Translate

Rabu, 11 Januari 2017

48 Sumpah Buddha Amitabha



48 Sumpah Buddha Amithaba

Dipamkara berkata, mohon Bhante mendengarkan dengan seksama.
Jika saya berhasil mendapatkan Bodhi teratas dan mendapat pencerahan sempurna, tanah suci yang saya tinggali akan memiliki keindahan yang tak terhingga yang tak bisa dimaginasi. Tidak ada neraka, setan kelaparan, binatang maupun insekta. Semua manusia termasuk mahluk dari alam yang lebih rendah, bila terlahir di tanah suci saya, akan mendapat pencerahan dan mencapai Anuttara Samyak Samboddhi. Tidak akan terlahir kembali di alam yang buruk . 
Bila sumpah ini semua tercapai baru saya menjadi Buddha, bila tidak saya tidak akan mencapai pencerahan tertinggi.

Sumpah ke 1 - Tidak ada alam kesengsaraan di Sukhavati

Sumpah ke 2 - Tidak akan terlahir kembali di alam yang lebih buruk

Pada saat saya menjadi Buddha, semua mahluk dari 10 penjuru dunia lain yang terlahir di tanah suci saya akan memiliki tubuh keemasan, 32 karakteristik manusia sempurna , tegap dan bersih, tanpa kecuali. Bila ada yang memiliki perbedaan wajah dan wujud, ada yang tampan dan buruk rupa, saya tidak akan mencapai pencerahan.

Sumpah ke 3 - Memiliki tubuh keemasan

Sumpah ke 4 - Memiliki 32 karakteristik manusia sempurna

Sumpah ke 5 - Memiliki paras yang sama indah tanpa perbedaan

Pada saat saya menjadi Buddha, semua mahluk yang terlahir di tanah suci saya akan mempunyai kemampuan untuk melihat karma baik dan buruk yang dilakukannya di kehidupan masa lalu yang tak terhitung jumlahnya. Juga mampu untuk melihat dan mendengar apa yang sedang terjadi di 10 penjuru alam semesta. Bila sumpah ini tidak tercapai, saya tidak akan mendapat pencerahan.

Sumpah ke 6 - Memiliki pengetahuan tentang kehidupan lalu

Sumpah ke 7 - Memiliki penglihatan sakti

Sumpah ke 8 - Memiliki pendengaran sakti

Pada saat saya menjadi Buddha, semua mahluk yang terlahir di tanah suci saya, akan memiliki kemampuan untuk membaca pikiran mahluk lain. Bila tidak dapat membaca secara detil pikiran mahluk lain dari dunia yang berjarak ratusan juta yojana, saya tidak akan mencapai pencerahan.

Sumpah ke 9 - Memiliki kemampuan membaca pikiran mahluk lain

Pada saat saya menjadi Buddha, semua mahluk yang terlahir di tanah suci saya, akan memiliki kemampuan untuk bepergian ke mana saja dalam sekejab . Bila mereka tidak dapat mencapai dunia lain yang berjarak ratusan juta yojana untuk memberikan persembahan pada Buddha lain , saya tidak akan mencapai pencerahan.

Sumpah ke 10 - Memiliki kemampuan untuk bepergian ke mana saja dalam sekejab

Sumpah ke 11 - Memiliki kemampuan untuk memberikan persembahan pada semua Buddha

Pada saat saya menjadi Buddha, semua mahluk yang terlahir di tanah suci saya, akan menjauhi pikiran yang membedakan. Akan memiliki indera yang tenang dan jernih. Bila mereka tidak pasti akan mencapai pencerahan tertinggi dan memasuki Maha-Parinirvana, saya tidak akan mencapai pencerahan.

Sumpah ke 12 - Memiliki kepastian untuk mencapai pencerahan tertinggi

Pada saat saya menjadi Buddha, sinar ku akan tak terhingga menerangi 10 penjuru. Sinar yang jauh melewati sinar para Buddha lain, jauh lebih terang dari matahari dan rembulan, ribuan, puluhan ribu, ratusan juta kali. Bila ada mahluk yang melihat sinar ku menerangi badannya, maka dia akan berbahagia, hatinya menjadi welas asih dan berbuat kebaikan. Dia akan terlahir di tanah suci saya, bila tidak, saya tidak akan mencapai pencerahan.

Sumpah ke 13 - Sinar tak terbatas

Sumpah ke 14 - Sinar membawa kebahagiaan dan ketenangan

Pada saat saya menjadi Buddha, umur ku tidak terhingga. Boddhisatva, Sravaka dan Pratyeka Buddha di tanah suci ku tidak terhingga, umur mereka juga tidak terhingga. Semua mahluk dari segenap dunia Buddha akan mendapat pencerahan tertinggi dan jumlahnya tak terhitung. Bila dapat menghitung jumlah mereka, maka saya tidak akan mencapai pencerahan.

Sumpah ke 15 - Umur tak terbatas

Sumpah ke 16 - Mahluk yang akan mendapat pencerahan tak terbatas

Pada saat saya menjadi Buddha, para Buddha lain yang tak terhitung jumlahnya dari 10 penjuru dunia yang tak terhingga. Bila para Buddha tidak bersama sama memuja nama ku dan mengatakan keindahan tanah suci ku, saya tikak akan mencapai pecerahan.

Sumpah ke 17 - Mendapat pujian dari Buddha di seluruh penjuru

Pada saat saya menjadi Buddha, mahluk dari 10 penjuru, bila mereka melafalkan nama ku, merasa bahagia, dan meng-anugerahkan semua karma baiknya untuk terlahir di tanah suci ku. Meskipun hanya 10 ingatan / lafal, bila tidak terlahir di tanah suci, saya tidak akan mencapai pencerahan dan saya telah melakukan kejahatan besar.

Sumpah ke 18 - Melafalkan nama Amitabha Buddha 10 kali akan terlahir di Sukhavati

Pada saat saya menjadi Buddha, mahluk dari 10 penjuru, bila mereka melafalkan nama ku, mengerahkan perasaan Bodhi, mengumpulkan jasa dan karma baik, melaksanakan 6 Paramita dengan seksama, tetap dan tidak mundur. Meng-anugerahkan semua kebaikan untuk terlahir di tanah suci ku, dengan konsentrasi penuh mengingat ku, siang malam tak berhenti. Menjelang kematian, saya dan para Boddhisatva akan mucul di hadapannya, menjemput, menerima dan menjadikannya Boddhisatva tingkat ke-7 di tanah suci ku. Bila ini tidak terlaksana, saya tidak akan mencapai pencerahan.

Sumpah ke 19 - Mengingat Amitabha akan menuju Bodhi

Sumpah ke 20 - Pada saat kematian akan dijemput

Pada saat saya menjadi Buddha, mahluk dari 10 penjuru, bila mereka melafalkan nama ku, selalu mendambakan tanah suci ku. Menuju Bodhi, terus maju pantang mundur, melimpahkan semua jasa untuk terlahir di Sukhavati, tidak ada yang tidak berhasil. Bila ada pembuat dosa yang melafalkan nama ku, dan menyesali semua dosanya, berbuat kebajikan, juga melaksanakan sila, ingin untuk dilahirkan di tanah suci, pada saat kematian tidak akan jatuh ke alam yg lebih rendah, akan langsung terlahir di Sukhavati. Bila tidak terlaksana, saya tidak akan mencapai pencerahan.

Sumpah ke 21 - Setelah pertobatan akan terlahir di Sukhavati

Pada saat saya menjadi Buddha, di tanah suci ku tidak ada wanita. Bila ada wanita dari dunia lain yang melafalkan nama ku, akan mendapat ketenangan hati, menuju Bodhi, tidak ingin menjadi wanita lagi dan ingin dilahirkan di Sukhavati. Maka pada saat kematian, akan berubah menjadi pria dan terlahir di tanah suci ku. Semua mahluk dari 10 penjuru dunia yang datang ke Sukhavati, akan dilahirkan di danau dengan 7 perhiasan di tengah bunga lotus. Bila tidak terlaksana, saya tidak akan mencapai pencerahan.

Sumpah ke 22 - Tidak ada wanita di Sukhavati

Sumpah ke 23 - Wanita akan terlahir sebagai pria

Sumpah ke 24 - Terlahir dari bunga lotus

Pada saat saya menjadi Buddha, mahluk dari 10 penjuru dunia yang melafalkan nama ku, menerima Dharma dengan kebahagiaan. Dengan ketenangan hati melaksanakan pelatihan Boddhisatva secara rajin. Para dewa dan manusia akan menghormatinya. Sesudah kematian, akan dilahirkan di keluarga terhormat dengan panca indera dan organ tubuh yang lengkap dan selalu melaksanakan jalan para dewa. Bila tidak terlaksana, saya tidak akan mencapai pencerahan.

Sumpah ke 25 - Dihormati oleh para dewa

Sumpah ke 26 - Mengingat Amitabha mendapat anugerah

Sumpah ke 27 - Selalu melaksanakan jalan para dewa

Pada saat saya menjadi Buddha, di tanah suci ku tidak ada kata buruk. Semua mahluk yang terlahir di Sukhavati akan melaksanakan pelatihan ke Buddha an sepenuh hati, jauh dari kekhawatiran dan mendapat ketenangan pikiran. Mendapatkan hati yang jernih dan sejuk, kebahagiaan yang dialami sama seperti seorang Arhat. Mereka juga akan meninggalkan perbedaan perbedaan keduniawian dan tidak melekat pada jasad mereka. Bila tidak tercapai, maka saya tidak akan mencapai pencerahan.

Sumpah ke 28 - Tidak ada kata buruk di Sukhavati

Sumpah ke 29 - Menjalankan pelatihan ke Buddha an dengan seksama

Sumpah ke 30 - Bahagia bagaikan Arhat

Sumpah ke 31 - Tidak melekat pada jasad tubuh

Pada saat saya menjadi Buddha, mahluk yang terlahir di tanah suci ku memiliki benih kebaikan yang tak terhingga dan akan mendapatkan kekuatan hebat seperti Narayana. Puncak kepalanya mengeluarkan sinar yang penuh dengan kebijaksanaan dan memiliki kepandaian berbicara dalam pembabaran Dharma. Membabarkan dan menjalankan Dharma secara konsisten. Bila tidak tercapai, maka saya tidak akan mencapai pencerahan.

Sumpah ke 32 - Memiliki kekuatan seperti Narayana

Sumpah ke 33 - Memiliki sinar kebijaksanaan dan kepandaian berbicara

Sumpah ke 34 - Memiliki kemampuan membabarkan Dharma

Pada saat saya menjadi Buddha, semua mahluk yang terlahir di tanah suci ku pada akhirnya pasti akan mendapat pencerahan tertinggi, kecuali mereka bertekad untuk membawa mahluk lain ke jalan Bodhi. Meskipun mereka terlahir di dunia lain, mereka tidak akan terjatuh ke alam rendah yang penuh kesengsaraan. Dalam membabarkan atau mendengarkan Dharma, mereka memiliki kekuatan sakti untuk pergi ke mana saja atau berbuat apa saja. Bila ini tidak tercapai, maka saya tidak akan mencapai pencerahan.

Sumpah ke 35 - Pada akhirnya akan mencapai pencerahan tertinggi

Sumpah ke 36 - Kekuatan sakti untuk pergi ke mana saja dan melakukan apa saja demi membawa mahluk ke jalan Bodhi

Pada saat saya menjadi Buddha, mahluk yang terlahir di tanah suci ku akan mendapat makanan, pakaian, macam macam kebutuhan lainnya secara spontan dan sempurna sesuai dengan keinginan. Jika mereka ingin memberikan persembahan pada para Buddha dari 10 penjuru, maka para Buddha akan menerimanya secara spontan melalui pikirannya. Bila tidak tercapai, maka saya tidak akan mencapai pencerahan.

Sumpah ke 37 - Makanan dan pakaian sesuai dengan keinginan

Sumpah ke 38 - Persembahan akan diterima secara spontan oleh para Buddha

Pada saat saya menjadi Buddha, semua objek di tanah suci ku murni, indah dan cemerlang, sempurna tidak dapat dilukiskan. Meskipun dengan penglihatan saktinya, mahluk di Sukhavati tidak akan bisa membedakan objek objek itu secara unik berdasarkan warna, nama dan kualitas. Bila tidak tercapai, maka saya tidak akan mencapai pencerahan.

Sumpah ke 39 - Sukhavati memiliki keindahan sempurna

Pada saat saya menjadi Buddha, di tanah suciku terdapat pohon warna warni yang tak terhitung jumlahnya. Ada yang tingginya ratusan yojana, ada yang ribuan yojana. Pohon yang berada di vihara ku tingginya 4 juta Li. Para Boddhisatva, meskipun belum mencapai kualitas teratas, akan tetap dapat memahami keindahan pohon pohon ini. Jika mahluk di Sukhavati ingin membayangkan mahluk, benda dan objek lain dari dunia Buddha di segenap penjuru, mereka akan dapat melakukannya dengan menaruh perhatian di antara pohon pohon tadi, sebagai mana mereka melihat bayangan sendiri di kaca. Bila tidak tercapai, maka saya tidak akan mencapai pencerahan.

Sumpah ke 40 - Pohon warna warni yang tak terhitung

Sumpah ke 41 - Mengamati mahluk dan objek lain melalui pohon

Pada saat saya menjadi Buddha, tanah suci ku tidak mempunyai batas, damai, terang dan berkilau seperti kaca yang memantulkan cahaya ke seluruh penjuru dunia Buddha. Mahluk di seluruh penjuru ketika melihat terang dari Sukhavati akan menuju Bodhi. Bila tidak tercapai, maka saya tidak akan mencapai pencerahan.
Sumpah ke 42 - Terang dari Sukhavati menyinari seluruh penjuru

Pada saat saya menjadi Buddha, semua benda dari tanah hingga ke langit, seperti istana, menara pandang, danau dan sungai, bunga dan pohon semua terbuat dari bahan berharga yang wangi. Wewangian itu akan terhembus oleh angin dan menyebar ke dunnia di seluruh penjuru. Sewaktu mencium wangi ini, semua mahluk akan mendapat ketenangan pikiran dan tubuh untuk melakukan pelatihan kedamaian sesuai dengan ajaran Buddha. Bila tidak tercapai, maka saya tidak akan mencapai pencerahan.

Sumpah ke 43 - Wewangian dari Sukhavati menyebar ke seluruh penjuru

Pada saat saya menjadi Buddha, para Boddhisatva dari 10 penjuru dunia akan mendapat samadhi ketenangan, samadhi nirvana dan samadhi persaman, segera setelah mendengar nama ku. Mereka juga akan mengerti dan memahami inti dari Dharma, melafalkan nama Buddha sampai mencapai pencerahan tertinggi. Mereka juga akan mendapat meditasi yang benar ketika mendengar nama ku dan akan menghormati para Buddha dari segenap penjuru dunia melalui pikiran meditasi. Bila tidak tercapai, maka saya tidak akan mencapai pencerahan.

Sumpah ke 44 - Mendapat 3 samadhi

Sumpah ke 45 - Dalam meditasi menghormati para Buddha

Pada saat saya menjadi Buddha, para Boddhisatva dari dunia lain akan terbebas dari samsara juga dari 10 alam kehidupan dan akan mencapai dunia Dharma sejati ketika mendengar nama ku. Mereka akan mampu untuk mengerti dan memahami inti dari Dharma dan membabarkannya dengan sepenuh hati ke seluruh mahluk. Para Boddhisatva ini akan mendapat pikiran yang damai dan bahagia, seperti para Buddha, selalu menganugerahi mahluk hidup dan mengumpulkan jasa baik untuk menuju ke Buddha an. Mereka akan membangun 3 kepastian. Kepartian untuk mengerti kebenaran hidup melalui suara, kepastian untuk mengikuti jalan Buddha untuk mengakhiri moral, dan kepastian untuk menyadari secara menyeluruh kebenaran akan tidak dilahirkan. Mereka akan mencapai kesempurnaan dan ketidak munduran dari apa yang telah mereka capai. Bila ini tidak tecapai, maka saya tidak akan mencapai pencerahan terthinggi.

Sumpah ke 46 - Boddhisatva akan memegang, melindungi dan membabarkan Dharma

Sumpah ke 47 - Boddhisatva akan mencapai 3 kepastian

Sumpah ke 48 - Boddhisatva akan mencapai kesempurnaan dan ketidak munduran

Senin, 09 Januari 2017

Puisi Dinasti Tang Zhao: Orang Sibuk

PUISI DINASTI
*TANG ZHAO*
Pesan ini: Khusus untuk *orang sibuk*,
Manusia mulai dari lahir...
10岁快乐成长,
Umur 10th hidup bahagia,
20岁为情彷惶,
Umur 20th bimbang krn cinta,
30岁基本定向,
Umur 30th menentukan masa depan,
40岁拼命打闯,
Umur 40th berjuang mati²an,
50岁回头望望,
Umur 50th menoleh ke belakang,
60岁告老还,
Umur 60th pamit pulang kampung,
70岁搓搓麻将,
Umur 70th bersantai maen mahyong,
80岁晒晒太阳,
Umur 80th berjemur dibawah sinar matahari,
90岁躺在床上,
Umur 90th rebah di ranjang,
100岁挂在墙上…
Umur 100th digantung di dinding...(Fotonya) Alias game over...
生得伟大 ....
Semasa hidup, sangat mulia...
死得凄凉
Setelah meninggal sangat merana
所以呀该吃就吃
Makanya, waktunya makan, makanlah...
该喝就喝.
Waktunya minum, minumlah...
遇事别往心里搁,
Ketemu masalah, jangan masukkan ke hati...
舒服一秒是一秒…
Rilekslah selagi bisa...
能牵手的时候,
Sewaktu bisa, bergandengan tanganlah,
请别只是肩并肩.
Jangan hanya berdiri berdampingan.
能拥抱的时候,
Sewaktu bisa, berpelukanlah,
请别只是手牵手.
Jangan hanya bergandengan tangan.
能在一起的时候,
Disaat bisa bersama,
请别轻易分开.
Tolong jangan gampang berpisah.
如果你真爱一个人
Jika kamu benar "Mencintai Seseorang",
Semoga Pepatah tsb Bisa Benar & Tepat Maknanya. Buddha memberkati
Seorang pria yg tidak lulus ujian masuk universitas, di nikahkan orang tuanya.
Untuk mendapat penghasilan, ia pun melamar menjadi guru sekolah dasar dan mulai mengajar. Karena tidak punya pengetahuan mengajar, belum sampai satu minggu mengajar ia sudah dikeluarkan.
Setibanya di rumah, sang istri menghapuskan air mata nya, menghiburnya dengan berkata: "Banyak ilmu dalam otak, ada orang yang bisa menuangkannya, ada pula yang tidak bisa. Tidak perlu bersedih karena hal ini. Mungkin ada pekerjaan lain yang lebih cocok untukmu sedang menantimu."
Kemudian ia melamar dan melakukan pekerjaan lain, namun dipecat juga karena geraknya lambat.
Saat itu sang istri berkata : kegesitan kaki - tangan setiap orang berbeda, orang lain sudah bekerja beberapa tahun lamanya, kamu hanya belajar di sekolah, bagaimana bisa cepat?
Ia pun bekerja lagi di banyak pekerjaan lain, namun tidak ada satu pun yg berhasil, semua gagal di tengah jalan.
Namun demikian, tiap kali pulang dengan patah semangat, sang istri selalu menghiburnya, tidak pernah mengeluh.
Ketika sudah berumur 30 tahun-an, ia mulai dapat berkat sedikit melalui bakat berbahasanya, menjadi pembimbing di sekolah luar biasa tuna rungu wicara.
Kemudian ia membuka sekolah siswa cacat, dan akhirnya bisa membuka banyak cabang toko yang menjual alat-alat bantu orang cacat di berbagai kota.
Akhirnya ia menjadi boss yang memiliki kekayaan berlimpah.
Suatu hari, ia yang sekarang sudah sukses besar, bertanya kepada sang istri, kenapa ketika masa depan nya masih suram, engkau tetap begitu percaya kepada ku ?
Jawaban sang istri ternyata sangat polos dan sederhana :
Sebidang tanah yg tidak cocok ditanami gandum, bisa dicoba untuk ditanami kacang. Jika kacang pun tidak bisa tumbuh dengan baik, coba tanami buah-buahan; jika buah-buahan pun tidak bisa tumbuh, semaikan bibit gandum hitam, pasti bisa berbunga, karena pada sebidang tanah, pasti ada bibit yang cocok untuknya, pasti bisa menghasilkan panen dari nya.
Mendengar penjelasan sang istri, ia mengeluarkan air mata terharu.... Keyakinan kuat, ketabahan serta kasih sayang sang istri, bagaikan sebutir bibit unggul.
Semua prestasi dirinya, adalah berkat keajaiban bibit unggul yang kokoh hingga bertumbuh kembang jadi kenyataan.
Di dunia ini tidak ada seorang pun yg hanya sekedar sampah, dia hanya tidak berada di posisi yang tepat.
Setelah membaca cerita ini, jangan dibiarkan saja, teruskan ke orang lain.
Anda akan ikut berbahagia apabila orang yg tadinya susah menjadi sukses.
Delapan kalimat di bawah ini, adalah intisari kehidupan :
1. *Orang yang tidak tahu menghargai sesuatu, biarpun diberi gunung emas tidak akan bisa merasakan kebahagiaan*
2. *Orang yang tidak bisa toleran, seberapa banyak pun teman nya, akhirnya akan sendirian*
3. *Orang yang tidak tahu bersyukur, seberapa pintar pun, tidak akan sukses*
4. *Orang yang tidak bertindak nyata, seberapa cerdas pun tidak akan tercapai cita-cita nya.*
5. *Orang yang tidak bisa bekerjasama dengan orang lain, seberapa giat pun kerja nya tidak akan mendapatkan hasil yang optimal.*
6. *Orang yang tidak bisa menabung, dapat rejeki terus pun tidak akan bisa menjadi kaya.*
7. *Orang yang tidak bisa merasa puas, seberapa kaya pun tidak akan bahagia.*
8. *Orang yang tidak bisa menjaga kesehatan, berobat terus pun tidak akan berusia panjang.*
Perjalanan Hidup

Ada artikel yang barusan diterima dan kiranya bermanfaat untuk dibagikan agar menjadi bahan perenungan bersama.
*OUR SHORT JOURNEY*
Seorang wanita muda tengah duduk santai dalam kereta yang melaju ke tengah kota. Di salah satu stasiun, seorang wanita tua yang cerewet dan berisik naik ke dalam kereta dan duduk di samping wanita muda tadi.
Tas-tas bawaannya yang berat dia tumpuk begitu saja di atas kursi, membuat wanita muda itu harus menggeser duduknya sambil setengah terjepit di antara tas-tas berat dan jendela.
Seorang pemuda yang duduk di bangku sebelah melihat kejadian itu dengan kesal, dan bertanya kepada wanita muda itu, "Kenapa kamu tidak bicara saja, katakan pada wanita tua itu bahwa kamu jadi terganggu..."
Wanita muda itu menjawab sambil tersenyum:
"Aku rasa tidak perlu bersikap kasar dan beradu argumentasi untuk sesuatu yang sepele seperti ini.
Perjalanan bersama kita ini terlalu singkat. Saya juga akan turun di stasiun berikutnya di depan nanti"
Jawaban wanita muda tadi sangat pantas untuk ditulis dengan huruf emas:
"Kita tidak perlu berdebat untuk sesuatu yang sepele.
Perjalanan kita bersama amat singkat."
Alangkah indahnya kalau masing-masing kita bisa menyadari bahwa perjalanan hidup kita di dunia ini sangat singkat; sehingga kita tidak akan membuang waktu untuk membuat perjalanan hidup kita jadi suram dengan macam-macam perdebatan, atau dengan adu argumentasi yang sengit dan tajam.
Kalau kita tahu bahwa perjalanan hidup ini begitu singkat, maka kita tidak akan mau membuang tenaga dengan terus mengeluh, merasa tidak puas, bersikap mencari-cari kesalahan......karena semua hanya membuang waktu kita di perjalanan yang singkat ini.
Apakah seseorang sudah melukai bahkan menghancurkan perasaanmu? Tetaplah tenang, perjalanan hidupmu terlalu singkat.
Apakah seseorang sudah menghianati kamu, mengejek-ejek kamu, menipu atau bahkan menghina kamu? Tetaplah tenang, maafkan mereka, karena perjalanan hidup kita sangatlah singkat.
Apapun masalah yang dibuat oleh orang lain kepada kita, mari kita selalu ingat bahwa perjalanan hidup kita sangat singkat.
Tidak seorang pun yang tahu kapan perjalanan hidupnya akan berakhir. Tidak ada orang yang tahu kapan dia akan tiba di perhentian kereta yang berikutnya. Perjalanan hidup kita bersama sangat singkat.
Sahabatku, mari kita saling memberikan kebahagiaan kepada keluarga dan teman-teman kita.
Mari kita saling menaruh hormat, saling berbuat baik dan saling memaafkan satu dengan yang lain. Mari kita isi hidup ini dengan rasa syukur dan bersukacita selalu.
Kalau saya pernah menyakiti kamu, saya mohon dimaafkan.
Bila kamu pernah menyakitiku, saya sudah memaafkan kamu.
Karena... perjalanan hidup kita sangat singkat.
"Life is short, and it is up to you to make it sweet."
Sarah Louise Delany
May your journey be sweet !

Kamis, 15 Desember 2016

Daftar Riwayat 28 Sammasambuddha

DAFTAR RIWAYAT 28 SAMMASAMBUDDHA


  1. Buddha Tanhankara, Calon Bodhisatta Gautama terlahir sebagai raja bernama Sudassana di kota Surindavati, Setelah ia bertemu Buddha Tanhankara ia kemudian menyampaikan keinginannya menjadi Buddha, namun belum cukup kualifikasi dan tidak mendapat konfirmasi dari Buddha Tanhankara. Ia kemudian menjadi Murid Beliau.
  2. Buddha Medhankara, Calon Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Pertapa Somanassa, beliau mengucapkan Ikrar namun belum juga mendapat konfirmasi. Ia kemudian menjadi Murid Beliau.
  3. Buddha Saranankara, Calon Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Pertapa Yasavanta, beliau mengucapkan Ikrar namun belum juga mendapat konfirmasi. Menjadi Bikkhu sangha mencapai Jhana


[Sumber: BuddhaVamsa 27: 1, ”
Di kurun waktu lalu yang tak dapat dihitung terdapat empat pembimbing: Para penakluk ini adalah Tanhankara, Medhankara, Saranankara dan Dipankara yang telah tersadar di 1 Kappa yang sama
      ” (Horner, 2000, p. 96), juga di Jātaka, ed. Fausboll, 5 vols, i.44 dan Papañca Sūdanī, Majjhima Commentary, 2 vols. (Aluvihāa Series, Colombo), i.188,
Dreamland And Somnambulism

Periode Resmi menjadi Boddhisatta [Calon Buddha]
  1. Buddha Dipankara [BuddhaVamsa (BV).ii.207ff; Buddhavamsa Commentary (BuA).104f; Jataka.i.29; Mahavamsa (Mhv).i.5; Divapamsa (Dpv).iii.31; DhA.i.69; namun lihat MahaVastu (Mtu).i.193ff], Calon Boddhisatta terlahir menjadi seorang Pemuda bernama Sumedha, yang pada satu kesempatan ia mengucapkan Ikrar untuk menjadi Buddha dan MENDAPAT konfirmasi dari Buddha Dipankara!.Karena Buddha Dipankara adalah Buddha yang pertama yang memberikan konfirmasi atas ucapan tekad yang disampaikan Bodhisatta Gautama, itulah sebabnya mengapa di daftar Buddha-Buddha sebelumnya, Buddha Dipankara diletakan di urutan ke-1!
    Dijaman Buddha Dipankara, maka perjalanan selama 16 Assankhya Kappa dan 200.000 Maha kappa akhirnya terwujud, Beliau menjadi Bodhisatta dan masih panjang jalan yang ditempunya untuk menjadi seorang Buddha. Sejak saat itu hingga 24 Buddha berikutnya, pada setiap kelahiran kembalinya, ketika ia mengucapkan tekad itu maka konfirmasi atas tekad tersebut selalu diberikan.
    Buddha Dipankara merupakan Buddha terakhir dari rangkaian 1 Kappa yang sama di akhir Semesta saat itu. Ini merupakan saat 4 Assankheya + 100.000 Maha Kappa sebelum Buddha Gautama. Setelah Buddha Dipankara wafat maka tidak ada Buddha hingga kurun 1 Assankheya berikutnya.
  2. Buddha Kondanna, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai raja Vijitavi. Kemudian berlalu 1 Assankheya Kappa
  3. Buddha Mangala, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Brahmin Suruci
  4. Buddha Sumana, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Raja Naga Atula, raja nàga yang sakti. Mengetahui bahwa seorang Buddha telah muncul di tiga alam dan dengan disertai dengan sanak saudaranya dan teman-temannya, ia keluar darikediamannya dan melakukan dàna kepada Buddha dan seratus ribu crore bhikkhu dengan cara memainkan musik surgawi sebagai penghormatan, dan dengan memberi dàna dalam bentuk makanan dan minuman; ia juga mendanakan satu perangkat jubah kepada tiap-tiap bhikkhu kemudian menyatakan berlindung kepada Tiga Perlidungan.Kemudian Buddha Sumanà meramalkan, “Raja nàga ini akan menjadi Buddha Gotama pada masa depan.”
  5. Buddha Revata, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Brahmin Atideva
  6. Buddha Sobhita, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Brahmin Ajita. Kemudian berlalu lagi 1 Assankyeya Kappa.
  7. Buddha Anomadassi, Bodhisatta Gautama terlahir di alam Asura sebagai Jenderal Yakkha yang membawahi beberapa crore yakkha sakti; mendengar bahwa ‘Buddha telah muncul di dunia’ Beliau mengunjungi Buddha dan menciptakan sebuah aula yang besar dan megah berhiaskan berbagai macam permata sebagai tempat Beliau memberikan persembahan makanan, minuman, dan lain-lain kepada Saÿgha yang dipimpin oleh Buddha selama tujuh hari.Sewaktu Jenderal Yakkha mendengarkan khotbah yang dibabarkan oleh Buddha sebagai penghargaan atas persembahannya, Buddha mengucapkan ramalan, “Satu asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa dari kappa sekarang, Jenderal Yakkha ini pasti akan menjadi Buddha bernama Gotama.”
  8. Buddha Paduma, Sewaktu berdiam di dalam hutan, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai seekor raja singa. Menyaksikan Buddha sedang berada dalam Nirodhasamàpatti, ‘mencapai penghentian’, raja singa berkeyakinan terhadap Buddha, memberi hormat dengan cara mengelilingi Buddha. Dengan penuh kegembiraan, ia mengaum tiga kali dan tetap berada di sana selama tujuh hari tanpa sedetik pun kehilangan kebahagiaannya yang diperoleh dari melihat Buddha. Tanpa pergi mencari makan, ia tinggal di dekat Buddha dengan penuh hormat, meskipun dengan risiko kelaparan.Setelah lewat tujuh hari, setelah keluar dari Nirodhasamàpatti, Buddha Paduma melihat singa dan berkata, “Semoga singa ini berkeyakinan terhadap Sangha juga” pada waktu yang sama Ia memutuskan untuk mendatangkan para anggota Saÿgha di dekat-Nya, “Semoga para bhikkhu datang ke sini.” Saat itu juga, beberapa crore bhikkhu sampai di tempat itu. Bodhisatta berkeyakinan terhadap Sangha juga. Setelah melihat pikiran Bodhisatta, Buddha Paduma mengucapkan ramalan, “Pada masa depan singa ini akan menjadi Buddha, bernama Gotama.”
  9. Buddha Narada, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Pertapa yang membangun pertapaan di Pegunungan Himalaya dan tinggal di sana setelah menguasai lima Abhi¤¤à dan delapan Samàpatti. Karena welas asihnya kepada Bodhisatta petapa ini, Buddha Nàrada mengunjungi pertapaan tersebut diiringi oleh delapan puluh crore umat awam yang semuanya telah mencapai tingkat kesucian Anàgàmã.Petapa yang mulia ini sangat gembira dapat bertemu dengan Buddha; kemudian Beliau menciptakan tempat tinggal untuk Buddha dan para pengikut-Nya. Semalam suntuk, Sang petapa memuji kemuliaan Buddha dan mendengarkan khotbah-Nya. Esok paginya Beliau pergi ke benua utara (dengan kesaktian-Nya) dan kembali membawa nasi dan makanan-makanan lain untuk dipersembahkan kepada Buddha dan para pengikut-Nya, bhikkhu, dan umat awam.
    Demikianlah Bodhisatta mempersembahkan makanan selama tujuh hari, setelah itu Beliau memberi hormat kepada Buddha dengan kayu cendana merah yang sangat mahal dari Pegunungan Himalaya. Kemudian Buddha Nàrada setelah memberikan khotbah, meramalkan, “Engkau pasti akan menjadi Buddha pada masa depan.”. Kemudian berlalu 1 Assankheya Kappa
  10. Buddha Padumuttara, Bodhisatta Gautama menjadi pemuda bernama Jatila (periode ini adalah 100.000 Maha Kappa sebelum menjadi Buddha Gotama). Kemudian berlalu 70.000 Maha Kappa
  11. Buddha Sumedha, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai pemuda bernama Uttara, yang artinya seorang yang melebihi siapa pun dalam hal kebajikan; ia mempersembahkan harta kekayaan-Nya yang bernilai delapan puluh crore yang dikumpulkan di rumahnya kepada Saÿgha yang dipimpin oleh Buddha. Setelah mendengarkan khotbah dari Buddha, Beliau menyatakan berlindung kepada Tiga Perlindungan dan menjadi bhikkhu di bawah bimbingan Buddha. Pada akhir khotbah-Nya yang disampaikan sebagai ungkapan terima kasih atas persembahan yang diterima, Buddha menyampaikan ramalan, “Pemuda ini yang bernama Uttara, akan menjadi Buddha pada masa depan, bernama Gotama”. Kemudian 12.000 Maha Kappa berlalu
  12. Buddha Sujata, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Raja Chakkavatti (periode ini adalah 18.000 Maha Kapa sebelum Buddha Gautama)
  13. Buddha Piyadassi, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Brahmin Kassapa
  14. Buddha Atthadassi, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Pertapa Susima
  15. Buddha Dhammadassi, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai raja Alam 33 Deva, yaitu Sakka
  16. Buddha Siddhatta, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Petapa Mangala
  17. Buddha Tissa, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Raja dan pertapa Sujata (Periode ini 92 Maha Kappa sebelum Buddha Gautama)
  18. Buddha Phussa, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Raja Vijitavi
  19. Buddha Vipassi, Boddhisata Gautama terlahir menjadi Raja naga Atula yang sangat sakti. Disertai beberapa crore nàga yang memainkan musik surgawi, Beliau mendekati Buddha Vipassã, Raja Tiga Alam. Untuk menghormati Buddha, Beliau mengundang Saÿgha yang dipimpin oleh Buddha (ke tempatnya). Beliau membangun paviliun besar yang terbuat dari tujuh jenis permata yang indah bagaikan lingkaran bulan purnama. Beliau melayani Buddha dan Saÿgha di dalam paviliun tersebut dan memberikan persembahan besar kepada mereka selama tujuh hari. Beliau juga mempersembahkan sebuah bangku emas yang dihias indah kepada Buddha.Dudukdi tengah-tengah Saÿgha, Buddha memberikan khotbah Dhamma sebagai ungkapan terima kasih atas persembahan itu, dan pada akhir khotbah, Buddha mengucapkan ramalan, “Sembilan puluh satu kappa dari sekarang, Raja Nàga Atula ini pasti akan menjadi Buddha.”
  20. Buddha Sikhi, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai raja Arindama (Periode ini 31 Maha Kappa sebelum Buddha Gautama)
  21. Buddha Vessabhu, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Raja Sudassana (Periode ini 1 Maha Kappa sebelum Buddha Gautama)
  22. Buddha Kakusandha, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai raja Sema (Periode Kappa yang sama dengan Buddha Gautama)
  23. Buddha Konagamana, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Raja Pabbata (Periode Kappa yang sama dengan Buddha Gautama)
  24. Buddha Kassapa, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Brahmin Jotipala (Periode Kappa yang sama dengan Buddha Gautama)
  25. Buddha Saat ini: Buddha Gautama, Bodhisatta Gautama terlahir sebagai Sidharta Gautama anak Raja kaphilavastu
[Sumber: Digha Nikaya, ii.5f.; Samyutta Nikaya, ii.5f.; Theragāthā, 491; Jataka, ii.147; Vinaya Pitaka,ii.110, Sayambhū Purāna (Mitra, Skt. Buddhist Lit. of Nepal, p. 249), Buddhavamsa, Riwayat Agung Para Buddha]


Ashtamangala

Ashtamangala


Ashtamangala (Sanskrit; Tibetan: བཀྲ་ཤིས་རྟགས་བརྒྱད་, THL:Trashi Takgyé; Chinese: 吉祥八宝 Jíxiáng bā bǎo)adalah 8 simbol keberuntungan .

Delapan lambang keberuntungan tradisi Buddhisme dianggap sangat signifikan.
Tiap lambang dari delapan lambang keberuntungan ini mewakili arti masing-masing dan berbeda dalam keunikan sendiri.
Tetapi pada akhirnya, semua uangkapan terjalin dalam jalur Buddha mencapai pencerahan.
Adapun Ashtamangala/ 8 simbol keberuntungan adalah sebagai berikut :


1. DHAMMA CAKRA

(Sanskrit;Tibetan: ཆོས་ཀྱི་འཁོར་ལོ་,
THL: chö kyi khorlo) / Roda Emas.

Roda emas Buddha Dharma, melambangkan keberuntungan dari ajaran Buddha yang terus berputar (masih terus ada) baik dalam hal pengajaran maupun realisasi yang terjadi di semua alam dalam setiap waktu. Menyebabkan semua makhluk berkesempatan untuk mengalami kebahagiaan dari perbuatan baji dan pembebesan.




2. SANKHA
(Sanskrit: śaṅkha; Tibetan: དུང་དཀར་གཡས་འཁྱིལ་, THL: dungkar yénkhyil) / Kerang putih berulir ke kanan.

Kerang putih yang berulir ke kanan, melambangkan merdunya suara penyebaran Buddha Dharma. Suara dari terompet kerang putih ini sangat merdu, dalam dan tersebar luas serta membuat makhluk yang mendengarnya segera terjaga dari tidur nyenyaknya.

Hal ini melambangkan bahwa Buddha Dharma akan segera menyadarkan kita dari kebodohan dan mendesak kita untuk segera mencapai kebahagiaan yang sejadi dari pembebasan untuk diri sendiri dan semua makhluk.
Uliran ke kanan dari kerang ini sangat lengka di temukan dan dipercaya bahwa uliran ini meggemakan gerakan dari sistem tata surya.



3. DHAVAJA
(Sanskrit; Tibetan: རྒྱལ་མཚན་, THL: gyeltsen) / Panji Kemenangan.
 Panji kemenangan, melambangkan kemenangan ajaran Buddha atas kematian, kebodohan, ketidak harmonisan dan hal negatif lainnya yang muncul di dunia.
Panji ini juga melambangkan kemenangan ajaran Buddha atas semua kekuatan berbahaya dan merusak.


4. CHATRARATNA
(Sanskrit; Tibetan: རིན་ཆེན་གདུགས་, THL: rinchenduk) / Payung berharga

Payung berharga, menyimbolkan aktivitas bajik dari memberikan pelindungan kepada semua makhluk atas penderitaan, hawa nafsu, halangan, penyakit dan kekuatan lainnya yang merusak







5. PATMA
(Sanskrit; Tibetan: པད་མ་, THL: péma) / Bunga teratai.

Bunga teratai, melambangkan pemurnian sempurna atas kekotoran batin yang timbul dari tubuh ucapan maupun pikiran.
Bunga teratai yang mekar sempurna melambangkan kebahagiaan dari pembebasan sempurna




6. KALASHA
(Sanskrit; Tibetan: གཏེར་ཆེན་པོའི་བུམ་པ་, THL: terchenpo’i bumpa) / Vas berharga.
Vas berharga, melambangkan hujan umur panjang, kekayan, kemakmuran dan keuntungan lainnya serta pembebasan yang tak pernah berhenti.
Vas berharga, juga dikenal dengan wadah harta berharga yang tak pernah habis dan menyimbolkan tak pernah habisnya ajaran Buddha yang sangat berharga




7. SUVARNAMATSYA
(Sanskrit;  Tibetan: གསེར་ཉ་, THL: sernya) / Sepasang ikan mas.

Simbol sepasang ikan mas berasal dari jaman sebelum Buddha yang melambangkan dua sungai suci utama di India yaitu sungai Gangga dan sungai Yamuna.

Dalam Buddhisme Tibet, ikan yang berenang bebas di air dijadikan simbol kesukacitaan akan kebebasan tanpa rasa takut. Air dan lautan di dalam Buddhisme Tibet diidentikkan dengan lutan samsara.




8. SHRIVTSA

(Sanskrit;  Tibetan: དཔལ་བེའུ་, THL: pelbeu) / Simpul yang tak berujung.
Simpul yang tak berujung ini melambangkan sifat alami dari segala sesuatu yang saling bergantung dan hanya muncul sebagai akibat dari hukum karma (hukum sebab akibat).
Simpul yang tidak memiliki ujung dan pangkal ini juga melambangkan kebijaksanaan dan welas asih dari Buddha yang tak terbatas.



Source :
  1. WIKIPEDIA
  2. Rush, John A. “The Eight Auspicious Symbols of Buddhism A Study in Spiritual Picture”. 30 Januari 2015.


Sejarah Aliran Mahayana


Sejarah Aliran Mahayana
Sejarah Mahayana
Aliran Mahayana terdiri dari 9 aliran yaitu:
  1. Yogacara/Vijnanavada
  2. Tri-sastra
  3. Avatamsaka
  4. Tien Tai
  5. Tantra
  6. Dhyana
  7. Sukhavati
  8. Nichiren
  9. Vinaya.
(Sumber ini dikutip dari karya Prof. Junjiro Takakusu “The Essentials of Buddhist Philosophy”)
Berikut ini pembahasan secara garis besar mengenai ke sembilan aliran tersebut.
  1. Aliran Yogacara/Vijnanavada (Wei She Cung/Hosso)
Aliran ini dipelopori oleh Arya Asanga (abad V Masehi) yang menyusun karya Yogacarabhumi Sastra (Yu Cia She Ti Luen) dan Mahayana Samparigraha Sastra (She Ta Chen Luen). Terjemahan ke bahasa Mandarin dilakukan oleh Buddhasanta, Paramartha dan Suan Chang. Isi dari sastra-sastra tersebut menerangkan: vijnana-citta, sad-paramita, sila, samadhi, prajna, dasabhumi dan tri-kaya.
Aliran Yogacara juga berpedoman pada Sandhi Nirmocana Sutra, Dasabhumi ka sastra, Vijnapti Matrada Sidhi karya Dharmapala terjemahan Suan Chang. Pada masa sekarng aliran ini hanya dipelajari di perguruan tinggi Buddhis dan hanya terbatas pada kaum intelektual saja.
  1. Aliran Tri-sastra (San Luen Cung/San Ron Syu)
Aliran ini di India disebut Madhyamika atau Sunyatavada. Di India, aliran ini dipelopori oleh Nagarjuna dan Arya Deva (antara abad I dan II Masehi) kemudian disusul oleh Buddhapalita, Bhavaviveka dan Chandrakirti. Di Tiongkok aliran ini dipelopori oleh Kumarajiva (abad V).
Aliran ini berpedoman pada tiga buah sastra yaitu:
  1. Madyamika Karika (Cung Luen) karya Nagarjuna
  2. Dvadasa-dvara (Se Er Men Luen) karya Nagarjuna
  3. Sata Sastra (Pai Luen) karya Arya Deva
Aliran ini menekankan Sunyata. Pengertian terhadap Sunyata adalah sebagai suatu kebenaran yang absolut. Di samping itu sunya adalah pengertian mengenai tidak adanya inti yang kekal karena semuanya berkontradiksi. Aliran ini begitu menitikberatkan pada metode analisa dan perenungan sehingga amat sukar untuk dicerna oleh pengertian awam. Pada masa sekarang aliran ini hanya dipelajari di perguruan tinggi Buddhis dan terbatas pada kaum intelektual saja.
  1. Aliran Avatamsaka (Hua Yen Cung/Kegon Syu)
Secara harafiah nama aliran ini berarti “lingkaran bunga”. Aliran ini bersumber pada Avatamsaka Sutra (Hua Yen Cing), sebuah sutra besar Mahayana. Sutra ini sulit dimengerti sehingga secara legendaris dikisahkan setelah Pertapa Gautama mencapai Samyaksambodhi, beliau menerangkan isi sutra tersebut, namun sayangnya tidak ada manusia yang dapat memahami isi sutra tersebut.
Dikisahkan pula bahwa sutra tersebut dititipkan kepada istana Dewa Naga. Setelah lebih dari 500 tahun Sang Buddha parinirvana, Nagarjuna berhasil mendapatkan kembali sutra tersebut. Sebagian besar naskah asli dalam bahasa Sansekertanya telah hilang. Penterjemahan sutra tersebut ke dalam bahasa Mandarin dilakukan oleh Buddhabadra, Siksananda dan Prajna. Di Tiongkok aliran ini dipelopori oleh Bhiksu Sien Sou (Tu Sun) yang hidup antara tahun 577-640 Masehi.
Aliran ini sampai sekarang mungkin hanya di Jepang yang masih aktif, sedangkan di negara-negara Timur lainnya umumnya hanya dipelajari di perguruan tinggi Buddhis saja. Di Jepang aliran ini berpusat di Vihara Todaiji di Nara.
  1. Aliran Tien Tai (Tien Tai Cung/Tendai Syu)
Aliran ini terbentuk di Tiongkok dengan mengambil nama sebuah gunung di provinsi Ce Ciang yaitu Gunung Tien Tai (yang berarti “panggung surgawi”). Di Gunung Tien Tai ini secara resmi Bhiksu Ce Khai (531-597) yang disebut juga Ce Yi atau Che ce mendirikan aliran ini. Sebelum beliau telah ada dua orang bhiksu intelektual lainnya yang meratakan jalan dan merintis berdirinya aliran ini yaitu Bhiksu Hui Wen (510-557) dan Bhiksu Hui She (514-577).
Aliran ini berpedoman pada Saddharma Pundarika Sutra (Miao Fa Lien Hua Cing), Amitartha Sutra (Wu Liang I Cing) dan Nirvana Sutra (Nie Phan Cing). Di samping itu ada tiga tafsiran sutra dan karya sastra yang disusun oleh Hui Wen, Hui She dan Ce Khai yaitu:
  1. Fa Hua Wen Ci (Words and phrases of the lotus)
  2. Fa Hua Suen I (Profound meaning of the lotus)
  3. Mo Ho Ce Kuan Fa Men (Mahayana method of cessation and comtemplation)
Aliran Tien Tai memiliki suatu pandangan filosofis yang disebut konsep 3.000 alam (Tri-sahasra Dharmadhatu). Konsep ini menitikberatkan hubungan erat antar makhluk-makhluk hidup serta hubungan dengan alam semesta sehingga timbul perkataan “yi nien san chien” (ichinen sanzen) yaitu pikiran sekejab meliputi segala hal ikhwal seluruh alam semesta.
Aliran Tien Tai dianut oleh berjuta-juta umat di Asia Timur. Di Tiongkok, Korea, Jepang dan Vietnam, aliran ini terus berkembang dan dapat dikatakan suatu aliran Mahayana yang cukup aktif.
  1. Aliran Tantra (Mi Cung/Cen Yen Cung/ Shingon Syu)
Ada dua macam Tantra Buddhis yaitu Tantra Timur dan Tantra Tibet. Tantra Timur terbagi dua yaitu Tantra yang ada pada aliran Tien Tai dan Tantra pada aliran Cen Yen yang kemudian dibawa ke Jepang dengan nama Shingon Syu. Yang dimaksud dengan Tantra Tibet adalah tantra yang diterapkan di Tibet, Mongolia, Bhutan, Nepal,dll.
Tantra Timur berkembang di Tiongkok pada abad VII ketika tiga orang Guru Besar Tantra datang dari India. Mereka adalah:
  1. Subhakarasinha (San Wu Wei 637-735 M). Pada tahun 716 M beliau tiba di Chang An setelah belajar di Nalanda. Pada tahun 725 M beliau bersama I Cing menterjemahkan sutra tantra yang terkenal yaitu Maha-Vairocana Sutra (Ta Re Ru Lai Cing).
  2. Vajrabodhi (Cin Kang Che 663-723 M). Beliau juga pernah belajar di Nalanda dan pada tahun 720 M menterjemahkan Vajrasekhara (Cin Kang Ting Cing) ke bahasa Mandarin.
  3. Amoghavajra (Pu Khung 705-774 M). Beliau adalah siswa Vajrabodhi dan pada tahun 746 M tiba di Chang An.
Pada tahun 747 M Guru Padma Sambhava (Lien Hua Seng Ta She) tiba di Tibet. Dikisahkan bahwa beliau berhasil menundukkan roh-roh halus dari agama pribumi Tibet yang disebut Bon-pa sehingga terbentuklah perpaduan yang harmonis dengan Buddhisme.
Adapun aliran yang terdapat pada Tantra Tibet adalah:
  1. Aliran Nyingma-pa, biasanya disebut pengikut jubah dan topi merah. aliran ini didirikan oleh Guru Padma Sambhava dan Santarakshita pada tahun 749 M.
  2. Aliran Kahdam-pa, dipelopori oleh Atisa pada tahun 1035 M
  3. Aliran Gelug-pa, biasanya disebut juga Lama yang bertopi dan berjubah kuning. Aliran ini adalah aliran pembaharuan yang dipelopori oleh Tsong-ka-pa pada abad XV.
  4. Aliran Kargyu-pa, didirikan pada abad XI oleh Lama Marpa. Tokoh lain dari aliran ini yang terkenal adalah Milarepa.
  5. Aliran Sakya-pa, didirikan oleh Lama Kon-dkon-meho’oggyal-po pada tahun 1072 M.
  1. Aliran Dhyana (Chan Cung/Zen)
Aliran ini lebih dikenal dengan sebutan Buddhisme Zen. Secara harafiah Zen adalah perubahan bunyi dari kata Chan yang berasal dari bahasa Sansekerta Dhyana yang dapat diartikan “meditasi”.
Dapat dikatakan aliran Zen lahir dan tumbuh besar di Tiongkok ketika seorang bhiksu India yang bernama Bodhidharma (Tat Mo Co Su) datang ke Tiongkok pada tahun 520 M. Silsilah Bodhidharma dapat kita lihat sebagai berikut:
Sakyamuni Budha-Maha Kasyapa-Ananda-Sanavasa-Upagupta-Dhritaka-Micchaka-Buddhanandi-Buddhamitra-Bhiksu Parsva-Punyayasas-Asvaghosha-Bhiksu Kapimala-Nagarjuna-Kanadeva-Arya Rahulata-Samghanandi-Samghayasas-Kumarata-Jayata-Vasubandhu-Manura-Hakkenayasas-Bhiksu Simha-Vasasita-Punyamitra-Prajnatara-Bodhidharma.
Setelah kedatangan Bodhidharma ke Tiongkok juga dikenal sebutan enam Patriarch sebagai berikut:
  1. Patriarch I : Bodhidharma
  2. Patriarch II : Hui Khe
  3. Patriarch III : Shen Chie
  4. Patriarch IV : Tao Sin
  5. Patriarch V : Hung Jen
  6. Patriarch VI : Hui Neng
Sub-aliran dari Buddhisme Zen yang masih aktif hingga saat ini adalah:
  1. Sub-aliran Lin Chi (Rinzai), diperkenalkan oleh Master Lin Chi kira-kira pada tahun 850 M.
  2. Sub-aliran Chau Tung (Soto), diperkenalkan oleh Master Tung San Liang Cie (807-869 M0 dan Chau San (840-901 M).
  3. Sub-aliran Huang Po (Obaku), dikembangkan oleh Master Huang Po kira-kira tahun 850 M.
Beberapa sutra yang dapat dikatakan sumber bagi Zen Buddhisme adalah:
  1. Lankavatara Sutra (diterjemahkan ke bahasa Mandarin oleh Buddhabadra)
  2. Vajrachedika Prajnaparamita Sutra (diterjemahkan ke bahasa Mandarin oleh Kumarajiva)
  3. Sutra Altar Patriarch VI
  4. Vimalakirti Nirdesa Sutra (diterjemahkan ke bahasa Mandarin oleh Kumarajiva)
  5. Surangama Sutra (diterjemahkan ke bahasa Mandarin oleh Siksananda)
  1. Aliran Sukhavati (Cing Thu Cung/Jodo Syu)
Aliran Sukhavati adalah sebuah aliran yang menitikberatkan pada puja bakti terhadap Amitabha Buddha. Beliau berdiam di sebuah alam yang bernama Sukhavati (bumi yang penuh dengan kebahagiaan) dan ‘berada’ di sebelah barat dari loka dunia ini.
Aliran ini tidak menitikberatkan pada pelajaran atau penyelidikan sutra-sutra dan meditasi. Tetapi yang terpenting adalah mematuhi Pancasila Buddhis dan menyerahkan diri pada kekuatan Maitri-Karuna Amitabha Buddha dan Bodhisatva Mahasatva lainnya. Yang penting adalah penyerahan diri serta bertobat seraya mengulangi sebutan mulia “Namo Amitabha Buddha” (Namo Amotofo). Di samping itu pemujaan dan bakti terhadap Avalokitesvara Bodhisatva (Kuan She Yin Pu Sa) dan Mahastamaprapta Bodhisatva (Ta She Che Pu Sa) juga dilakukan.
Sering dikatakan: Dia yang menyebut “Namo Amitabha Buddha” dialah orang yang penuh dengan kasih sayang dan welas asih terhadap semua makhluk hidup. Semasa hidup dengan tekun menyebut “Namo Amitabha Buddha” serta menerapkan Pancasila Buddhis dan melaksanakan Maitri-Karuna agar nanti setelah meninggal dunia akan terlahir di alam Sukhavati. Ini jangan semata-mata diartikan setelah mati baru lahir di Sukhavati; akan tetapi pada saat masih hidup akan dapat memastikan terlahir di alam Sukhavati.
Ada tiga sutra yang dijadikan pedoman yaitu:
  1. Amitabha Sutra/Sukhavati Vyuha Sutra (O Mi To Cing)
  2. Maha Sukhavati Vyuha Sutra (Wu Liang Sou Cing)
  3. Amitayus Dhyana Sutra (Kuan Wu Liang Sou Cing)
  1. Aliran Nichiren
Aliran ini berasal dari aliran Tien Tai (Tendai) yang dipelopori oleh seorang bhiksu Jepang yang militan yaitu Nichiren Daishonin (1222-1282 M). Pokok utama dari ajaran Nichiren adalah bersumber pada Saddharma Pundarika Sutra (Hokkekyo). Dengan menyebut dan mengulang “Namu Myoho Rengekyo” sebagai sebutan mulia utama agar dapat menimbulkan keyakinan (sradha) yang kuat terhadap Hokkekyo dan menghapus karma-karma buruk sekaligus menambah karma-karma baik.
Nichiren banyak menulis karya sastra. Di antaranya untuk memperingati guru beliau yang amat sangat beliau cintai dan hormati yaitu Dozenbo, beliau menulis Ho-On-Syo (sastra tentang balas budi) di mana beliau menekankan arti bals budi terhadap orang tua, guru dan negara. Selain itu karya-karya sastra beliau yang cukup terkenal adalah Kaimokusyo (sastra tentang membuka mata) di mana beliau menekankan sifat berkorban beliau terhadap rakyat dan negara serta dunia dan Shohojisyo yang mengisahkan garis besar filsafat beliau.
  1. Aliran Vinaya (Li Cung/Ritsusyu)
Sesuai dengan namanya, aliran ini menitikberatkan pada Vinaya. Di Tiongkok aliran ini dipelopori oleh Bhiksu Tao Hsu An pada periode Dinasti Tang (abad VI M). Pada aliran Vinaya terdapat apa yang disebut Catuh-Vinaya (She Fen Li) yaitu Empat Sumber Vinaya yang terdiri dari:
  1. Sarvastivada Vinaya (Se Thung Li), diterjemahkan ke dalam 61 Chuan pada tahun 404-406 M oleh Punyatara
  2. Dharmagupta Vinaya (She Fen Li), diterjemahkan ke dalam 60 Chuan pada tahun 405 M oleh Budhayasas
  3. Mahasanghika Vinaya (Ta Seng Che Li), diterjemahkan ke dalam 40 Chuan pada tahun 405 M oleh Buddhabadra
  4. Mahisasaka Vinaya (Wu Pu Li), diterjemahkan ke dalam 30 Chuan pada tahun 423 M oleh Buddhajiva