiri. Tidak akan ada kekecewaan di kala menderita; tiada kesombongan di kala suka karena orang telah menyadari bahwa segala suka dan duka yang dialami adalah hasil perbuatannya sendiri.

4. Karma yang memotong karma yang menyebabkan kelahiran
Perubahan yang sangat drastis akibat perbuatan sendiri dapat menimbulkan jalan hidup yangbertentangan dengan karma yang dialami sewaktu dilahirkan. Seseorang yang sempurna tubuhnya dan lahir dari keluarga bangsawan namun ia suka mabuk-mabukan akan dapat mengakibatkan dia menderita selamanya, misalnya apabila ia mengalami kecelakaan lalu lintas yang berakibat cacad seumur hidup.Dengan demikian,, hilang kesempurnaan tubuhnya dan tidak ada lagi arti keturunan bangsawan yangdimilikinya. Sebaliknya orang yang buruk wajahnya dan lahir di keluarga miskin, namun ia rajin dan penuh kejujuran maka ia dapat memperoleh kepercayaan dari atasannya untuk jabatan penting tertentu dalam suatu perusahaan, misalnya. Jabatan penting yang dipercayakan kepadanya akan dapat memperbaiki kondisi ekonominya yang semula sulit. Jabatan itu juga menyebabkan ia menjadi orang terhormat yang bertolak belakang dengan keadaan yang dialaminya sewaktu ia dilahirkan.
Dengan mengerti cara kerja karma di atas, maka segala perbuatan baik dan buruk yang kita lakukanadalah termasuk dalam jenis karma kelompok ketiga: Karma yang mengurangi buah karma yang sedang dialami. Apabila banyak perbuatan baik yang kita lakukan, maka kebahagiaan dapat terus ditingkatkan dan penderitaan dapat dikurangi. Sedangkan perbuatan jahat harus dihindari karena akan dapat menurunkan kebahagiaan dan meningkatkan penderitaan yang tengah dialami.

Inilah kunci penting perubahan karma.Dalam Dighanikaya Atthakatha III, 999 terdapat sepuluh jalan berbuat kebaikan (DasaPuññakiriyavatthu) yaitu:

1. Dãnamaya: memberikan dana / kerelaan
2. Sîlamaya: menjaga sila (kemoralan)
3. Bhãvanãmaya: mengembangkan batin
4. Apacãyanamaya : bersikap rendah hati dan menghormati mereka yang lebih tua
5. Veyyãvaccamaya: membantu dan bersemangat dalam melakukan hal yang patut
6. Patidãnamaya: melimpahkan jasa baik kita
7. Pattãnumodãnamaya: menerima dan bergembira atas perbuatan baik orang lain
8.Dhammasavanamaya:mendengarkanDhamma
9. Dhammadesanãmaya: memberikan kotbah Dhamma
10. Ditthujukakamma: membenarkan pengertian salah

Penjelasan mendetail 10 cara merubah nasib anda :

1. Dãnamaya:
memberikan dana / kerelaanDana atau kerelaan dalam Agama Buddha adalah menjadi dasar segala perbuatan baik. Tidak akan ada perbuatan baik yang dilakukan seseorang apabila ia tidak memiliki kerelaan. Dana yang dimaksudkan di sini tidaklah selalu hanya berhubungan dengan uang ataupun materi saja. Dana yang dibicarakan adalah dana yang bersifat materi dan juga dana yang tidak bersifat materi. Dana yang bersifat materi lebih biasa di dengar, sedangkan salah satu contoh dana yang bersifat bukan materi adalah kesediaan seseorang memberi maaf kepada orang yang bersalah. Pada tingkat awal, orang memang dianjurkan berdana dalam bentuk materi, misalnya uang, pakaian, makanan maupun kebutuhan yang lain. Sesungguhnya makna dana ini adalah menumbuhkan kebiasaan berpikir untuk membahagiakan mahluk lain.

Bahkan, semua mahluk. Ia akan membahagiakan mereka dengan segala macam cara. Menumbuhkembangkan pikiran yang penuh cinta kasih. Dalam Jataka 37 disebutkan bahwa apabila seseorang memiliki pikiran penuh cinta kasih maka ia akan merasa welas asih kepada semua mahluk di dunia. Semua mahluk yang ada di atas, di bawah dan di sekelilingnya, tak terbatas di manapun juga. Apabila sikap ini sudah dapat terbentuk dengan kemampuan materi, maka dapat dilanjutkan dengan memberikan hal-hal yang bukan materi. Mau mendengarkan kesulitan orang lain adalah juga termasuk berdana yang bukan materi.

2. Sîlamaya: menjaga sila (kemoralan)
Pelaksanaan kemoralan ditujukan agar seseorang selain mampu berbuat baik, ia hendaknya juga mampu mengendalikan dirinya, mengendalikan tingkah lakunya. Dalam pelaksanaan sila, sebagai permulaan, seseorang dapat melatih lima sila atau disebut juga sebagai Pancasila Buddhis dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Lima latihan kemoralan itu adalah latihan untuk tidak membunuh dan menganiaya mahluk hidup, tidak mencuri, tidak melanggar kesusilaan, tidak berbohong dan tidak mabuk-mabukan (Anguttara Nikaya III, 203). Tujuan dari pelaksanaan sila ini agar si pelaku tidak memiliki kesalahan yang dapat merugikan diri sendiri maupun fihak lain. Dengan pelaksanaan sila, selain si pelaku dapat diterima sebagai anggota masyarakat yang baik, ia pun juga termasuk melakukan karma baik.

Dalam Theragatha 608 disebutkan bahwa di sini, di dunia ini, seseorang haruslah melatih dengan cermat untuk menyempurnakan kemoralan, karena kemoralan apabila dikembangkan dengan baik akan menghantarkan semua keberhasilan ke dalam genggaman. Selanjutnya, apabila pelaksanaan latihan lima sila ini ingin ditingkatkan, maka seseorang dapat melatih delapan sila sehari dalam seminggu. Lebih meningkat lagi adalah dengan melaksanakan sepuluh sila yaitu dengan menjadi samanera sementara ataupun tetap. Paling banyak latihan sila adalah dengan melakukan bhikkhu sila yaitu melatih 227 peraturan kebhikkhuan.

3. Bhãvanãmaya:
mengembangkan batinBerdana dan melaksanakan kemoralan adalah latihan pembentukan kebiasaan yang masih berkaitandengan unsur fisik seseorang. Kedua latihan ini sudah cukup baik, namun masih harus ditingkatkan.Apabila seseorang hanya melatih diri sampai pada unsur fisik saja, maka ia akan menjadi orang yangmunafik, pandai berpura-pura; baik kelakuan tetapi jahat pikirannya. Ia hendaknya juga melatih pikirannya dengan meditasi. Meditasi sebaiknya dilatih setiap hari, pagi dan sore hari paling sedikit 15 menit atau 30 menit setiap latihan. Melalui meditasi orang dibiasakan berpikir yang baik, berkonsentrasi pada segala hal yang sedang dipikirkan, dikerjakan dan diucapkan. Tujuan utama meditasi adalah membentuk kebiasaan berpikir, hidup adalah saat ini. Pikiran seseorang sering melayang ke masa lampau ataupun yang akan datang, akibatnya timbullah perasaan suka dan duka. Suka adalah sebagai akibat tercapainya keinginan di masa lampau atau karena membayangkan kebahagiaan yang akan diperoleh di masa depan. Sebaliknya duka adalah karena keinginan di masa lampau tidak tercapai atau ketakutan membayangan masa yang akan datang. Padahal, keduanya adalah tipuan pikiran belaka. Di masa lampau seseorang pernah hidup tetapi ia sudah tidak hidup di masa itu lagi. Sedangkan masa depan, ia akan hidup tetapi belum tentu hidup. Hidup adalah saat ini. Ketakutan maupun kebahagiaan semu justru akan menyianyiakan kenyataan bahwa saat inilah seseorang sedang hidup!

4. Apacãyanamaya :
bersikap rendah hati dan menghormati mereka yang lebih tuaRendah hati adalah salah satu bentuk latihan mengurangi keakuan. Keakuan menjadikan seseorang merasa sebagai tokoh utama dalam hidup ini. Tanpa dirinya seakan dunia tidak akan berputar lagi. Padahal menurut Buddha Dhamma kehidupan ini sesungguhnya dicengkeram oleh Hukum Sebab dan Akibat. Artinya, seseorang mampu mencapai kondisi seperti saat ini pasti ada sebabnya. Dan dari salah satu penyebab tersebut, pasti juga akan melibatkan fihak lain. Seseorang tidak akan pernah mampu untuk hidup sendirian dalam dunia. Ia pasti membutuhkan fihak lain untuk saling membantu. Oleh karena itu, apabila telah disadari bahwa orang tidak dapat hidup sendirian, maka orang akan mampu mengurangi rasa keakuan, mengikis kesombongan. Orang akan dapat hidup hormat menghormati. Orang akan menghormati mereka yang atut memperoleh penghormatan. Orangtua misalnya, adalah orang yang menyebabkan seseorang ada di dunia ini. Mereka pula yang membesarkan dan mendidik anak-anaknya.Oleh karena itu, sudah selayaknya mereka memperoleh penghormatan. Demikian pula dengan kakak yang mungkin juga telah ikut berperan dalam menjaga dan menghindarkan seseorang dari bahaya.

Para guru juga memiliki jasa dalam memberikan ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya. Serta masih sangat banyak fihak lain lagi yang amat berjasa dan berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Penghormatan selain sebagai sarana mengurangi keakuan, juga untuk membiasakan seseorang agar dapat mengenal budi baik orang lain. Dalam Anguttara Nikaya I, 87 dinyatakan bahwa terdapat dua tanda yang dimiliki oleh orang yang sulit dijumpai di dunia ini. Kedua tanda itu adalah, pertama, orang tersebut memiliki kemampuan dan kemauan untuk memberikan pertolongan kepada fihak lain, tanpa mengharapkan imbalan apapun juga. Kedua, orang tersebut memiliki kesadaran atas kebaikan yang telah pernah diterimanya dan berusaha untuk berbuat baik kepada fihak tersebut dengan lebih besar daripada kebaikan yang pernah diterimanya. Sesungguhnya, adalah satu perbuatan baik yang dapat cepat mengubah karma seseorang apabila ia dapat mengingat jasa kebaikan orang lain, memberikan penghormatan yang selayaknya serta membalas kebaikan mereka.

5. Veyyãvaccamaya:
membantu dan bersemangat dalam melakukan hal yang patutPerbuatan baik tidak berarti hanya berusaha menghindari kejahatan dengan melatih kemoralan. Menghindari melakukan kejahatan adalah salah satu bentuk perbuatan baik yang dikategorikan kebaikan pasif. Sebutan ini diberikan karena sifat perbuatan baik tersebut dilakukan dengan usaha menahan diri untuk tidak mengerjakan sesuatu (kejahatan).

Selain itu, ada pula perbuatan baik secara aktif. Maksud perbuatan baik jenis ini adalah seseorang didorong secara aktif dan terus menerus untuk melakukan kebajikan sesuai dengan tuntunan Ajaran Sang Buddha. Banyak disebutkan dalam Dhamma tentang anjuran melakukan kebajikan. Anjuran untuk menolong mahluk lain, berdana, mengembangkan kejujuran serta masih banyak lagi bentuk perbuatan baik lainnya. Selain melakukan sendiri, seseorang hendaknya juga mau menganjurkan orang lain melakukan kebajikan yang sama dengan yang telah dilakukannya sendiri. Perbuatan ini dapat digolongkan sebagai berdana Dhamma. Bukankah dalam Dhammapada XXIV,21 disebutkan bahwa pemberian Dhamma dapat mengalahkan segenap pemberian lainnya

6. Patidãnamaya: melimpahkan jasa baik kita
Walaupun dalam Hukum Sebab dan Akibat disebutkan bahwa si pelaku akan memperoleh buah perbuatannya sendiri, perbuatan baik ternyata dapat dilimpahkan jasanya. Proses ini digambarkan dengan seorang anak yang menuntut ilmu di kota lain memberitakan kabar kelulusannya kepada orangtuanya di kota kelahirannya. Mendengar kabar gembira ini, ayah dan ibunya tentunya akan merasakan kebahagiaan.
Padahal apabila direnungkan, si anak yang lulus tetapi mengapa orangtuanya juga merasakan kebahagiaan? Inilah yang disebut muditã citta atau ikut bergembira atas kebahagiaan yang dirasakan oleh orang lain (Vibhangga 272 & 642). Muditã citta adalah termasuk melakukan salah satu karma baik lewat pikiran.
Oleh karena itu, kondisi sedemikian inilah yang dimunculkan oleh seorang umat Buddha apabila melimpahkan jasa kebaikan yang dilakukannya kepada sanak keluarganya yang sudah meninggal. Sanak keluarga yang meninggal adalah seperti orangtua yang tinggal di luar kota (pada perumpamaan di atas), mereka akan ikut berbahagia atas kebajikan yang dilimpahkan kepadanya. Kebahagiaan ini berarti penimbunan karma baik lewat pikiran.

Apabila pelimpahan jasa ini sering dilakukan, berarti makin banyak memberi kesempatan para leluhur menanam kebajikan. Akibatnya, apabila karma baik yang ditimbunnya sudah cukup, meninggallah mereka dari alamnya dan terlahir di alam yang lebih baik.Dengan demikian, pelimpahan jasa ini akan banyak memberikan manfaat. Pertama, manfaat didapat oleh si pelaku kebajikan sendiri. Kedua, para leluhur pun ikut menikmati kebajikannya sehingga memberikan kondisi terlahir di alam yang lebih baik.
Ketiga, si pelaku dapat mengurangi keakuan, sebab semua kebajikan yang dilakukan diatasnamakan para leluhur.

Keempat, obyek perbuatan baik yang menerima kebajikan juga akan memperoleh kebahagiaan. Minimal empat manfaat itulah yang dapat dirasakan dalam proses pelimpahan jasa. Oleh karena itu, dengan seringnya melakukan pelimpahan jasa akan mengkondisikan penanaman karma baik yang cukup banyak pula untuk semua fihak.

7. Pattãnumodãnamaya:
menerima dan bergembira atas perbuatan baik orang lainRasa berbahagia atas kebahagiaan yang didapatkan fihak lain, muditã citta, bukan hanya diperlukan untuk para leluhur yang sudah meninggal saja. Sikap pikiran yang baik ini hendaknya juga dimiliki oleh orang yang masih hidup. Hal ini karena sikap pikir ini jelas-jelas merupakan karma baik. Kebanyakan, orang merasa iri hati dengan kebahagiaan orang lain ataupun tidak senang apabila orang lain mempunyai kesempatan berbuat baik.

Perasaan ini muncul karena sebagai orang yang belum mencapai kesucian, seseorang masih diliputi oleh ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Oleh karena itu, agar memperoleh ketenangan hidup dan sekaligus untuk menambah perbuatan baik, perasaan iri ini harus dikendalikan bahkan kalau dapat dimusnahkan. Cara memusnahkannya adalah dengan menyadari bahwa segala suka dan duka yang dialami seseorang adalah buah dari perbuatannya sendiri. Kesempatan berbuat baik dan kebahagiaan yang dialami seseorang adalah karena buah karma baiknya sendiri. Apabila seseorang sering menambah kebajikan, tentu saja kesempatan berbahagia semakin besar diperolehnya. Sebaliknya, penderitaan yang dialami seseorang juga akibat buah karma buruknya. Dengan demikian, seseorang hendaknya menghindari melakukan perbuatan yang tidak benar agar terhindar dari penderitaan.Dengan pengertian akan Hukum Sebab dan Akibat ini maka akan musnahlah iri hati dengan kebahagiaan orang lain; serta merasa sombong ketika melihat penderitaan orang lain.

8. Dhammasavanamaya:
mendengarkan DhammaSebagai seorang umat Buddha, seseorang wajib datang ke vihara mengikuti puja bhakti. Hal ini perluditegaskan di sini karena banyak manfaat yang diperoleh dari mengikuti puja bhakti. Pertama, sewaktu membaca ulang kotbah-kotbah Sang Buddha (Paritta) seseorang harus mempergunakan konsentrasi pikirannya. Dengan konsentrasi, maka ia akan terbebas dari pikiran yang buruk. Selama membaca Paritta pikirannya dapat diarahkan menuju ke kebaikan. Kedua, jika di kemudian hari seseorang dapat mengerti makna Paritta yang dibacanya, ia akan memperoleh pedoman hidup yang tiada taranya. Pedoman yang sederhana, mudah dilaksanakan dan membimbing orang untuk lebih percaya diri.

Ketiga, di vihara seseorang diberi kesempatan untuk melatih meditasi yang merupakan salah satu sarana mengendalikan pikiran. Dengan pikiran terkendali, niatan melakukan perbuatan jahat dapat dikikis sedangkan niat berbuat baik dapat dipupuk. Keempat, di vihara seseorang memiliki kesempatan mendengarkan Ajaran Sang Buddha. Seperti yang telah diketahui bahwa Dhamma yang telah dibabarkan dengan sempurna oleh Sang Buddha adalah merupakan bekal penting dalam kehidupan.

Inti sari Ajaran Sang Buddha adalah menumbuhkan sikap yang benar dalam menghadapi perubahan dalam hidup. Sebab orang sering kecewa dengan kenyataan hidup. Segala sesuatu yang diinginkannya tidak tercapai, sebaliknya hal yang diperoleh justru bukan yang diinginkannya. Mendengarkan Dhamma adalah ibarat memberikan tenaga tambahan pada batin seseorang yang mungkin lelah dalam menghadapi kenyataan hidup. Mendengarkan Dhamma menjadi penting karena banyak manfaat yang diperoleh. Kitab Anguttara Nikaya III, 248 disebutkanbeberapa manfaat mendengarkan Dhamma, yaitu:

1. Memperoleh pengertian yang belum pernah didengar sebelumnya
2. Memperjelas hal yang telah pernah didengar sebelumnya
3. Menghilangkan keraguan tentang hal yang telah pernah didengar
4. Memberikan pengertian yang benar
5. Menimbulkan pikiran yang jernih, terang dan bahagiaMengingat cukup banyak manfaat datang ke vihara mengikuti puja bhakti, maka jelas sudah tidak akan ada lagi keraguan untuk melaksanakannya. Bukankah setiap orang ingin meningkatkan kualitashidupnya?

Bukankah orang ingin hidup lebih berbahagia daripada yang tengah dirasakan saat ini? Sering pergi ke vihara adalah merupakan salah satu cara mencapainya. Ikut puja bhakti dan mendengarkan Dhamma adalah cara efektif dan efisien untuk menambah kebajikan dan meningkatkan kualitas diri.

9. Dhammadesanãmaya:
memberikan kotbah DhammaAjaran Sang Buddha yang telah pernah di dapat baik dari vihara maupun dari sumber-sumber lainnyahendaknya dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan Dhamma ini jauh lebih penting daripada hanya sekedar menghafalkannya.

Dengan mencoba menjalankan Ajaran Sang Buddha, seseorang akan dapat merasakan manfaat langsung. Merasakan manfaat Dhamma secara nyata ini hendaknya menjadi semangat untuk menceritakan dan mendorong orang lain agar melaksanakan Dhamma dengan baik pula. Dalam pengertian Buddhis, seseorang dihargai bukan karena banyaknya Dhamma yang dipelajari dan dimengerti tetapi adalah dari seberapa banyak Dhamma yang telah dilaksanakan dalam hidupnya.

Dhammapada VIII, 3 menyebutkan bahwa daripada seribu bait syair yang tidak bermanfaat, adalah lebih baik satu kata Dhamma yang dapat memberikan kedamaian kepada pendengarnya. Jelaslah disini bahwa kualitas lebih diutamakan daripada kuantitas. Oleh karena itu, bersedia menceritakan secara sederhana pengalaman sendiri setelah melaksanakan Dhamma akan mendorong orang lain mengikutinya. Menjadikan orang lain memiliki kesempatan mendapatkan pengalaman yang serupa, kebahagiaan.
Keberhasilan menganjurkan orang melaksanakan Dhamma adalah merupakan Dhamma dana yang diakui akan memberikan buah terbesar melampaui segala bentuk pemberian lainnya.

Banyak cara digunakan untuk membagikan pengalaman melaksanakan Dhamma. Cerita bebas atau 'ngobrol' Dhamma, ceramah resmi maupun hanya berupa 'kesaksian' Dhamma dalam forum terbatas, cetak buku Dhamma, membiayai anak asuh ke sekolah Buddhis dsb. Adalah beberapa contoh cara memberikan Dhamma kepada orang-orang di lingkungan sendiri.

10. Ditthujukakamma:
membenarkan pengertian salahPerbuatan baik yang kesepuluh ini adalah kelanjutan dari uraian yang kesembilan di atas. Seseorang pada saat akan membagikan pengalaman Dhamma, hendaknya memiliki tujuan. Salah satu tujuan pokok adalah untuk memberikan pengertian yang benar akan hakekat kehidupan. Cukup banyak pengertian yang tidak tepat yang beredar dalam masyarakat. Misalnya, tentang pengertian nasib yang tidak dapat diubah sama sekali atau cara mengubah nasib yang kurang sesuai.

Akan menjadi tugas bersama para umat Buddha untuk memberikan pengertian benar dengan berlandaskan cinta kasih. Kasihanilah mereka yang masih belum mengerti. Janganlah mereka dimusuhi. Berilah kesempatan kepada mereka untuk meningkatkan kualitas dirinya. Dengan memiliki pola pikir demikian akan membangkitkan semangat para umat Buddha membagikan Dhamma secara bijaksana dan penuh cinta kasih serta kesabaran.

Tindakan ini jelas-jelas akan menjadikan peningkatan karma baik kedua belah fihak secara maksimal. Pada akhirnya, mereka yang memupuk karma baik yang terbanyaklah yang akan segera mendapatkan kebahagiaan.

Sabtu, 26 Desember 2015

Putaran hidup itu akan selalu Datang & Pergi seiring dgn jalannya sang Waktu .

" Semuanya akan berlalu seiring waktu "
Kadang ....
apa yang kita beri,
tak selamanya berarti

Kadang ....
apa yang kita cari juga tak selamanya bisa kita temukan .

Kadang ....
apa yang kita nantikan dan kita harapkan pun,tak selalu bisa kita dapatkan.

Namun .....
yakinlah dalam hati bahwa HARAPAN itu akan selalu ada dan tak pernah mati.
Itu semua sangat tergantung dari cara kita mensyukuri apa yang sudah kita dapatkan dan apa yang sudah kita lalui .

INGATLAH ....
Senyum .....
bisa menghadirkan Ketenangan dan Persahabatan .
Tawa ......
bisa menghadirkan Kegembiraan dan Persatuan .
Kasih Sayang .....
bisa menghadirkan Pengertian dan Kerelaan .

Namun Hanya CINTA lah ..... yang akan menghadirkan Segalanya

Jumat, 25 Desember 2015

Keberadaan Tuhan Dalam Agama Buddha

Menyambung perdebatan bersama seorang teman pada tadi malam (20151117) seputar keberadaan dan pengertian Tuhan dalam Agama Buddha.

Perdebatan semacam ini telah berlangsung dalam kurun waktu yang lama sekali bahkan perdebatan ini betul-betul telah menyita energi manusia. Sepanjang sejarah keberadaan manusia banyak peperangan yang menewaskan jutaan nyawa dikumandangkan hanya untuk membela Tuhannya.

Alih-alih Tuhan muncul untuk melerai mereka yang memperdebatkan dirinya, hingga saat ini pun Tuhan tidak pernah muncul selain hanya diciptakan manusia dalam imajinasinya.

Sikap “diam” yang ditunjukkan oleh Buddha Gotama seputar pertanyaan yang diajukan oleh Malunkyaputta berkenaan dengan pertanyaan apakah dunia ini kekal atau tidak kekal, terbatas atau tidak terbatas, apakah jiwa sama dengan jasmani atau tidak, apakah Tuhan ada atau tidak ada memberikan sebuah kebijaksanaan tersendiri.

Beliau “Diam” karena beliau tahu jika dijawab Malunkyaputta bukannya tercerahkan tapi malah akan semakin pusing. Pertanyaan Malunkyaputta ini juga menghinggapi sebagian besar manusia hingga sekarang ini, sayangnya bukan pencerahan yang kita peroleh tapi spekulasi-spekulasi yang tidak ada artinya bagi pencapaian kebahagiaan dan pencerahan manusia.

Sering kali label atheis diberikan kepada ajaran Buddha, karena Buddha menolak konsep Tuhan sebagai pencipta dan pengatur kehidupan ini. Penilaian sepihak ini terjadi karena mereka membandingkan dan menganggap benar konsep Tuhan dalam kenyakinannya sendiri dan istilah gaulnya ‘Sok Tahu’.

Seringkali Tuhan dipersonifikasikan sebagai sosok pribadi atau Makhluk seperti manusia, yaitu Makhluk Adikuasa yang bisa marah, cemburu, iri, senang, dll. Tidak sedikit manusia yang dari lahir hingga dia mati hanya penderitaan yang dia alami, jika itu dikatakan sebagai cobaan, tidakkah Tuhan tahu keputusan apa yang akan diambil oleh manusia yang sedang Dia cobain.

Lantas untuk apa tetap memberikan cobaan tersebut?!

Kalau itu dikatakan takdir, mengapa memberikan takdir yang demikian?!

Dan jika ada orang yang berbuat jahat jangan salahkan orang tersebut karena itu sudah menjadi takdirnya.

Kadang kala kita ditakut-takuti jika tidak percaya kita akan masuk neraka karena itu kita harus selalu menyembah dan memuji namanya agar masuk surga. Tidakkah itu terkesan Tuhan gila disembah dan dipuji dan sepertinya Tuhan takut disaingi karena itu Tuhan seringkali mengeluarkan ancaman-ancaman agar manusia patuh kepadanya.

Konsep Tuhan seperti inilah yang ditolak oleh Buddha. Lantas apakah ajaran Buddha tidak menyinggung sama sekali keberadaan Tuhan?

Dalam Kitab Tipitaka, bagian Sutta Pitaka, Udana VIII:3 Buddha mengatakan :

“Atthi, Bhikkave Ajatang Abhutang Akatang Asangkhatang …”

Yang artinya :

“O Bhikkhu, ADA yang Tidak DILAHIRKAN, yang Tidak MENJELMA, yang Tidak TERCIPTA, yang MUTLAK / yang Tidak BERKONDISI…”

Dengan adanya Yang Mutlak, Yang Tidak Berkondisi (Asankhata-Dhamma) maka semua makhluk yang berkondisi (Sankhata) bisa terbebas dari penderitaan dan mencapai kebahagiaan tertinggi dengan cara merealisasi Nibbana (bahasa Pali) / Nirvana (bahasa Sanskerta). Karena Atthi (ADA) dijelaskan sebagai Asankhata-Dhamma maka ADA yang dimaksud bersifat Anatta (Tanpa aku) yang tidak dapat dipersonifikasikan dan tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Inilah Ketuhanan menurut ajaran Buddha, ADA tidak diterangkan lebih jauh oleh Buddha Gotama karena ADA tersebut SANGAT SEMPURNA, pikiran manusia yang masih terbelenggu oleh napsu duniawi tidak akan mampu untuk memahaminya.

Satu-satunya Jalan untuk memahami ADA hanyalah dengan merealisasi NIBBANA / NIRVANA. Karena NIBBANA bersifat Asankhata sehingga merupakan aspek yang tidak terpisahkan dari Atthi (ADA).

Selama 45 tahun dalam pengembaraannya mengajarkan Jalan yang beliau peroleh saat mencapai penerangan sempurna dibawah pohon Bodhi di bulan Vesakha, Buddha selalu konsisten bahwa apa yang beliau ajarkan hanyalah Jalan untuk merealisasi Nibbana dan Nibbana bisa dicapai dalam kehidupan saat ini juga tidak harus menunggu kematian.

Secara positif Nibbana dapat diartikan sebagai Ke-Buddha-an karena mereka yang telah merealisasi Nibbana telah menjadi Buddha, dan istilah Buddha sebetulnya adalah gelar bagi mereka “Yang Sadar”. Pemahaman inilah yang kadang disalahartikan bahwa Buddha adalah Tuhan itu sendiri. Perlu diketahui Buddha tidak hanya Buddha Gotama. Satu lagi konsep yang kadang disalahartikan sehubungan dengan Agama Buddha di Indonesia, karena dihadapkan pada peraturan UU bahwa setiap agama harus memiliki kenyakinan terhadap Tuhan, maka dengan dipaksa-paksakan muncul istilah Sanghyang Adi Buddha yang digunakan untuk menyebut nama Tuhan dalam Agama Buddha di Indonesia. Celakanya Sanghyang Adi Buddha banyak dipahami hanya secara literal sebagai Buddha Awal atau Buddha Pertama.

Dalam aliran Vajrayana Adi Buddha merupakan aspek dari Vajradhatu sedangkan Vajradhatu adalah DHARMA yaitu ajaran yang diajarkan oleh semua Buddha, tidak terbatas pada diri Buddha Gotama.

Tulisan ini juga tidak ingin mengulas Ketuhanan dalam ajaran Buddha terlalu panjang lebar, karena pikiran dan batin kita sendiri masih terbelenggu dalam kehidupan duniawi sehingga tulisan ini bukanlah sebuah hasil pencerahan tapi hanya sekedar pengetahuan biasa, maklum penulisnya juga masih mengidap “Penyakit pertanyaan Malunkyaputta”.

Dan karena Buddha sendiri tidak mau berkomentar banyak dan berspekulasi tentang ADA yang telah beliau realisasikan dalam Kesadaran Agung. Beliau hanya sekedar menuntun kita untuk bisa mencapai apa yang beliau capai, dan kita sendirilah yang akhirnya harus berjuang sendiri untuk merealisasi Nibbana atau Ke-Buddha-an dengan demikian dengan sendirinya kita akan paham terhadap ADA dan bagaimana alam semesta ini berproses bukan sebatas pengetahuan biasa (intelek) tapi sebuah pengalaman yang luar biasa. (Maka dari itu dari semalam saya katakan, Cobalah maka kita akan lebih mengerti dengan merasakannya langsung) ... 

Ibarat jika dikatakan di atas Puncak Gunung Himalaya terdapat danau yang sangat indah sekali, kita hanya bisa Percaya / Tidak Percaya. Tapi dengan tekad yang kuat meski banyak hambatan dan rintangan dan dengan petunjuk yang kita miliki, akhirnya kita mencapai Puncak Himalaya dan betul-betul melihat bahwa memang terdapat danau yang begitu indah sekali.

Dan kita memiliki sebuah pengalaman yang luar biasa yang tidak bisa dijelaskan dan diuraikan dengan kata-kata.

Ibarat ketika ada secangkir kopi di depan kita, dan kita ditanya bagaimanakah rasa kopi dari secangkir kopi tersebut?

Kalau kita tidak mencicipi secangkir kopi tersebut, bagaimana mungkin kita tahu.

Pengalaman merealisasi Nibbana sangat berbeda dengan pengetahuan akan Nibbana yang kita peroleh lewat buku yang diberi label Kitab Suci atau dengan searching ke Mbah Google.

Semoga Bermanfaat...
Semoga Semua Makhluk Berbahagaia...
Semoga Semua Makhluk dapat terlahir di Alam Nibbana...
Sadhu... Sadhu... Sadhu... _/|\_
Mittāmittajātaka
DVĀDA­SA­KA­NIPĀTA, JĀTAKA, KHUDDAKA NIKĀYA, SUTTA PIṬAKA

16 kualitas sifat dari Kawan dan Lawan

Sang Bodhisatta menjelaskan kepada Raja Brahmadatta tentang enam-belas kualitas dari seorang lawan, dan enam-belas kualitas dari seorang kawan.

Na naṁ umhayate disvā, na ca naṁ paṭinandati,
—Setelah berjumpa dengan Anda ia tidak tersenyum, atau ia tidak memberikan sambutan,

Cakkhūni cassa na dadāti, paṭilomañ-ca vattati.1
—Ia tidak memberi Anda perhatian, ia dengan tegas melawan Anda.

Amitte tassa bhajati, mitte tassa na sevati,
—Terhadap lawan-lawan Anda, ia menghibur akan tetapi tidak terhadap teman-teman Anda,

Vaṇṇakāme nivāreti, akkosante pasaṁsati.
—Ia mencegah mereka yang ingin menyanjung (Anda), ia memuji mereka yang mencaci (Anda).

Guyhañ-ca tassa nakkhāti, tassa guyhaṁ na gūhati,
—Rahasianya tidak ia ceritakan kepada Anda, (tapi) rahasia Anda ia tidak sembunyikan,

Kammaṁ tassa na vaṇṇeti, paññassa nappasaṁsati.
—Ia tidak menyanjung atas apa yang Anda kerjakan, atas kebijaksanaan Anda ia tidak memujinya.

Abhave nandati tassa, bhave tassa na nandati,
—Ia bersenang hati terhadap kegagalan Anda, ia tidak senang dalam kesuksesan Anda,

Accheraṁ bhojanaṁ laddhā tassa nuppajjate sati,
—Setelah mendapatkan makanan yang nikmat, ia tidak bercerita tentang kenikmatan itu ada,

Tato naṁ nānukampati, aho! so pi labheyy’ ito.
—Ya! (ia percaya) bahwa ia akan mendapat keberuntungan tidak dikarenkan berbelas kasihan terhadap Anda.

Iccete soḷasākārā amittasmiṁ patiṭṭhitā,
—Inilah ke-enambelas kondisi yang ditunjukkan dari seorang lawan,

Ye hi amittaṁ jāneyya disvā sutvā ca Paṇḍito.
—Oleh karena itu, setelah melihat dan mendengar (ini semua), seorang Paṇḍita (yang Bijaksana) dapat mengetahui siapakah sesungguhnya lawannya.

Pavutthaṁ cassa sarati, āgataṁ abhinandati,
—Ketika jauh dari rumah ia mengingat (merindukan) Anda, saat kembalinya ia sangat gembira sekali,

Tato kelāyito hoti vācāya paṭinandati.
—Oleh karenanya ia memiliki kecintaan (terhadap Anda) dan menyambut Anda dengan ucapan (baik)

Mitte tasseva bhajati, amitte tassa na sevati,
—Terhadap teman-teman anda ia menhibur, tetapi tidak terhadap lawan-lawan Anda

Akkosante nivāreti, vaṇṇakāme pasaṁsati.
—Ia mencegah mereka yang mencaci (Anda), ia memuji mereka yang menyanjung.

Guyhañ-ca tassa akkhāti, tassa guyhañ-ca gūhati,
—Rahasianya ia ceritakan kepada Anda, rahasia Anda (pasti) ia sembunyikan,

Kammañ-ca tassa vaṇṇeti, paññaṁ tassa pasaṁsati.
—Ia menyanjung atas apa yang Anda kerjakan, atas kebijaksanaan Anda ia memujinya.

Bhave ca nandati tassa, abhave tassa na nandati,
—Ia bersenang hati terhadap kesuksesan Anda, ia tidak senang dalam kegagalan Anda,

Accheraṁ bhojanaṁ laddhā tassa uppajjate sati.
—Setelah mendapatkan makanan yang nikmat, ia bercerita kepada Anda tentang kenikmatan itu ada,

Tato naṁ anukampati, aho! so pi labheyy’ ito.
—Ya! (ia percaya) bahwa ia akan mendapat keberuntungan dikarenkan berbelas kasihan terhadap Anda.

Iccete soḷasākārā mittasmiṁ suppatiṭṭhitā,
—Inilah ke-enambelas kondisi yang ditunjukkan secara baik dari seorang kawan,

Ye hi mittañ-ca jāneyya, disvā sutvā ca Paṇḍito.
—Oleh karena itu, setelah melihat dan mendengar (ini semua), seorang Paṇḍita (yang Bijaksana) dapat mengetahui siapakah sesungguhnya kawannya.

1 tassa kathaṁ paṭippharati paṭisattu hoti.
—dalam cara berbicara ia tidak setuju, menentang Anda.

(Jātaka 473. Cūḷa­kuṇāla­vagga)

Sumber: Lembaga Manggala Dhammadutta "Mendut"

Kamis, 24 Desember 2015

Kualitas Seorang Buddhis
Ye Keci Osadha Loke,
Vijjanti Vividha Bahu
Dhammosadhasamam Natthi,
Etam Pivatha Bhikkavo
“Dari semua obat di dunia ini,
yang banyak dan beraneka jenis,
Tidak ada satu pun yang menyamai obat Dhamma.
Karena itu, O, para bhikkhu, minumlah obat ini.”
(Milindapanha. 335)
Ada sesuatu yang seharusnya kita renungkan
sebagai seorang umat Buddha,
namun jarang sekali kita merenungkan.
Sudahkah nilai-nilai luhur Dhamma itu
terealisasi dalam kehidupan kita sehari-hari
atau hanya sebatas konseptual belaka.
Kebanyakan dari kita masih berpegang teguh
pada konsep sehingga Dhamma yang masuk
kedalam diri kita hanya sebatas pengetahuan
yang memenuhi intelektual kita.
Wajar saja jika perilaku kita belum mencerminkan
nilai-nilai luhur Dhamma atau setidak-tidaknya
ada perubahan yang terjadi didalam diri kita
menuju kepada nilai-nilai luhur Dhamma tersebut.
Kenapa saya membuka uraian ini dengan perenungan itu?
Kalimat perenungan itu saya tulis,
karena terkadang kita salah memegang Dhamma,
sehingga yang terjadi banyak pandangan salah
yang muncul karena penafsiran yang salah
terhadap Dhamma yang telah kita pelajari.
Banyak pengetahuan Dhamma sangatlah baik,
tetapi harus diingat Dhamma itu untuk direalisasi,
bukan untuk perdebatan atau pun sebagai hiburan batin.
Kalau kita puas sampai disitu saja,
maka kita tidak ada kemajuan justru yang muncul
adalah kekuatan ego, keangkuhan dan kesombongan.
Sehingga kita memandang rendah orang
yang pengetahuan Dhammanya sedikit
dan pengalaman latihannya belum seperti kita.
Kalau kita hanya sekedar kagum dengan Dhamma
dan Dhamma hanya sebagai pengetahuan intelektual
belaka, maka yang akan muncul adalah kekuatan
negatif, sehingga perilaku kita tidak akan mengalami
perubahan ke arah yang lebih baik.
Pernah muncul sebuah pertanyaan yang dapat
dijadikan bahan renungan bagi seseorang,
bahwa Dhamma harus direalisasikan
sehingga tumbuh manusia yang memiliki etika yang positif.
Tentu sebagai seorang Buddhis etika yang berkembang
adalah perilaku yang sesuai dengan Dhamma.
Pertanyaan itu sebagai berikut, “Kenapa ada
orang yang pengetahuan Dhammanya tinggi dan
pengalaman Dhammanya banyak tetapi perilakunya
penuh keangkuhan, tidak ada rasa hormat, memandang
rendah yang lain, enggan menolong sesama dan halhal
negatif lainnya.
Kejadian tadi menggambarkan tidak terealisasinya
Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.
Dhamma hanya berhenti pada intelektual orang tersebut.
Gambaran diatas menunjukan bahwa sebagai seorang Buddhis
bukan hanya teori yang dikejar, tetapi Seorang Buddhis
juga harus intropeksi kedalam dirinya masing-masing
dan bertanya, “Sudahkah Dhamma yang saya pelajari
terealisasi dalam kehidupan ini?”
Kalau belum marilah kita bersama-sama memotivasi diri
untuk menjadi seorang Buddhis yang betul-betul,
bukan hanya sekedar menunjukan identitas semu.
Identitas sebagai seorang Buddhis adalah bagaimana
menanamkan nilainilai luhur Dhamma
dalam kehidupan sehari-hari, baik dirumah tangga,
lingkungan organisasi, lingkungan masyarakat,
pendek kata dimanapun kita berada
seharusnya berusaha untuk menampilkan citra sebagai
seorang Buddhis.
Memang untuk merubah kebiasaan buruk yang sudah ada
pada diri kita tidak semudah membalikan telapak tangan,
tetapi usaha kita akan menentukan perubahan itu.
Perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan,
namun semua itu adalah langkah awal untuk menuju
kepada kualitas hidup yang lebih baik.
Kualitas hidup akan dapat berkembang dalam diri kita,
jika kita betul-betul merealisasikan Dhamma
dalam kehidupan sehari-hari. Dhamma telah memberikan
inspirasi bahwa untuk memiliki kualitas hidup
seseorang harus memiliki etika yang didalamnya
terkandung nilainilai moral, nilai-nilai sosial,
dan nilai-nilai kebijaksanaan.
Pengembangan moral sangat perlu bagi kemajuan
kualitas hidup. Moral dan etika membentuk landasan
bagi cita-cita sosial, ekonomi, politik, dan religius.
Tanpa nilai-nilai moral, kehidupan berada dalam bahaya,
oleh karena itu pemeliharaan nilai-nilai moral
sangat perlu untuk menuju terwujudnya kualitas hidup.
Pengembangan moralitas merupakan aspek penting
dalam kehidupan, karena moralitas adalah landasan
untuk pencapaian kualitas hidup yang akan membawa
kebahagiaan bagi diri kita dan lingkungan kita.
Menjaga moral seperti membangun pagar
yang melindungi rumah sendiri dan rumah tetangga.
Apa itu moralitas? Ia adalah standar dan prinsip
bagi perilaku yang baik didalam jalan kebaikan.
Kata Pali untuk moralitas adalah Sila.
Makna disiplin dalam pengembangan moral.
Ia merupakan disiplin pribadi
yang dikembangkan dari dalam,
dan bukannya muncul dari rasa takut terhadap hukuman.
Ia merupakan perbuatan yang berdasarkan
pada motif-motif yang murni berdasarkan kasih,
kemerdekaan, dan kebijaksanaan,
yang diperkuat dengan pengertian terhadap kepalsuan
terhadap hakikat “diri” dan “ego”.
Dengan pengembangan moralitas yang terus menerus
akan mengembangkan prilaku yang baik serta pengendalian
diri yang mantap. Perilaku yang baik dan pengendalian
diri yang mantap itu adalah rasa malu untuk berbuat
jahat (Hiri) dan rasa takut akibat dari perbuatan jahat
(Ottapa). Dua sikap moral ini akan memberdayakan
kualitas hidup kita, namun pengembangan moral ini
belum cukup, karena kita juga harus merealisasikan
sikap yang baik ini dalam kehidupan kita.
Untuk merealisasikan Dhamma dalam kehidupan
kita seharihari dibutuhkan nilai-nilai humanisme.
Nilai-nilai humanisme yang kita kembangkan akan
langsung menyentuh kehidupan dalam wujud cinta
kasih, ramah tamah, kedermawanan, tenggang rasa,
rasa hormat dan pemahaman terhadap corak kehidupan.
Nilai-nilai humanisme ini terkandung dalam
“Metta Karuna dan Pabba”.
Pengembangan Metta Karuna dan Pabba ini harus seimbang.
Metta Karuna adalah mencakup sifat cinta kasih,
suka beramal, ramah tamah, toleransi dan sifat-sifat luhur
lainnya yang ada hubungannya perasaan (emosi)
atau sifat-sifat yang timbul dari hati,
sedangkan Pabba adalah berhubungan dengan intelektual
(kecerdasan) atau sifat-sifat yang timbul dari pikiran
dan pemahaman jelas tehadap corak kehidupan.
Kalau orang hanya mengembangkan segi perasaannya saja
dengan mengabaikan segi inteleknya
(kecerdasannya), maka orang ini kelak akan menjadi
orang bodoh yang baik hati.
Sebaliknya, kalau orang hanya mengembangkan
segi inteleknya dengan mengabaikan segi perasaannya,
maka orang itu akan menjadi seorang intelek yang
“berhati batu” dan tidak mempunyai perasaan
kasihan sedikit pun terhadap orang lain.
Oleh karena itu, untuk memperoleh kualitas hidup
orang harus mengembangkan nilai-nilai luhur tersebut.
Dengan pengembangan nilai-nilai moralitas
dan nilainilai humanisme yang telah diuraikan
seperti tersebut diatas, kita akan menjadi
seorang Buddhis yang memiliki kualitas yang baik
dan akan menjadi contoh bagi manusia lainnya.
Tentunya pengembangan nilai-nilai luhur
Dhamma ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Kita harus mulai dari tahap yang paling awal,
walau begitu kemauan untuk merubah prilaku ke arah
yang lebih baik dengan merealisasikan Dhamma
akan membawa wujud nyata dari harapan yang baik itu.
Untuk menjadi umat Buddha tidak cukup dengan
membawa merek atau lambang-lambang Buddhis,
kecerdasan intelektual tentang Dhamma, karena tidak
akan ada perubahan prilaku justru yang muncul prilaku
yang tidak sesuai Dhamma.
Realisasi Dhamma dalam kehidupan kita sehari-hari
adalah lebih bermanfaat untuk peningkatan kualitas hidup.
Inilah tantangan kita untuk menjadi seorang Buddhis yang baik.
Ibarat minuman, kalau ingin merasakan segarnya minum itu,
jangan hanya dilihat dan dikagumi tetapi minumlah,
baru segarnya minumnya itu dapat dirasakan.
Bhante Abhayanando

Rabu, 23 Desember 2015



How To Live Without Fear & Worry

Dalam dunia ini, adalah tidak mungkin untuk memenuhi seluruh keinginan kita. Tidak perduli bagaimana kuat dan berpengaruhnya seseorang, ia akan tetap mengalami frustrasi. Ia akan menginginkan sesuatu yang tidak dimilikinya. Ketika ia telah memilikinya, ia menginginkan yang lebih banyak atau sesuatu yang lainnya lagi.

Keinginan yang tidak terpuaskan adalah wajar bagi setiap insan di dunia ini.

Dalam kenyataannya, keinginan akan cinta orang lain selalu menimbulkan frustrasi. Jika seseorang jatuh cinta dan mengetahui bahwa perasaannya tidak terbalas, ia menjadi patah hati.

Hal ini sering terjadi di kalangan muda. Bahkan keadaan yang sudah jelas menyenangkan dapat berubah secara tiba-tiba.

Contoh Pertama :

"Siapa Yang Menikahi Gadis Itu?"

Suatu ketika seorang pemuda sangat mencintai seorang gadis dari kota lain. Setiap hari ditulisnya surat yang panjang kepada sang gadis, untuk mengutarakan cintanya.

Setelah mengirim tidak kurang dari ratusan surat, pemuda ini mengalami hal yang menyakitkan, sang gadis jatuh cinta dan menikah dengan tukang pos yang mengantarkan surat-surat tersebut.

Sejumlah orang jatuh cinta pada pandangan pertama dan tetap bahagia sampai akhir hidup mereka. Sedang yang lainnya jatuh cinta pada pandangan pertama, hanya untuk menyadari bahwa ia hanya tergila-gila dan menyesalinya kemudian.

Tetapi kebanyakan, cinta membutuhkan waktu untuk berkembang. Karena itu, jika cinta tidak cepat berkembang, seseorang jangan terlalu mudah kecil hati.
Ada pepatah menyatakan bahwa seorang pengecut tidak pernah memikat hati seorang wanita cantik.

Artinya bahwa seseorang yang terlalu cepat putus asa tidak akan dapat menikah dengan gadis yang diinginkannya. Sejumlah orang dapat bertingkah laku secara dewasa dan perlahan-lahan menarik perhatian orang lain dengan Keramahan, Pengertian, Ketabahan, dan Kasih sayang untuk sesama.

Orang tidak boleh seenaknya atau egois dalam mengungkapkan perasaannya. Bagaimanapun, perasaan manusia, seperti juga semua yang ada di alam, akan berubah. Jika seseorang dapat bertingkah laku baik, selalu ada kesempatan bahwa lawan jenisnya akan menyadari sifat-sifat baiknya dan timbul rasa simpati terhadap orang tersebut, tapi kesemuanya ini memerlukan waktu.

Tetapi harus ada batas dalam usaha memikat hati lawan jenis, terutama jika jawabannya sudah jelas ‘TIDAK’ dan orang tersebut seharusnya tidak menjadi ekstrim dalam mengutarakan cintanya. Seseorang seharusnya memberikan hak kepada orang lain untuk membuat keputusannya sendiri dan menghormati keputusan tersebut.

Tidak ada ketentuan bahwa cinta seseorang harus dibalas. Dalam keadaan di mana cinta seseorang tidak terbalas, jalan yang terbaik bagi kedua belah pihak adalah saling mengharapkan kebahagiaan pada masa yang mendatang dan tetap sebagai teman tanpa menimbulkan gangguan apapun kepada pribadi masing-masing atau menyusahkan diri mereka sendiri.

Contoh Kedua :

"Guna Guna Yang Sangat Manjur"

Suatu ketika seorang pemuda menginginkan gadis idamannya membalas cintanya. Pemuda ini mencoba mengirimkan bunga-bunga dan hadiah-hadiah tetapi gadis tersebut tidak menanggapi. Setelah mencoba berbagai cara tetapi tetap gagal untuk memikat gadis tersebut, akhirnya ia memikirkan sebuah rencana untuk memakai guna-guna cinta (Pelet), dan ia pun pergi ke vihara untuk membujuk seorang Bhante untuk membuatkan guna-guna tersebut untuknya.

"Maaf, kami tidak membuat guna-guna cinta di sini", sahut Bhante itu.

"Jika gadis tersebut tidak tertarik kepadamu, cobalah untuk mencari yang lain".

Tetapi pemuda tersebut bersikeras bahwa ia hanya menginginkan gadis itu. Karena tidak sanggup membujuknya dengan nasihat, Bhante itu mencoba cara lain.

"Baiklah", katanya, "Bawalah minyak ini bersamamu. Ketika engkau bertemu dengannya pagi-pagi sekali oleskan pada dahinya".

Keesokan harinya pemuda itu bangun pagi-pagi sekali, dengan tidak sabar menunggu gadis itu keluar dari rumahnya. Begitu ia keluar dengan sapu di tangan untuk menyapu halaman, pemuda itu lari menghampirinya,mencelupkan jarinya kedalam botol minyak dan mengoleskannya pada dahi gadis itu seperti yang diperintahkan oleh Bhante.

Sang gadis itu tidak hanya merasa jijik, tetapi malah menjadi sangat marah, sehingga ia mengejar pemuda itu, dan memukulnya dengan sapu. Pemuda itu mendapat pelajaran pahit tentang guna-guna cinta, dan memutuskan untuk mengalihkan cintanya kepada gadis lain yang menyukainya. Akhirnya karena kejadian ini, ia menjadi cukup bijaksana untuk menikahi gadis yang benar-benar mencintainya.

"Perceraian / Perpisahan"

Dalam setiap hubungan percintaan, selalu ada kemungkinan untuk bercerai / berpisah. Hubungan yang seperti mimpi telah menjadi hambar dan kedua pihak yang terlibat dapat melihat kedatangan perpisahan itu. Dalam perceraian ada perasaan yang terluka, terutama apabila perasaan seseorang telah terikat seluruhnya menjadi satu.

Simpul perasaan harus diputuskan cepat atau lambat, dan setiap kali mereka diputuskan, pihak-pihak yang terlibat akan sedikit berduka. Setiap orang harus menerima kenyataan bahwa untuk beberapa saat, ia akan mengalami perubahan yang tajam pada perasaannya. Ingatan terhadap hal-hal yang dikatakan atau dilakukan akan timbul secara tiba-tiba dan akan menimbulkan berbagai macam perasaaan.

Dalam keadaan demikian, sejumlah orang bertingkah laku seperti korban yang terluka. Jika tidak ada sesuatupun yang dapat dilakukan untuk mencegah perceraian / perpisahan, hal yang pertama-tama harus dilakukan adalah menerimanya sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindarkan. Sebelum melakukannya, seseorang akan ‘lumpuh’, dengan pikiran yang terus menerus mempertanyakan bagaimana caranya untuk memperbaiki sesuatu yang tidak dapat diperbaiki.

Seseorang harus siap untuk menjalani beberapa tahapan emosi sebelum pulih akibat perceraian / perpisahan. Pertama-tama akan terjadi goncangan. Sulit dipercaya bahwa perceraian / perpisahan telah terjadi, setelah itu harga dirinya akan jatuh. Ia merasa sangat malu, terutama kepada dirinya sendiri. Setelah goncangan dan menemukan cara untuk mengembalikan harga dirinya, ia harus menghadapi kesepian dari kesendiriannya.

Tetapi pada akhirnya ini akan berakhir juga. Tidak akan menghilang dalam sehari atau seminggu, prosesnya memakan waktu, tetapi pasti akan berakhir. Selama periode ini, ia harus mencoba setahap demi setahap. Jangan memikirkan yang telah lampau atau terlalu mengkhawatirkan masa mendatang. Cara ini membantunya untuk melalui hari-hari yang sangat buruk.

Dan kemudian, tanpa disadarinya, ia sudah tidak dipengaruhi lagi oleh perceraian / perpisahan, dan benar-benar bebas kembali. Dia harus menghindari dari melakukan kebodohan selama waktu penyesuaian. Sering kita membaca dari koran-koran yang memuat tragedi-tragedi seperti Bunuh diri, Kekerasan, dan Pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang yang patah hati.

Ada sebuah kasus mengenai seorang pemuda yang terjun ke sungai dan tenggelam, dengan surat-surat cintanya yang terbungkus rapi dalam sebuah kantong plastik tersimpan di kantongnya. Ia patah hati karena kekasihnya memutuskan untuk menikah dengan laki-laki lain.

Pemuda ini melakukan bunuh diri secara fisik. Banyak orang melakukan pembunuhan perasaannya, dengan menjadi gila karena frustrasi dan sangat kecewa dengan hubungan cinta yang putus. Sedang yang lainnya tidak mau menikah atau jatuh cinta lagi setelah hubungan cintanya kandas.

Mengapa orang-orang harus mengalami penderitaan ini?

Tidak lain karena mereka tidak mempunyai pengertian tentang ketidak-pastian hidup dan karena itu terperangkap dalam pergolakan perasaan. Mereka memperkuat ikatan kasih sayang dan memupuk harapan-harapan yang tidak masuk akal.

Seseorang yang lebih mengerti alam kehidupan ini akan mengetahui bahwa hidup dipengaruhi oleh delapan keadaan duniawi. Seperti ombak di samudra demikianlah delapan keadaan ini berpengaruh. Saat yang menyenangkan akan disambut dengan tangan terbuka, dan saat yang tidak menyenangkan agak sulit untuk dipikul. Seperti sebuah pendulum yang berayun ke depan dan belakang, keadaan yang diinginkan dan tidak diinginkan berlaku di dunia ini dari setiap orang tanpa kecuali harus menghadapinya.

Seseorang dapat menikmati keuntungan, tetapi untuk setiap keuntungan juga ada bahaya kerugian. Seperti terjadi pada popularitas, pujian dan kebahagiaan, yang bisa menimbulkan resiko negatifnya, yaitu : difitnah, dicela, dan menderita. Bagaimanapun, setiap kejadian akan membawa harapan bahwa keadaan akan berubah menjadi lebih baik.

Suatu kerugian dapat menjadi dasar untuk keuntungan yang akan datang, sementara ketidak-terkenalan dapat berubah menjadi terkenal, celaan menjadi pujian, dan penderitaan menjadi kebahagiaan. Itulah ketidak-tetapankeadaan duniawi. Dan persoalan cinta juga merupakan keadaan duniawi. Cinta antara dua manusia dapat tumbuh secara mendalam dan dewasa, bersikap saling memberi, saling menghormati, dan saling berbagi rasa. Tetapi juga dapat menjadi hambar bila pihak-pihak yang terlibat saling mengabaikan atau ketika keadaannya yang berubah tanpa ada satu pihak pun yang salah.

Salah satu cara untuk menghibur penderitaan batin yang mendalam atau frustasi adalah dengan membandingkan kadar/tingkat penderitaan dan kesulitan kita dengan yang dialami oleh orang-orang lain. Kita menyangka bahwa dunia akan kiamat. Tetapi, jika kita mencoba untuk melihat penderitaan orang lain dan mencoba untuk menghitung berkah-berkah yang kita dapatkan, kita akan terkejut menyaksikan betapa banyak orang yang lebih menderita daripada kita. Singkatnya, kita telah terlalu membesar-besarkan penderitaan kita, bahkan cenderung lebay...

Banyak yang lebih menderita daripada kita, tetapi mereka tidak terlalu mengkhawatirkannya. Metode lain untuk mengatasi persoalan kita adalah mengingat apa yang pernah kita alami dengan keadaan yang sama atau lebih buruk daripada persoalan kits yang sekarang dan bagaimana kita, dengan kesabaran dan usaha kita dapat mengatasi kesulitan kita.

Dengan demikian kita tidak akan membiarkan persoalan kita ‘menenggelamkan’ kita. Sebaliknya kita akan menyiapkan cara untuk menyelesaikan setiap persoalan yang kita hadapi. Kita harus menyadari bahwa kita telah melewati situasi yang lebih buruk dan kita telah siap dalam menghadapi persoalan apapun. Dengan pikiran seperti itu, kita segera akan memperoleh kembali kepercayaan diri dan akan dapat menghadapi dan menyelesaikan setiap persoalan.

Oleh Yang Mulia Bhikkhu K Sri Dhammananda Nayaka Mahathera

Dikutip dari majalah BUDDHA CAKKHU No.19/XI/90

Naskah Asli : How To Live Without Fear And Worry

Alih bahasa : Winata, Editor Jayadhammo