Translate

Rabu, 06 Januari 2016

KAMMA

Kamma (Sanskerta: karma) adalah kata dalam bahasa Pali yang berarti yang berarti perbuatan. Hal ini dalam arti umum meliputi semua jenis kehendak dan maksud perbuatan, yang baik maupun yang buruk, lahir atau batin dengan pikiran kata-kata atau tindakan. Makna yang luas dan sebenarnya dari Kamma, ialah semua kehendak atau keinginan dengan tidak membeda-bedakan apakah kehendak atau keinginan itu baik (bermoral) atau buruk (tidak bermoral), mengenai hal ini Sang Buddha pernah bersabda :
"O, bhikkhu, kehendak untuk berbuat (bahasa Pali : Cetana) itulah yang kami namakan Kamma. Sesudah berkehendak orang lantas berbuat dengan badan, perkataan atau pikiran."

Daftar isi Kamma sebagai ajaran Kamma dapat dibagi dalam tiga golongan:
10 (sepuluh) jenis kamma baik:
10 (sepuluh) jenis kamma buruk:
5 (lima) bentuk kamma celaka ( Akusala Garuka Kamma )

Lihat pula Kamma sebagai ajaran
Kamma bukanlah satu ajaran yang membuat manusia menjadi orang yang lekas berputus-asa, juga bukan ajaran tentang adanya satu nasib yang sudah ditakdirkan. Memang segala sesuatu yang lampau memengaruhi keadaan sekarang atau pada saat ini, akan tetapi tidak menentukan seluruhnya, oleh karena kamma itu meliputi apa yang telah lampau dan keadaan pada saat ini, dan apa yang telah lampau bersama-sama dengan apa yang terjadi pada saat sekarang memengaruhi pula hal-hal yang akan datang. Apa yang telah lampau sebenarnya merupakan dasar di mana hidup yang sekarang ini berlangsung dari satu saat ke lain saat dan apa yang akan datang masih akan dijalankan. Oleh karena itu, saat sekarang inilah yang nyata dan ada "di tangan kita" sendiri untuk digunakan dengan sebaik-baiknya.

Oleh sebab itu kita harus hati-hati sekali dengan perbuatan kita, supaya akibatnya senantiasa akan bersifat baik.
Kita hendaknya selalu berbuat baik, yang bermaksud menolong mahluk-mahluk lain, membuat mahluk-mahluk lain bahagia, sehingga perbuatan ini akan membawa satu kamma-vipaka (akibat) yang baik dan memberi kekuatan kepada kita untuk melakukan kamma yang lebih baik lagi.

Satu contoh yang klasik adalah sbb. :
Lemparkanlah batu ke dalam sebuah kolam yang tenang. Pertama-tama akan terdengar percikan air dan kemudian akan terlihat lingkaran-lingkaran gelombang. Perhatikanlah bagaimana lingkaran ini makin lama makin melebar, sehingga menjadi begitu lebar dan halus yang tidak dapat lagi dilihat oleh mata kita. Ini bukan berarti bahwa gerak tadi telah selesai, sebab bilamana gerak gelombang yang halus itu mencapai tepi kolam, ia akan dipantulkan kembali sampai mencapai tempat bekas di mana batu tadi dijatuhkan.
Begitulah semua akibat dari perbuatan kita akan kembali kepada kita seperti halnya dengan gelombang di kolam yang kembali ke tempat dimana batu itu dijatuhkan.

Sang Buddha pernah bersabda (Samyutta Nikaya I, hal. 227) sbb :
"Sesuai dengan benih yang telah ditaburkan begitulah buah yang akan dipetiknya, pembuat kebaikan akan mendapat kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula. Tertaburlah olehmu biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan merasakan buah-buah dari padanya".
Segala sesuatu yang datang pada kita, yang menimpa diri kita, sesungguhnya benar adanya. Bilamana kita mengalami sesuatu yang membahagiakan, yakinlah bahwa kamma yang telah kita perbuat adalah benar. Sebaliknya bila ada sesuatu yang menimpa kita dan membuat kita tidak senang, kamma-vipaka itu menunjukkan bahwa kita telah berbuat suatu kesalahan. Janganlah sekali-kali dilupakan hendaknya bahwa kamma-vipaka itu senantiasa benar.
Ia tidak mencintai maupun membenci, pun tidak marah dan juga tidak memihak. Ia adalah hukum alam, yang dipercaya atau tidak dipercaya akan berlangsung terus.

Terdapat dua belas jenis bentuk-bentuk kamma . Bentuk kamma yang lebih berat (bermutu) dapat menekan -- bahkan menggugurkan -- bentuk-bentuk kamma yang lain. Ada orang yang menderita hebat karena perbuatan kecil, tetapi ada juga yang hampir tidak merasakan akibat apapun juga untuk perbuatan yang sama. Mengapa? Orang yang telah menimbun banyak kamma baik, tidak akan banyak menderita karena perbuatan itu, sebaliknya orang yang tidak banyak melakukan kamma-kamma baik akan menderita hebat.
Singkatnya : Kamma Vipaka dapat diperlunak, dibelokkan, ditekan, bahkan digugurkan.

12 macam kamma tersebut dibagi berdasarkan 3 kelompok yakni
☆ berdasarkan waktu berbuahnya,
☆ berdasarkan kekuatan karma dan
☆ berdasarkan fungsinya.

Kamma berdasarkan jangka waktu berbuahnya :
♧ Ditthadhamma Vedaniya Kamma adalah Kamma yang berbuahnya juga dalam kehidupan sekarang.

♧Upajja Vedaniya Kamma adalah Perbuatan yang kita lakukan sekarang, hasilnya tepat di kehidupan yang akan datang.

♧ Aparapara Vedaniya Kamma adalah Perbuatannya itu hasilnya berturut-turut selama kehidupannya berlansung.

♧ Ahosi Kamma adalah Kamma yang tidak bisa berbuah lagi, karena jangka waktu berbuah dan kondisi pendukungya sudah habis.

Kamma berdasarkan kekuatannya :
♠ Garuka Kamma adalah Perbuatan yang akibatnya paling besar atau kuat. Yang termasuk Akusala Garuka Kamma.

♠ Asañña Kamma adalah Perbuatan yang dilakukan menjelang kematian yang kekuatnnya paling kuat. Jadi misalnya saat kita berada pada menjelang kematian maka setelah itu kita akan dilahirkan di alam sesuai dengan pkiran pada saat menjelang kematian itu, misalnya saja marah maka setelah itu akan terlahir di alam Neraka. Namun itu sesuai dengan karma baik kita juga. Jika karma baik kita menopang maka terlahir di alam Neraka hanya sebentar. Begitu pula sebaliknya.

♠ Aciñña Kamma adalah Perbuatan yang dilakukan terus menerus yang akhirnya akan menjadi watak atau kebiasaan ( karena kebiasaan yang dilakukan ).

♠ Katatta Kamma adalah Kekuatan yang paling ringan atau cetananya ringan.

Kamma berdasarkan Fungsinya :
シ Janaka Kamma adalah Kamma yang berfungsi untuk mendorong kelahiran suatu makhuk (potensi).

シ Upatahmbaka Kamma adalah Kamma yang fungsinya untuk memperkuat, menambah Janaka Kamma jadi hasilnya bisa menjadi besar (kamma yang searah).

シ Upapilaka Kamma adalah Kamma yang mengurangi kekuatan Janaka Kamma yang arahnya berlawanan.

シ Upaghataka Kamma adalah Kamma yang berfungsi untuk menghancurkan kekuatan dari Janaka Kamma.

Kamma dapat dibagi dalam 3golongan :
★ SuntingKamma Pikiran (mano-kamma).
★ Kamma Ucapan (vaci-kamma).
★ Kamma Perbuatan (kaya-kamma).

10 (sepuluh) jenis kamma baik:
1. Gemar beramal dan bermurah hati akan berakibat dengan diperolehnya kekayaan dalam kehidupan ini atau kehidupan yang akan datang.

2. Hidup bersusila mengakibatkan terlahir kembali dalam keluarga luhur yang keadaannya berbahagia.

3. Bermeditasi berakibat dengan terlahir kembali di alam-alam sorga.

4. Berendah hati dan hormat menyebabkan terlahir kembali dalam keluarga luhur.

5. Berbakti berbuah dengan diperolehnya penghargaan dari masyarakat.

6. Cenderung untuk membagi kebahagiaan kepada orang lain berbuah dengan terlahir kembali dalam keadaan berlebih-lebihan dalam banyak hal.

7. Bersimpati terhadap kebahagiaan orang lain menyebabkan terlahir dalam lingkungan yang menggembirakan.

8. Sering mendengarkan Dhamma berbuah dengan bertambahnya kebijaksanaan.

9. Menyebarkan Dhamma berbuah dengan bertambahnya kebijaksanaan (sama dengan No. 8).

10. Meluruskan pandangan orang lain berbuah dengan diperkuatnya keyakinan

10 (sepuluh) jenis kamma buruk:
∵ Pembunuhan akibatnya pendek umur, berpenyakitan, senantiasa dalam kesedihan karena terpisah dari keadaan atau orang yang dicintai, dalam hidupnya senantiasa berada dalam ketakutan

∵ Pencurian akibatnya kemiskinan, dinista dan dihina, dirangsang oleh keinginan yang senantiasa tak tercapai, penghidupannya senantiasa tergantung pada orang lain.

∵ Perbuatan asusila akibatnya mempunyai banyak musuh, beristeri atau bersuami yang tidak disenangi, terlahir sebagai pria atau wanita yang tidak normal perasaan seksnya.

∵ Berdusta akibatnya menjadi sasaran penghinaan, tidak dipercaya khalayak ramai.

∵ Bergunjing akibatnya kehilangan sahabat-sahabat tanpa alasan yang jelas.

∵ Kata-kata kasar dan kotor akibatnya sering didakwa yang bukan-bukan oleh orang lain.

∵ Omong kosong akibatnya bertubuh cacat, berbicara tidak tegas, tidak dipercaya oleh khalayak ramai.

∵ Keserakahan akibatnya tidak tercapai keinginan yang sangat diharap-harapkan.

∵ Dendam, kemauan jahat / niat untuk mencelakakan mahluk lain akibatnya buruk rupa, macam-macam penyakit, watak tercela.

∵ Pandangan salah akibatnya tidak melihat keadaan yang sewajarnya, kurang bijaksana, kurang cerdas, penyakit yang lama sembuhnya, pendapat yang tercela.

Lima bentuk kamma celaka ( Akusala Garuka Kamma )
Lima perbuatan durhaka di bawah ini mempunyai akibat yang sangat berat ialah kelahiran di alam neraka :
1. Membunuh ibu.
2. Membunuh ayah.
3. Membunuh seorang Arahat.
4. Melukai seorang Buddha Menyebabkan perpecahan dalam Sangha

Sumber :wikipedia

Selasa, 05 Januari 2016


MUTU DARI DANA

Dahulu kala seorang Raja mempersembahkan dana kepada Buddha, tetapi ia tidak mempersembahkannya sendiri melainkan dengan memerintahkan utusan untuk menyerahkannya kepada Buddha, setelah meninggal ia terlahir di Surga yang cemerlang tetapi tidak ada penghuninya. 

Penyerahan Dana kepada Bhikkhu Sangha sebaiknya diawali dengan pengambilan Sila. Disebutkan oleh Buddha bahwa ketika sang pemberi dan penerima merupakan penjunjung Moral maka perbuatan itu menjadi bernilai.

Tata cara persembahan dana yang benar :
1. Dana yang akan dipersembahkan sebaiknya berasal dari Mata pencaharian benar
2. Sang pemberi memiliki kesadaran bahwa dana untuk mendukung sang penerima dalam menjalankan kehidupan suci, bermoral dan bermutu (membabarkan Dhamma) adalah dana yang patut dipersembahkan
3. Kesadaran pada point kedua di ikuti dengan menghindari Lobha Kusala Citta (Memperhitungkan hasil Kamma seperti Prinsip Ekonomi, "Dengan persembahkan sekecil-kecilnya mengharapkan kebajikan sebesar-besarnya") beberapa insan akan mencari Bhikkhu senior dengan harapan beliau adalah pemasuk arus (Arahatta/Anagami/Sakadagami/Sotapanna) karena persembahan pada para suci wan pemasuk arus memang menghasilkan buah pahala yang sangat besar, sebaiknya setiap kali berdana ingatlah perjalanan hidup Buddha yang penuh pengorbanan, niat muncul karena Bakti, bukan karena hasrat pada surga, atau kelahiran yang bergelimang kekayaan.
4. Sikap berdana yaitu Mempersiapkan persembahan dengan baik, rendah hati, penuh rasa hormat, gembira dalam perencanaan, gembira dalam pelaksanaan, gembira mengingat bahwa berbuat baik itu berguna.
5. Menghindari kesombongan, karena telah bedana besar memandang kecil insan lain atau mengungkit persembahan yang telah diberikan sebagai Citra diri dimasyarakat
6. Jangan memborong jasa (menutup kesempatan bagi insan lain untuk berdana), tetapi bukalah ladang jasa (semisal pembuatan sumur, jalan, vihara, panti jompo, panti asuhan, rumah sakit)
7. Jika ada ketikak murnian selama proses diatas, selalu waspada dengan melaksanakan kebaktian permohonan maaf pada Buddha, Dhamma dan Sangha (Jangan mencemooh kesalahan pihak lain, lihat pada diri sendiri perbaiki diri dengan benar)
8. Jangan lupa setiap dana dipersembahkan, limpahkanlah jasa tersebut pada seluruh mahluk hidup

Selalu ingat Dana dan buah Jasanya dipengaruhi oleh niat seseorang, bukan karena ukuran, besar dan popularitas melainkan
1. Pandangan benar, seakan yang menyumbang besar akan mendapatkan hasil besar (Ingatlah dahulu ada kisah seorang fakir miskin yang mendengar Buddha akan melewati desanya, ia telah beberapa hari tidak makan dan baru menemukan sepotong kue, karena bakti yang besar kue itu dipersembahkan kepada Buddha dengan pikiran "Buddha sungguh sosok agung yang tiada tara, beliau sang pembabar Dhamma yang membawa kebahagiaan dan melatih diri dalam waktu lama, SUDAH SEPATUTNYA saya BERBAKTI, setelah persembahan itu ia meninggal kelaparan tetapi diliputi kebahagiaan dan terlahirlah ia kealam surga sebagai seorang Raja yang cemerlang) 
2. Penuh bakti dan Berbahagia (Seorang pembantu yang diliputi keharuan tiada tara melihat keagungan Ratunya dalam mempersembahkan vihara kepada Buddha, ia sangat bergembira karenanya, setelah meninggal sang pembantu terlahir bertetangga dengan Ratunya karena sikap mudita citanya ia juga memiliki istana yang besar)
3. Bijaksana dalam Berdana (Ingat pendapatan harus disimpan beberapa bagiannya, yang lain untuk usaha, untuk ongkos dan hal tak terduga)

Semoga Semua Mahluk Berbahagia

NILAI PERENUNGAN PADA BUDDHA, DHAMMA & SANGHA 

Salah satu jasa besar yang dapat mengantarkan kita terlahir dialam Surga dengan penuh kegemilangan adalah "Berlindung pada Tri Ratna", dengan melafalkan Paritta Tisarana. Kita tidak hanya sekedar melafalkan saja. Kita seharusnya memahami arti dari ‘Berlindung pada Tri Ratna’. 

Dahulu kala Pertapa Sumedha tergerak hatinya untuk menjadi Buddha, niat suci dan mulianya adalah menyelamatkan mahluk hidup dan memberi kebahagiaan, dihadapan Buddha Dipankhara pertapa Sumedha mengucapkan sumpah. Apa yang terjadi setelah itu?

Bodhisatta Sumedha kemudian melatih diri dan menebus ke Buddhaan itu dalam waktu 4 Asankheyya dan 100 Maha Kappa hingga kelak menjadi Buddha Sakyamuni (1 kappa adalah Empat Milyar Tiga Ratus Dua Puluh Juta Tahun).

Dalam waktu yang lama itu beliau menyempurnakan Sila, Dana, Keteguhan, Kewaspadaan, Semangat, Kesabaran, Ketabahan, Cinta kasih, Belas kasih, Keseimbangan bathin dan sifat luhur lainnya, setiap kehidupannya penuh dengan latihan.

Betapa luar biasa waktu 4 Asankheyya dan 100 Maha Kappa itu, beliau tidak berhutang apapun pada kita, tetapi demi kasih sayang dan pengetahuan untuk membebaskan seluruh mahluk hidup, beliau menyempurnakan diri.

Jadi renungkanlah setiap kita melakukan kebajikan, rendah hatilah karena kebajikan Buddha lebih tiada tara, setiap kita mengalami kesusahan ingatlah bahwa Bodhisatta Sumedha yang kemudian kelak menjadi Buddha lebih menderita dalam setiap latihannya, setiap kita dihina dan merasa rendah ingatlah bahwa Buddha sungguh rendah hati, ia putra Raja yang kemudian membawa mangkuk Pata dan mendapatkan makanan dari persembahan umat dan kepada sang pemberi ia kelak mendapatkan jasa tiada tara, setiap kita di intimidasi ingatlah keteguhan Bodhisatta Sidhatta dalam detik-detik menjelang pencapaian ke Buddha an ia di kepung oleh Mara dan Pasukan bersenjatanya, dari hardikan hingga bujukan beliau tidak bergeming bahkan semua kiriman buruk Mara berupa Abu panas, Senjata membara yang jatuh dari langit untuk mencelakai Nya berubah menjadi bunga dan tagara wangi...

Bahkan setelah menjadi Buddha, beliau hanya tidur beberapa jam, membabarkan khotbah Dhamma dengan berjalan kaki dari desa kedesa, Buddha menegur ketidak patutan, kemudian Buddha menjelaskan Dhamma sebagai pengetahuan bagi seluruh Mahluk, dan menyadari Anicca, kelak setelah Maha Pari Nibbana, Organisasi Sangha dibangun sebagai penjaga Dhamma, Ladang jasa tiada tara bagi umat manusia, juga sebagai kewajiban umat untuk melatih diri hingga mencapai Nibbana

Setiap kita merenungi hal ini maka keyakinan kita akan bertambah dan pikiran kita dipenuhi sifat bakti, karena itu mereka yang menjunjung tinggi Tri Ratana akan dijauhi Lobha Kusala Citta (Keserakahan pada kebajikan yang mengharapkan pahala) Setiap tindakannya selalu penuh dengan rasa syukur dan terima kasih atas penebusan 4 Asankheyya Kappa dan 100 Maha Kappa dari Buddha....Itu sebabnya kita selalu berkata dalam hati "Tiada yang dapat menyamai Buddha"

7 MACAM JASA YANG TERUS MENERUS

Sayadaw Nanda Siddhi memberikan ceramah mengenai tujuh macam jasa yang terus menerus.

Dalam bahasa Pali, Nibaddha berarti selalu, maksudnya selalu memperoleh jasa. Jika berbuat baik satu kali, kita telah melakukan dan kita akan selalu memperoleh pahalanya. Jika kita memiliki pahala seperti ini maka kita tidak akan mengalami penderitaan di alam menderita atau Apaya. Hal ini hanya berlaku pada kehidupan setelah kehidupan sekarang ini, tidak berlaku dalam lingkar kehidupan dan kematian kita seterusnya. Tetapi jika kita berlatih Meditasi Vipassana dan mencapai Tingkat Pertama dari Penerangan Sempurna, yaitu Sotapanna, maka pintu menuju Apaya akan tertutup selamanya.
Bagi sebagian besar orang merasa sulit berlatih meditasi. Namun, mereka ingin terbebas dari Alam Menyedihkan. Kita dapat melakukan tujuh macam perbuatan baik, dengan demikian setidaknya kita tidak akan lahir di Alam Menyedihkan. Oleh karena itu kita harus memahami apa saja yg dimaksud dengan tujuh macam Nibaddha Kusala.

Tujuh macam Nibaddha Kusala itu adalah :
1. Berlindung pada Tri Ratna
Disini kita berlindung pada Tri Ratna setiap hari dengan melafalkan Paritta Tisarana. Kita tidak hanya sekedar melafalkan saja. Kita seharusnya memahami arti dari ‘Berlindung pada Tri Ratna’. Maksudnya adalah tidak ada perlindungan lain selain Buddha, Dhamma, dan Sangha. Tri Ratna selalu disimpan dalam pikiran kita, agar dapat melakukan ini kita memerlukan keyakinan yg kuat pada Tri Ratna.

2. Mematuhi Pancasila Buddhis
Pancasila Buddhis diibaratkan sebagai pakaian kita, jika kita berpergian tanpa mengenakan pakaian maka orang lain akan mengganggap kita bodoh atau konyol. jika kita tidak mematuhi Pancasila Buddhis, kita seolah-olah tidak berpakaian. Pancasila Buddhis menjadi dasar dari nilai moral kita. jika kita melanggar Pancasila Buddhis, kita tidak akan berani tampil di depan umum, karena kita merasa tidak aman. Kelima Sila ini seharusnya dipatuhi sejak usia dini dengan dibimbing oleh orang tua atau murid Hyang Buddha, sehingga ini akan menjadi sebuah kebiasaan. Kelima jenis Nibaddha Kusala yang lainnya lebih mudah dilakukan karena mereka didapatkan dari Berdana.

3. Menarik Undian
Di Myanmar dan India, di sebuah vihara terdapat sekitar lima puluh, seratus, lima ratus, bahkan seribu orang Bhikkhu. Jika seseorang berniat mengundang beberapa Bhikkhu untuk melakukan persembahan dana dan mereka hanya memilih untuk mengundang beberapa bhikkhu tertentu saja, mereka tidak akan memperoleh Nibaddha Kusala. Oleh karena itu, mereka seharusnya menemui Kepala Vihara di sana yang akan menarik undian dan memutuskan siapa saja yg dapat pergi memenuhi undangan. Hanya bhikkhu yang terpilih saja yang boleh pergi. Jika kita dapat melakukan persembahan seperti ini, persembahan ini dianggap sebagai Sanghika Dana.

4. Persembahan Setiap Dua Minggu Sekali
Di Myanmar, pada setiap bulan baru dan bulan purnama, terutama di bulan vassa para bhikkhu dari semua vihara akan turun ke seluruh kota akan datang untuk menerima persembahan dana makanan/pindapatta. Dalam minggu itu orang-orang mengumpulkan uang, makanan, memikirkan apa yang akan dimasak, dan merencanakan pindapatta pada sekitar lima ratus hingga seribu orang bhikkhu. Di bulan vassa dana ini sangat bermanfaat. Karena para bhikkhu akan sulit untuk berkeliling menerima persembahan dana makanan di saat hujan. Jadi setiap dua minggu sepanjang tahun, seumur hidup, mereka bergabung dan melakukan perbuatan baik seperti ini dan mereka merasa bahagia. Ketika tiba saatnya mereka meninggal dunia, jika mereka dapat mengingat kebaikan ini, mereka akan lahir di Alam Bahagia karena kehendak/cetana seperti ini sangat kuat.

5. Mempersembahkan jubah, terutama di musim hujan/vassa
Di Malaysia kita tidak menganggap hal ini perlu dilakukan, tetapi di Myanmar dan India, hal ini diperlukan. Karena bulan vassa di kedua negara ini adalah saat musim hujan. Ketika para bhikkhu pergi mengumpulkan persembahan dana makanan biasanya mereka akan menjadi basah kuyup karena hujan, sehingga mereka membutuhkan jubah tambahan untuk berganti jubah. Jika para bhikkhu tidak memiliki jubah yang cukup, akan sulit bagi mereka untuk menjalani hidup sebagai seorang bhikkhu.

6. Menyumbang tangki air untuk tempat air minum
Di masa Sang Buddha hidup, persembahan seperti ini sangat penting. Jaman sekarang kebanyakan negara telah berkembang dengan baik dan orang-orang dapat minum dengan mudah. Jika kita dapat menyediakan sumur, maka orang2 dapat memperoleh air bersih dan dapat hidup sejahtera dan damai.
7. Membangun Vihara
Mendirikan atau menyumbang vihara lengkap dengan perabotan dan bahan baku, sehingga para bhikkhu dapat tinggal untuk belajar mendalami bahasa Pali atau bermeditasi. Ini merupakan jenis perbuatan baik yang terus menerus/ Nibaddha Kusala.
Ketujuh jenis perbuatan baik ini sangat mudah dilakukan dan lebih mudah daripada berlatih meditasi. Bagi mereka yg malas berlatih meditasi, mereka dapat melakukan perbuatan baik ini untuk menjamin mereka terlahir dalam alam yg baik di kehidupan mendatang.

Dikutip dari Majalah Berita Dharmayana Edisi No : 44 Tahun 2010

CINTA KASIH BUDDHA DAN IMPLEMENTASINYA

Sang Buddha Gotama seperti biasa sedang berjalan ke suatu daerah untuk membabarkan Dhamma kepada umatNya. Beliau diiringi oleh murid-muridNya, yang penuh cinta kasih dan pengabdian yang besar kepada Buddha, Sang Guru Agung.

Melihat Buddha yang dicintai oleh murid-muridNya, Devadatta iri dan berpikir : “Adalah suatu kenyataan, bahwa tidak ada satu mahlukpun yang dengan melihat Kesempurnaan Manusia Gotama mampu dan berani untuk menyentuhNya. Tetapi raja gajah Nalagiri adalah binatang yang amat galak dan liar, ia tidak mengetahui kesucian Buddha, Dhamma serta Sangha. Ia akan saya lepaskan untuk menghancurkan Bhikkhu Gotama.”

Kemudian Devadatta pergi menemui Raja Ajatasattu dan membicarakan masalah ini. Raja terpengaruh oleh penjelasannya dan memanggil penjaga gajah, lalu memberi perintah : “Penjaga, besok kamu harus memberi minuman keras kepada Nalagiri. Dan lepaskanlah Nalagiri di jalan raya saat Bhikkhu Gotama sedang berjalan.”

Devadatta bertanya kepada penjaga itu berapa banyak air yang biasa diberikan kepada gajah itu, penjaga itu menjawab : “Delapan guci.”

Devadatta lalu berkata : “Besok, berikan kepada Nalagiri enam belas guci minuman keras dan lepaskan dia ke arah jalan raya yang akan dilalui oleh Bhikkhu Gotama.”.

“Baiklah,” jawab penjaga itu.

Raja lalu menabuh tambur di seluruh kota dan mengumumkan : “Besok gajah Nalagiri akan menjadi mabuk karena minum minuman keras dan akan dilepas ke dalam kota. Penduduk di kota ini dapat melakukan semua pekerjaannya hanya pada pagi hari, sesudah itu tidak boleh ada satu orangpun yang berada di jalan raya.”

Devadatta lalu turun dari istana dan mendatangi kandang gajah Nalagiri, ia mendekati penjaga gajah itu dan berkata : “Saya katakan kepadamu, kita mampu untuk menghancurkan seseorang dari posisinya yang tinggi ke posisi yang rendah. Dan menaikkan posisi seseorang yang rendah menjadi posisi yang tinggi. Kalau kamu menginginkan kehormatan, besok pagi-pagi sekali, berikan Nalagiri enam belas guci minuman keras dan ketika Bhikkhu Gotama melewati jalan itu, lukailah gajah itu dengan tongkat berduri. Karena gajah yang kesakitan itu akan marah, ia akan menerobos kandangnya dan berlari keluar, arahkanlah ia ke jalan raya di mana Bhikkhu Gotama sedang berjalan. Maka gajah itu akan menghancurkanNya.”

Keduanya setuju dengan rencana jahat seperti itu. Berita ini bergema ke seluruh kota. Pengikut Sang Buddha mendengar berita buruk ini menjadi amat khawatir, lalu mereka mendatangi Vihara dan meminta Sang Buddha untuk tidak masuk ke kota pada keesokan harinya, karena ada bahaya besar yang menghadang Beliau. Mereka berjanji akan membawakan semua kebutuhan yang diperlukan oleh Sang Guru beserta murid-muridNya. Namun Sang Buddha menyatakan tetap akan menjalankan tugasNya seperti biasa. Para pengikutNya melihat bahwa mereka tidak akan mampu mengubah rencana Sang Guru Agung akhirnya mereka meninggalkan Vihara dengan perasaan amat khawatir.

Setelah mereka pergi, Sang Buddha merenungkan semua keluargaNya yang sudah mengerti akan Kebenaran. Beliau juga melihat dengan mata batinNya apabila Nalagiri berhasil ditaklukkanNya,maka delapan puluh ribu mahluk akan mendapatkan pengertian yang jelas tentang Dhamma Yang Mulia.

Keesokan paginya, Beliau memanggil Ananda, dan berkata untuk memberitahukan kepada para bhikkhu di delapan belas vihara yang berada di sekitar Rajagaha untuk menyertaiNya masuk ke kota. Bhikkhu Ananda melaksanakan apa yang diminta oleh Sang Guru, dan semua bhikkhu berkumpul di Vihara Veluvana.

Sang Buddha dengan disertai oleh semua murid-muridNya, berjalan memasuki Rajagaha. Penjaga gajah itu bekerja sesuai dengan instruksi Devadatta dan banyak orang berkerumun di sekitar jalan raya. Para pengikut Sang Buddha berpikir : “Hari ini mungkin akan terjadi pertempuran antara Sang Guru Agung dan gajah liar itu. Kami akan menyaksikan kekalahan gajah Nalagiri dari Sang Buddha yang tiada bandingannya.”

Penduduk lalu menaiki atap-atap rumah, gudang-gudang yang ada di sekitar jalan raya itu. Tetapi ada pula pertapa lain yang berpikir : “Nalagiri adalah gajah yang amat galak, binatang liar dan tidak mengetahui kebaikan dan cinta kasih yang besar dari seorang Buddha. Hari ini ia akan menghancurkan tubuh Bhikkhu Gotama dan Beliau akan meninggal. Hari ini kami akan melihat apa yang terjadi denganNya.”

Para pertapa lalu berdiri di atas sebuah gudang dan di tempat-tempat yang tinggi. Gajah Nalagiri melihat Yang Maha Sempurna berjalan menghampiriNya, penduduk yang ada di sana amat ngeri melihat gajah tersebut. Gajah yang amat kesakitan itu berlari dengan liarnya, ia menghancurkan pagar rumah-rumah dan mengangkat belalainya tinggi-tinggi, serta menginjak-injak kereta menjadi hancur berantakan. Dengan kuping dan ekornya yang terangkat, ia berlari dengan kencangnya seperti gunung yang tinggi menghampiri Yang Maha Sempurna.

Para bhikkhu yang melihat gajah Nalagiri berlari mendatangi Sang Buddha, memberitahu Sang Guru Agung : “Yang Mulia, gajah Nalagiri berlari di sepanjang jalan ini, ia adalah binatang yang amat galak dan liar, ia pembunuh manusia. Kami mohon Yang Mulia balik kembali.”

“O….Para Bhikkhu datanglah ke sini, jangan takut; tidak ada satu mahlukpun yang dapat menghancurkan Sang Tathagata dengan suatu serangan. Tathagata mencapai Parinibbana bukan karena suatu serangan.”

Para bhikkhu, tetap memperingatkan Sang Guru sampai tiga kali. Yang Mulia Sariputta lalu meminta Sang Buddha dengan berkata : “Yang Mulia, apabila ada satu persembahan yang harus diberikan kepada seorang ayah, maka beban itu terletak pada anak sulungnya. Saya akan mengalahkan binatang ini.”

Sang Buddha lalu berkata : “Sariputta, kekuatan seorang Buddha adalah satu hal dan pengikutnya adalah hal yang lain.” Beliau menolak tawaran itu, dan berkata : “Sariputta, tetaplah tinggal di sini.”

Para bhikkhu lainnya juga meminta ijin untuk mengalahkan gajah liar itu, tetapi Sang Guru menolak permintaan mereka. Kemudian Yang Mulia Ananda, pembantu Sang Buddha yang mempunyai pengaruh besar terhadap Sang Buddha, tidak mampu bersikap diam dalam menghadapi masalah ini, ia lalu berteriak : “Biarkan gajah itu membunuh saya terlebih dahulu.”

Yang Mulia Ananda berdiri di depan Sang Buddha, siap untuk mengorbankan hidupnya untuk Sang Tathagata. Tetapi Sang Buddha berkata kepadanya : “Bergeserlah Ananda, jangan berdiri di hadapanKu.”

Yang Mulia Ananda berkata : “Yang Mulia, gajah ini amat galak dan liar, ia dapat membunuh orang, seperti nyala api pada permulaan suatu lingkaran. Biarkanlah ia membunuh saya terlebih dahulu dan sesudah itu ia baru dapat menghampiri Yang Mulia.”

Yang Mulia Ananda memohon tiga kali, dan Beliau tetap berdiri di depan Sang Tathagata, Beliau tidak mau mundur. Kemudian Sang Buddha dengan kekuatan kesaktianNya membuat Yang Mulia Ananda berada di belakang Beliau dan menempatkanNya di tengah-tengah para bhikkhu yang tengah berkerumun.

Pada waktu itu ada seorang ibu, terlihat oleh pandangan gajah Nalagiri, ibu itu amat ketakutan, ia ingin berlari karena ketakutan, tetapi anaknya terjatuh ketika ia ingin menggendong anak itu di pinggangnya. Posisinya berada di antara Sang Tathagata dan gajah Nalagiri, ibu itu berusaha berlari. Gajah itu mengejar ibu tersebut, ibu tersebut terpaku berdiri di tempatnya dengan amat ketakutan bersama anaknya yang menjerit sekeras-kerasnya.

Sang Buddha dengan penuh cinta kasih yang terpancar dengan kuatnya (odissakametta) dan dengan suaraNya yang penuh kelembutan seperti suara Dewa Brahma, memanggil Nalagiri : “Wahai..! Nalagiri…! Siapa yang membuatmu menjadi gila dengan enam belas guci minuman keras? Kamu tidak diperintahkan untuk menyerang orang lain, tetapi diarahkan untuk menyerangKu. Jangan keluarkan kekuatanmu dengan merusak tanpa tujuan, datanglah kepadaku.”

Mendengar suara Buddha, Nalagiri membuka matanya dan melihat tubuh Sang Buddha yang bersinar terang. Ia menjadi gelisah dan dengan kekuatan cinta kasih Sang Buddha yang amat besar, maka pengaruh minuman keras yang amat kuat itupun hilang seketika. Dengan menurunkan belalainya dan mengoyang-goyangkan kupingnya ia mendatangi dan berlutut di kaki Sang Tathagata. Kemudian Sang Tathagata berkata : “Nalagiri, engkau adalah gajah jahat, Aku adalah Gajah Buddha, tidak jahat dan liar, tidak membunuh manusia, tetap mengembangkan cinta kasih.”

Sambil berkata demikian Sang Tathagata lalu mengulurkan tangan kananNya dan mengelus-elus kepala gajah itu dan mengajarkan Dhamma kepadanya dengan bersabda :
“Jangan menyerang Sang Buddha, O, gajah..! Dengan pikiran akan melukaiNya, akan membuatmu menderita. Pembunuh seorang Buddha tidak akan memperoleh alam kehidupan yang baik setelah kematiannya.”

“Bebaskanlah dirimu dari mabuk-mabukkan dan melakukan perbuatan bodoh. Karena mereka yang bodoh tidak akan dapat pergi ke alam yang baik. Kamu harus melakukan perbuatan baik sehingga kamu dapat menuju ke alam bahagia.”

Seluruh badan gajah itu bergetar karena diliputi oleh kebahagiaan yang amat besar, dan ia sekarang bukan hanya binatang berkaki empat biasa lagi, tetapi ia telah mencapai Tingkat Kesucian Pertama (Sotapanna).

Penduduk yang melihat keajaiban ini berseru dengan gembira dan bertepuk tangan dengan riang. Dengan penuh kebahagiaan, mereka menutupi badan gajah itu dengan hiasan-hiasan. Kemudian Nalagiri terkenal dengan nama Dhanapalaka (pemilik kekayaan) dan ia menjadi amat jinak dan tidak menyakiti siapapun.

Setelah Sang Buddha memperlihatkan keajaiban ini, Beliau berpikir adalah tidak patut untuk mencari dana di tempat yang sama. Sesudah mengalahkan para pertapa tersebut, dengan diiringi oleh murid-muridNya, Beliau melangkah menuju ke kota seperti orang yang telah memenangkan suatu pertempuran dan pulang kembali ke Vihara Jetavana. Para penduduk menuju Vihara Jetavana, berdana makanan berupa nasi, minuman dan makanan enak lainnya kepada Sang Guru Agung beserta murid-muridNya. Penduduk kota itu telah menanam kebajikan yang besar sekali.

Kisah Sang Buddha yang sangat menyentuh perasaan ini, bahwa kekuatan cinta kasih yang dimiliki oleh Sang Buddha dapat mengatasi kemarahan seekor gajah. Karena itu, dalam kehidupan sehari-hari kita harus selalu berusaha meniru perilaku penuh kasih Sang Buddha dengan mengembangkan pikiran, ucapan dan perilaku cinta kasih kepada semua makhluk yang berada di sekitarnya. Kita harus selalu berusaha menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi tanpa menggunakan kekerasan sehingga dapat membawa kebahagiaan untuk semua pihak. Jangan karena kemarahan maupun kebencian, ia mengharapkan pihak lain menderita. Sesungguhnya, hanya cinta kasih yang selalu dapat mengalahkan kebencian. Bahkan, sedemikian cinta kasih Buddha kepada semua makhluk, Beliau berkenan menolong ibu yang sangat ketakutan saat ia dan anaknya terjebak di tengah kemarahan gajah tersebut.

Kesetiaan murid Buddha yang terdiri dari para umat maupun Bhikkhu. Mereka semua rela mengorbankan diri demi keselamatan dan kesejahteraan Sang Buddha. Kerelaan dan kesetiaan seperti inilah yang hendaknya kita latih dan kembangkan kepada sesama mahluk, khususnya kepada mereka yang dicintai. Kebajikan semacam inilah yang akan menghasilkan kebahagiaan.

HIRI JATAKA 
(Kisah perlunya Rasa Malu pada kejahatan)


Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang saudagar kaya, teman dari Anāthapiṇḍika (Anathapindika), yang tinggal di daerah perbatasan.

Di dalam kisah ini, ketika saudagar dari Benares diberitahukan bahwa para pengikut dari saudagar asing tersebut merampas harta bendanya dan setelah itu mereka lari menyelamatkan diri, ia berkata, “Karena mereka lalai untuk melakukan hal yang wajib untuk mereka lakukan kepada orang asing yang datang kepada mereka, maka mereka tidak akan menemukan siapa pun yang bisa melakukan hal yang baik kepada mereka.”

Dan setelah mengatakan itu, ia mengucapkan syair-syair berikut:

Ia yang mengurangi rasa hormat,
ketika memainkan perannya sebagai seorang pelayan,
membenci dirimu di dalam hatinya,
sedikit berbuat (kebajikan), banyak berbicara—
maka teman yang demikian tidaklah seharusnya dimiliki.

Anda harus dengan sungguh-sungguhMENEPATI SETIAP JANJI,
JANGAN menjanjikan apa yang TIDAK SANGGUP Anda lakukan;
Orang bijak akan memandang dengan sebelah mata terhadap ORANG YANG MEMBUAL 

Tidak seharusnya seseorang CURIGA TANPA ALASAN
atau TIDAK MENCARI penjelasan DENGAN TELITI 
Seorang teman seharusnya menaruh kepercayaan kepada temannya, seperti seorang anak kepada air susu ibunya,
dan tidak pernah, disebabkan oleh perkataan dari orang asing,
menjadi terpisah dari temannya.

Ia yang menggerakkan RODA PERSAHABATAN DENGAN BAIK
akan mendapatkan KEBAHAGIAAN dan KEHORMATAN

Sedangkan ia yang mencicipi kebahagiaan dalam kesendirian,
mendapatkan buah manis dari kebenaran—
ia hanya tahu melepaskan diri dari belenggu keburukan dan penderitaan

Demikianlah Sang Mahasatva, merasa tidak suka berhubungan dengan teman-teman yang jahat, dengan kekuatan penyendiriannya, ia memaparkan ajarannya secara maksimal dan menuntun mereka yang pada puncaknya mencapai nibbāna (nibbana).

Setelah Sang Guru menyelesaikan uraian ini, Beliau mempertautkan kisah kelahiran ini: “Pada masa itu, saya sendiri adalah saudagar dari Benares.”
KISAH UPASIKA LAJA
(Persembahan Yang Berbuah Cemerlang)

Suatu hari lewat Bhante Maha Kassapa yang baru selesai bermeditasi tujuh hari tujuh malam, memasuki Niroda Samapati. Maha Kassapa berjalan berpindapatta untuk menerima dana yang akan dipersembahkan oleh umat. Begitu melihat Bhante Maha Kassapa lewat, dia mengatakan "Bhante, berhenti dulu saya ingin berdana". Wanita ini yang bernama Upasika Laja mengambil segenggam jagung yang sudah digoreng, membungkusnya, dan memasukkannya ke dalam mangkok Bhante Maha Kassapa.
Upasika ini mengatakan "Bhante, berikanlah berkahmu padaku." Maha Kassapa menyebutkan "Icchitam pattitam tumham. Kippameva samijhatu —Dengan kekuatan kebaikanmu semoga semua cita-citamu tercapai".

Upasika Laja ini begitu bahagia pada waktu Bhante Maha Kassapa pulang ke vihara. Dia mengikuti Beliau dari belakang. Di tengah-tengah pematang sawah muncul seekor ular yang menggigit Bhante Maha Kassapa. Tetapi karena jubahnya turun sampai ke bawah, ular ini hanya berhasil menggigit kain jubah dan tidak berhasil menggigit Bhante Maha Kassapa. Upasika Laja yang mengikuti dari belakang kemudian dipatuk, digigit oleh ular yang berbisa itu.

Sesampai di vihara, Laja kaku membiru kemudian meninggal. Karena Upasika Laja ini meninggal dengan pikiran yang amat bahagia, maka Upasika Laja ini dilahirkan di alam sorga.

Tiap-tiap pagi, sebagai dewa, Upasika Laja datang ke kuti Bhante Maha Kassapa. Dia menyapu, membersihkan kuti Bhante Maha Kassapa dan mengisi air di kolam yang sudah kosong.

Dia berpendirian, "Kalau saya berdana segenggam jagung goreng bisa menyebabkan saya dilahirkan di alam sorga, alangkah besar manfaatnya kalau saya berdana lebih daripada itu dan saya berdana setiap hari. Oleh karena itu meskipun saya sebagai dewa, saya tetap akan berdana dengan membersihkan pondok Bhante Maha Kassapa.

Tiap-tiap hari Bhante Maha Kassapa bangun dan membuka pintu, semua sudah bersih. Semua sudah teratur dengan baik. Bhante Maha Kassapa berpikir, "Siapakah yang mengerjakan ini?" Mungkin ada bhikkhu-bhikkhu muda yang membantu saya. Tetapi Bhante Maha Kassapa tidak berhasil menjumpai siapa yang membantu.

Suatu hari Bhante Maha Kassapa berusaha untuk mengintip siapakah yang membersihkan pondoknya. Akhirnya dilihat seorang dewa membersihkan pondok Bhante Maha Kassapa. Bhante Maha Kassapa bertanya, "Siapakah engkau?"
"Bhante, inilah aku muridmu".
"Aku tidak pernah punya murid dewa", kata Bhante Maha Kassapa.

Dewa ini kemudian bercerita, "Aku adalah wanita miskin, Bhante. Yang hanya mampu berdana segenggam jagung goreng. Pada waktu itu aku digigit ular dan karena aku meninggal dengan perasaan bahagia dan kebaikan luar biasa, aku dilahirkan sebagai dewa.

Sekarang aku ingin berbuat kebaikan yang lebih banyak. Kalau aku hanya berdana sekali dengan segenggam jagung goreng menyebabkan aku dilahirkan di alam dewa sorga, alangkah tinggi manfaatnya. Alangkah tinggi buahnya kalau aku berbuat baik setiap hari kepada Bhante".

Maha Kassapa mengatakan, "Kamu ini dewa, sebagai bhikkhu aku mempunyai kewajiban sendiri. Pergilah ke alammu sendiri, tidak usah membantu saya".
Dewa ini pergi dengan menangis. Pada saat dia terbang untuk kembali ke alam dewa. Sang Buddha melihat peristiwa ini mencegat di tengah perjalanan. Betapa bahagianya dewa ini. Diusir oleh Bhante Maha Kassapa, murid Sang Buddha, sekarang Sang Buddha sendiri datang menemui dia. Sang Buddha mengatakan, "Janganlah bersedih hati. Ya demikianlah kewajiban bhikkhu. Bhante Maha Kassapa memang mempunyai keistimewaan. Dia ingin hidup sederhana dan menyelesaikan tugasnya sendiri".

Sang Buddha kemudian mengatakan, "Kalau seseorang ingin berbuat baik janganlah kebaikan itu ditunda-tunda". Karena buah kebaikan adalah kebahagiaan, begitu juga hendaknya dalam berbuat kebajikan janganlah mengharapkan pamrih.